Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
AWAL YANG BARU


__ADS_3

Sikap terbuka dan kejujuran yang selama ini dinantikan oleh hati yang kecewa, ternyata mampu menumbuhkan sebuah rasa yang jauh lebih indah dan menenangkan.


Setelah ungkapan hati Nino di rumah besar Sanjaya, hubungan Dania dan Nino semakin membaik walaupun tidak sebaik pasangan suami istri pada umumnya. Namun, setidaknya mereka berdua sudah mulai memberikan ruang di hati mereka masing-masing.


Seperti pagi ini, Dania bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan pakaian dan juga sarapan untuk Nino. Memang ini bukanlah hal yang baru ia lakukan, tapi kali ini ia melakukan semua itu atas keinginannya sendiri dan bukan karena permintaan sang kakak yang amat ia sayangi.


Dania memakai sandal rumahnya dan berjalan menuju walk in closet seraya mengikat rambutnya. Ia sedikit berdecak ketika mendapati ruang kosong di sisi tempat tidurnya.


'Dia tidak tidur disini lagi semalam.' Batin Dania.


Meskipun Dania sudah mulai membuka dirinya untuk Nino, tapi pria itu masih menolak untuk tidur bersama dengan Dania. Alasannya masih sama, ia takut tidak bisa menahan diri dan akan membuat Dania kecewa padanya.


Sejujurnya, Dania sedikit lega dengan keputusan Nino untuk tetap tidur di kamar terpisah karena ia tidak harus di hantui rasa khawatir jika tiba-tiba Nino menginginkan sesuatu darinya. Tapi di sisi lain, Dania merasa dirinya telah menjadi istri paling jahat di dunia karena terus menolak suaminya sendiri.


"Hah!" Dania menghembuskan nafasnya dengan kasar ketika ia mengambil sebuah jas yang menurutnya akan sesuai untuk di kenakan Nino.


Dania menatap lekat jas yang berada di tangannya dan mulai menganggap jas itu adalah Nino. "Kenapa kau begitu keras kepala? Apakah usiamu membuatmu jadi sulit di ajak bicara?"


Sejak kepulangan mereka dari rumah besar Sanjaya, Dania sudah memutuskan untuk belajar menerima Nino. Di mulai dari komunikasi yang sedikit membaik, kemudian makan bersama hingga akhirnya tidur di kamar yang sama. Namun, Nino tetap menolak untuk melakukan hal terakhir yang di minta Dania. Awalnya Nino setuju dan mengikuti keinginan Dania, tapi beberapa hari setelahnya Dania baru tahu jika Nino selalu pergi saat Dania sudah terlelap.


"Apakah aku harus membicarakan hal ini dengannya?" gumam Dania, ketika mengambil sebuah jam tangan di laci.


Dania berjalan dan meletakkan semua barang yang akan di kenakan Nino, lalu berjalan keluar kamar untuk mencari sosok Nino yang entah bersembunyi dimana.


"Selamat pagi, Nyonya," sapa Rossi yang berpapasan dengan Dania di ujung anak tangga.


Dania mengerutkan dahinya ketika melihat nampan yang di bawa oleh Rossi. "Untuk siapa kopi ini?"


"Untuk tuan, Nyonya," jawab Rossi seraya menundukkan kepalanya.


Tangan Dania terulur untuk mengambil alih nampan yang berada di tangan Rossi.


"Nyonya ...," Rossi mencoba menahan nampan di tangannya.


"Biar aku saja yang mengantarkan kopi ini untuk suamiku!" hardik Dania, kemudian menarik paksa nampan tersebut.


Rossi menundukkan kepalanya dan melangkah mundur tanpa berani menatap mata Dania.


"Tunggu sebentar!" titah Dania, pada Rossi yang sudah akan menuruni tangga.


"Iya, Nyonya," jawab Rossi seraya kembali mendekat pada Dania.


Dania berdeham untuk tetap menjaga wibawanya. "Seharusnya kau membantuku membuka pintunya, bukan?"

__ADS_1


Sebenarnya, bukan itu tujuan Dania kembali memanggil Rossi karena yang terjadi adalah ia tidak tahu sedang berada dimana suaminya kini, tapi lagi-lagi Dania tidak ingin orang lain membicarakan rumah tangganya yang tidak harmonis.


"Baik, Nyonya." Rossi merentangkan tangannya ke depan dengan sopan.


Dania tersenyum tipis. "Kau duluan!"


Rossi yang hanya seorang pelayan hanya bisa mengangguk dan menuruti semua perintah Dania, meskipun dalam hatinya ia bertanya-tanya apa yang sebenarnya di inginkan oleh nyonya mudanya ini.


Ternyata Rossi berhenti di sebuah pintu yang posisinya berhadapan dengan kamar utama.


Pintu langsung terbuka begitu Rossi mengetuk pintu dan terdengar suara Nino yang memintanya untuk masuk.


"Kau boleh pergi sekarang," ucap Dania ketika berjalan melewati Rossi. "Terima kasih, Rossi," sambungnya kemudian.


