
"Jika kau memang lebih nyaman bersamanya, maka baiklah! Aku akan melepaskanmu. Selamat! Tujuanmu telah tercapai."
Setelah mengatakan hal yang menohok itu, Nino melangkah meninggalkan Dania bahkan tanpa menoleh sedikitpun.
Tangan Dania menyentuh dadanya yang tiba-tiba terasa sesak dan sulit bernafas. Dania ingin mengejar Nino. Memeluknya dan mencium aroma tubuhnya, tapi kaki Dania seolah terpaku hingga hanya air matanya yang mengiringi kepergian ayah dari calon anaknya itu.
'Seperti inikah akhir kisah kita, Om pedofil? Apakah aku harus mengulang kisah yang sama dengan ibu kandungku? Kembali, Om! Aku ingin menunjukkan keberadaan anak kita padamu....'
***
BUG ... BUG ... BUG ...
Nino nyaris jatuh tersungkur jika tidak berpegangan pada dinding. Kemarahan Dito kali ini, sepertinya sudah sampai puncaknya. Menyadari hal itu, Nino hanya diam dan menerima setiap hukuman yang di berikan oleh kakak iparnya.
"Ayo, lawan aku, Pengecut!" Dito mencoba memprovokasi Nino, tapi percuma karena Nino hanya diam dan tersenyum seraya menyeka darah di sudut bibirnya.
"Sudah cukup!" Ricky yang sejak tadi melihat, akhirnya membuka suara. "Sampai kapan hal ini akan terus terjadi? Hah! Apakah dengan melakukan semua ini masalah kita akan selesai?"
Sebenarnya, Dito dan Ricky sudah mengetahui semua yang terjadi antara Dania dan Nino. Mereka hanya berpura-pura tidak tahu agar Nino tidak merasa tertekan atau mungkin juga tidak nyaman.
Nino tertawa getir. Kakinya berusaha menopang tubuhnya untuk berdiri tegak. "Semuanya akan segera berakhir karena aku sudah memutuskan untuk melepaskan Dania."
"Apa!!!" Dito dan Ricky terkejut di saat yang bersamaan. Mereka saling menatap. Meyakinkan satu sama lain, jika apa yang di dengar hanyalah sebuah kesalahan.
"Dania tidak bahagia bersamaku." Nino menghirup oksigen sebanyak mungkin. "Berada di sisiku sangat menyiksa baginya. Lagi pula, selama ini terlalu banyak salah paham dan juga kebohongan di antara kami. Mungkin itu sebabnya hubungan ini begitu mudah diruntuhkan oleh siapa saja karena memang sejak awal tidak ada pondasi yang kuat dan hanya berpegangan pada satu sisi."
Pahit. Itulah yang di rasakan Nino saat mengucapkan semua itu. Namun, Nino berani mengambil keputusan sebesar dan seberat itu demi kebahagiaan Dania.
"Apa maksudmu, No? Bukankah hubungan kalian sudah baik-baik saja?" Ricky menepuk bahu Nino, mencoba menyalurkan semangat untuk sahabatnya itu.
Tatapan Nino menerawang jauh ke belakang. "Memang benar, tapi seperti yang pernah aku katakan padamu. Masalahnya, komunikasi antara aku dan Dania tidak berjalan lancar. Terlalu banyak hal yang harus kami jelaskan dan jurang di antara kita terlalu dalam. Sayangnya, Dania tidak memiliki kepercayaan terhadap diriku. Dan aku ... Aku tidak bisa melihat hal itu darinya karena dalam sebuah hubungan, selain cinta kita juga butuh kepercayaan dari pasangan kita."
__ADS_1
Ricky dan Dito hanya bungkam. Memang benar. Hubungan Nino dan Dania sepertinya sudah salah sejak awal. Seharusnya, mereka sudah tahu hal ini akan terjadi, tapi tidak pernah menyangka akan secepat ini.
"Jadi, kau akan menceraikan adikku?" tanya Dito, akhirnya membiarkan kalimat itu meluncur bebas dari bibirnya.
Nino menghela nafasnya. Berniat untuk menjawab. Namun, suara nyaring di ambang pintu mengalihkan perhatian mereka semua.
PRANG ...
Tatapan ketiga pria itu bertumpu pada Deta yang baru saja menjatuhkan nampan berisi jus yang kini sudah berserakan di lantai.
"Sayang?" Ricky berjalan mendekati Deta dan mendekap kepala sang istri di dadanya. "Tenanglah! Ini tidak seperti yang kau bayangkan."
