Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
DITO SI DINGIN


__ADS_3

Udara pagi yang menusuk tulang dan membangunkan bulu-bulu halus di sekujur tubuh, memaksa sepasang mata untuk terbuka karena tak mampu melawan dingin yang menyerang tubuhnya. Gemeretak bunyi giginya akibat menahan hawa dingin yang menerjang tubuhnya begitu kontras dengan deru nafas teratur sosok yang tengah berbaring nyaman di atas tempat tidur. Mata itu menatap dengan sayu wanita yang selalu bisa mendatangkan kebahagiaan dalam hidupnya. Tanpa sadar, tangannya terulur untuk mengusap lembut pipi halus itu.


"Euunggg ...." Suara erangan lolos begitu saja dari bibir ranum itu, meski matanya masih tertutup rapat.


Sebuah senyuman terbit sebagai akibat dari erangan yang entah mengapa terdengar begitu seksi di sepasang telinga itu.


"Kau menggodaku, Istri kecilku yang pemarah? Hemm?" bisiknya lembut dengan mata berbinar.


Seandainya bisa, ingin ia menerjang tubuh yang terbaring dengan begitu nyaman meski tanpa memeluk tubuh atletisnya.


"Tidak! Tidak! Kakak ipar pasti akan menggantungku hidup-hidup jika mendengar teriakan adiknya." Wajah tampan itu meringis membayangkan betapa mengerikannya saat kakak iparnya tengah di kuasai amarah.


Sepasang mata itu kembali menatap intens wajah cantik sang istri yang di buai mimpi. Tak terasa detik berganti menit yang menguji kesabarannya. Banyak hal yang ingin sekali ia jelaskan, tapi tak memiliki kesempatan.


Helaan nafasnya terasa berat ketika mengingat semua masalah yang masih belum terselesaikan. "Cukup sudah! Aku harus pergi sekarang."


Baru saja kakinya akan menopang tubuhnya, tiba-tiba tangan putih dan halus di atas tempat tidur itu jatuh menimpa bahunya yang memang tengah duduk bersila memandang wajah cantik istrinya. Wajahnya mendongak dan melihat mata itu masih terpejam.


"Moony, kenapa kau selalu saja menggodaku?"


***


Kediaman keluarga Riady memang selalu nampak sepi setiap harinya. Tak ada tawa dan langkah mungil atau senda gurau dari pemilik rumah, yang ada hanya ketenangan yang nyaris seperti kesunyian.


"Selamat pagi, Sayang," sapa Shanum ketika melihat Dito menuruni tangga.


Dito hanya menampilkan senyum tipis di wajah datarnya, sebelum mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah.


Melihat sikap suaminya yang seperti itu, menarik senyuman di sudut bibir Shanum. "Kak Deta sudah pulang pagi-pagi sekali karena harus mengurus keperluan Tary untuk sekolah. Sedangkan, Dania dan tuan Ferdinan masih di kamarnya."


Bola mata Dito berhenti untuk menatap Shanum yang sibuk menata meja makan. Langkahnya berderap tanpa suara ketika mendekati tubuh istrinya yang seperti magnet baginya.


"Lalu, kenapa kau menyiapkan semua ini?" tanya Dito, menunjuk semua makanan di meja dengan ekor matanya.


Shanum menoleh dan melihat Dito yang masih bertahan dengan wajah datar dan sikap dingin di hadapan dirinya. "Untuk apa lagi, Kaptenku Sayang?" Satu kecupan mendarat di pipi Dito dan berhasil mengendurkan otot wajahnya. "Tentu saja untuk dirimu."


"Dasar penggoda!" gerutu Dito, kemudian mengisi kursi kosong di ujung meja makan dengan wajah yang setengah mati menahan senyuman.

__ADS_1


"Sepuluh tahun!" Shanum mengikuti Dito mengisi kursi kosong lainnya.


Dito mengalihkan pandangannya kepada Shanum yang sibuk mengoles roti dengan selai kacang. Dahinya mengkerut begitu dalam karena dua kata yang di ucapkan Shanum tanpa penjelasan.


"Jangan membuat wajahmu jelek seperti itu, Kapten!" Lagi, Shanum bicara tanpa menatap sang empunya kuasa di rumah itu. Tentu saja hal itu membuat Dito mulai geram dan penasaran di saat yang bersamaan.


"Apa mak -"


AAAARRRGGGGHHH ...


Tatapan Dito dan Shanum bertemu karena mendengar teriakan Dania. Tanpa aba-aba, keduanya langsung menaiki anak tangga dan melupakan sesuatu.


Pintu kamar yang tidak terkunci membuat Dito tanpa permisi membuka kamar adik bungsunya itu. Sungguh! Jika mampu, Dito ingin kembali ke beberapa detik sebelumnya saat dirinya menurunkan handle pintu dan berpikir sebelum membuka pintu kamar adiknya itu. Dengan cepat Dito kembali menutup rapat-rapat pintu yang ada di hadapannya.


"Ada apa, Dito?" Shanum yang sejak tadi berdiri di belakang Dito terlihat begitu cemas. Matanya mencoba mencuri-curi pandang ke balik bahu tegap Dito yang menghalangi penglihatannya.


Tangan Dito segera meraih lengan Shanum dan menuntunnya pergi.


"Ada apa?" Ulang Shanum karena belum mendapatkan jawaban dari suaminya itu.


Kaki panjang Dito terus melangkah. Tidak terlihat akan berhenti meski untuk sekedar membalikkan badan dan menoleh pada Shanum yang masih diliputi kecemasan.


"Berhenti!" titah Dito, begitu Shanum hendak menaiki kembali anak tangga.


Shanum berbalik dan melihat wajah Dito yang memerah. Tak bisa ia sembunyikan rasa ingin tahunya hingga langsung mendekat kembali pada Dito.


"Ada apa?" Shanum masih mengulangi pertanyaan yang sama, tapi Dito tetap diam tak bergeming. "Kau ini! Aku bertanya, kau tidak mau menjawab. Aku mencoba mencari tahu sendiri, kau tidak membiarkan aku pergi. Sebenarnya, apa yang terjadi pada Dania? Apa dia baik-baik saja?" Shanum mulai kehilangan kesabaran menghadapi sikap diam dari Dito.


Dito berdecak dan kembali ke kursi yang sebelumnya ia duduki di meja makan, kemudian menyeruput kopinya dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. "Duduklah!" Dito melirik Shanum yang masih berdiri di tempatnya semula.


Meskipun enggan, tapi Shanum tetap menuruti perintah Dito. "Tukang perintah!" gumamnya dengan suara yang sengaja dikeraskan.


"Aku dengar!" sahut Dito datar.


"Aku tahu!"


"Kalau tahu, kenapa masih di lakukan?" Dito mulai mengalihkan pandangannya pada istrinya yang tengah memasang wajah kesalnya.

__ADS_1


"Aku sengaja!"


Kalimat-kalimat singkat yang di lontarkan Shanum begitu menarik perhatian Dito. Selama ini, Shanum bukanlah tipe wanita yang akan memperlihatkan sisi kekanak-kanakan seperti itu. Shanum yang Dito kenal adalah wanita yang lembut, sabar, dan penuh perhatian juga sangat pengertian. Mereka bahkan tidak pernah bertengkar untuk hal-hal kecil. Jadi, wajar jika saat ini Dito di buat bingung dengan sikap Shanum yang seperti ini.


"Ada apa denganmu?" tanya Dito, mulai merubah nada bicaranya.


Shanum melirik sekilas. Namun, kembali menatap meja makan yang terisi penuh oleh makanan.


"Hei, jawab aku! Ada apa?" tanya Dito lagi, kali ini suaranya mulai meninggi.


Terdengar Shanum menghela nafas sebelum menatap Dito yang kentara sekali sedang menahan emosi. "Kau kesal?"


Dito mengernyit. "Tentu saja!"


"Kenapa kau kesal?"


"Karena kau tidak menjawab pertanyaanku."


"That's it !" Shanum menjentikkan jarinya. "Aku juga kesal karena kau tidak menjawab pertanyaanku, sementara aku setengah mati khawatir pada Dania!"


Mata Dito terpejam. Mencoba mencari jawaban apa yang paling tepat untuk Shanum. Bukan hanya agar istrinya itu tidak lagi merasa cemas, melainkan ia juga harus memikirkan cara agar harga dirinya tetap terjaga. Bukan rahasia lagi, jika seorang Dito Riady begitu menjunjung tinggi harga dirinya. Andai Shanum tahu apa yang di lihat oleh matanya di balik pintu itu, pasti Shanum akan menertawakan dirinya sepanjang hari.


"Kau diam lagi?" Shanum mendesah kesal.


"Dengar! Aku -"


Shanum langsung menyela ucapan Dito. "Sejak tadi aku sudah siap mendengarkanmu, tapi kau yang tidak berniat bicara sepertinya."


Dito berdecak. Baginya lebih baik menahan hujan peluru di medan peperangan, daripada menghadapi amarah para wanita. Sungguh merepotkan!


"Baiklah, dengarkan aku!" Dito tiba-tiba mengangkat telunjuknya dan di tempelkan di bibir Shanum ketika wanita itu hendak membuka mulutnya. "Jangan memotong ucapanku, Shan!" Setelah Shanum mengangguk, Dito baru melanjutkan kalimatnya. "Seharusnya, kita ingat jika Dania sudah menikah dan sedang bersama suaminya sebelum kita berlari ke kamar Dania tadi."


Shanum mengangkat kepalanya satu kali dengan dahi yang berkerut dan alis yang menukik tajam. Menuntut penjelasan atasan ucapan Dito.


"Aku melihat mereka sedang ...."


Hallo semuanya 🤗

__ADS_1


Terima kasih masih setia menanti 😘😍


__ADS_2