Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
SWEET CHAPTER 4


__ADS_3

Manisnya cinta, ternyata mampu mengalahkan pahit dan getirnya kehidupan. Meski kepahitan itu akan tertinggal di ujung lidah, tapi rasa manis yang datang bersama cinta akan perlahan menggantikan rasa pahit yang masih ada.


Dania baru menyelesaikan sarapan paginya saat melihat Nino keluar dari walk in closet dengan pakaian kerja yang baru. Ya! Nino harus mengganti pakaiannya karena Dania berhasil menariknya kembali ke atas ranjang.


"Kenapa menyembunyikan senyummu itu? Hemm?" Nino sudah berdiri di depan Dania dengan setelan jas yang rapih. Tangannya mengusap puncak kepala Dania dan mengecupnya sayang.


Kepala Dania mendongak. Mulutnya menggigit sendok dengan sebelah mata yang mengerling, bermaksud menggoda Nino kembali. "Kau terlihat sangat tampan."


Nino berkacak pinggang dan mengalihkan pandangannya untuk sesaat ke arah lain. "Tidak lagi, Moony. Aku sudah sangat terlambat!"


Wajah Dania memberengut. Ia tidak mengatakan apapun. Sementara, kakinya sudah memakai sandal rumah dengan tangan yang sibuk menggulung rambutnya ke atas kepala.


"Mau kemana?" tanya Nino. Tangannya sudah melingkari perut Dania yang semakin membesar untuk menahan langkahnya .


Dania memejamkan matanya saat Nino menyusuri leher jenjangnya yang terbuka. "Mandi."


"Mandi denganku?" Suara Nino sudah semakin serak dan berat, seperti sedang menahan sesuatu.


"Tidak mau!" Dania membuka matanya dan langsung menyingkirkan tangan Nino dari atas perutnya. "Kau sudah terlambat bukan? Pergi sana!"


BRAK ...


Dania membanting pintu kamar mandi tepat di depan wajah Nino. Pria itu hanya meringis sambil memijit pelipisnya.


"Niatku hanya menggodanya, tapi justru aku yang kena batunya. Hah!"


***


Siang hari yang terik rasanya seperti membakar kulit hingga menjadi keripik. Apalagi yang di inginkan di cuaca yang begitu panas, selain berendam air dingin tentunya.


Suara riak air terdengar di taman belakang rumah besar Ferdinan saat Nino baru tiba di rumahnya. Kakinya melangkah cepat menuju sumber suara. Matanya terbelalak saat melihat Dania sedang bermain air bersama seorang pelayan. Kondisinya yang tengah hamil besar terlihat begitu kontras dengan bikini yang ia kenakan.


"Moony ...," Nino berdeham seraya menggulung lengan kemejanya, setelah melemparkan jasnya entah dimana tadi. "Sepertinya kau sangat menikmati harimu hingga melupakan aku."


Dania menatap Nino sekilas, kemudian tersenyum pada pelayan yang berdiri tak jauh darinya. "Rossi, pergilah! Kau tidak perlu menemani aku lagi karena teman hidupku sudah pulang."


Rossi mengangguk paham dan berjalan mundur setelah menyapa Nino sopan.

__ADS_1


"Maafkan aku, Om pedofilku yang tampan! Karena terlalu asyik bermain, aku sampai lupa mengantarkan makan siang untukmu. Kau sudah makan?" Dania berniat untuk naik, tapi Nino memberinya isyarat untuk tetap di tempatnya. "Kenapa?"


Nino menyisir rambutnya dengan tangannya. Bibirnya tetap bungkam, tapi tangannya dengan cepat melepaskan pakaiannya satu persatu.


Dania tersenyum nakal. "Aku menunggumu."


Perlahan Nino memasukkan kakinya ke air hingga setengah tubuhnya sudah berada dalam air. Tanpa banyak kata, tangannya mulai bergerilya di bawah air untuk menyusuri tubuh Dania.


"Om pedofil ...," lirih Dania, berusaha membalikkan tubuhnya untuk menatap Nino.


"Hemm?" Nino masih menikmati apa yang sedang ia lakukan, tanpa melihat Dania.


Dania tidak kuat lagi. Kepalanya bersandar di dada bidang Nino, sementara tangannya berpegangan kuat pada lengan kekar Nino. "Om ... Aku ... Ma- Mau ...."


"Yes, My sweet baby wife," bisik Nino, masih enggan membuka matanya.


"AKU MAU MELAHIRKAN!!!" teriak Dania, dalam satu helaan nafas.


