Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
TERBAIK


__ADS_3

Bungkamnya seseorang yang banyak bicara, ternyata lebih menakutkan daripada ocehan yang bergaung sepanjang hari.


Dania mencuri pandang ke arah Nino yang sedang mengelap tubuhnya dengan washlap. Begitu telaten hingga Dania merasa begitu nyaman sampai tidak merasa jika Nino sudah selesai membersihkan tangannya.


"Turunkan tanganmu!" Nino sudah merapihkan peralatan mandi Dania kembali.


Dania benar-benar di buat malu dengan ucapan Nino. Bisa-bisanya ia tidak menyadari jika Nino sudah selesai dan membiarkan tangannya menggantung di udara.


"Tanganku pegal! Aku butuh stretching." Dania menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah. Setidaknya untuk menyelamatkan harga dirinya.


Nino terlihat tidak peduli dengan yang Dania lakukan. Pria itu hanya sibuk mengambil pakaian Dania dan merapihkan peralatan mandi milik Dania.


"Hei, apa yang kau lakukan?" Dania menahan dress-nya yang akan di buka oleh Nino.


"Mengganti bajumu tentu saja." Nino melangkah mundur dan melepaskan tangannya. "Tapi jika kau ingin menggantinya sendiri, aku akan keluar."


Dania mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya menukik tajam. Terlihat jika ia berpikir keras. Namun, saat tatapannya melihat ke tangannya yang masih terpasang infus, Dania pun akhirnya menghela nafas. "Tolong bantu aku!"


Tidak ada jawaban yang di berikan Nino, tapi dengan sigap ia langsung membantu Dania melepaskan pakaiannya.


Jantung Dania berdegup kencang. Tubuhnya membeku seperti patung lilin. Rasanya Dania malu dengan dirinya sendiri karena merasa seperti pengantin baru saja, walaupun kini sudah ada benih di dalam perutnya. Dan perasaan Dania semakin tidak karuan saja saat melihat sikap Nino yang nampak biasa saja meskipun kini tubuh Dania sudah hampir polos.


'Kenapa dia diam saja? Apakah dia benar-benar sudah tidak tertarik padaku?' Pikir Dania, tanpa melepaskan pandangannya dari Nino.


"Sudah selesai!" Nino mengemas pakaian kotor milik Dania. "Kau bisa istirahat kembali! Aku ingin membersihkan diriku juga."


Tanpa menunggu jawaban Dania, Nino sudah masuk ke kamar mandi dengan gerakan secepat kilat.


"Kau benar-benar hebat dalam menutupi kemarahanmu ...."


***


Tetesan air menimpa tubuh Nino yang terasa panas. Melihat tubuh polos Dania di depan matanya membuat Nino kesulitan mengendalikan diri. Bukan hal yang mudah menahan gejolaknya saat Dania ada di hadapannya dengan kondisi seperti itu. Andai saja, Nino tidak ingat dengan kondisi Dania, ia pasti sudah menerjang istri kecilnya itu. Tidak peduli jika masalah mereka belum terselesaikan.


"Hah, Moony!" Nino mengusap wajahnya dan menempelkan kepalan tangannya di dinding. "Apa yang harus aku lakukan padamu? Aku marah dan rindu di saat yang bersamaan. Aku ingin memelukmu, tapi juga ingin memarahimu. Bagaimana ini? Aku bisa gila kalau seperti ini."


Nino memejamkan matanya. Bayangan Dania tersenyum dan tertawa memenuhi kepalanya. Sentuhan dan dekapan Dania begitu ia rindukan.


"Moony ...," Nino mengerang saat merasakan sebuah tangan melingkari pinggangnya dari belakang. Ia pun menertawakan dirinya sendiri. "Aku terlalu merindukan istri kecilku sampai berhalusinasi seperti ini."


Mata Nino kembali terbuka dan melihat tangan itu benar-benar masih ada di perutnya. Segera ia berbalik dan melihat Dania yang tengah menatapnya. Pakaian Dania sudah basah karena kucuran air yang di nyalakan Nino.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?" Nino langsung mematikan kran air dan memakaikan handuk ke tubuh Dania, sementara ia pun langsung melilitkan handuk di pinggangnya. Dan, tanpa bertanya Nino langsung mengangkat tubuh Dania.


Dengan hati-hati Nino merebahkan tubuh Dania di atas bed pasien dan meletakkan kembali kantung infus Dania pada tiangnya.


"Apa yang kau lakukan?" Nino mengulang pertanyaannya saat Dania masih betah menatapnya.


"Aku ingin mandi." Dania menjawab ringan.


"Tapi aku sudah memandikanmu tadi." Sedikit kesal, Nino melangkah menjauhi Dania untuk mengambil kausnya.


Dania diam sesaat. "Tapi aku ingin mandi bersamamu. Yang tadi itu bukan mandi."


Nino berbalik dan melihat Dania yang sudah ingin melepaskan pakaiannya. "Apa kau tidak bisa memikirkan bayi kita? Kondisimu saat ini sedang tidak sehat. Tolong jangan bertingkah kekanak-kanakan seperti ini!"


Dania tersenyum sinis. "Siapa yang bertingkah kekanak-kanakan? Kau atau aku?"


"Apa yang coba kau katakan?" Nino menatap Dania untuk menuntut penjelasan.


"Sejak kemarin, kau terus menghindari aku. Aku tahu kau marah, tapi kau berusaha menutupinya. Kenapa? Heh!" Dania mulai menaikkan nada bicaranya.


Nino menyisir rambutnya dengan tangan, sebelum mendekati Dania. "Ayo, ganti bajumu atau kau akan demam nanti!"


"Tidak mau!" Dania mengeratkan handuk ke tubuhnya. "Biar saja aku sakit! Lagipula, aku sedang di rumah sakit. Jika kau merasa aku merepotkan, kau boleh pergi. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku sudah terbiasa hidup sen -" Tertelan sudah kalimat Dania karena Nino langsung menyergap bibir yang menggoda itu.


Dania membisu. Hatinya seperti tercubit. Sakit tapi tidak menimbulkan luka. Ia melepaskan kepalanya dari kening Nino. Di tatapnya wajah tampan Nino yang mungkin saja akan di warisi anaknya nanti.


"Aku pikir kau mencintai aku, ternyata cintamu hanya sebesar itu." Dania mulai meneteskan air mata. "Apa karena tante Mikayla sudah kembali dalam hidupmu?" cicit Dania dengan terisak.


Nino tidak menjawab, melainkan langsung mendekap tubuh Dania. "Kau salah paham, Moony. Semuanya tidak seperti yang kau pikirkan."


Dania mendongak. Mulutnya tidak bertanya, tapi matanya menyiratkan banyak tanya.


"Mau memberikan aku satu kesempatan untuk menjelaskan?" Nino menangkup wajah Dania dengan kedua tangannya.


Awalnya Dania ragu, akankah hatinya bisa menerima semua kenyataan yang di ucapkan Nino. Namun, Dania juga tidak bisa membiarkan masalahnya terus berlarut-larut seperti ini. Maka, ia pun mengangguk sebagai sebuah jawaban dan persetujuan.


Nino mengecup kening Dania sebelum bicara. "Hari itu ... Tiba-tiba Mikayla datang ke kantorku dan menangis."


Flashback on ...


"Liza, kapan ini akan selesai? Hah! Aku lelah." Nino menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.

__ADS_1


Liza hanya tersenyum sopan seperti biasa. "Apakah anda ingin saya buatkan sesuatu, Tuan?"


Mata Nino seketika berbinar. Ia langsung menegakkan tubuhnya. "Tolong buatkan aku rujak es krim, Liza!"


Wajah Liza memucat. Maksudnya adalah membuatkan kopi atau teh, bukan yang lainnya. "Tapi, Tuan, saya tidak bisa."


"Apa katamu?" Nino sudah memasang wajah menyeramkan lengkap dengan senyum mematikan.


"Tidak, Tuan." Liza membungkuk hormat seraya melangkah mundur. "Saya akan segera membawakannya untuk anda."


Nino mengangguk senang. Tidak tahu mengapa rasanya tiba-tiba Nino ingin makan rujak es krim, walaupun ia sendiri tidak pernah memakannya.


Beberapa menit kemudian, pintu ruangan Nino terbuka. Di pikirnya Liza yang datang dengan pesanannya. Namun, saat menoleh Nino melihat Mikayla yang datang sambil menangis.


"Nino ...," Mikayla langsung menghampiri Nino dan memeluknya.


Tentu saja Nino terkejut bukan main. Ia mencoba melepaskan diri dari pelukan Mikayla, tapi wanita itu menahannya.


"Peluk aku untuk yang terakhir kali, No. Anggaplah ini sebagai salam perpisahan dari sahabatmu." Mikayla menarik tangan Nino agar membalas pelukannya.


Walaupun enggan, Nino akhirnya memeluk Mikayla dengan ragu dan juga risih.


"Selamat untuk pernikahanmu, Nino! Maaf karena aku terlambat mengucapkannya. Setidaknya aku sudah mengatakannya bukan?" Mikayla masih enggan melepaskan pelukannya. "Jagalah Dania! Dia keponakanku satu-satunya."


"Tentu!" Nino langsung mendorong tubuh Mikayla agar menjauh darinya. "Kau tidak perlu mengingatkan aku! Aku ingat dimana posisimu dan aku. Aku juga tahu bagaimana harus memperlakukan istriku sendiri."


Flashback off ...


"Hanya itu?" Dania menatap curiga pada Nino yang baru selesai menceritakan pertemuannya dengan Mikayla beberapa hari yang lalu.


Nino membalas tatapan Dania dengan mengulas senyuman di wajahnya. "Memangnya kau pikir apa? Aku berselingkuh? Aku sudah memiliki istri yang muda, cantik, dan pintar seperti dirimu. Apalagi yang aku butuhkan? Hem? Tidak seperti dirimu yang mungkin ingin mencari pria dengan kualifikasi lebih baik dariku."


Dania mengerucutkan bibirnya. "Kau menyindir aku, Om pedofil?"


"Aku tidak menyindir, tapi aku tahu diri." Nino baru saja selesai mengganti pakaian Dania untuk yang kedua kalinya.


"Tapi kau yang terbaik, Om ...."


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino 😍

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2