
'Maafkan aku, Om! Seandainya waktu bisa terulang hingga aku bisa memilih kepada siapa hatiku akan berlabuh. Dan seandainya kita tidak pernah bertemu dengan cara seperti ini ....'
Dania mulai merasa jika sikapnya terhadap Nino selama ini terlalu berlebihan, mengingat bahwa pria itu juga sebenarnya tidak bisa melakukan apapun atas situasi yang terjadi di antara keduanya. Karena sama seperti dirinya, Nino juga tidak bisa memilih kemana hatinya akan berlabuh.
Tanpa di inginkan Dania, setetes air mengalir di pipinya ketika matanya terus menatap punggung Nino yang kini tengah termenung di balkon.
Dania mengusap air matanya dan menatap hampa sebutir air yang berada di tangannya itu. Ia tak habis pikir, bagaimana air mata itu keluar begitu saja tanpa ia inginkan.
"Untuk siapa dan karena apa air mata ini keluar?" gumam Dania keheranan.
Saat tengah memikirkan banyak kemungkinan yang ada di hatinya, tanpa sengaja tatapan Dania bertumpu pada kantung belanja di atas meja.
Dania segera memeriksa kantung belanja tersebut dan tersenyum sebelum ia beranjak ke kamar mandi.
***
Terpaan angin cukup kencang di balkon apartemen Nino siang itu, seolah menghibur Nino yang sedang gundah.
"Sesuatu yang manis akan membuat suasana hati menjadi lebih baik!" seru Dania.
Sebatang coklat sudah terpampang di depan wajah Nino bersamaan dengan wajah ceria Dania yang membuat Nino kembali bahagia.
Nino menyeringai. "Kau sedang menggodaku?"
"Aku bukannya sedang menggodamu, tapi aku hanya menawarkan sesuatu untuk menggantikan hal yang tidak bisa kita lakukan." Dania menggigit ujung coklat dan tersenyum.
'Bukan tidak bisa, Moony, tapi belum waktunya.' Batin Nino penuh harap.
Awalnya Nino hanya memperhatikan tingkah Dania yang manis hingga mengalahkan manisnya coklat. Namun, perlahan ada sebuah dorongan yang membuatnya mengulurkan tangan dan meraih tangan Dania.
"Bukankah kau memberikannya untukku?" tanya Nino seraya menarik tangan Dania dan menggigit coklatnya, tepat di bekas gigitan Dania. "Manis!" ucapnya lembut dan penuh arti.
Rona merah kembali menghiasi wajah cantik Dania dan membuatnya salah tingkah. "Aku- Aku akan menyiapkan sarapan!"
Dania sudah berbalik untuk menjauhi Nino, jika saja Nino tidak mengatakan hal yang menghentikan langkahnya.
"Ini sudah waktunya makan siang, Istri kecilku." Nino menunjukkan jam yang melingkar di tangannya kepada Dania dengan senyuman di wajah tampannya.
Sekali lagi, Dania merasa malu dan menundukkan kepalanya karena tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk menutupi kecanggungan di antara dirinya dan Nino.
Nino berjalan menghampiri Dania dengan tatapan yang terus mengamati Dania dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya.
__ADS_1
"Aku tidak masalah jika melewatkan sarapan setiap hari selama aku bisa terus melihat wajahmu seperti ini," ucap Nino pelan, nyaris terbawa angin.
Bibir Dania bergerak-gerak akibat menahan tawa. "Jika kau tidak sarapan, kau akan sakit dan tidak bisa terus melihat wajahku!"
Nino memicingkan matanya seraya mengerutkan dahinya hingga kedua alisnya hampir menyatu ketika menatap Dania. Dan saat itu ia baru menyadari apa yang terlihat tidak biasa dari istrinya itu.
"Pakaian siapa yang kau kenakan ini, Moony?" tanya Nino, kemudian memutari tubuh Dania.
Dania terkekeh. "Kau tidak ingat ini milik siapa?"
"Tidak!" Nino menggelengkan kepalanya, kemudian memicingkan matanya. "Apa kau mencuri pakaian milik tetangga?" tuduhnya.
Bola mata Dania seketika membesar karena tuduhan Nino. "Kau ini!!! Itu artinya kau sedang merendahkan derajatmu sendiri sebagai seorang CEO! Kau tahu, pakaian ini aku temukan di dalam lemarimu."
Tangan Nino mencengkram kedua bahu Dania. Meskipun pelan, tapi itu cukup membuat Dania merasakan kemarahannya. "Kau menggeledah kamarku? Kau tahu ... Apartemen ini adalah tempat pribadiku!"