Nino seketika membelalakkan matanya. Tubuhnya tiba-tiba mematung. Namun, itu hanya sesaat. Dengan cepat ia naik ke atas dan menyambar handuk yang sudah di sediakan pelayan.


"Bertahanlah, Moony!" ucapnya berulang kali. Terlihat kecemasan di wajah tampannya.


"Kapan pertama kali kau merasakan kontraksi, Moony?" tanya Nino cemas, tapi tangannya masih bergerak cepat memakaikan pakaian Dania.


"Saat ... Kau ... Pergi ke- Ke kantor pagi ini." Dania mengusap lembut perutnya dengan nafas yang tersengal-sengal.


Nino mengusap wajahnya kasar. "Astaga! Kenapa kau tidak menghubungi aku? Dan, kenapa kau justru berenang? Bahkan membiarkan aku bermain-main?"


Sudut bibir Dania menarik senyuman. "Tenanglah! Kak Shan sudah mengajarkan aku segalanya." Dania menjeda ucapannya untuk mengatur nafasnya. "Sekarang ... Kita pergi ke rumah sakit saja! Aku yakin ... Kak Shan sudah menunggu ... Disana."


"Kau memang sulit di mengerti, Istri kecilku ...," Nino mengangkat tubuh Dania dengan hati-hati dan mengecup kening yang sudah di penuhi peluh itu dengan penuh cinta.


***


Oeekk ... Oeekk ...


Suara tangisan bayi memecah keheningan di depan ruang bersalin. Semua yang ada di sana bernafas lega. Rasanya seperti mereka baru saja bisa menghirup oksigen kembali.

__ADS_1


Tidak lama setelahnya, sosok orang tua baru keluar dengan senyuman yang lebar di wajah tampan yang terlihat sedikit berantakan.


"Bagaimana keadaan Dania dan bayinya, Kak Nino?" Deta orang pertama yang bertanya begitu melihat Nino keluar.


Nino menatap Deta dalam. Matanya sudah berkaca-kaca. Seorang Nino Ferdinan tidak pernah kehilangan kata-kata seperti ini, tapi apa yang terjadi saat ini? Sungguh aneh!


Ricky yang memahami situasi, langsung merengkuh tubuh sahabatnya itu dan menepuk-nepuk punggung tegapnya berulang kali. "Kau hebat! Congrates, Brother!"


Tangan Nino terulur untuk membalas pelukan Ricky. Air mata akhirnya tumpah juga dari matanya yang sejak tadi terasa panas.


Menemani Dania untuk melahirkan buah cinta mereka ke dunia ini bukanlah hal yang mudah bagi Nino. Melihat istrinya menjerit kesakitan. Peluh dan air mata menjadi satu. Semua itu membuat Nino merasa bersalah. Ingin rasanya menggantikan posisi Dania merasakan rasa sakit yang luar biasa itu. Namun, semua perasaan itu tiba-tiba menguap saat melihat wajah buah hatinya yang lahir ke dunia dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun.


"Terima kasih! Terima kasih! Aku mencintaimu, Istri kecilku."


Hanya kalimat itu yang bisa Nino ucapkan atas perjuangan Dania melahirkan anak mereka ke dunia ini.


Nino melepaskan pelukannya untuk menghapus air matanya. Ia menatap wajah-wajah keluarganya satu persatu dengan senyum di wajahnya. "Maaf! Aku terlalu bahagia sampai melupakan kalian semua."


"Tidak apa-apa, Nino. Bagaimana keadaan Dania dan bayinya?" tanya Rika, mengulang pertanyaan Deta.


"Dania dan anak kami baik-baik saja, Tante." Nino masih belum bisa mengatasi rasa yang meluap-luap di hatinya hingga bayangan akan perjuangan Dania masih menggantung di pelupuk matanya dan mengundang kembali air matanya.


Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahu Nino dengan cukup keras. "Sudah jadi ayah harusnya lebih kuat, bukan cengeng seperti ini!"


Nino menoleh dengan senyum di wajahnya. "Siap, Kakak ipar!"


Dito meringis. Masih tidak rela Nino memanggilnya seperti itu. "Masuk sana! Temani adikku! Nanti kami akan melihatnya saat sudah di ruang perawatan."


Kepala Nino mengangguk dan tanpa di duga, ia memeluk Dito meski pria dingin itu sempat meronta minta di lepaskan.


"Terima kasih, Kakak ipar! Terima kasih karena kau sudah membiarkan aku untuk mencintai dan juga menjaga adikmu yang berharga."


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino 😍


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2