Saat pintu tertutup, Nino baru menoleh dan melihat Dania yang membawakan kopi untuknya. Sementara ia masih menopang tubuhnya di atas kursi kerjanya.


"Moony?" ucap Nino, ia bahkan tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


Dania tersenyum dan meletakkan kopinya di atas meja kerja Nino, lalu melangkah dan menyapu seluruh ruangan yang ternyata adalah ruang kerja Nino dengan mata sipitnya.


"Aku tidak tahu jika ada ruangan seperti ini di rumahmu, Om." Dania berjalan dan melewati rak yang berisi album-album Nino dan juga beberapa penghargaan yang di dapat oleh pria itu. "Nino Ferdinan ... Penyanyi terfavorit, Album terlaris, dan bla ... bla ... bla ...."


Bibir Dania yang bergerak menyebut namanya berulang kali membuat Nino kehilangan fokus dan mulai tidak bisa mengendalikan dirinya.


Dania berbalik dan melihat Nino sudah berada di balik laptopnya. "Aku mengantarkan kopi untukmu."


Nino mengikuti arah pandangan Dania dan tersenyum hangat. "Terima kasih."


"Lain kali, jika kau ingin kopi atau membutuhkan sesuatu, minta saja padaku. Jangan meminta pelayan untuk melayanimu!" pinta Dania, dengan nada yang terdengar sedikit asing di telinga Nino.


Senyuman tertarik di sudut bibir Nino, dan kali ini senyuman itu terlihat berbeda dari yang sebelumnya. "Apa kau cemburu dengan para pelayan itu?"


Mulut Dania terbuka karena begitu terkejut dengan ucapan Nino yang memojokkan dirinya. "Ap- Apa maksudmu!!!"


Nino terkekeh dan menutup laptopnya sebelum menghampiri Dania. "Aku hanya bercanda, Moony. Kau ini!"


Dania memasang wajah kesalnya. "Kau selalu saja bercanda, Om!"


"Itu salah satu rahasiaku agar tetap bisa terlihat awet muda." Nino mengambil cangkir kopi di mejanya dan mulai menyeruput kopi tersebut. "Siapa yang membuat kopi ini?" tanyanya.


"Pelayan," jawab Dania santai.


"Jadi, kau hanya membawanya?" tanya Nino, kecewa karena bukan sang istri yang membuatkan kopi untuknya. "Aku kira -"

__ADS_1


"Jika kau memintanya, aku pasti akan membuatkan untukmu." Dania langsung memotong ucapan Nino.


Nino kembali terkekeh. "Tidak, Moony! Itu tugas pelayan."


"Lalu, apa tugasku?" tanya Dania iseng.


"Tugasmu hanya satu," jawab Nino seraya mendekati Dania.


Dania mengernyit. "Hanya satu? Coba katakan! Apa itu?"


"Menikmati kebahagiaan yang aku berikan." Nino menyentuh kedua pipi Dania dengan lembut.


Sikap Nino yang seperti ini selalu berhasil membuat Dania salah tingkah dan kehilangan kata-kata, sehingga ia hanya bisa menatap wajah tampan yang ada di hadapannya kini.


"Kenapa kau diam, Moony?" tanya Nino, setengah berbisik.


Dania mengerjap dan memalingkan wajahnya. "Aku- Aku akan membuatkan kopi untukmu."


Sesungguhnya, bukan itu yang ingin Dania katakan, tapi bibirnya telah berkhianat dan mengatakan hal lain.


"Tidak perlu, Moony. Tetaplah disini dan temani aku sebentar saja!" pinta Nino seraya menahan pergelangan tangan Dania.


Dania melirik jam di dinding. "Bukankah seharusnya kau ke kantor hari ini?"


Nino menggelengkan kepalanya. "Ada sedikit masalah yang harus aku selesaikan."


Melihat raut wajah Nino yang serius membuat Dania terpaksa mengikuti keinginan pria itu untuk tetap tinggal dan menemaninya bekerja.


Cukup lama Dania duduk di sofa serta memperhatikan wajah tampan Nino yang semakin tampan jika sedang larut dengan pekerjaannya. Di tambah dengan kacamata baca yang bertengger di hidungnya, semakin mempertegas ketampanan dan kedewasaan yang dimiliki oleh pria itu.


Dania menggelengkan kepalanya. 'Apa yang kau pikirkan, Dania? Otak kecilmu terlalu banyak memikirkan hal-hal aneh!'


Untuk menghilangkan kejenuhan, Dania mulai berjalan mengitari ruang kerja Nino yang luas dan hangat tersebut. Tak ada aura CEO disana, yang ada hanya seperti museum yang menyimpan benda-benda kenangan lama.


Langkah kaki Dania tiba-tiba berhenti pada satu bingkai foto kecil yang hampir luput dari pengamatannya.


"Om, siapa wanita yang sedang memelukmu ini?"


Hallo semuanya 🤗


Author amburadul kembali setelah lama bersemedi 😜


Mohon dukungannya dan juga votenya 'ya readers kesayangan kuhhh 😘😘

__ADS_1


__ADS_2