Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
PISAH RANJANG


__ADS_3

Deru nafas Dania dan Nino saling bersahutan memenuhi kamar tidur utama kediaman Ferdinan. Beruntung ruangan itu kedap suara hingga tak ada yang perlu mendengar percintaan panas keduanya.


Bola mata Dania menatap lekat wajah Nino yang berada di atasnya. Wajah tampan itu telah menyihir dirinya hingga tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mengikuti permainan pria itu.


"Aku mencintaimu, Dania Ferdinan." Tubuh Nino ambruk dan menimpa Dania yang justru merentangkan tangannya untuk memeluk tubuh kekar suaminya itu.


Dania berbisik di sela sisa tenaganya dan membuat Nino tersenyum bahagia walaupun matanya sudah mulai terpejam.


***


"Kau masih disini?" tanya Nino, yang berjalan menuruni tangga menuju ruang tamu dengan wajah segarnya.


Terlihat sosok Ricky yang bersandar pada sofa dengan penampilan sedikit berantakan. "Aku ingin sekali meninju wajah sok polosmu itu, Tuan Nino Ferdinan!"


Nino tergelak dan duduk di samping Ricky dengan santainya. "Jangan lakukan itu atau hukumanmu akan semakin berat!"


"Sialan kau, No!" umpat Ricky, melirik tajam sahabatnya yang tengah tertawa di atas penderitaannya. "Kau pasti sengaja membuatku menunggu selama ini! Kau ini memang benar-benar -"


"Eiitttss! Tunggu dulu!" Nino menaikkan jari telunjuknya ke hadapan Ricky. "Aku belajar semua ini darimu, Brother. Apa kau lupa?" tanyanya setengah menggoda.


Ricky berpikir keras. Bola matanya bergerak kesana-kemari, mencari ingatan yang baru saja di sebutkan oleh Nino. Namun, beberapa saat kemudian matanya terbelalak hingga mengundang kembali tawa di wajah Nino.


"Kau sudah ingat?" tanya Nino antusias. "Kau pasti sudah ingat! Aku yakin." soraknya.


Ricky mendesah. "Tapi seingatku ... Aku tidak pernah membuatmu menunggu sampai selama ini. Apa sebenarnya yang kau lakukan? Dania bahkan tidak keluar dari kamar meskipun dia tahu aku ada disini."


Pertanyaan dan keluhan Ricky membuat Nino menarik sebuah senyuman ketika pandangannya melihat ke arah pintu kamar tidur utama yang tertutup rapat.


Flashback on ...


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, Nino terus menggenggam tangan Dania dengan erat. Permintaan maaf juga tak henti-hentinya di ucapkan sebagai rasa penyesalan atas apa yang telah ia lakukan pada Dania malam itu, meskipun mereka sama-sama tahu jika semua itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan.


"Semuanya sudah berlalu, Om! Lagipula, tidak ada sesuatu yang harus kita berdua sesali. Justru sebaliknya, aku bersyukur karena dengan adanya kejadian ini ...," Dania menyandarkan kepalanya dan menoleh ke arah Nino yang sedang mengemudi. "Aku jadi mengerti satu hal."


Nino menoleh sekilas dan melihat wajah Dania yang semakin cantik berkali-kali lipat baginya. "Apa itu?"

__ADS_1


"Bahwa aku beruntung memiliki dirimu di dalam hidupku." Dania mengeratkan kaitan tangannya dengan Nino.


Tiba-tiba saja Nino menghentikan laju mobilnya dan menatap tak percaya kepada Dania yang terkejut atas sikap Nino.


"Ada apa, Om?" tanya Dania, khawatir jika Nino terluka atau mungkin menabrak sesuatu. Matanya terus mengamati jalanan di depan yang nampak lengang.


Nino tidak menggubris pertanyaan Dania. Ia membuka safety belt yang melilit tubuhnya dan langsung menangkup wajah Dania dengan kedua tangannya.


Tanpa peringatan, Nino melahap bibir Dania yang bagaikan candu untuknya. Perlahan, Nino mulai menuntut. Tangannya mulai bergerak-gerak mencari sesuatu.


"Om?" bisik Dania dengan nafas terengah-engah, setelah Nino melepaskan pagutan bibir keduanya.


Nino mengusap lembut bibir Dania yang basah. "Maafkan aku, Moony! Aku benar-benar tidak bisa menahan -"


Belum sempat Nino menyelesaikan kata-katanya, kedua tangan Dania sudah melingkar di leher Nino dan membawa tubuh pria itu kembali mendekat dengannya.


Nino tidak ingin bertanya. Matanya hanya menangkap sebuah kesiapan di mata Dania. Cinta yang Nino harapkan memang belum terlihat, tapi setidaknya Dania tidak lagi menolak dirinya.


Hanya sebuah senyuman yang di berikan Nino sebagai jawaban atas sikap Dania, bukanlah sebuah ciuman lanjutan seperti yang di bayangkan oleh Dania. Dan tentu saja hal itu membuat Dania bingung bukan main.


Nino menoleh dan menarik lembut tangan Dania, lalu mengecupi tangan itu dengan penuh cinta.


"Aku tidak mungkin marah padamu, Moony." Nino mulai menyalakan mesin mobilnya kembali. "Aku hanya tidak ingin kehilangan akal sehatku di sini."


Dania mengerti. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Tubuhnya kembali bersandar dan menikmati setiap perlakuan Nino yang menyenangkan baginya. Dania merasa sangat di cintai dan istimewa karena sikap Nino padanya itu.


Tak sampai satu jam, Dania dan Nino sudah sampai di rumah besar Ferdinan. Dania sebenarnya ingin membuka sendiri pintu mobilnya, tapi ia kalah cepat dengan Nino yang sudah berada di hadapannya.


"Ahh!!!" pekik Dania, ketika tubuhnya melayang karena Nino mengangkatnya. "Hei, apa yang kau lakukan, Om? Bagaimana jika ada yang melihat?" tanyanya panik.


"Mereka memiliki mata. Tentu saja mereka akan melihat, Moony." Nino melirik tajam para pelayan yang menyambut kedatangannya.


Para pelayan itu seketika menundukkan pandangan mereka. Seolah melihat kemesraan Nino dan Dania adalah sebuah dosa besar.


Dania membenamkan wajahnya di dada Nino yang terasa hangat karena malu menjadi pusat perhatian. Sementara, Nino berjalan dengan sangat cepat menuju kamar utama.

__ADS_1


Nino merebahkan tubuh Dania di atas tempat tidur. Dan kali ini, bukan tempat tidur yang salah. Kali ini, mereka benar-benar dalam keadaan sadar dan menerima satu sama lain.


Aroma cinta dan hasrat menyatu dalam tatapan keduanya. Dania dan Nino sama-sama di buai oleh kenikmatan yang selama ini di dambakan.


Tok ... Tok ... Tok ...


Sebuah ketukan pintu mengejutkan Dania yang langsung mendorong dada Nino, tapi tidak menimbulkan efek apapun karena tenaganya yang tidak sepadan.


Nino membuka matanya dan menggeram kesal karena merasa terganggu. "Apakah aku harus pergi ke bulan agar tidak ada yang mengganggu?"


Sebuah piyama menutupi tubuh Nino ketika ia membuka pintu dan seorang pelayan terlihat ketakutan saat melihat raut wajah Nino.


"Ada apa?" tanya Nino datar, tapi dengan tatapan yang siap menerkam.


Pelayan itu menundukkan kepalanya. "Maaf, Tuan, di bawah ada tuan Sanjaya."


Nino menyeringai. "Minta dia untuk menunggu! Itu pun jika dia sanggup menunggu."


Setelah mengatakan hal itu, Nino lantas menutup pintu dan melanjutkan permainannya yang menegangkan bersama Dania.


Flashback off ...


"Dania sedang tidur!" jawab Nino, masih tidak merasa bersalah karena telah membuat Ricky menunggu dirinya.


Ricky menaikkan sebelah alisnya. "Kau pasti sengaja membuatku menunggu semalaman?"


Nino terkekeh. "Aku tidak sengaja, Kakak ipar. Sungguh! Kau tahu bukan? Saat bersama wanita yang kita cintai, waktu seakan berjalan begitu cepat. Aku pikir, aku hanya akan memintamu menunggu sekitar tiga puluh menit. Siapa yang tahu jika istriku tidak ingin melepaskan aku?"


"Cih! Tingkahmu itu ... Tiga puluh menit katamu?" Ricky mulai naik pitam. "Aku sudah berjamur menunggumu disini! Kalau tahu akan seperti ini, lebih baik aku tidur di depan pintu kamarku. Setidaknya, Deta akan iba melihatku seperti itu. Tidak seperti dirimu yang sengaja ingin menyiksaku!" keluhnya.


"So?" Nino melipat kedua tangannya di dada. "Ibunya Tary memisahkan ranjangnya darimu?Ck ... Ck ... Ck ... Malang betul nasibmu, Brother!"


Hallo semuanya 🤗


Di tunggu cintanya sama Dania dan Om Nino lhooo 😍

__ADS_1


__ADS_2