Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
WANITA PENGGANGGU


__ADS_3

Aroma parfum wanita menyeruak memenuhi kamar tidur utama rumah besar Ferdinan ketika Dania baru saja keluar dari walk in closet. Wajahnya terlihat lebih segar berbalut pakaian yang rapih dan sesuai dengan kepribadiannya.


Dania mematut dirinya sekali lagi di depan cermin. Riasan natural dengan sentuhan elegan yang di hasilkan dari gaya rambut yang ia gunakan hari ini membuat penampilannya begitu sempurna. Gadis kecil yang manis dan selalu ceria itu kini telah bertransformasi menjadi wanita cantik nan anggun yang selalu menarik perhatian para kaum pria.


Senyum mengembang di wajah cantik Dania. "Ayolah, Dania! Om pedofil pasti akan terpesona melihat dirimu yang seperti ini."


Entah mengapa, setelah insiden ciuman mendadak Nino pagi ini. Dania seperti tertantang untuk menaklukkan hati suaminya. Walaupun sebenarnya ia sudah tahu jika Nino sudah bertekuk lutut padanya, tapi Dania masih ingin berusaha membuat ikatan di antara mereka berdua. Sebuah ikatan yang akan membuat dirinya dan juga Nino tidak akan bisa lari kemana pun, meski mereka menginginkannya.


"Apakah ini berlebihan?" gumam Dania, ketika membayangkan akan seperti apa reaksi Nino saat melihat dirinya nanti. "Aku jadi ragu jika hasilnya akan seperti yang aku bayangkan."


Dania kembali meletakkan tasnya di atas tempat tidur dan berdiri mematung menghadap jendela besar di depannya. Memang benar, Dania belum mencintai Nino untuk saat ini. Namun, hatinya merasa memiliki pria itu dan tidak ingin jika ada seseorang yang mengganggu miliknya. Itulah sebabnya Dania ingin menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya pada Nino karena selama ini ia berusaha tampil apa adanya di hadapan Nino. Dania tidak pernah menduga. Meskipun dirinya tidak berpenampilan menarik, tapi Nino masih mengakui pesonanya.


"Hah!" Dania melipat kedua tangannya. "Apakah ini adil baginya? Aku benar-benar takut akan melukai hatinya." gumamnya lagi.


Deg. Sebuah kenyataan yang tidak sadari Dania.


"Tidak! Tidak!" Dania memejamkan matanya berulang kali. "Aku hanya khawatir padanya karena dia orang yang baik."


Kenyataan yang masih belum bisa Dania terima. Mengantarkannya pada kebimbangan yang tanpa ia inginkan membawanya lebih dekat pada cintanya.


***


Keinginan hati terkadang bisa sangat melukai harga diri. Seperti yang terjadi pada wanita malang yang tengah menangisi nasibnya seorang diri di bangku taman, tak jauh dari pusat bisnis kota ini. Kedua tangannya menangkup wajah sembabnya akibat terlalu banyak menangis.


"Kenapa hidupku jadi seperti ini?" lirih wanita itu sambil terus terisak.


Seseorang terasa baru saja menduduki tempat kosong di sebelahnya. "Karena kau terlalu terburu-buru, Nona."


Wanita itu menoleh dengan wajah heran yang tak bisa ia sembunyikan ketika melihat seorang pria duduk di sampingnya. "Siapa kau?"


"Aku adalah satu-satunya orang yang bisa membantumu saat ini." Orang itu mengulurkan tangannya di iringi sebuah senyuman yang mengerikan bagi wanita itu.


Cukup lama wanita itu terdiam. Mengamati wajah pria asing di hadapannya. Separuh hatinya ingin langsung menyetujui tawaran pria itu. Namun, separuh hatinya yang lain ketakutan. Takut jika pria itu memiliki niat yang tidak baik padanya.


"Kau tidak perlu takut padaku, Nona! Kau sebenarnya sudah mengenalku sejak lama, tapi sekarang kau hanya sedikit melupakan aku." Pria itu kembali tersenyum.


Sebuah senyuman yang seharusnya membuat hati senang, justru terlihat sebaliknya di wajah pria itu. Senyumnya membuat siapapun yang melihatnya akan bergidik ngeri.

__ADS_1


"Baiklah! Aku akan menerima tawaranmu." Wanita itu mengulurkan tangannya dengan ragu. "Aku Mikayla. Dan mulai sekarang, kau harus membantuku."


"Tentu! Karena keberhasilanmu akan memudahkan jalan bagiku."


***


"Kenapa kau biarkan wanita sialan itu masuk ke ruanganku? Hah!!!" Teriakan Nino menggema ke seluruh ruangan yang di dominasi oleh kaca tersebut.


Liza merasakan lututnya gemetar, tapi ia juga tidak bisa bergerak atau bahkan mengeluarkan sepatah katapun.


"Kau diam? Tidak ingin membela diri?" tanya Nino, menurunkan sedikit nada bicaranya. Sadar jika ia sudah terlalu keras pada sekretarisnya itu.


"Maaf, Tuan!" Liza membungkukkan tubuhnya. "Nyonya itu mengatakan jika Tuan adalah temannya. Dia juga menyebut nama tuan Sanjaya. Jadi, saya pikir -"


"Kau pikir siapapun yang bisa menyebut namaku dan Ricky bisa bebas berkeliaran di dalam kantorku?" Nino memotong ucapan Liza.


