
"Aaarrrrrggghhhh!!!"
Burung-burung yang tengah berkicau terbang menjauh karena suara bising yang memekakkan telinga.
Nino segera membuka matanya dan memijat pangkal hidungnya untuk menghilangkan rasa berat di kepalanya. Ia masih belum menyadari apa yang sedang terjadi hingga seseorang mencengkram lengannya.
"Ada ap- " Nino menggantung kalimatnya ketika melihat dada Dania yang terbuka dan hanya terbungkus selimut.
Rasanya kerongkongan Nino tercekat. Sulit untuk menarik benang merah dari apa yang sedang terjadi, tapi Nino yakin jika dirinya sudah menyakiti Dania.
"Mo- Moo- " Begitu sulit bibir Nino berucap.
"Diam!" desis Dania, kemudian menyentuh dagu Nino untuk mengalihkan perhatiannya ke arah lain.
Mata Nino terbelalak hingga hampir melompat keluar ketika menyadari aura dingin dan menyeramkan telah memenuhi kamar itu.
'Tunggu dulu! Kamar? Tidak mungkin aku sebodoh ini!' Batin Nino.
Pandangan matanya berkeliling menyapu ruangan yang benar-benar berbeda dengan kamar Dania. Sepertinya Nino dan Dania akan mendapatkan masalah besar.
"Ehem!!!" Suara yang berat memecah keheningan. "Apakah kalian ingin aku bertanya atau kalian akan menjelaskan sendiri?" tanyanya.
Suara itu menarik perhatian Dania yang langsung merasa tubuhnya kaku bersamaan dengan nyawanya yang nyaris meninggalkan raganya.
Berbeda dengan Dania, Nino sadar dengan cepat. Ia segera melilitkan selimut ke seluruh tubuh Dania dan menuntunnya ke dalam kamar mandi, kemudian menutup pintunya rapat-rapat.
"Jadi?" Suara berat itu kembali mengintimidasi Nino yang kini seorang diri.
Nino berbalik dengan wajah serius dan kerutan yang begitu dalam di dahinya. Tatapannya begitu menantang kepada lawan bicara yang menanti penjelasan darinya.
"Aku tidak berpikir kau akan marah padaku karena memergokimu sedang bersenang-senang dengan adikku," ucap orang itu yang ternyata adalah Dito.
"Tidak! Bukan seperti itu." Nino melangkah mendekati Dito yang masih berdiri di ambang pintu.
Dito tersenyum sinis. "Kalau bukan seperti itu, lalu seperti apa? Kau pikir aku buta? Hah!"
Wajah Nino yang awalnya dingin dan serius, tiba-tiba saja berubah. "Kakak ipar ...."
Tubuh Dito bergidik ngeri setiap mendengar Nino memanggilnya seperti itu. "Diam! Jangan memanggilku dengan nada bicaramu yang menjijikkan seperti itu!"
Sudut bibir Nino berkedut menahan tawa. Namun, ia juga tidak bisa mundur dalam rencananya untuk mengalihkan perhatian Dito.
"Lalu aku harus memanggilmu bagaimana? Kau itu kakaknya Dania dan dia istriku. Itu artinya kau kakak iparku. Akan tidak sopan jika aku -"
"Cukup!" sela Dito, dengan sebelah tangan terangkat. "Kau selesaikan urusanmu dengan Dania. Setelah itu keluarlah dari kamarku!" titahnya.
Nino tersenyum dengan lebarnya. "Baik, Kakak ipar."
Dito mengedikkan bahunya sebelum berbalik dan meninggalkan Nino di dalam kamarnya.
"Mereka itu bodoh atau bagaimana? Berani-beraninya memakai kamarku untuk membuat bayi!" gerutu Dito seraya berjalan menjauhi kamar tidurnya.
__ADS_1
Sepeninggal Dito, Nino seorang diri di dalam kamar tidur kakak iparnya itu. Tubuh atasnya masih terbuka karena ia belum mengenakan apapun, sementara pikirannya masih melayang untuk mengingat apa yang sebenarnya terjadi hingga dirinya dan Dania berakhir seperti ini.
Langit-langit kamar berwarna putih polos itu menjadi fokus Nino. Matanya tanpa berkedip terus menatap ke atas ketika tubuhnya ia rebahkan kembali di atas tempat tidur Dito.
"Apa yang terjadi semalam?" gumam Nino seraya memijat pelipisnya yang sudah berdenyut sejak tadi.
Tiba-tiba saja, ia seperti melihat sebuah adegan film yang terputar di langit-langit kamar.
"Itu ...."
Malam sebelumnya ...
"Sayang, kenapa tuan putri tidak lagi memanggilku pangeran?" tanya Ricky bingung.
Deta menatap sekilas pada wajah adiknya yang memerah. "Memangnya kenapa, Mas? Apa ada yang salah?"
"Tidak ada! Aku hanya merasa seperti ada yang hilang dari hidupku." Ricky bersandar manja di bahu Deta yang membalasnya dengan sapuan lembut di kepala Ricky.
Dania mencebik. "Tidak seperti itu, Kak Ricky. Tidak akan ada yang berubah, apalagi hilang."
Ricky menegakkan tubuhnya di barengi dengan sebelah alisnya yang terangkat. "Lihat itu, Sayang! Tuan putri memanggilku seperti itu lagi. Astaga! Kenapa aku merasa seperti seorang ayah yang melepaskan putrinya untuk memulai hidup baru."
