Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
PASRAH


__ADS_3

"Dania rindu, Papa ...."


Kehadiran sosok ayah begitu sangat di rindukan oleh Dania. Sejak kepergian ayahnya, Dania seperti kehilangan sandaran hidupnya. Beruntung ia masih memiliki seorang kakak seperti Deta yang menyayangi dirinya dengan tulus, meskipun ia tahu bahwa Dania adalah putri dari hasil perselingkuhan sang ayah.


Kehidupan banyak mengajarkan hal penting kepada Dania. Bagaimana Dania harus menghargai setiap cinta dan kasih sayang yang ia terima, serta bagaimana caranya membuat orang lain bahagia atas kehadiran dirinya. Seperti halnya hubungan dirinya dengan kakak laki-lakinya yang justru membaik setelah kepergian kedua orang tua mereka. Dari sana Dania mengerti, jika perasaan memang tidak bisa di paksakan. Namun, waktu akan selalu memberikan kesempatan kepada siapa saja yang mau menunggu.


"Hah!" Hembusan nafas Dania terasa begitu berat. "Mungkin ini waktunya aku memberikan kesempatan untuk hidupku dan juga dirimu, Om Pedofil."


Walaupun setengah hatinya merasa berat menentukan pilihan hidupnya, tapi Dania tetap yakin bahwa apapun yang ia pilih pasti sudah menjadi takdir hidupnya.


Dengan keyakinan penuh, Dania segera pulang untuk menemui kedua kakaknya. Di dalam hatinya, Dania hanya berharap jika ia dan keluarganya serta pria pilihan keluarganya akan hidup bahagia.


***


"Apa, Ky!!!" teriak Nino, tak percaya dengan apa yang di tangkap telinganya.


Ricky lantas mengusap telinganya yang terasa panas karena teriakan Nino. "Aku tidak tuli, Nino!"


"Sorry ... Sorry ... Aku hanya terkejut." Nino kembali duduk di kursinya. "Bagaimana ini mungkin? Aku pikir dia ...."


"Kenapa?" tanya Ricky, dengan sebelah alisnya yang terangkat.


Nino berdeham. "Aku pikir dia menolak untuk menikah denganku setelah pertemuan kami kemarin."


"Pertemuan kalian? Kau menemuinya secara langsung?" desak Ricky, hampir tercekat karena begitu terkejut.


"Tidak! Maksudku pertemuannya dengan pak Toto." Nino menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.


Ricky mencebik. "Cih! Pengecut kau, No. Seharusnya kau coba temui dia satu kali saja dan lihat bagaimana reaksinya. Bukan justru bersembunyi di balik pak Toto."


"Aku tidak bersembunyi! Hanya saja, aku ingin tahu apa yang membuatnya menolakku selama ini." Pandangan Nino menerawang ke depan.


'Seandainya aku bisa mengatakan semuanya padamu, Brother, tapi aku takut membuatmu terkena serangan jantung.' Batin Ricky. "Lalu, kau mendapatkannya?" tanyanya.


Nino menghela nafas. "Sayangnya tidak! Dia menutup rapat semuanya. Aku hanya sedang berpikir, mungkinkah dia mencintai pria lain? Tepatnya seperti apa yang ia katakan pada pak Toto."


Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...


Ricky yang baru meminum jusnya seketika tersedak karena ucapan Nino.


"Hei, ada apa denganmu? Minumlah perlahan. Itu gratis tidak perlu bayar." Nino terkekeh geli.


Untuk menghilangkan kecurigaan Nino, Ricky terpaksa ikut tertawa. "Aku pikir kau akan menguras tabunganku hanya dengan satu gelas jus."


"Mana mungkin, Ky! Jangankan satu gelas jus, aku bahkan akan memberikan semua yang aku miliki jika kau memintanya." Nino berdiri dan menghampiri Ricky, wajahnya langsung berubah serius. "Kau tahu, betapa beruntungnya aku memiliki teman sepertimu. Bagiku, harta dan semua kekuasaan yang aku miliki tidaklah sebanding dengan persahabatan kita."


'Kau membuatku semakin merasa bersalah, Nino. Sialan!!!' Batin Ricky mencelos.

__ADS_1


Tanpa banyak kata, Ricky ikut berdiri dan memeluk sahabatnya itu.


"Terima kasih sudah menjadi sahabat terbaikku selama ini, Ky." ungkap Nino penuh haru.


Ricky menepuk bahu Nino. "Sudahlah! Aku juga beruntung memiliki teman sepertimu. Setidaknya aku tidak seorang diri menghadapi pahit getirnya hidup ini."


"Kau mengejekku!" Nino menatap sinis Ricky yang tengah tertawa. "Tapi kau benar! Setidaknya, aku memiliki teman di setiap langkah hidupku."


Bukanlah sebuah rahasia lagi, bagaimana eratnya hubungan persahabatan antara Nino dan juga Ricky. Persahabatan yang dimulai sejak mereka masih kecil, bahkan masih terjalin erat hingga saat ini. Masalah demi masalah mereka lalui bersama, bahkan Nino juga selalu setia menemani Ricky ketika Deta meninggalkan sahabatnya itu. Keterpurukan dan kesuksesan mereka tapaki bersama. Meskipun Ricky dan Nino berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda, tapi mereka tetap bersahabat dan juga saling mendukung satu sama lain.


"Baiklah! Satu langkah lagi dalam hidupmu, setelah itu aku akan bebas menjalani hidupku dengan Deta tanpa gangguan darimu." Ricky kembali tertawa untuk mengejek Nino.


