
TOK ... TOK ... TOK ...
Tangan Nino mengepal kuat setelah mengetuk pintu kamar tidurnya sendiri. Ini pertama kalinya ia memerlukan izin untuk masuk ke kamar tidurnya yang saat ini bukan hanya miliknya.
"Masuk!" Suara lembut seseorang sempat membuat Nino ragu untuk melangkah, tapi ia juga tidak bisa membiarkan masalahnya terus berlarut-larut.
Nino membuka pintu dan matanya langsung membulat sempurna ketika melihat Dania yang sedang mengemas pakaiannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Nino, nyaris berteriak karena begitu terkejut dengan apa yang ia lihat.
Dania tersenyum getir setelah menutup kopernya. "Aku ingin menenangkan diri."
Mulut Nino terkunci, meskipun hatinya ingin sekali meledak. Rasanya Nino sudah kehabisan cara untuk menahan Dania di sisinya hingga wanita itu pun akhirnya memilih untuk pergi.
"Bukankah itu artinya aku hanya akan jadi sesuatu yang kau cintai tanpa bisa melakukan apapun. Lalu, apa bedanya aku dengan barang koleksi milikmu?"
Tiba-tiba saja kata-kata Dania di ruang kerjanya kembali terngiang di telinga Nino. Ia pun segera melangkah dan merengkuh tubuh Dania.
"Moony, dengarkan aku! Aku mencintaimu dan aku tidak pernah sekalipun menganggapmu sebagai barang atau apapun itu yang ada di dalam pikiranmu. Aku hanya tidak ingin memaksamu untuk membalas cintaku karena aku tahu hal itu sangat mustahil bagimu." Nino melepaskan pelukannya dan menatap wajah Dania. "Tapi jika berada di sisiku begitu menyiksamu ...."
Nino memegang kedua bahu Dania dengan erat. Ia berusaha mencari kekuatan untuk mengambil keputusan. Oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya di rasa tidak cukup akibat Nino merasa terlalu sesak nafas. Hati Nino sudah hancur sebelum ia mengucapkan apa yang ada di pikirannya saat ini.
"Kau akan melepaskan aku?" tanya Dania, seolah tahu kalimat yang akan di ucapkan Nino berikutnya.
"Moony ...."
***
"Dania! Dania!" teriak Nino lantang, dengan bibir bergetar.
Terdengar seseorang menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa dan menghampiri Nino yang terlihat gelisah.
"Kak Nino?" Deta mengerutkan dahinya ketika melihat Nino ada di rumahnya dengan wajah cemas. "Ada apa, Kak?" tanyanya kemudian.
Melihat dari reaksi Deta, Nino sudah bisa menebak jika kakak iparnya itu tidak mengetahui apapun.
"Maafkan aku, Ibunya Tary! Apakah istriku datang mengunjungimu hari ini?" Nino mencoba bertanya dengan setenang mungkin.
Deta menatap Nino dengan mata bulatnya yang tajam. "Dania tidak datang ke sini dan juga tidak menghubungiku. Ada apa sebenarnya, Kak?"
'Ini sangat memalukan!' Batin Nino. "Tidak ada apa-apa! Hanya saja aku tidak bisa menemukan istriku di rumah. Jadi, aku pikir dia datang kesini karena merindukan Tary." ucapnya beralasan.
Tentu saja Deta tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Nino, tapi ia tetap tersenyum dan bersikap tenang walaupun hatinya mulai gelisah juga.
"Ah, mungkin Dania pergi untuk berbelanja. Dia suka sekali menghabiskan waktu hanya untuk sekedar mengamati fashion terkini." Deta berusaha untuk tidak memperkeruh keadaan.
Nino mengangguk paham. "Baiklah! Aku akan kembali ke rumah dan menunggunya."
Deta tersenyum simpul. "Iya, Kak, Hati-hati di jalan."
__ADS_1
Setelah kepergian Nino. Deta segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Dania ada bersamamu bukan?"
***
Ketenangan yang di inginkan Dania, sedikitpun tidak ia dapatkan. Melainkan hanya ceramah sepanjang hari yang membuat telinganya sudah selebar telinga gajah.
"Kakak ...," rengek Dania.
Melihat wajah memelas adiknya membuat Deta tidak tega dan memutuskan untuk mengalah.
Deta menghembuskan nafasnya dengan kasar, sebelum mengambil tempat duduk di samping Dania. "Apa semua ini membuatmu bahagia?"
Bahagia? Tidak sama sekali! Dania justru merasa hatinya semakin gelisah dan ingin menjerit karena begitu terluka. Mata sipitnya menatap wajah kakaknya yang teduh dan lembut, persis seperti wajah ibu yang telah membesarkannya.
"Aku tidak tahu, Kak," jawab Dania ragu.
Deta bangkit untuk mengambil sebuah bingkai di atas meja dan menyerahkannya pada Dania. "Ini!"
Dania menatap potret keluarga Riady dengan formasi lengkap dan senyum yang menghiasi seluruh wajah anggota keluarga.
"Kau ingat? Saat itu, kita begitu bahagia setelah melalui begitu banyak cobaan. Kita tidak pernah menyangka jika kebahagiaan itu hanya sesaat karena mama dan papa pergi begitu cepat." Deta mulai meneteskan air mata.
Semua kenangan indah itu tentu terpatri jelas dalam ingatan Dania, karena saat itu akhirnya ia bisa di terima sepenuhnya di keluarga Riady dan bisa dengan bangga mengangkat kepalanya.
Dania menyentuh tangan Deta yang gemetar karena menangis. "Dania tidak akan mungkin melupakan semua itu, Kak."
"Maaf, Kak!" Dania tertunduk lemah.
"Aku tidak marah, Dania, hanya saja aku merasa menjadi orang luar bagimu." Deta mengatakannya dengan sedikit penekanan.
Dania tertegun. "Tidak, Kak! Sungguh! Aku tidak pernah berpikir seperti itu."
"Kalau begitu, kenapa kau lebih memilih menginap di hotel daripada menemui kakakmu ini?" tanya Deta kecewa.
"Aku takut Kakak akan kecewa padaku." Dania masih menundukkan kepalanya.
Deta merangkul bahu Dania dengan erat. "Kau adalah adikku. Apapun yang terjadi aku akan mendukungmu, tapi jika sesuatu terjadi padamu maka aku akan merasa sangat berdosa."
"Maaf, Kak!" lirih Dania, tak kuasa lagi menahan tangis.
"Sudahlah! Beruntung Ricky bisa menemukan keberadaanmu sebelum Dito mengetahui semuanya." Deta membelai rambut Dania dengan lembut. "Sekarang, katakan padaku apa yang terjadi?" pintanya.
Dania bingung. Tidak tahu harus menceritakan masalahnya darimana. Ia takut akan langsung menjadi terdakwa di mata kakaknya ini, sehingga Dania tetap bungkam.
Memahami kebisuan Dania, Deta pun mencoba memulai pembicaraan. "Tadi siang kak Nino datang ke rumah Kakak dengan wajah cemas dan gelisah. Kakak pikir sesuatu yang buruk terjadi padamu."
Dania sempat terkejut, tapi detik berikutnya ia kembali menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Dia tidak mengatakan apapun, tapi Kakak tahu jika ada masalah di antara kalian." Deta mengusap punggung Dania. "Jika kau ingin pergi untuk menenangkan diri, datanglah pada Kakak atau kak Dito. Kami ini keluargamu. Kami akan melindungimu dari siapapun dan bahaya apapun."
Mata Dania terasa panas. Ia langsung memeluk Deta yang langsung membalas pelukannya.
"Ma- Maafkan Dania, Kak! Dania kesal pada om pedofil, jadi Dania berpikir untuk pergi saja daripada harus bertengkar dengannya." Dania sesegukan karena menangis.
Untuk kali ini, Deta membiarkan adik kecilnya itu menangis di dalam pelukannya karena bagaimanapun juga Dania hanya seorang wanita yang bisa terluka.
Cukup lama Dania menangis dalam pelukan Deta sebelum akhirnya ia melepaskan pelukannya dan langsung memperlihatkan wajahnya yang sembab.
"Astaga! Lihat wajahmu yang berantakan itu." Deta menusuk-nusuk pipi Dania.
Dania tersenyum meski nampak di paksakan. "Kak, sejauh mana Kakak mengenal dia?"
"Dia?" Deta mengerutkan dahinya.
Anggukkan Dania yang di barengi dengan rona merah di wajahnya langsung bisa dimengerti oleh Deta.
"Kakak tidak terlalu mengenal kak Nino secara pribadi. Alasannya tentu saja karena sikap posesif kakak iparmu itu!" Deta mendengus kesal seraya tersenyum geli. "Tapi sepanjang Kakak mengenalnya, kak Nino adalah sosok pria yang baik dan sabar meskipun dia terlihat tidak pernah serius dalam hidupnya." sambungnya.
"Bagaimana dengan keluarganya?" tanya Dania lagi.
Deta menilik setiap ekspresi yang di tunjukkan Dania dan mulai berspekulasi yang aneh-aneh. Namun, ia tidak berani mengambil kesimpulan sebelum Dania sendiri yang mengatakan.
"Keluarganya?" tanya Deta yang di jawab anggukkan kepala oleh Dania. "Kakak tidak tahu banyak. Kakak hanya mengenal ibunya, sekretarisnya dan juga supir pribadinya. Kakak bahkan tidak pernah bertemu secara langsung dengan ibunya kak Nino. Kami hanya bertemu satu kali dan itu pun di acara pemakaman ibunya."
"Kapan ibunya meninggal dunia, Kak?" tanya Dania penasaran.
Deta menggerak-gerakkan bola matanya, mencoba mengingat kembali. "Tidak lama setelah kak Nino melamarmu, ibunya meninggal dunia dan hal itu sempat membuat kak Nino terpuruk karena merasa bersalah."
Dania merasakan hatinya seperti tersayat. "Kenapa?"
"Ibunya kak Nino ingin melihat dia menikah, tapi saat itu kau mengatakan ingin melanjutkan pendidikanmu. Sebenarnya, Kakak sudah mengatakan pada kak Nino untuk menjemputmu agar kalian bisa menikah dan memenuhi keinginan ibunya. Sayangnya, kak Nino menolak dengan alasan ingin membiarkan kau memilih jalan hidupmu tanpa ada paksaan. Dan dia ingin kau kembali karena keinginanmu sendiri." jelas Deta.
Hantaman besar di hati Dania. Ia pikir, Nino adalah pria tua penuh ambisi yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Ternyata, selama ini Dania sudah memandang tinggi dirinya sendiri.
"Kak?"
"Iya, Sayang?"
"Apa Kakak yakin om Nino mencintaiku?" tanya Dania ragu.
Deta tersenyum. "Sangat yakin! Lalu, apa di hatimu sudah ada tempat untuk kak Nino?"
'Sudah adakah? Apakah benar sudah ada?'
Hallo semuanya 🤗
Terima kasih always stay buat Dania dan Om Nino 😘
__ADS_1
❤ dari kalian sangat di nantikan oleh mereka lhoo😍