
BUG ... BUG ... BUG ...
Hantaman demi hantaman mendarat di wajah dan juga beberapa bagian tubuh seorang pria yang kini sudah jatuh berlutut tepat di kaki pemilik tangan baja tersebut.
"Bangun!!! Aku tidak berselera menghukum orang yang lemah!" bentak pria dengan tangan yang mengepal. Sorot mata dinginnya menghunus ke arah pria yang tengah berlutut di hadapannya dengan wajah yang tertunduk.
Pria itu mendongak. Kata-kata yang di tangkap telinganya membuat dirinya kembali memiliki cukup tenaga untuk bangkit. Jemarinya menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya. Seringai tipis sempat terukir sebelum matanya menatap lawan di hadapannya. Tatapan mata yang di penuhi keputusasaan dan juga kebuntuan hingga membuatnya berani menantang pria kejam di hadapannya ini.
"Aku ... Tidak akan menyerah! Kau bisa menghukumku sampai kau lelah, tapi aku tetap tidak akan menyerah!" ucap pria itu lantang. Kakinya berusaha untuk menopang tubuhnya yang sudah di penuhi lebam di beberapa tempat.
Semangat yang di tunjukkan oleh lawannya tak serta merta membuat amarah di sorot mata dingin itu menghangat. Tatapan itu semakin di penuhi kilat amarah. Tangannya semakin kuat mengepal dan siap untuk kembali melayangkan kepalan itu ke wajah yang kini menatapnya dengan sorot mata menantang.
"KAKAK!!! CUKUP!!! HENTIKAN SEMUA INI!!!"
Sebuah jeritan yang di susul isak tangis berhasil mengalihkan perhatian kedua pria tersebut. Pandangan keduanya langsung tertuju pada sosok wanita yang berlari menuju ke arah mereka dengan sedikit terhuyung.
"Masuk!!!"
"Tidak!!!"
"Kau mulai membantahku, Dania!!!" gertak Dito, sementara tangannya sudah menyeret tubuh Dania menjauh dari tempat Nino tengah berlutut.
Air mata Dania mengaburkan pandangannya. Di lihatnya sosok Nino yang menatapnya dengan sayu. Tubuh pria tampan itu sudah lemah dengan banyak luka di tubuhnya. Namun begitu, sebuah senyuman masih sempat terlihat di wajahnya sebagai tanda bahwa dirinya baik-baik saja.
"Maafkan aku, Om ...."
Flashback on ...
"Karena dia sudah mengkhianati cintaku ...."
Hati Dania sesak. Rasanya kalimat itu seperti duri yang menancap di hatinya. Dania ingin hilang ingatan agar dirinya tak perlu mengingat lagi seberapa besar cinta Nino untuk Mikayla.
__ADS_1
"Apa yang telah dia lakukan padamu?" Pertanyaan Dito menyentak Dania yang tengah termenung.
Dania tertunduk lemah. Harus bagaimana ia mengatakan semua ini pada kedua kakaknya? Sedangkan, Dania sendiri saja masih belum bisa mengatasi perasaannya.
"Bicaramu terlalu keras, Dito! Biarkan Dania menenangkan pikirannya dulu. Baru setelah itu, kita akan bicara agar tidak terjadi kesalahpahaman." Deta menengahi pertengkaran yang sebentar lagi akan terjadi di antara kedua adiknya.
Dito menatap kedua saudara perempuannya dengan intens. "Apa kalian tidak percaya padaku? Kenapa semua hal selalu berjalan sesuai dengan keinginan kalian? Bisa tidak, sekali saja kalian mengatakan atau setidaknya bertanya padaku apa yang sebaiknya kita lakukan sebelum membuat keputusan apalagi sebuah masalah?"
Mata bulat Deta membesar sempurna, begitu juga dengan Dania yang langsung membelalakkan matanya karena ucapan Dito. Mereka saling berpandangan dan menghela nafasnya yang terasa berat.
"Maaf, Kak," lirih Dania dengan wajah yang kembali tertunduk. Belum memiliki keberanian menatap sorot dingin mata sang kakak.
Berbeda dengan Dania, Deta langsung menghampiri adiknya dan memeluknya. "Maafkan kami, Dek! Tanpa kami sadari, mungkin selama ini kami selalu menyusahkan dirimu. Kakak bahkan tidak pernah bertanya karena kau selalu diam dan menerima semua keputusan Kakak."