"Maaf! Aku tidak tahu." Dania kembali menundukkan kepalanya. "Kau tidak membawakan aku pakaian, jadi aku memeriksa lemarimu dan menemukan pakaian ini. Jika kau tidak menyukainya, aku akan melepaskan pakaian ini."
Nino melangkah mundur dan melepaskan cengkraman tangannya di bahu Dania. "Tidak perlu!"
"Tidak! Tidak! Aku akan melepaskannya. Aku salah karena tidak meminta izinmu sebelum memakai ini." Dania menatap dalam manik mata Nino.
"Tapi, Om, aku sudah tidak sopan memakai barang yang bukan milikku." Dania menarik ujung pakaian yang ia kenakan.
Nino menaikkan sebelah alisnya. "Kalau begitu, lepaskan itu sekarang!"
"Sekarang?" tanya Dania ragu.
"Iya, sekarang! Kau begitu ingin melepaskannya, maka lepaskan pakaian itu sekarang di hadapanku!" titah Nino, dengan wajah menakutkan.
Dania cukup terkejut dengan ucapan Nino, meskipun dalam hatinya ia merasa jika Nino terlalu berlebihan.
"Baiklah!" ucap Dania pasrah.
Melihat sikap Dania yang begitu penurut dan hendak melakukan apa yang ia katakan membuat Nino membelalakan matanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Nino seraya menahan tangan Dania.
Mata sipit Dania menatap tajam Nino yang sedang memegangi tangannya. "Kau yang memintaku melakukan ini!"
"Aku tidak serius!" sanggah Nino.
__ADS_1
"Kau selalu bermain-main! Aku jadi ragu jika pernikahan ini adalah sebuah keseriusan bagimu ...."
***
Mobil mewah Nino sudah terparkir di halaman depan rumah besar Sanjaya dengan rapih. Sementara, Dania masih enggan untuk turun.
"Kau masih marah padaku?" tanya Nino lembut, ketika melihat Dania yang sedang dalam suasana hati yang kurang baik. "Kau ingin makan coklat lagi?" tanyanya lagi.
Dania menatap sinis ke arah Nino dengan ekor matanya. "Kau ingin membuat berat badanku naik?"
Tawa menyembur dari mulut Nino dan menegaskan garis wajah orientalnya. "Kenapa para wanita begitu sensitif dengan berat badan? Aku hanya menawarkan coklat, Moony, bukan penambah selera makan. Lagipula, kau hanya makan satu atau dua batang. Bukan makan satu toko!"
Gurauan Nino yang bermaksud untuk menggoda Dania justru membuat wanita itu marah dan segera keluar dari mobil tanpa mengatakan apapun.
"Astaga!!! Sepertinya aku akan menua lebih cepat daripada pak Toto." Nino menepuk dahinya pelan.
Belum sempat Nino melanjutkan keluhannya, Dania sudah kembali ke mobil dan mengetuk kaca mobil Nino.
"Iya, Moony! Sepertinya kau tidak meninggalkan apapun, kecuali kepingan hatiku." Nino tersenyum seraya menyapu seluruh isi mobil dengan tatapannya.
Dania memutar bola matanya dengan malas. "Aku tahu, Om! Aku hanya tidak ingin masuk seorang diri ke dalam."
"Jangan katakan jika kau takut tersesat di rumah kakakmu sendiri! Tapi kau tidak perlu khawatir. Aku bisa menjadi pemandumu." goda Nino, tanpa melihat wajah Dania karena ia sibuk membuka safety belt yang melilit tubuhnya.
Dania semakin di buat kesal oleh tingkah konyol Nino dan sikapnya yang tidak pernah serius. Mungkin semua itu akibat Dania yang sedang datang bulan sehingga hal sekecil apapun bisa membuatnya kesal bukan main.
Tak tahan dengan sikap Nino, Dania memilih berjalan lebih dulu daripada harus menghadapi sikap konyol suaminya itu.
"Moony, tunggu aku!!!" panggil Nino, begitu ia keluar dari mobil dan melihat Dania sudah berjalan menuju pintu utama.
Dania menoleh dengan wajah yang tidak bersahabat. "Gunakan kaki panjangmu itu dengan benar, Om!"
Nino tidak menjawab dan hanya tersenyum malu karena Dania bukan hanya telah merebut hatinya, tapi wanita itu juga telah menemukan cara untuk membungkam mulut usil Nino serta pikiran nakalnya.
'Memang hanya kau yang bisa memiliki diriku seutuhnya, Moony ...'
Hallo semuanya🤗
Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1