Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
SWEET CHAPTER 5 (LAST)


__ADS_3

Saat sesuatu begitu berharga, maka hati sedikit tidak rela untuk berpisah. Entah untuk selamanya atau hanya untuk sesaat, tapi sesuatu yang sangat berharga akan selalu memiliki tempat yang istimewa dimana pun berada.


"Terima kasih, Kakak ipar! Terima kasih karena kau sudah membiarkan aku untuk mencintai dan juga menjaga adikmu yang berharga." Nino masih erat memeluk tubuh tegap Dito yang tak bergeming.


"Dek ...," Deta menepuk lembut bahu Dito hingga tangan pria itu akhirnya terulur untuk membalas pelukan Nino. "Kami juga berterima kasih karena Kak Nino sudah bersabar menghadapi Dania, senantiasa menjaganya dan juga selalu mencintainya. Terima kasih, Kak!"


Nino melepaskan pelukannya dan menatap Deta. "Aku tidak sebaik itu, Ibunya Tary. Aku pernah -"


"Lupakan saja, Kak!" potong Deta, senyumannya sarat akan makna. "Apa yang sudah terjadi di masa lalu hanyalah cara Tuhan untuk menyatukan hati kalian. Sekarang, kita tinggalkan semua itu di belakang dan bersiap untuk menyongsong masa depan yang lebih indah."


Satu sentuhan hangat mendarat di pipi chubby Deta. "Istriku memang yang terbaik."


Wajah Deta tersipu malu. Tangannya tanpa sadar menyentuh pipinya yang baru saja mendapatkan hadiah dari Ricky. Sikapnya yang seperti itu terlihat seperti remaja yang baru jatuh cinta, membuat semua yang ada di sana tertawa dan mencairkan suasana.


***


"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya Deta, begitu masuk ke ruang perawatan Dania.


Dania tersenyum tipis. Wajahnya masih terlihat pucat. "Aku baik, Kak. Dan menjadi lebih baik saat semuanya ada disini."


Deta menoleh dan melemparkan senyumnya pada Ricky, Nino, Dito, Shanum, dan kedua orang tua Ricky. Mereka semua terlihat sangat bahagia.


"Siapa nama keponakanku, Dania?" tanya Dito, yang sudah mengangkat bayi Dania dalam gendongannya. Tentu saja dengan bantuan Shanum.


Dania menggelengkan kepalanya sambil mengangkat bahu. "Tidak tahu! Coba tanya ayahnya! Aku sudah mengandung dan melahirkan. Apakah harus aku juga yang memikirkan namanya?"


Jawaban Dania sontak mengundang tawa semua orang. Begitu juga dengan Nino yang gemas dan langsung mengecup bibir Dania sekilas.


"Namanya adalah ...," Nino menatap Dania dan tersenyum. "Dino Affandra Ferdinan. Kau suka?"


"Dino ... Affandra ... Ferdinan ...," Dania mengeja nama yang di berikan Nino untuk putra mereka. "Artinya apa?"


Tangan Nino mencubit gemas hidung Dania. Jika tidak ada orang lain, ingin rasanya ia merasakan manisnya bibir menggoda itu. "Artinya ... Pedang kecil penguasa bumi keturunan Ferdinan."


Bola mata Dania berbinar. "Wah, artinya sangat bagus. Tapi ... Kapan kau memikirkan nama itu?"

__ADS_1


"Saat aku melihat kalian berdua berjuang untukku. Kalian sangat hebat! Aku sangat bangga, terlebih padamu." Nino membelai rambut Dania.


Dania mengerucutkan bibirnya. Ingin menangis, tapi malu. Dan pastinya akan menjadi bahan ejekan kakaknya yang kejam, siapa lagi kalau bukan Dito. Ia pun lebih memilih masuk ke dalam pelukan Nino.


"Selamat datang di dunia yang indah ini, Dino Affandra Ferdinan ...."


***


Kehidupan Dania dan Nino sudah banyak mengalami perubahan sejak kehadiran baby Dino. Mereka banyak menghabiskan waktu berdua untuk mengurus buah hati mereka yang kini berusia tiga bulan.


Dania baru saja meletakkan Dino ke dalam box bayi saat Nino memeluknya erat dari belakang.


"Kau tidur saja, Moony! Biar aku yang menjaga Dino." bisik Nino, sebelah tangannya sudah mengusap pipi gembul putranya.


Dania membalikkan tubuhnya dengan tangan yang terlipat di depan dada. "Menjaga atau mengganggu?"


