
Suasana hening mengisi ruang tamu rumah besar Sanjaya siang itu. Bagaimana tidak, disana hanya ada tiga orang wanita yang saling menatap tanpa mengatakan sepatah kata pun. Mereka hanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
'Bagaimana mungkin dia bisa ada di sini?' Batin Deta.
'Siapa wanita ini? Sepertinya aku tidak asing dengan wajahnya. Apakah aku pernah bertemu sebelumnya dengan dia?' Batin Dania.
Sementara, wanita yang menjadi pusat perhatian Deta dan Dania hanya tersenyum tanpa henti.
"Apa kalian tidak merindukan aku?" tanya wanita itu, sengaja membuat raut wajah sedih.
Dania hendak membuka mulut, tapi tertahan karena kedatangan Ricky yang menarik perhatian semua orang.
"Sayang, aku pulang!" seru Ricky, tidak melihat siapa yang sedang berhadapan dengan istrinya.
Deta segera berdiri dan menghampiri suaminya. "Iya, Mas! Untung saja kau sudah pulang. Ada seseorang yang harus kau temui."
Langkah Deta menuntun Ricky untuk mengikutinya dan melihat siapa orang yang telah membuat raut kegelisahan di wajah istrinya.
Seketika mata Ricky terbelalak. Namun, pada detik berikutnya ia hanya mengerutkan dahinya hingga kedua alisnya menukik tajam.
"Apa kabar?" tanya Ricky seraya mengulurkan tangannya ke hadapan wanita itu.
Wanita cantik dengan tubuh proporsional itu menyeringai. "Astaga! Kenapa begitu kaku, Ky?"
Tangan wanita itu hampir merangkul tubuh Ricky, jika saja Ricky tidak menjauhkan tubuhnya dari wanita itu dengan segera.
"Hati-hati dengan tanganmu! Aku sudah punya keluarga sekarang." Ricky merangkul bahu Deta dengan erat.
"Aku tahu! Itu saja kau marah." sungut wanita itu, kemudian berjalan mendekati Dania. "Kau pasti Dania?" tanyanya.
Dania mengangguk ragu. "Aku tidak begitu mengenalmu, tapi aku rasa kita pernah bertemu."
"Tentu saja! Karena aku -" Ucapan wanita itu menggantung akibat suara bising yang di ciptakan Nino.
"Moony! Aku datang untuk menjemput ...." Nino terperangah ketika ada dua wanita sedang menatap ke arahnya secara bersamaan.
Kaki Dania dengan sigapnya ingin menghampiri Nino. Tidak seperti bibirnya yang terkunci rapat. Sayangnya, belum sempat Dania mendekat. Wanita yang asing bagi Dania itu, tiba-tiba saja memeluk tubuh Nino dengan erat. Mendahului dirinya.
"Aku merindukanmu." ungkap wanita itu berulang kali.
Tubuh Dania lunglai. Kakinya seolah tidak berpijak. Dania bingung harus bereaksi seperti apa. Baginya ini terlalu tidak biasa, karena selama menikah dengan Nino baru kali ini ada wanita lain yang menyentuh suaminya.
__ADS_1
Tangan Dania berpegangan pada ujung kursi, sementara nafasnya masih belum teratur akibat rasa terkejut yang tidak juga hilang.
Di hadapan Dania kini, ada Nino yang terlihat menerima perlakuan wanita itu dengan senang hati. Ia bahkan tidak mencoba melepaskan dirinya dari pelukan wanita itu.
Dania tersenyum getir. "Untuk apa aku melihat tontonan bodoh ini!"
Tanpa berpamitan, Dania melenggang keluar dari rumah besar Sanjaya. Meskipun ia belum mendapatkan jawaban dari kegelisahan hatinya selama beberapa hari ini.
"Dania! Tunggu, Sayang!" panggil Deta, lalu mengejar langkah Dania yang sudah menghilang di balik pintu.
Teriakan Deta menyadarkan Nino yang langsung menghempaskan tubuh wanita itu sejauh mungkin dari dirinya.
"Jangan pernah melakukan hal seperti itu lagi atau aku akan membuatmu menyesal telah melakukannya!" ancam Nino, tanpa rasa iba sedikitpun.
Wajah hangat dan humoris Nino dengan cepat berganti menjadi dingin juga kejam. Siapa saja yang berada di bawah tekanannya saat itu pasti lebih memilih mati daripada harus merasa terintimidasi oleh pria itu.
***
Sementara, di halaman rumah besar Sanjaya. Dania merasa dirinya sangat bodoh. Menangisi pria yang bahkan tidak pernah ada di hatinya.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!!!" rutuk Dania, di susul air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Itu bukan kebodohan, tapi itu cinta!" sahut seseorang di belakang Dania.
