Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
KEBENARAN


__ADS_3

Rasa pusing yang berputar menghantam kepala Nino setelah ia menyelesaikan makan malamnya bersama Dania. Belum sempat Nino kehilangan kesadaran, tiba-tiba saja tubuh Dania limbung dan hampir jatuh di dekatnya. Beruntung Nino sempat menahan tubuh Dania dan menggendongnya.


Kesadaran Nino yang perlahan menghilang, membuatnya tidak tahu arah. Nino hanya melangkah ke tempat terdekat yang bisa di jangkau olehnya. Tak peduli ia dan Dania memasuki kamar yang benar atau bukan.


Dengan hati-hati Nino merebahkan tubuh Dania di atas tempat tidur. Sementara, ia berniat untuk pergi mandi karena tubuhnya yang terasa panas. Namun, Nino mendengar Dania bergumam dan membuatnya kembali mendekati Dania.


Tatapan Nino terpaku pada Dania yang menggeliat di atas tempat tidur dengan kesadaran yang mulai menghilang. Bukan hanya Dania, Nino juga mulai kehilangan kendali atas dirinya. Nino mulai mendekati Dania dan mencumbu wanita yang selama ini begitu ia nantikan. Nino bahkan tidak bisa menguasai dirinya dan mulai memaksa Dania dengan merobek pakaiannya.


Suara kain yang terkoyak seolah menghentikan waktu di antara keduanya. Mata sipit Dania terbelalak ketika melihat tubuh Nino berada di atasnya. Namun, sayang tubuh Dania begitu lemah. Hanya air mata yang meluncur bebas dari matanya sebagai ungkapan perasaan yang entah mengapa tak bisa terucap. Dania pasrah. Apapun yang Nino lakukan padanya saat ini, semua itu memang sudah haknya dan Dania menyadari semua itu.


Air mata yang membasahi wajah Dania, ternyata mengembalikan kesadaran Nino yang langsung menjauh dari tubuh Dania. Nino bisa melihat betapa Dania tidak berdaya berada di bawah tekanan dirinya. Nafas Nino terengah-engah hingga dadanya bergerak tidak beraturan. Nino menahan hasrat yang menggebu di dalam dirinya. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi Nino harus segera mengatasi kesalahan yang terjadi pada tubuhnya.


Kegelisahan membuat Nino mencari sesuatu yang bisa menghentikan gejolak di dalam dirinya. Tanpa pikir panjang, Nino membuka laci dan menemukan sebuah pisau kecil tersimpan di sana. Nino melukai kakinya sendiri dan seketika kesadarannya kembali. Ia menangis dan mengutuki sikap buruknya pada Dania. Cukup lama Nino menatap Dania sembari ia menekan lukanya agar tidak terjadi pendarahan yang akan memperparah keadaannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi padaku dan Moony?" gumam Nino seraya menatap wajah sembab Dania. Wanita itu terlelap setelah lelah menangis.


Nino melihat luka di kakinya dan tersenyum kecut. "Luka kecil ini akan membuatku ingat jika aku pernah melukai dirimu, Moony."


Rasa sakit yang berdenyut di kakinya menuntun Nino untuk kembali ke tempat tidur dan memeluk Dania dengan erat.


"Semoga saat kau membuka mata, kau akan melupakan segalanya dan tidak akan membenciku lagi. Aku sangat mencintaimu, Istri kecilku."


***


"Itu bukan darahmu, Dania, tapi darah tuan Ferdinan ...."


Shanum memasuki rumah keluarga Sanjaya seorang diri dengan membawa tas besar di tangannya.


"Kak Shan?" Dania menubruk Shanum dan memeluk wanita lembut itu.


"Bagaimana kabarmu, Dania?" tanya Shanum, setelah Dania melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Dania memasang wajah sedikit kesal. "Aku baik! Tapi aku kecewa karena Kak Shan tidak kembali bersama kak Dito hari itu."


"Maaf, Dania! Hari itu aku harus membantu pasien untuk melahirkan. Dan saat aku kembali, kau sudah tidak ada di rumah." Shanum mencoba menjelaskan dengan tenang.


"Dimana Dito, Shan?" tanya Deta, kemudian memeluk Shanum sekilas.


"Dito ada sedikit pekerjaan, Kak." Shanum tersenyum dan melirik ke arah Nino. "Aku datang atas permintaan tuan Ferdinan."


Semua orang kini menatap Nino yang justru menggaruk tengkuknya dengan wajah polos seolah tidak tahu apapun.


Ricky menaikkan sebelah alisnya melihat tingkah Nino yang mulai kembali konyol, lalu menatap Dania yang juga terlihat bingung seperti dirinya.


"Shanum, bisa kau jelaskan ada apa sebenarnya?" pinta Ricky, mulai tidak sabar menghadapi kelakuan sahabatnya.