Melihat reaksi suaminya yang berlebihan, Deta hanya menggelengkan kepalanya dan segera beranjak ke dapur.
"Sayang, mau kemana?" teriak Ricky, lantas mengekori Deta ke dapur.
Dania tertawa geli memperhatikan tingkah kakak iparnya yang selama ini selalu menjadi satu-satunya pangeran dalam hidupnya. Dan kini, ia harus mengganti posisi istimewa itu untuk orang lain.
Tatapan Dania terpaku pada sosok Nino yang di penuhi kehangatan. Sosoknya yang jahil dan juga konyol selalu bisa menyentuh hati Dania.
"Aku mencintaimu." ungkap Nino tanpa basa-basi.
Senyuman Nino yang tulus dan pancaran matanya yang di penuhi kebahagiaan membuat Dania turut bahagia. Setidaknya, ia tidak menyakiti Nino dengan kata-katanya.
"Aku tahu!" jawab Dania datar seraya berbalik untuk menghindari tatapan Nino.
Nino tergelak. "Ah, tidakkah ini begitu aneh?"
Dania mengintip dari sudut matanya. "Apanya yang aneh?"
"Sudah satu bulan lebih kita menikah, tapi kita tidak pernah berkencan dengan benar." Nino menggoyangkan kakinya karena gugup, sebelum akhirnya ia menyadari Dania juga salah tingkah karena ucapannya. "Ehem ... Ahahaha ... Maksudku, seharusnya kita saling mengenal lebih dekat bukan?"
Dengan penuh semangat Dania mengangguk, meskipun bibirnya masih mengatup.
"Jika kau setuju, bagaimana jika kita pergi makan malam? Seingatku, kita belum pernah menghabiskan waktu bersama tanpa pertengkaran." Ucapan Nino di akhiri tawa ringan demi untuk mengurangi kecanggungan di antara mereka.
Ada sedikit keraguan di hati Dania. Namun, ia juga membenarkan apa yang di katakan Nino. Selama menikah, mereka belum pernah menghabiskan waktu bersama dengan tenang.
"Aku rasa itu bukan ide yang buruk!" jawab Dania malu.
Tanpa di sadari oleh Dania dan Nino, Ricky dan Deta tengah memperhatikan tingkah mereka dari balik tembok dapur.
__ADS_1
"Sepertinya kita harus membantu mereka, Sayang," gumam Ricky, setengah berbisik di telinga Deta.
Tangan Deta menyentuh pipi Ricky agar menjauh darinya. "Jangan ikut campur dan jangan berbuat macam-macam, Mas!"
Ricky kesal karena terus di tolak oleh Deta hingga ia pun terpaksa merengkuh pinggang sang istri agar tubuh mungil itu merasakan ketegangannya.
"Mas!" pekik Deta tanpa suara.
Ricky menyeringai. "Salahmu sendiri terus menolakku!"
'Aku menolaknya? Kapan aku melakukan itu?' Batin Deta.
Deta menghela nafasnya. "Baiklah, maafkan aku! Sekarang tolong lepaskan aku!"
"Tidak jika kau tidak setuju kita akan membantu mereka!" sanggah Ricky, sementara ekor matanya menunjuk ke arah Nino dan Dania berada.
"Mas, Dania dan kak Nino sudah dewasa. Mereka tidak butuh bantuan kita." Deta berusaha membujuk Ricky dengan suara lembutnya.
Ricky semakin mengeratkan pelukannya. "Sayang, bahkan bunga pun butuh angin untuk pembuahan. Apa kau tidak ingin melihat Dania bahagia seperti dirimu sekarang?"
'Aku ingin Dania bahagia, tapi tidak ingin jadi seperti diriku yang selalu kalah oleh rayuanmu!"
Lagi-lagi Deta hanya bisa membatin setiap kali menghadapi sikap suaminya yang terkadang kekanak-kanakan.
"Baiklah! Tapi ingat untuk tidak terlalu jauh ikut campur!" ucap Deta akhirnya.
"Seperti keinginanmu, Nyonya Sanjaya." Satu kecupan mendarat di bibir ranum Deta.
'Bersiaplah, Brother! Aku akan mengubah hidupmu ...'
Flashback off ...
"Itu ... Kenapa aku tidak ingat apapun? Aku hanya ingat saat aku dan Moony berencana untuk makan malam. Selanjutnya ...." Nino mengacak-acak rambutnya karena frustasi. "Apa sebenarnya yang terjadi selanjutnya hingga aku dan Moony berada di kamar ini?" gumamnya.
Di tengah kekacauan yang melanda pikiran Nino, tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka.
"Moony?"
Pandangan Nino langsung tertuju pada tubuh dan rambut Dania yang basah dan terbungkus handuk mandi.
"Pakaianku tidak ada di sini, jadi aku harus ke kamarku untuk mengambilnya." Dania menunduk malu seraya hendak melangkah.
Dengan cepat Nino menghampiri Dania dan menghalangi jalannya.
"Maafkan aku, Moony! Aku mohon maafkan aku! Semua ini hanya ketidaksengajaan." Nino mengucapkan dengan nafas terengah-engah.
"Kau ... Menyesal telah menyentuhku?"
Hallo semuanya ๐ค
Mohon maaf atas keterlambatan update yang sangat terlambat ini๐๐ผ
__ADS_1
Semoga readers kuhh sayang masih setia stay untuk Dania dan Om Nino 'ya๐