Nino menggelengkan kepalanya dan kembali ke kursinya. "Kalau begitu, bantu aku menyelesaikan semua ini! Setelah itu, kita lihat apakah aku masih membutuhkan dirimu atau tidak."


"Apa? Kau ini!!!" geram Ricky.


Melihat kekesalan sahabatnya, Nino justru tertawa hingga terbahak-bahak.


'Terima kasih, Ky! Terima kasih untuk semua kenangan dan kehangatan yang sudi kau berikan kepada anak tidak beruntung seperti diriku ini ....'


***


Beberapa hari setelahnya, Nino datang untuk melamar Dania. Ia tidak datang seorang diri, melainkan datang bersama supirnya yang setia dan juga sekretaris cantiknya.


Sebenarnya, hal ini begitu menyayat hati Nino karena baru sekarang ia merasakan betapa pentingnya arti sebuah keluarga.


Nino tersentak dan menoleh. "Iya, Pak?"


"Anda butuh sesuatu?" tanya pak Toto.


"Tidak! Aku hanya sedang memikirkan bagaimana reaksinya nanti saat melihatku. Apakah dia akan berubah pikiran?" ucap Nino seraya membayangkan wajah Dania.


"Sepertinya tidak, Tuan. Nona Dania bisa menerima saya yang buruk rupa ini sebagai diri anda. Nona pasti akan senang mengetahui bahwa anda adalah calon suaminya yang sebenarnya." Pak Toto mencoba menghibur Nino.


Nino hanya tersenyum tipis. "Semoga ...."


Di sela perbincangan keduanya, tiba-tiba Dito dan Ricky menghampiri Nino untuk membicarakan sesuatu.


"No, ikut denganku!" ajak Ricky seraya berjalan menuju ruang kerjanya.


Nino lantas berdiri untuk mengikuti Ricky dan meninggalkan pak Toto seorang diri, sementara Liza keluar untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di mobil.


Selang beberapa saat, tanpa di duga Dania turun dan melihat pak Toto seorang diri bersama dengan beberapa barang yang di bawakan khusus untuk dirinya.


"Om Pedofil? Ah, maksudku, Om Nino?" pekik Dania, kemudian berjalan menghampiri pak Toto.


Pak Toto yang terkejut hanya bisa berdiri seperti patung menatap Dania yang masih mengira dirinya adalah Nino.

__ADS_1


"Nona, saya -" Ucapan pak Toto menggantung karena tepat saat itu Liza datang dengan sekotak perhiasan di tangannya.


"Pak, ini perhiasannya! Untung saja tidak tertinggal." Liza menyerahkan kotak itu kepada pak Toto.


Wajah pak Toto semakin memucat karena merasa terjepit dengan situasi ini.


'Tuan, cepatlah kembali atau nona Dania benar-benar akan menikahi saya!!!'


***


Sementara di ruang kerjanya, Ricky dan Dito sedang menginterogasi Nino atas apa yang ia lakukan kepada Dania.


"Kak, kau tahu kebohongan itu tidak baik?" sinis Dito.


Nino terkekeh. "Anak kecil juga tahu itu, Kakak ipar."


"Kalau begitu, kenapa kau membohongi adikku dengan sandiwara ini? Kau tidak tahu bagaimana sulitnya aku dan Shanum merubah pikirannya!" gerutu Dito, kesal sendiri dengan ulah Nino yang di luar akal sehat menurutnya.


"Aku tahu, Kakak ipar, tapi aku hanya mengikuti takdir yang sudah tertulis." Nino masih mempertahankan senyumnya yang menjengkelkan bagi Dito.


Melihat Dito yang sepertinya akan menelan Nino hidup-hidup, Ricky pun terpaksa melerai keduanya.


"Maafkan aku! Aku berada di pihak kalian berdua dan tidak akan memihak kemanapun, tapi aku mohon bisakah kita tidak mempermasalahkan hal itu untuk saat ini?" ucap Ricky setenang mungkin.


"Bagaimana tidak di permasalahkan, Kak?" Dito menatap Ricky untuk menuntut jawaban, kemudian mengangkat kedua tangannya. "Aku menyerah! Jika kali ini Dania mengatakan tidak, aku akan mengikuti keinginannya."


"Bukankah memang itu yang kau inginkan selama ini, Kakak ipar?" sindir Nino, masih memasang senyuman di wajahnya.


"Nino ...," Ricky menggeram karena tahu Nino sedang memprovokasi Dito.


Dito menghela nafasnya dan tersenyum sinis. "Dulu memang aku menginginkan hal itu, tapi sekarang aku mencoba mengerti betapa malangnya nasibmu jika kau gagal menikahi adikku."


"Itu sebabnya, membuat adikmu menikahiku adalah tanggung jawabmu, Kakak ipar! Atau kau akan menjadi penyebab kehancuran hidupku." Nino kembali menarik sudut bibirnya.


"Kau memang pria tua menjengkelkan!" ketus Dito, kemudian pergi dengan membanting pintu.


Ricky hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kejadian yang sama berulang berkali-kali selama sepuluh tahun ini.


"No -"


"Sudahlah, Ky! Aku hanya bercanda tadi. Aku sudah siap jika Dania benar-benar menolakku kali ini karena semua ini memang kesalahanku ...."


Hallo semuanya πŸ€—


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘πŸ»dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡πŸ»sertakan votenya juga 'ya 😍 untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2