Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
KECEMBURUAN DANIA


__ADS_3

Suara ketukan sepatu Dania bersahutan dengan derap langkah kaki Nino yang mengejarnya.


"Moony! Tunggu aku!" pinta Nino, tangannya terus berusaha menggapai Dania yang tidak ingin menghentikan langkahnya.


Dania menoleh sekilas dengan tatapan tajamnya. "Tidak perlu mengejar diriku, jika kau hanya ingin menabur garam di atas lukaku!"


Tanpa membuang waktu dan kesempatan, Nino langsung meraih tangan Dania yang lengah dan menarik tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya. "Aku memang hanya punya garam. Itu sebabnya aku mencintaimu agar hidupku berubah manis."


Tangan Dania mencoba untuk memberontak agar Nino mau melepaskan pelukannya, tapi sayang usahanya tidak berguna sama sekali.


"Simpan tenagamu untuk nanti malam, Istri kecilku yang pencemburu!" bisik Nino, tentu dengan nada yang menggoda.


"Aku tidak cemburu!" elak Dania, tapi kini ia sudah tidak memberontak.


Tangan Nino menarik tangan Dania yang berada di kedua sisi tubuhnya dan langsung menyampirkan kedua tangan istrinya itu ke tubuhnya.


"Aku tidak ingin memelukmu!" sungut Dania, mencoba menarik kembali tangannya. Namun, Nino tetap menahan kedua tangan Dania di tubuhnya.


"Peluk aku atau kalau tidak, kau akan merindukan suamimu yang tampan ini. Hingga rasanya kau akan sulit bernafas!" ucap Nino, penuh kesombongan.


Dania mencebik. "Untuk apa aku merindukan pria yang suka bersenang-senang dengan wanita lain di belakangku."


Flashback on ...


Langkah kaki Dania terasa ragu ketika akan memasuki Da Nino Corp yang seolah menantang dirinya.


Maju mundur langkah kaki Dania seperti tahu bahwa dirinya belum sepenuhnya berani mengatakan isi hatinya pada pria yang telah memiliki dirinya secara utuh.


"Apa yang akan om pedofil pikirkan jika aku tiba-tiba menyatakan perasaanku padanya?" gumam Dania seraya memijat tangannya sendiri.


Dania melihat sekeliling. Begitu banyak orang yang berlalu lalang. Sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Tak ada yang menyadari kegelisahan dirinya saat ini.


"Aku sudah disini! Mana boleh aku mundur begitu saja." Dania mantap melanjutkan langkahnya, tapi tiba-tiba ...


BUG ...


Tubuh Dania terhempas karena bertabrakan dengan seseorang. Untuk sesaat Dania hanya termangu melihat sosok di hadapannya, sebelum sebuah tangan terulur di hadapannya.


"Sorry, Aunty! Aku tidak tahu jika kau selemah itu." Pria itu atau mungkin sebenarnya anak itu, bersikap seolah Dania yang telah melakukan kesalahan.


Dania menepis tangan di hadapannya dengan acuh. "Kau seharusnya meminta maaf. Bukannya bersikap angkuh seperti itu!"


Terdengar decakan dari mulut anak itu. "Aku sudah meminta maaf. Mungkin aunty saja yang tuli."


"Baiklah! Baiklah! Kau pergi sana. Merusak moodku saja!" sungut Dania, kemudian hendak kembali melangkah. Namun, sebuah ingatan seketika mengganggu dirinya. "Kau -"

__ADS_1


"Ya?" Anak itu memiliki tatapan yang dingin dan tajam. Mengingatkan Dania pada seseorang.


"Tidak mungkin!" Dania menggelengkan kepalanya. Mengusir segala pikiran yang ada. "Lain kali, saat kau membuat kesalahan. Mintalah maaf dengan benar! Apa ibumu tidak mengajarkan hal itu?"


Wajah tampan anak itu menegang. "Aku tidak punya ibu! Jadi, aku tidak perlu bersikap baik."


Mata Dania membulat sempurna. Hatinya seolah teriris mendengar jawaban dari anak itu. Terlebih saat punggung anak itu menjauhinya.


"Ray- Rayyan! Rayyan!!!" teriak Dania, menarik kembali sosok yang mulai menjauhinya.


Yang merasa namanya di sebut itu berbalik dan menatap Dania. "Kau memanggilku, Aunty?"


Dania mengangguk. "Ya! Rayyan Pratama. Si pipi bakpao! Putra kesayangan kak Deta."


Mata yang dingin dan tajam itu melemah, bahkan mulai berkaca-kaca. "Aunty? Aunty Dania? Benarkah?"


Lagi, Dania mengangguk dan merentangkan tangannya. "Kemarilah! Aku sangat merindukanmu."


"Aku juga merindukanmu, Aunty." ungkap Rayyan, dalam dekapan Dania.