Nino tertawa pelan. "Rasanya aku tidak rela melihatnya tertidur. Aku rindu suaranya, tawanya, ocehannya, dan segala tingkah lakunya."


"Bagaimana dengan tangisannya? Apa kau juga merindukannya?" tanya Dania sinis, kakinya sudah melangkah menuju tempat tidur.


Dania mendengus. Sudah sangat mengerti dengan sikap Nino yang seperti ini. "Baiklah! Akan aku sampaikan pada ibunya Dino nanti."


"Moony ...," geram Nino, langsung menyergap bibir favoritnya itu. "Aku mencintaimu, Ibunya Dino."


Sudut bibir Dania menarik sebuah lengkungan bersamaan dengan kedua tangannya yang melingkari leher Nino. "Aku juga mencintaimu, Ayahnya Dino."


"Jangan pernah meninggalkan aku, Moony!" Telunjuk Nino berada di atas dada Dania. "Nyawaku ada disini. Bila kau pergi, itu sama saja dengan membawa nyawaku pergi bersamamu."


Dania menatap lekat kedua bola mata Nino, sebelum akhirnya tertawa. "Kau berlebihan!"


"Aku tidak bercanda, Moony. Bagiku, kau dan Dino adalah segalanya. Kalian kekuatan dan juga kelemahanku. Bantu aku tetap menjadi kuat untuk bisa melindungi kalian berdua dengan cinta yang kalian miliki untukku." Nino mengecup kening Dania cukup lama. "Sebelumnya, aku bisa menunggumu selama sepuluh tahun dan bertahan selama berbulan-bulan untuk bisa memiliki dirimu seutuhnya. Tapi sekarang, sedetikpun aku tidak akan bisa hidup tanpa dirimu."


Kata-kata Nino begitu menelusup ke dalam hati Dania. Tanpa terasa air matanya jatuh dan membasahi pipinya.


Ibu jari Nino menghapus air mata Dania. "Berjanjilah padaku bahwa air mata ini hanya untuk kebahagiaan, Moony!"

__ADS_1


Dania menganggukkan kepalanya dan membenamkan kepalanya di dada bidang Nino. "Aku janji akan selalu bersamamu! Maaf karena aku sudah membuatmu menunggu dan terima kasih atas semua cinta yang telah kau berikan padaku! Aku percaya, tidak ada yang bisa mencintai aku sebesar dan setulus dirimu, Om pedofil."


Nino bahagia. Sangat bahagia. Cintanya akhirnya terbalas. Hidupnya sudah sangat sempurna dengan hadirnya Dania dan buah cinta mereka. Hanya satu keinginannya saat ini ... Yaitu, menua bersama Dania dan menyaksikan anak cucu mereka menjalani hidup yang bahagia juga.


Tangan besar Nino menangkup wajah Dania dan hampir mendaratkan bibirnya disana, jika saja Dino tidak tiba-tiba terbangun dan menangis.


"Oh, astaga!" Nino menggeram dan tertawa saat melihat box bayi yang berisi putranya. Ia dengan sigap menggendong Dino dan menimangnya. "Tidurlah, Jagoan! Berikan waktu untuk Ayah dan Ibu!"


Bukannya tertidur, Dino justru menangis lebih keras. Dania yang melihat hal itu seketika tertawa dan mengambil alih Dino dari gendongan Nino.


"Ayah, tidak mengerti keinginan Dino." Dania meletakkan Dino di atas tempat tidur. "Dino ingin tidur bersama dengan ayah dan ibu. Benar begitu, Sayang?"


Bayi mungil itu tertawa. Seolah mengerti yang di katakan oleh ibunya. Melihat hal itu, Nino pun menyusul ke atas tempat tidur dan berbaring di sisi ranjang yang kosong.


Malam itu, untuk pertama kalinya Dania dan Nino tidur dengan Dino sebagai pembatas. Namun, hal itu justru semakin menambah kehangatan dan cinta di antara mereka.


"Aku sangat mencintaimu, Istri kecilku ...."


"Aku juga sangat sangat mencintaimu, Om pedofilku ...."


-THE END-


***


Tidak pernah ada seseorang yang terlahir sempurna, tapi cinta mampu menyempurnakan segala kekurangan.


- Dania Riady


Waktu yang di habiskan untuk menunggu, akan terasa indah saat hati tak pernah mendamba untuk terbalas. Meski jarak antara penantian dan jawaban tak memiliki batas.


- Nino Ferdinan


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino sampai sejauh ini 😍

__ADS_1


I ❤️ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2