
"Tapi kau yang terbaik, Om ...."
Dengan tulus Dania mengeluarkan kalimat itu dari mulutnya. Mungkin saat ini Dania masih mencoba menemukan apa yang di lihat seluruh keluarganya dari Nino, tapi setidaknya Dania bisa berkompromi dengan calon anaknya. Ia tidak ingin di masa depan anaknya tumbuh tanpa sosok seorang ayah. Pertemuannya dengan anak kecil di bandara telah menyadarkan Dania bahwa kehadiran seorang ayah juga sama pentingnya dengan seorang ibu.
"Benarkah?" Nino mendekatkan wajahnya dengan wajah Dania.
Dania memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Itu menurut keluargaku."
"Lalu, bagaimana menurutmu? Aku lebih dari kata terbaik bukan?" Nino semakin mengurangi jaraknya dengan Dania, bahkan bibir keduanya hampir bertemu.
"Dania!"
Suara seseorang di ambang pintu membuat Dania dan Nino langsung menoleh dan melihat Gibran sedang berdiri di sana.
"Kak Gibran?" Dania memicingkan matanya. "Kau disini? Aku pikir kau sudah pergi ke negara xx."
Gibran melangkah untuk mendekati Dania, tapi Nino menghalanginya. "Aku ingin bicara dengan Dania."
"Kau bisa bicara disini." Nino melipat kedua tangannya di depan dada.
"Tapi aku hanya ingin bicara berdua dengan Dania." Gibran masih bersikukuh.
Nino memiringkan sedikit kepalanya untuk melihat Dania. "Walaupun aku pergi, kau tetap tidak akan bisa bicara berdua saja dengan istriku."
Gibran mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Karena istriku sedang membawa anakku di dalam perutnya. Kau tidak akan bisa berduaan saja dengannya. So, apa bedanya aku pergi atau tetap disini?" Nino sudah memasang wajah mengejek.
Melihat Gibran yang sudah mulai terpancing, Dania pun akhirnya bersuara. "Ada apa, Kak? Bukankah kemarin kau mengatakan bahwa ada pekerjaan di negara xx? Kenapa kau masih disini?"
Terlihat Gibran yang ragu untuk bicara karena ada Nino di antara dirinya dan Dania. "Aku tidak bisa pergi tanpa dirimu."
"Heh!" Nino mencebik. "Kau takut tersesat atau apa? Kalau begitu, biar aku yang akan mengantarmu."
__ADS_1
Tangan Gibran sudah mengepal, tapi ia tidak ingin terlihat buruk di hadapan Dania. "Tidak, terima kasih. Aku hanya akan pergi bersama Dania."
Senyuman di wajah Nino memudar. Berganti wajah dingin dengan tatapan tajam yang menghujam. "Kau bisa pergi bersama dengannya, jika dia memang menginginkannya."
Gibran menaikkan pandangannya. Matanya terlihat berbinar. Ia sangat yakin jika Dania akan ikut bersama dengannya. "Ayo, Dania!"
Baru saja Gibran akan melangkah, Dania sudah memberinya isyarat untuk tidak mendekat.
"Ada apa, Dania?" Gibran melirik Nino yang tetap diam di tempatnya. "Kau takut padanya? Jangan takut, Dania! Aku selalu bersamamu."
Sejujurnya, Nino ingin sekali melayangkan tinjunya pada wajah pria tidak tahu malu itu. Namun, Nino tidak ingin membuat Dania merasa berada di bawah tekanan. Biarlah wanita yang di cintainya itu memilih sendiri jalan hidupnya.
"Tidak, Kak! Aku tidak takut padanya." Dania menatap Nino yang juga menatapnya. "Aku nyaman berada di sisinya. Dan, anakku juga membutuhkan ayahnya."
"Aku bisa menjadi ayah untuk anakmu, Dania." Gibran masih berusaha menggoyahkan keyakinan Dania. "Kau mencintaiku bukan? Kau ingin aku mengatakan perasaanku padamu sejak dulu. Baiklah! Aku mencintaimu, Dania."
BUG ...
Darah segar sudah mengalir di sudut bibir Gibran saat Nino akhirnya melepaskan bogem mentahnya pada wajah pria itu.
Dania menahan senyumnya. Ia tahu jika Nino sudah di bakar api cemburu sejak tadi, tapi pria itu berusaha mati-matian untuk menyembunyikannya.
Kaki Dania bersila di atas tempat tidur, sementara tangannya memeluk bantal dengan erat. "Maafkan aku, Kak! Dulu aku berpikir jika aku mencintaimu karena hanya kau yang ada di sampingku selama sepuluh tahun. Kau yang menjagaku dan menghiburku, tapi saat kau membiarkan aku menikah dengan orang lain ... Saat itu aku berpikir untuk melepaskan semua kenangan kita. Dan kini, saat kau menatapku ... Hatiku sudah tidak berdebar lagi. Aku sudah tidak merindukanmu lagi. Aku bahkan sudah mulai mengeluarkan dirimu dari pikiran dan juga mimpi-mimpiku."