Liza semakin dalam tertunduk. "Ini salah saya, Tuan."


"Benar! Semua ini memang salahmu." Nino menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. "Pergilah dan jangan biarkan siapapun masuk!" titahnya kemudian.


"Suasana hatinya semakin tidak jelas saja sekarang. Aku jadi tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapinya!" gerutu Liza, ketika ia berjalan menuju mejanya.


"Apa yang kau maksud adalah suamiku?" tanya Dania, tepat ketika Liza akan mendaratkan bokongnya di kursi.


Liza kembali menarik tubuhnya untuk berdiri karena terkejut dengan keberadaan Dania disana. "Nyo- Nyonya!"


Dania menaikturunkan kedua alisnya. Menuntut sebuah jawaban dari Liza. "Aku menunggumu, Liza."


Helaan nafas Liza terasa begitu berat. "Maaf, Nyonya! Saya hanya tidak memahami tuan. Suasana hatinya selalu buruk selama beberapa hari ini dan siang ini tuan sangat marah hingga tidak bisa mengontrol emosinya."


"Jadi, itu sebabnya kau mengutuk suamiku yang tidak lain adalah bosmu di belakangnya? Ckckck ...," Dania membuat intonasi suara yang membuat Liza semakin terpojok.


"Tidak, Nyonya, bukan begitu!" Liza mengibaskan kedua tangannya, tanda menolak pernyataan Dania. "Saya tidak pernah mengutuk tuan, tapi saya hanya tidak mengerti harus bagaimana menghadapinya." jelasnya.


Dania mengernyit mendengar penjelasan Liza. "Apa yang terjadi hari ini? Apakah dia sudah seperti itu sejak pagi?"


Sikap Dania yang mendorong Nino saat pria itu menciumnya, sedikitnya membuat Dania berpikir mungkin saja karena hal itu Nino jadi marah besar bahkan hanya untuk hal kecil sekalipun.

__ADS_1


"Tidak, Nyonya. Tuan memang sudah berwajah masam sejak pagi, tapi amarah tuan baru memuncak saat wanita itu datang." Liza mencuri pandang ke ruangan Nino yang hanya terhalang oleh kaca.


"Jangan menatap suamiku seperti itu!" bentak Dania, tanpa mengeraskan suaranya. "Kau hanya perlu menjelaskan padaku apa yang terjadi. Aku akan melihat keadaannya dengan mataku sendiri. Bukan melalui matamu!"


"Baik, Nyonya," jawab Liza. Semakin bingung gadis itu dengan kelakuan sepasang suami istri ini.


"Katakan padaku, Liza! Siapa wanita yang datang menemuinya?" tanya Dania, hatinya mulai curiga jika Nino memiliki wanita lain di belakangnya.


'Ah, pemikiran apa ini, Dania! Kau semakin posesif saja padanya. Sungguh memalukan!' Batin Dania. Geram sendiri dengan hatinya yang tidak sejalan dengan pikirannya.


Liza menatap sekilas wajah Dania yang dingin. "Saya juga tidak tahu, Nyonya. Wanita itu pertama kali datang ke kantor ini."


"Baru pertama datang, sudah langsung bisa menemui CEO kalian? Wah, hebat sekali!" Dania berdecak kagum, tapi dengan kilatan amarah di matanya. "Apa kau tahu siapa namanya?" tanyanya penasaran.


"Wanita itu tadi mengatakan jika namanya adalah Mikayla, Nyonya." Liza menjawab ragu-ragu.


Dania berpikir dalam. "Mikayla?"


"Benar, Nyonya." Liza menganggukkan kepalanya.


'Nama itu tidak asing di telingaku, tapi dimana aku mendengarnya?' Pikir Dania. "Apa dia salah satu mantan kekasih tuanmu, Liza?" tanya Dania curiga. Naluri kewanitaannya tiba-tiba muncul.


Pertanyaan Dania yang lebih seperti sebuah tuduhan membuat Liza bingung bukan main. Kenapa di satu sisi tuannya begitu marah melihat wanita itu? Namun, di sisi lain istrinya justru begitu ingin tahu siapa wanita itu.


"Sepertinya bukan, Nyonya," jawab Liza ambigu. Tak memberi kepastian apapun pada Dania.


Dania mendengus. "Sepertinya? Itu artinya kau juga tidak tahu pasti tentang wanita itu."


'Lalu, apa yang bisa aku lakukan, Nyonya?' Batin Liza menjerit. Di waktu yang sama ia harus menghadapi kemarahan tuan dan nyonya Ferdinan yang tanpa alasan.


Kebisuan Liza membuat Dania semakin gelisah dan tenggelam akan kesimpulan yang ia buat sendiri.


'Wanita di depanku ini saja sudah membuatku merasa terganggu. Dan sekarang, harus ada wanita lain lagi yang mencoba untuk mengganggu milikku. Sebenarnya, ada berapa banyak wanita di sisimu, Om pedofil?'


Hallo semuanya 🤗


Om Nino sama Dania nunggu love, like and vote dari kalian lhoo readers kuhh sayang 😘

__ADS_1


__ADS_2