Mata bulat Deta menatap lekat ke arah Nino yang menundukkan kepalanya. "Aku sudah menduga. Ada yang kalian sembunyikan dariku. Sejak awal, aku merasa ada yang aneh dengan semua ini."
"Kakak -" Dito ingin menjelaskan, tapi Deta memberikan isyarat kepadanya untuk diam.
"Aku tahu ...," Deta menaikkan pandangannya dan menatap Ricky dalam-dalam. "Suamiku memang seringkali menutupi banyak hal dariku. Dia juga sering membohongiku sejak dulu, tapi ...," Kali ini matanya menatap Dito. "Aku tidak menyangka kau mendukung kebohongannya dan membiarkan semua ini terjadi." Deta hampir menangis. Namun, matanya kali ini berpindah menatap Nino. "Dan kau, Kak. Aku tidak menduga ini darimu. Kau telah menunggu Dania selama sepuluh tahun, tapi kau tidak bisa bersabar menunggunya beberapa hari saja. Kau bahkan ... Bahkan ... berniat menceraikannya?"
"Maaf, Sayang, kami tidak bermaksud menyembunyikan semua ini darimu." Tangan Ricky membelai lembut rambut Deta dalam dekapannya.
Deta melepaskan dirinya dari pelukan Ricky. Kakinya melangkah mendekati Nino dan menatap lekat wajah adik ipar sekaligus sahabat suaminya itu. "Maaf!"
PLAK ...
Tangan Deta mendarat di pipi Nino hingga meninggalkan bekas merah.
Baik Nino, Ricky, dan juga Dito, mereka hanya bisa diam dan menatap Deta. Tidak percaya jika wanita lembut itu bisa bersikap seperti itu.
Tubuh Deta sedikit limbung, tapi ia berhasil menguasai dirinya dan memijat pelipisnya. "Kapan kalian berencana memberitahu aku tentang semuanya? Aku mohon! Tolong katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Aku ingin tahu semua ceritanya dari awal."
***
__ADS_1
Setiap kebohongan pasti akan berakhir dengan kehancuran. Entah itu sudah hukum alam ataukah balasan yang harus di terima oleh para pembohong tersebut.
"Hah!" Nino menghembuskan nafasnya dengan kasar. Matanya masih terpejam, membayangkan kenangan indah yang dilaluinya beberapa waktu terakhir bersama Dania.
"Sepertinya, aku mulai mencintaimu, Om pedofilku yang tampan."
Bisikan Dania di malam saat Nino memiliki dirinya secara utuh kembali terdengar di telinga Nino. Saat itu Nino sangat bahagia. Ia berpura-pura tidak mendengarnya agar Dania mau mengatakan hal itu lagi nantinya. Namun, keinginannya tidak pernah terwujud. Dania masih belum mengatakan tentang perasaannya sampai saat ini.
"Mungkin semua itu karena Moony masih ragu dengan perasaannya kepadaku." Nino membuka matanya perlahan. "Sekarang, dia sudah bersama dengan pria yang di cintainya. Tidak ada harapan lagi bagiku. Moony bahkan tidak mengatakan apapun tentang kehamilannya padaku. Sepertinya, dia memang berniat memutuskan semua hubungannya denganku."
Mata Nino kembali terpejam. Ingin rasanya terlelap, meski hanya sekejap. Mengistirahatkan pikiran dan juga tubuhnya sesaat. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering. Tak membiarkan dirinya untuk beristirahat sejenak.
"Halo, Ky," jawab Nino malas.
"Cepat temui Dania! Gibran akan membawanya pergi ke negara xx."
Nino menegakkan tubuhnya. Sesaat nyawanya seperti terbang melayang. Danianya akan pergi. Cintanya akan meninggalkan dirinya. Rasa ini lebih menyakitkan daripada kematian. Namun, Nino ingat jika Dania mencintai Gibran. Dan ia sudah berjanji akan melepaskan Dania untuk terbang bebas.
"Biarkan saja! Dia pantas bahagia bersama dengan cintanya. Aku tidak akan lagi mengikatnya di sisiku." Nino mengulas senyuman yang terasa begitu pahit.
"BODOH!!! Cinta itu di perjuangkan bukan di lepaskan."
Nino tahu itu, tapi hatinya tidak memberinya izin untuk lebih menyakiti Dania.
"Jika memperjuangkan cintaku ternyata hanya menyakiti dirinya, maka aku lebih memilih mundur dan berakhir sebagai pengecut ...."
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino π
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
__ADS_1
I β€ U readers kesayangan kuhh