Gibran merasa kakinya tiba-tiba lemah. "Tapi kau sudah tahu alasanku datang terlambat, Dania."
"Apa alasanmu datang terlambat, Gibran?" Tanya seseorang dengan suara beratnya. Tubuh Gibran membeku saat melihat sosok yang berdiri di hadapannya. "Apa yang sudah kau katakan pada tuan putriku hingga dia memilih untuk pergi bersamamu?"
Tanpa di duga, Gibran kembali tenang dan membungkuk hormat. "Anda lebih tahu, Tuan."
Pria yang baru datang itu adalah Ricky Sanjaya. Orang yang memberikan kepercayaan penuh pada Gibran untuk menjaga Dania. Penyesalan itu jelas terlihat di matanya, tapi ia tak sedikitpun menundukkan kepalanya.
"Kau benar, Gibran. Aku lebih mengenal dirimu daripada siapapun." Ricky sudah mencengkram bahu Gibran. "Jadi, lebih baik kau pergi karena kehadiranmu tidak di terima disini."
__ADS_1
Gibran mengangkat kepalanya. "Jika anda tidak melakukan itu, pasti saya dan Dania sudah hidup bahagia."
"Memangnya apa yang sudah suamiku lakukan padamu, Gibran?" tanya Deta, bergantian menatap Ricky dan Gibran yang sudah terlibat perang dingin.
Ricky menyeringai. "Jangan pedulikan dia, Sayang! Dia hanya sedang mencari celah saja."
"Tidak, Nyonya! Saya tidak mungkin berbohong. Saya datang terlambat karena tuan Sanjaya." Gibran menjeda kalimatnya sesaat untuk melihat reaksi Ricky yang sepertinya tidak terpancing sedikitpun. "Tuan Sanjaya mengurung saya selama berminggu-minggu hanya untuk menyelamatkan hubungan Dania dan temannya." Gibran sudah mulai berapi-api untuk membuka keburukan Ricky.
Deta hanya bungkam dan menatap Ricky penuh tanya.
Ricky menyadari jika Deta terus menatapnya. Ia pun menoleh dan tersenyum seraya mengecup puncak kepala Deta. "Coba kau tanyakan padanya, bagaimana dia bisa ada disini sekarang? Sementara, aku tidak tahu apa-apa."
Sebelum Deta bertanya, terdengar Nino berdeham dan berpamitan untuk keluar. "Aku akan membeli minum untuk kalian semua."
"Tidak! Kau tetap disini." Ricky mengarahkan telunjuknya pada Nino dan berputar mengarah pada Dania. "Temani saja istrimu, jika kau tidak mau orang lain merebutnya."
Nino tertegun. Sesaat wajahnya terlihat datar dan dingin. Dan sorot matanya, sama persis dengan Ricky saat ini. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena pria yang terkenal hangat dan konyol itu sudah tersenyum kembali.
"Ya! Ya! Dasar tuan tua tukang perintah." Nino sudah berjalan mendekati Dania dan mendapatkan sambutan tawa ringan dari istri kecilnya itu. "Jangan tertawa atau Ricky akan menelanmu!" candanya dengan berbisik.
"Tuan asisten Gibran!" Deta kembali pada masa dimana dirinya masih menjaga jarak dengan mantan asisten suaminya itu. "Aku tidak tahu yang kau katakan tentang suamiku benar atau tidak, tapi terlepas dari itu semua ...," Deta menatap Dania. "Aku berterima kasih padamu karena sudah menjaga adikku selama sepuluh tahun ini, tapi jika kau meminta imbalan yang berlebihan atas kerjamu, rasanya aku jadi kasihan melihatmu. Kau lebih seperti seorang pengemis sekarang."
Dania dan Nino, begitu juga dengan Ricky. Mereka sangat terkejut dengan ucapan Deta. Ketiganya saling pandang tanpa berkedip. Sulit di percaya, wanita selembut dan seramah Deta bisa mengatakan hal sekejam itu.
'Kehamilan telah merubah sifat polosnya. Sungguh malang nasibmu, Ricky!' Batin Nino.
'Sepertinya kakak sudah tertular oleh kak Dito.' Batin Dania. Ia pun menoleh dan melemparkan tatapannya pada Nino yang menjawabnya dengan mengangkat bahu.
"Dunia sudah berubah. Begitu juga dengan waktu yang selalu bergerak maju dan meninggalkan semua pada tempatnya ...."
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino π
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh