Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
HAMIL?


__ADS_3

"Apakah ...," Kata-kata Ricky menggantung begitu saja saat ia merasakan genggaman yang sangat erat di tangannya.


"Apakah apa?" tanya Nino bingung. Bergantian menatap Ricky dan Deta yang juga saling melemparkan tatapannya, tapi tiba-tiba matanya membulat sempurna. "Apakah ...," Kerongkongan Nino langsung tercekat.


Ricky menaikkan sebelah alisnya. "Apa? Aku tidak yakin kau memikirkan hal yang sama denganku."


"Ky?" Wajah Nino seketika pucat, sementara tangannya sedikit terasa gemetar saat menyentuh bahu Ricky.


"Kenapa?" Kali ini Ricky yang di buat bingung dengan tingkah Nino.


Tatapan Nino beralih pada Deta dan tanpa menghiraukan pertanyaan Ricky. "Apakah Dania memiliki riwayat penyakit berbahaya, Ibunya Tary?"


Deta mengernyitkan dahinya. "Seingatku tidak, Kak! Memangnya kenapa?"


"Aku hanya khawatir jika ada yang salah dengan tubuh Dania. Atau mungkin penyakit lamanya yang kambuh kembali. Karena selama kami menikah, baru kali ini aku melihatnya sepucat itu." Nino menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya. Kesal juga di buat frustasi dengan pikirannya sendiri.


Kekhawatiran Nino nampak jelas di matanya, meskipun ia tidak mengatakannya. Namun, Deta dan Ricky justru memiliki pemikiran yang berbeda dengan sahabatnya itu. Sayangnya, mereka tidak ingin memberi harapan palsu pada Nino yang hanya akan membuatnya kecewa.


Terdengar Deta menghela nafasnya dan tersenyum. "Aku rasa Dania hanya kelelahan, Kak. Sejak kecil Dania anak yang kuat dan jarang sekali sakit. Boleh aku menemuinya?"


"Tentu saja! Kau tidak perlu bertanya, Ibunya Tary."


***


Suasana tenang dan sunyi menemani pagi hari Dania yang sedikit berbeda. Awalnya Dania ingin mengerjai Nino, tapi lama-lama ia bosan juga seorang diri di dalam kamar dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke dapur.


Ketika tangan Dania sedang sibuk menjepit rambutnya ke belakang, sementara kakinya memakai sandal rumah yang nyaman tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Mata sipit Dania seketika melebar begitu melihat sosok cantik sang kakak yang melangkah ke arahnya.


"Kakak!" Dania langsung menghambur ke pelukan Deta yang menyambutnya dengan antusias juga.


Kedua tangan Deta mendekap tubuh adik kecilnya yang sudah tumbuh dewasa. "Hati-hati, Sayang!"


"Ah, iya!" Perlahan, Dania melepaskan pelukannya dan tersenyum seraya menjepit sedikit ujung lidahnya. "Maaf, Kak, aku lupa kalau Kakak sedang hamil."


Wajah Deta mengulas senyuman. Tatapannya terfokus pada perubahan tubuh Dania. "Adikku terlihat lebih berisi sekarang."


"Kakak!" pekik Dania, kemudian menangkup pipinya dengan kedua tangan. "Aku hanya kurang olahraga saja dan sering sekali makan di tengah malam. Jadi seperti ini!" elaknya.

__ADS_1


Deta tertawa dengan anggukan yang di buat-buat. "Iya, baiklah! Tidak masalah juga jika kau gemuk, selama kak Nino masih mencintaimu."


Pipi Dania semakin merona karena kata-kata yang di ucapkan Deta. Diam-diam Dania juga mulai menyadari jika berat badannya bertambah dan mulai memiliki ketakutan jika Nino akan berpaling. Apalagi jika mengingat betapa proporsional tubuh Mikayla. Ah! Dania merasa tiba-tiba kepalanya berputar.


"Dania!" jerit Deta, ketika melihat tubuh Dania limbung dan tengah berpegangan pada dinding. "Kau baik-baik saja? Ayo, kita pergi ke dokter!" ajaknya.


Dania langsung menolaknya. "Tidak, Kak! Aku hanya lelah dan sedikit lapar."


Terdengar Deta menghela nafasnya dan menuntun Dania untuk duduk di tepi tempat tidur. "Sayang, kapan terakhir kau datang bulan?"


Bola mata Dania berputar, mencoba mengingat apa yang terjadi belakangan ini. "Aku lupa, Kak!" Tersenyum ringan tanpa dosa.


Ingin rasanya Deta mencubit kedua pipi Dania seperti dulu, tapi mengingat adiknya sekarang sudah dewasa membuatnya urung melakukan hal itu.


"Sayang ...," Deta meraih tangan Dania dan menggenggamnya. "Apakah ... Kau sedang hamil?" tanyanya, begitu hati-hati karena takut Dania akan marah atau tersinggung.