Deta membelai lembut rambut Dania. "Kau hanya sedang cemburu, Sayang."
"Itu tidak benar, Kak!" sanggah Dania, tanpa menatap kedua mata Deta.
"Kalau begitu, kenapa kau pergi begitu saja? Bukankah melihat kak Nino bersama wanita lain itu menyakitkan bagimu?" tanya Deta, mencoba menyudutkan adiknya.
Dania menggelengkan kepalanya. "Tidak, Kak, aku hanya merasa jika aku sepertinya tidak di butuhkan disana."
"Siapa yang mengatakan itu padamu?" tanya Nino, langkahnya semakin mendekatkan dirinya pada Dania.
"Aku bukan seseorang yang tidak peka akan situasi! Aku tahu, aku tidak butuhkan. Itu sebabnya aku pergi. Jadi, kau tidak perlu takut aku akan mengganggumu dengan wanita itu." Dania memalingkan wajahnya ke arah lain.
Bukan karena Dania membenci Nino. Bukan juga karena Dania tidak ingin melihat wajah tampan suaminya. Yang benar adalah Dania malu untuk menunjukkan kelemahannya. Hatinya tidak mengizinkan Dania untuk melakukan itu.
Nino membisu. Matanya hanya bisa menatap rambut panjang Dania yang hitam terurai. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya terlihat.
'Aku tidak ingin menahannya lagi!' Batin Nino, kemudian bergerak dan memeluk Dania dari belakang.
__ADS_1
Dania terkesiap. Ia ingin memutar tubuhnya, tapi terlambat. Nino sudah mengurungnya dengan kedua lengannya yang kekar. Dania terjebak dalam dekapan hangat suaminya. Awalnya tubuh mungil Dania terus memberontak untuk melepaskan diri. Namun, perlahan, tapi pasti. Dania pun menyerah dan membiarkan Nino memeluknya dengan erat.
"Jangan marah lagi, Moony! Aku tidak pernah menganggap itu sebagai sebuah pelukan. Aku hanya akan berpikir jika aku baru saja tertabrak sesuatu yang mengerikan." Nino berbisik sembari menahan tawa.
Dania yang kesal hanya bisa mendengus tanpa berniat membalas ucapan suaminya.
"Ehem ... Ehem ...," Deta mulai memberikan tanda akan kehadirannya.
Sontak saja, Dania kembali memberontak. Begitu juga dengan Nino yang langsung melepaskan pelukannya.
"Ka- Kak?" Dania tercekat.
Deta tersenyum nakal. "Tenang saja! Aku tidak mengintip, tapi hanya melihat sedikit."
Mata Dania membulat sempurna. "Kakak!"
"Aku hanya bercanda. Lagipula, apapun yang kalian lakukan itu wajar! Kalian sepasang suami istri. Jadi, sering-seringlah bertengkar dan berbaikan seperti ini. Itu baik untuk perkembangan hubungan kalian." Deta mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah Nino.
Nino menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba saja menjadi gatal. "Aku akan ingat itu, Ibunya Tary."
"Apa?" pekik Dania, tak percaya dengan jawaban Nino.
Dania bergantian menatap Deta dan juga Nino yang tertawa bahagia, seolah baru saja memenangkan undian berhadiah.
"Kakak! Kakak!!!" teriak Dania, ketika Deta melambaikan tangannya acuh dan masuk ke dalam rumah. "Ada apa dengan kakak ini? Sepertinya hanya aku yang tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi." gumamnya.
Melihat tingkah menggemaskan Dania, membuat Nino semakin tidak bisa menahan diri. Terlebih ketika istrinya itu sedang mengomel tidak jelas tanpa suara. Bibirnya yang bergerak kesana-kemari seperti mengundang Nino untuk mendekat.
Cup...
Satu kecupan ringan berhasil mendarat di bibir mungil Dania yang dingin dan manis.
Dania seketika menoleh dan beradu pandang dengan Nino. "Apa yang kau -"
Cup...
Kecupan kedua kembali membungkam bibir Dania.
Dania yang kesal mencoba mengangkat tangannya untuk memukul dada Nino. "Kau ini -"
Tangan Dania tertahan di udara oleh tangan Nino. "Aku rela menjadi budakmu seumur hidupku, Moony. Tapi aku mohon, jangan terus menunjukkan pesonamu di hadapanku karena aku tidak yakin bisa menahannya lebih lama lagi."
__ADS_1
Hallo semuanya 🤗
Stay healthy and happy readers kuhh sayang 😘