Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
PENGUNTIT


__ADS_3

Sepuluh tahun yang lalu ...


Nino meletakkan topinya di atas meja. Wajahnya mengulas senyuman setiap kali dirinya baru saja menyelesaikan misi, yaitu misi mengawasi cintanya dari kejauhan.


Hari ini adalah hari ulang tahun pertama Dania di asramanya. Tidak ada yang memberinya ucapan, apalagi sebuah kejutan. Miris memang, tapi itu sudah menjadi peraturan asrama dan juga keputusan keluarga Dania.


Sebenarnya, Nino sudah berjanji untuk menjaga jarak dari Dania sampai gadis itu cukup umur untuk menikah. Namun, hati Nino ingin membangkang sekali saja. Ia ingin memberikan kejutan untuk gadis kecilnya itu. Sekali saja tidak masalah bukan? Lagipula, tidak akan ada yang tahu. Bahkan, Dania pun tidak akan tahu.


"Astaga, Moony! Kau semakin cantik saja." Nino menumpu dagunya dengan kedua tangan. "Sepertinya kau benar. Aku memang seorang pedofilia."


Nino tertawa geli, menyadari tingkahnya yang seperti anak remaja saja. Bagaimana tidak? Hanya dengan melihat wajah Dania dari kejauhan saja sudah membuatnya begitu bahagia. Walaupun Nino ragu, tapi sepertinya tadi ia sempat melihat Dania tersenyum saat dirinya menyanyikan lagu ulang tahun untuknya.


"Selamat ulang tahun, Moony ...," Nino meniup sebuah lilin yang di letakkan di atas sebuah kue, kemudian membuat permohonan. "Semoga kau selalu bahagia, Moony."


Seperti itulah Nino menjalani hidupnya selama bertahun-tahun. Setiap tahun ia akan datang ke asrama Dania untuk menyanyikan lagu ulang tahun. Bukan hanya saat ulang tahun Dania, tapi Nino juga datang di setiap momen penting dalam hidup Dania meski tanpa gadis itu sadari.


Tanpa terasa, sudah tujuh tahun berlalu. Dania juga sudah menyelesaikan sekolah menengahnya. Usia gadis itu juga sudah cukup untuk menikah sehingga keluarganya memutuskan untuk memberi tahu Dania tentang perjodohannya melalui Gibran.


"Apa yang kau katakan, Kak!!!" Dania meradang dan langsung berdiri. Amarah nampak jelas di mata sipitnya.


Gibran menarik jemari Dania dengan lembut. "Duduk dulu, Dania!"


"Duduk bagaimana?" Dania menarik paksa tangannya, tapi ia tetap menurut dan duduk kembali di tempatnya. "Kau baru saja mengatakan jika aku telah di jodohkan dan itu pun dengan temannya pangeran. Si om pedofil yang genit itu! Bayangkan, Kak! Berapa usianya sekarang? Hiihh! Dia pasti sudah tua dan tidak pantas bersanding denganku. Aku malu!"


TRIIINNGG ...


Tiba-tiba terdengar suara dentingan sendok yang terjatuh dari meja di belakang Dania. Membuat Dania berbalik dan memeriksa meja di belakangnya itu.


"Sorry ...," Seorang pria bertopi dengan kacamata hitam itu membungkuk seraya menatap Dania sekilas dari balik kacamatanya.

__ADS_1


Dania hanya mengibaskan tangannya dan kembali menatap Gibran. "Apa aku memiliki pilihan, Kak?"


Kening Gibran berkerut cukup dalam. "Ada, tapi sepertinya tidak ada."


"Hah?" Dania menautkan kedua alisnya dengan kedua bahu yang terangkat. "Ada atau tidak? Yang jelas, Kak! Jangan main-main! Ini tentang hidup dan matiku."


Gibran menghela nafasnya. "Nyonya mengatakan jika kau belum siap menikah, maka kau tidak boleh kembali."


"Apa!!!" Dania tanpa sadar menggebrak meja dan memancing perhatian banyak orang. Ia pun segera berdiri dan meminta maaf. "Sorry ...."


Ketika Dania akan kembali duduk, matanya menangkap sosok pria yang tengah menatapnya dari meja di belakangnya. Pria itu menarik sudut bibirnya dan tanpa sadar Dania pun tersenyum.


"Pria yang menarik ...."


Tiga tahun kemudian ...


Dania sedang mengaduk kopinya seraya terus menatap ke luar jendela. Hatinya harap-harap cemas menunggu kabar yang akan di bawa Gibran dari keluarganya. Hal seperti ini biasa terjadi setiap kali Gibran mendapat panggilan dari Ricky untuk pulang ke negaranya, tapi kali ini panggilan itu berbeda bagi Dania. Ini adalah tahun ke sepuluh dirinya tinggal seorang diri di negeri orang dan itu pun karena seorang pria yang Dania sendiri tidak ingat wajahnya.


"Hah!" Dania menahan pipinya dengan sebelah tangannya. Bosan juga menunggu Gibran. Namun, tak lama kemudian sosok yang di nantikan tiba. "Kak Gibran!"


Gibran menghampiri Dania dengan wajah memasang senyuman, tapi kenapa Dania merasa jika senyuman itu seperti sebuah racun baginya. Pahit sekali!


"Apa ada kabar baik, Kak?" tanya Dania antusias.


"Aku tidak tahu ini kabar baik atau bukan, tapi yang pasti aku harus tetap menyampaikannya padamu." Gibran membuka kacamatanya. Menatap Dania lebih dalam. "Maafkan aku, Dania! Kau harus segera pulang."


Walaupun wajah Gibran tiba-tiba sendu, tapi Dania tidak peduli. Ia ingin melompat rasanya karena begitu bahagia mendengar kabar yang di berikan Gibran. Yang terpenting dirinya sudah bisa kembali ke negaranya. Kembali pada keluarganya dan juga hidup normalnya. Bayangkan saja! Selama sepuluh tahun Dania tidak pernah mendengar suara kedua kakaknya. Mereka hanya saling mengirim kabar melalui Gibran. Bahkan, saat Deta melahirkan, Dania hanya di kirimi potret bayi mungil nan cantik putri kakaknya itu. Sungguh pahit memang! Namun, Dania tahu apa yang di lakukan oleh keluarganya pasti memiliki alasan.


"Kapan aku bisa pulang, Kak?" Dania sudah mulai bersikap tenang lagi, meski matanya masih memancarkan binar kebahagiaan.

__ADS_1


Gibran menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Saat kau sudah siap untuk menikah."


"Aku sudah siap untuk ...," Dania menegakkan tubuhnya dan menatap lekat wajah Gibran. "Apa katamu tadi?"


"Saat kau sudah siap menikah. Saat itu kau di perbolehkan untuk pulang." Gibran sudah kembali memasang kacamatanya.


Dania berdecak dan melipat kedua tangannya di dada. "Aku tidak mengerti apa baiknya pria tua itu. Kenapa keluargaku begitu ingin aku menikah dengannya? Apa mereka tidak mengerti perasaanku? Mereka benar-benar menjengkelkan!"


"Jaga bicaramu, Dania! Mereka itu keluargamu." Gibran merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini. "Sekarang, kau kembalilah ke asrama! Aku juga akan pulang dan beristirahat. Pikirkan baik-baik pilihanmu! Aku akan menemuimu lagi nanti."


Tepat ketika Gibran sudah berdiri dan akan berbalik, Dania menahan lengannya dan menatap tepat ke kedua bola mata Gibran. "Jangan menipu dirimu lagi, Kak! Aku yakin kau sudah tahu tentang perasaanku padamu. Apa kau benar-benar akan melepasku untuk menikah dengan pria lain?"


Gibran mengalihkan pandangannya untuk menghindari tatapan Dania. "Apa yang kau bicarakan, Dania?"


"Kau tahu maksudku, Kak, tapi kenapa kau masih mengelak?" Dania semakin menahan lengan Gibran. "Aku mencintaimu, Kak Gibran."


Sesaat, dunia seolah berhenti untuk seseorang yang sedari tadi menyaksikan drama di antara dua insan itu dari kejauhan. Hatinya seperti terhantam batu besar hingga hancur berkeping-keping. Tak ada lagi harapan. Tak ada lagi cahaya. Semuanya telah redup dan tertelan begitu saja oleh kalimat yang baru saja di lontarkan Dania. Akankah pada akhirnya hatinya harus menyerah? Semudah inikah? Atau haruskah ia bertahan dan menantikan sebuah keajaiban?


Flashback off ...


"Dengan terus mengawasinya dari kejauhan?" Dito memotong kalimat Nino tanpa kompromi. "Dasar pengecut!"


Nino tersenyum miring. "Lain kali, aku akan membuat penyamaran yang lebih baik lagi."


"Jangan bersembunyi lagi, Penguntit! Tunjukkan padaku cintamu yang besar dan tulus itu!!!"


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino 😍

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2