Dania mengernyit. Detik berikutnya ia ingin tertawa, tapi juga menangis. Tidak tahu mengapa hatinya jadi serba salah. Dan hal itu tentu saja tak luput dari pengamatan Deta.


Deta mengusap-usap punggung tangan Dania dengan lembut. "Sayang, apa kau belum siap untuk menjadi seorang ibu?"


Pandangan Dania seketika bertumpu pada mata bulat sang kakak yang juga selalu berperan menjadi ibu untuknya.


"Diamlah!"


"Tidak!" Terdengar sebuah benda terjatuh. "Aku juga ingin masuk!"


Hening sejenak.


"Lihat! Kau merusak kue buatanku! Dasar pengganggu!"


Dania dan Deta saling berpandangan. Keduanya mengernyitkan dahi kemudian saling menggelengkan kepala sebelum berjalan keluar kamar dan melihat suami-suami mereka tengah bertengkar, sementara Tary berada di antara keduanya dengan tawa menghiasi wajah imutnya.


"Mas!" geram Deta, kesal melihat tingkah suaminya yang semakin kekanakan akhir-akhir ini.


Ricky menoleh dan menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. "Sayang," Deta melangkah untuk membantu Nino membereskan kuenya, tapi langsung di tahan oleh Ricky.


"Tidak perlu, Ibunya Tary! Aku sudah selesai." Nino segera berdiri dan meletakkan kuenya di atas meja dekat pintu. "Maaf, aku jadi mengganggu kau sedang mengobrol dengan Dania!"

__ADS_1


Langkah Dania mengurangi jaraknya dengan Nino, hingga kini tubuhnya sudah menempel dengan suaminya itu. Dania bahkan sudah tidak ragu untuk melingkarkan tangannya pada lengan kekar Nino di hadapan orang lain. Namun, niat awalnya ingin pamer kemesraan justru berakhir tidak baik. Perutnya kembali bergolak dan hidungnya seperti mencium aroma aneh yang membuatnya mual.


"Tidak masalah, Kak Nino, aku dan Dania hanya mengobrol ringan." Mata Deta memicing ketika melihat keringat dingin mengucur di dahi Dania. "Kau baik-baik saja, Sayang?" tanyanya cemas.


Dania mengangguk lemah. "Iya, Kak."


Nino menoleh dan melihat keadaan Dania masih sama seperti pagi tadi. Sebenarnya, Nino heran karena saat Dania keluar kamar tadi wajahnya terlihat lebih segar. Sangat berbeda dengan kondisinya saat ini.


"Moony, lebih baik kau istirahat saja! Nanti akan aku bawakan sarapan untukmu ke kamar." Nino sudah akan membawa Dania ke kamar, tapi Dania langsung menolaknya.


"Aku ingin sarapan bersama dengan kalian semua." Dania masih merengek, meskipun perutnya semakin tidak karuan.


Nino menyerah. Tangan besarnya mengusap puncak kepala Dania sebelum mengecupnya. "Baiklah! Ayo, turun!"


Dania melepaskan tangannya dari lengan Nino. "Aku akan mengganti pakaianku dulu."


"Kalau begitu, kami akan menunggumu di bawah." Setelah mengatakan hal itu, Deta melangkah meninggalkan Dania di ikuti Ricky dan juga Tary.


"Kau yakin baik-baik saja?" tanya Nino sekali lagi, untuk memastikan.


Dania mengangguk dan mendorong tubuh Nino. "Pergilah! Aku akan menyusul."


Secepat kilat Dania kembali masuk ke kamar dan menutup pintunya. Kakinya melesat cepat menuju kamar mandi untuk mengeluarkan apa yang ada di perutnya. Namun, begitu sampai di depan wastafel, semua rasa aneh yang Dania rasakan sejak pagi itu pun menghilang begitu saja.


"Aneh!" gumam Dania, seraya memegangi perutnya. Di lihatnya pantulan wajahnya di cermin. "Wajahku masih pucat, tapi perutku sudah baik-baik saja."


Gemericik air terdengar ketika Dania memutar kran air dan membasuh wajahnya. Tiba-tiba Dania jadi teringat percakapannya dengan Deta sebelumnya.


"Apakah benar aku hamil?" tanya Dania pada dirinya sendiri, kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak! Tidak! Mana mungkin secepat ini. Sepertinya aku hanya terlambat makan. Sama seperti saat aku di asrama dulu."


Dania terdiam. Hanya menatap lekat wajahnya di cermin. Suara air pun menjadi temannya berpikir kali ini.


"Aaarrgghhh!!!" Dania memukul pelan kepalanya. "Kenapa aku jadi bingung seperti ini. Sebaiknya, aku menghubungi kak Shan untuk memastikannya."


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino 😍

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2