Dania mengurai pelukannya dan menepuk lembut pipi Rayyan. "Kau sudah besar sekarang. Bagaimana kabarmu? Dan, apa yang sedang kau lakukan disini?"


"Aku baik, Aunty." Rayyan menghembuskan nafasnya kasar. "Aku disini karena wanita itu memaksaku untuk datang kesini dan menjemputnya."


"Wanita yang mengaku sebagai ibuku." Rayyan terlihat enggan menyebut nama ibunya.


Dania tersenyum getir. Setiap mengingat kejadian itu membuatnya serasa di paksa untuk menelan pil pahit kehidupan. Bukan hanya hidup Rayyan yang berubah, tapi juga dirinya. Banyak hal terjadi sejak kehadiran wanita itu dalam hidup mereka. Selama ini Dania selalu berharap agar wanita itu tidak pernah muncul lagi di hadapannya.


"Dia ... Disini?" Dania hampir tercekat, mengingat akan bertemu kembali dengan wanita itu. "Untuk apa?" tanyanya lagi.


Bahu Rayyan terangkat. "Aku tidak tahu. Yang pasti aku datang karena terpaksa."


"Kalau begitu, kau ikut saja denganku untuk menemui suamiku. Dia pasti senang bertemu denganmu." Dania melingkarkan tangannya di lengan Rayyan yang mulai terlihat berotot. "Kau sudah besar sekarang. Bahkan tanganmu juga mulai besar. Hahaha ...."


Rayyan tidak menjawab ataupun terlihat akan menepis tangan Dania. Ia hanya berdecak dan bersikap dingin, meski dalam hatinya ia begitu bahagia bisa bertemu dengan orang yang begitu ia rindukan.


Sepanjang jalan menuju ruang kantor Nino, Dania terus mengoceh dan menceritakan semua hal yang terjadi padanya selama mereka berpisah.


"So? Aunty, sudah menikah? Kapan?" tanya Rayyan akhirnya, setelah begitu banyak Dania bercerita.


Dania mengangguk penuh semangat. "Sudah tiga bulan. Kau pasti senang bertemu dengannya. Dia pria yang baik dan juga menyenangkan."


Rayyan bahagia. Bahagia karena ternyata Dania tidak terpengaruh sedikitpun dengan kenyataan bahwa ia hanyalah anak tidak sah dari selingkuhan ayahnya. Rayyan juga bisa bernafas lega karena sepertinya Dania tidak mengalami kegetiran yang ia alami saat mengetahui kenyataan tentang identitas asli mereka.


"Aunty?" Rayyan menghentikan langkahnya ketika matanya melihat ke arah ruangan kaca di depannya. "Apakah dia suamimu?"

__ADS_1


Dania mengangguk dan mengikuti arah pandangan Rayyan. "Iya, dia -"


PRANG ...


Makan siang yang di bawa Dania berserakan di lantai saat matanya menangkap sosok Nino yang tengah duduk memangku seorang wanita.


"Aunty? Kau baik-baik saja?" tanya Rayyan cemas.


Tangan Dania mengepal kuat. "Aku baik-baik saja, Rayyan."


Rayyan mengikuti langkah Dania yang memasuki ruangan dimana Nino sedang bermesraan dengan seorang wanita.


"Apa aku mengganggu waktu kalian?" tanya Dania sarkasme.


Nino dan wanita itu menoleh bersamaan.


"Mo- Moony?" Nino kehabisan kata-kata. Terlebih ketika ia melihat air mata meluncur bebas dari mata sipit Dania walaupun mata itu masih berusaha tegar.


"Kau lagi!" geram Dania, kesal melihat wanita yang sama mengganggu suaminya. "Seharusnya aku-"


"Apa yang kau lakukan disini? Membuatku malu? Hah!!!" tanya Rayyan, memotong ucapan Dania.


Dania menoleh dan melihat Rayyan yang di liputi amarah. "Kau mengenalnya?"


"Tentu saja! Dia adalah wanita itu. Wanita jahat yang telah mengaku melahirkan aku."


Flashback off ...


"Aku tidak melakukan apapun dengannya, Moony." Nino mulai menghirup aroma tubuh Dania di lehernya.


"Kapan kau berencana memberi tahu padaku tentang kebenarannya?" tanya Dania, masih bersikap dingin kada Nino.


Nino menghentikan aktivitasnya dan menatap Dania. "Kebenaran apa?"


Dania mendengus. "Kebenaran tentang wanita yang selalu menggodamu itu."


"Mikayla?" Nino menautkan kedua alisnya.


'Mesra sekali dia menyebut namanya.' Batin Dania kesal. "Tentu saja! Memang ada berapa banyak wanita di sekitarmu?" sungut Dania.


"Ada banyak wanita di sekitarku, Moony, tapi hanya dirimu yang ada di hatiku."


Hallo semuanya 🤗


Keep healthy and happy readers kuhh sayang 😘

__ADS_1


__ADS_2