Ada setitik rasa sakit yang di goreskan Deta ke hati Dito melalui ucapannya. Entah mengapa, Dito merasa bersalah telah mengatakan semua itu. Tangan besarnya membalas pelukan Deta sesaat, kemudian melepaskannya kembali.
"Kak, aku tidak bermaksud seperti itu! Kakak tahu, aku sangat menyayangi kalian berdua. Aku tidak bisa melihat kalian tersakiti. Rasanya seperti aku telah gagal menjaga kedua saudaraku." Bibir Dito gemetar ketika berucap.
Dania dan Deta yang melihat hal itu langsung berhambur memeluk tubuh tegap pelindung mereka hingga acara tangis menangis pun tak bisa terelakkan.
"Cengeng!" gerutu Dito, ketika merasakan tangan Dania menghapus air mata di pipinya.
Bibir Dania mencebik. "Bagaimana tidak cengeng, jika kaptennya juga cengeng!"
Deta hanya tersenyum seraya menghapus air matanya yang masih mengalir deras karena keharuan melihat kasih sayang kedua adiknya.
"Wah, sepertinya aku tertinggal sesuatu!" seru Shanum, yang baru saja masuk ke kamar Dania dengan segelas susu di tangannya.
Ketiga kakak beradik itu hanya tertawa dan saling berpandangan, tanpa berniat menanggapi Shanum yang juga ikut tertawa.
"Dania, di depan ada tuan Ferdinan. Apa kau mau -" Shanum tidak sampai menyelesaikan kalimatnya karena Dito sudah mencegahnya.
__ADS_1
"Tidak perlu!" Telapak tangan Dito terangkat, tepat di depan wajah Dania. Meminta adiknya itu untuk diam di tempat. "Kau diam disini! Biar aku yang menemuinya." titahnya.
Tubuh Dania membeku. Pikirannya juga tidak bisa berpikir dengan jernih. Namun, hatinya meronta meminta untuk bertemu suaminya itu.
"Kak ...," Dania mencoba mendekati Dito yang sudah melangkah keluar.
"Diam di tempatmu, Dania! Kau sudah memutuskan untuk pulang karena pria itu telah melukaimu. Maka, pintu rumah ini telah tertutup untuk pria sialan itu!"
Kaki panjang Dito melangkah keluar rumah, tanpa menoleh pada Dania yang jatuh tersungkur lemah di lantai.
'Apakah ini akhir dari cintaku? Atau apakah ini semua hukuman atas kebodohanku?'
Flashback off ...
"Lepas, Kak! Aku ingin melihat keadaannya." Dania berusaha melepaskan tangannya yang di cengkeram Dito.
Dengan geram Dito melepaskan tangan Dania setelah keduanya berada di dalam rumah. Tatapan tajamnya membuat nyali Dania kembali menciut. Sebenarnya, saat Dania keluar dan berlari untuk menghentikan Dito, entah darimana keberanian itu berasal. Dania hanya tahu jika Dito tetap di biarkan, maka suaminya itu hanya akan tinggal nama karena terlihat sejak awal Nino tidak melakukan perlawanan apapun. Itu sebabnya Dania nekat dan tanpa pikir panjang menerobos penjagaan kakak dan kakak iparnya demi untuk menyelamatkan Nino. Pria yang sudah membuatnya patah hati seperti sekarang.
"Dia sudah menyakitimu! Apa kau lupa? Hah!!!" geram Dito, telunjuknya menempel di kening Dania.
Dania menggeleng kuat. "Aku tidak lupa, Kak, tapi aku juga tidak bisa melihatnya terluka seperti itu."
Dito mendengus kesal. "Perlu kau tahu satu hal, Dania! Dia sudah terbiasa mendapatkan hukuman seperti itu dariku."
Dahi Dania mengernyit. Apa maksud ucapan kakaknya yang dingin itu? Mungkinkah Nino sering melakukan kesalahan yang mengundang amarah kakaknya? Atau ada hal lain yang tidak Dania ketahui tentang suaminya itu.
"Ternyata aku masih belum mengenalmu, Om ...."
Hallo semuanya 🤗
Dania dan Om Nino menunggu cinta kalian lhoo 😉
__ADS_1