Shanum mengangguk dan membuka tas yang ia bawa, kemudian mengeluarkan sebuah seprai dari dalamnya.


"Seprai itu ...." Dania menunjuk ke arah seprai di tangan Shanum, sementara matanya terlihat menerawang jauh ke belakang.


Shanum menunjukkan bercak darah yang ada di seprai itu kepada semua orang. "Aku pikir, mana mungkin Dania dan tuan Ferdinan seceroboh itu. Jadi, aku putuskan untuk menyimpan seprai ini dan memastikan semuanya."


"Lalu?" tanya Dania pada Shanum, tapi matanya jelas menatap Nino.


"Setelah aku periksa, ini bukan darah akibat robekan selaput dara karena bercak darahnya terlalu banyak. Jadi, aku putuskan untuk meminta izin Dito untuk memeriksa sample darah milikmu, Dania. Dan benar! Itu bukan darahmu. Maka, beberapa hari setelahnya aku baru menemui tuan Ferdinan dan memintanya untuk memeriksa apakah ada luka di tubuhnya." jelas Shanum, kemudian beralih menatap Nino.


Nino menghela nafas. "Sebenarnya, setelah kejadian itu aku sedikit bingung dan sangat terkejut hingga aku nyaris melupakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi setelah dokter Shanum berbicara padaku, aku jadi ingat semuanya dan aku baru mengerti jika luka di kakiku adalah karena kejadian malam itu. Aku pikir tadinya mungkin itu luka yang tidak aku sadari."


"Darimana kau tahu jika itu darah yang berasal dari luka Nino?" tanya Ricky, yang masih tidak percaya jika Nino bisa menahan hasratnya sekuat itu.


Shanum mengeluarkan sebuah pisau yang terbungkus plastik. "Dari pisau ini! Dito sengaja menyimpannya dan memeriksa semuanya. Awalnya, dia pikir ada penyusup atau apalah itu. Namun, setelah kami perjelas semuanya. Ternyata inilah yang terjadi."


"Ada apa, Sayang?" tanya Ricky, begitu pandangannya bertemu dengan tatapan Deta yang di penuhi kilatan amarah.

__ADS_1


Deta tiba-tiba berdiri dan meminta semua orang untuk pulang. "Karena semuanya sudah jelas, aku rasa kita semua perlu istirahat."


Sikap Deta yang berubah dingin membuat siapa saja tidak ingin membantahnya dan langsung menuruti keinginannya tanpa bertanya. Bahkan, Shanum juga menurut dan langsung pulang bersama Dania dan Nino.


"Kak Shan, ada apa dengan kakak? Kenapa Dania merasa jika kakak sedang marah?" oceh Dania, ketika mereka berjalan di halaman rumah besar Sanjaya menuju mobil Shanum.


Shanum membuka pintu mobilnya dan mengusap kepala Dania setelah meletakkan tasnya. "Itu hanya perasaanmu saja, Dania. Kak Deta mungkin lelah. Sekarang, kau pulanglah bersama tuan Ferdinan. Aku juga harus kembali ke rumah sakit."


"Baik, Kak. Hati-hati di jalan!" Dania memeluk Shanum dan melambaikan tangannya setelah mobil kakak iparnya itu melaju.


"Ayo, sekarang kita juga pulang! Ini hari yang melelahkan." ajak Nino seraya menggandeng tangan Dania.


Dania tidak bergerak dan menahan tangan Nino. "Apa kakimu masih sakit? Kenapa tidak memberitahu aku jika kau terluka?"


Nino tersenyum dan sedikit menarik tangan Dania agar mendekat. "Lukanya sudah sembuh, Moony. Hanya luka kecil saja."


Sikap Nino yang pengertian membuat Dania merasa beruntung. Dania sudah bertekad akan menerima Nino di dalam hidupnya dan berusaha untuk memberikan tempat di hatinya bagi Nino.


"Kenapa tersenyum?" Nino mencubit hidung Dania karena melihat istrinya itu tersenyum penuh arti.


Dania menggosok-gosok hidungnya hingga memerah dengan wajah memberengut. "Tidak ada! Aku hanya sedang berpikir, hukuman apa yang akan kakak berikan pada kak Ricky?"


Nino memutar bola matanya seolah berpikir keras mencari jawaban.


"Aku rasa ... Ricky akan mendapatkan hukuman terberat dalam hidupnya." Nino tertawa jahat membayangkan penderitaan sahabatnya itu.


Melihat tawa di wajah Nino, Dania jadi berpikir jika Ricky sedang berada dalam masalah besar karena dirinya.


Hallo semuanya 🤗


Keep healthy and happy readers kuhh sayang 😘

__ADS_1


__ADS_2