
Kelopak mata yang indah itu terbuka secara perlahan karena merasakan tangan hangat yang menimpa tubuhnya. Dengan geliat malas tubuh itu meliuk untuk meregangkan otot-otot yang lelah, seolah baru saja melakukan aktivitas berat.
"Selamat pagi, Istri kecilku." Suara menggoda yang langsung menarik perhatian Dania.
Pikiran Dania yang belum sadar sepenuhnya itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dan berhenti pada sosok kekar nan tampan yang berbaring di sisinya dengan bertelanjang dada menghadap ke arahnya.
Wajah penuh tanya Dania mengundang tawa maskulin pria di hadapannya. Tentu saja hal itu langsung memunculkan semburat merah di wajah siapa saja yang melihatnya, termasuk Dania.
"Kau pasti melupakan malam panas kita semalam? Hemm?" Pertanyaan penuh godaan dan selingan tawa ringan yang tak bisa di tepis begitu saja oleh Dania.
Kernyitan di dahi Dania yang cukup dalam menjadi jawaban atasan pertanyaan yang di lontarkan Nino. Ya, pria yang tengah menggoda Dania dengan tubuhnya itu tidak lain adalah Nino Ferdinan. Suami yang tengah menerima hukuman dari Dania.
'Bagaimana dia bisa ada disini ? Bukankah semalam ....' Dania mulai memeras otaknya. Mencoba menyusun puzzle ingatan akan kejadian semalam.
"Kemarilah! Akan aku ceritakan bagaimana kau membuat semua tanda ini." Rengkuhan tangan besar Nino menyambar tubuh polos Dania di hadapannya yang langsung membuat kebisingan.
AAAARRRGGGGHHH ...
Tak tahan dengan teriakan yang menggoda, lantas Nino lebih memilih untuk membungkam bibir manis itu dalam sekali gerakan. Tak peduli jika ada yang melihat, bahkan mungkin ingin sekali menembak saat melihat aksi keduanya.
"Kak Dito!" Pekikan Dania yang terdengar lebih seperti rasa takut akan akibat dari perbuatannya kali ini.
Terdengar kekehan dari mulut seksi Nino yang baru saja beraksi membungkam sang istri. "Tidak perlu sampai seperti itu, Moony."
"Tapi kak Dito pasti akan -" Dania tak sempat berucap karena sudah kembali berada dalam kekuasaan dan kehangatan sang suami.
"Hah! Hah!" Nafas Dania tersengal-sengal akibat kekurangan oksigen. "Kau ini benar-benar ...." Tangan yang hendak melayang ke dada bidang itu tertangkap sempurna dan mendarat di bibir Nino yang di penuhi seringai menggoda.
__ADS_1
"Kau yang benar-benar, Moony." Selimut yang menutupi tubuh keduanya kini sudah terbuka dan memperlihatkan banyaknya tanda cinta, nyaris di seluruh tubuh Nino. "Lihat! Aku tidak tahu jika selama ini kau begitu terobsesi dengan tubuhku, My little wife. Oh, No! My hot wife."
Kalimat penuh rayuan, tapi juga mematikan. Rasanya Dania ingin sekali menenggelamkan wajah dan seluruh tubuhnya di dasar laut saat ini juga. Demi untuk menghilangkan rasa malu yang menyerangnya.
"Itu hanya akal-akalanmu saja! Aku tidak merasa melakukan itu!" Sangkalan Dania yang sebenarnya semakin memojokkan, bahkan terdengar lebih pada sebuah pengakuan.
Bibir Dania yang mengerucut di hadapannya membuat sesuatu di tubuh Nino kembali membuncah dan merangsek ingin keluar. Tanpa meminta persetujuan, sepasang lengan kekar itu kembali menarik candunya ke dalam pelukan.
"Ah! Om pedofil mesum!!!"
***
Matahari mulai bergerak naik dan memperlihatkan segala sesuatu di bumi dengan lebih jelas. Rasa panasnya bahkan mampu menembus dinding tebal rumah keluarga Riady hingga aura panasnya terasa mampu menghanguskan apapun.
"Sayang, kenapa menatap mereka seperti itu?" tanya Shanum, mulai khawatir dengan sikap Dito yang seolah akan menguliti adiknya hidup-hidup.
"Sayang, Dania dan tuan Ferdinan sudah menikah. Jadi, apa yang salah dengan tindakan mereka?" Shanum mengusap lembut lengan kekar Dito dan langsung mendapatkan respon dari pria itu.
Tatapan yang dingin dan sikap datar itu menusuk Shanum. Namun, wanita itu tetap tersenyum. Entahlah, Shanum seolah tahu jika sikap yang Dito tunjukkan selama ini sesungguhnya hanyalah sebuah topeng belaka.
'Apa dia tidak mengerti jika aku sedang mempertahankan harga diriku di hadapan adik dan adik ipar tuaku ini? Hah! Aku tidak ingin, bahkan tidak mungkin meminta maaf pada mereka karena telah mengganggu waktu mereka.' Dito menatap Shanum kesal, sementara sebuah senyuman menjadi balasan dari sikapnya itu.
"Kakak ipar, aku hanya ingin -" Nino mencoba untuk membela diri, tapi tidak di beri kesempatan sedikitpun.
"Aku tidak peduli pada keinginanmu!" Dito mencebik kesal seraya melipat kedua tangannya di dada. "Sekarang, lebih baik kalian berdua pergi!"
Mata sipit Dania membulat sempurna saat mendengar ucapan Dito. Bola matanya bahkan hampir keluar karena kata-kata yang keluar dari mulut kakak laki-lakinya itu.
__ADS_1
"Ka- Kak mengusir ... Aku?" tanya Dania terbata, menahan tangis yang terasa sesak di dada.
Dito berdecak ketika melirik Dania dari sudut matanya, kemudian menghela nafasnya yang berat serta mengurai tangannya yang sempat terlipat. "Aku tidak pernah mengusirmu, Dania! Sudah kukatakan bukan bahwa rumah ini juga rumahmu dan kak Deta, bukan hanya rumahku. Tapi aku tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam rumah tanggamu, begitu pun dengan kak Deta. Kau sudah dewasa dan bisa menentukan sendiri jalan hidupmu. Tugasku hanya menjaga dan melindungimu juga kak Deta. Tak lebih dari itu! Jika kalian bahagia, maka aku pun akan berusaha bahagia dan menerima semua keputusan kalian."
Air mata Dania sudah tidak tertahan lagi. Dengan cepat Dania beranjak dan memeluk Dito dengan erat. Melupakan wajah masam Nino dan juga Shanum yang tengah duduk di samping Dito.
"Kakak ... Dania sa- Sayang Kak Dito." Dania mencoba bicara di sela tangisnya. "Dania tahu ... Selama ini, Ka- Kak selalu sayang sama Dania. Walaupun Kakak selalu marah, tapi Dania tahu kalau semua itu karena Kakak sayang dan juga peduli sama Dania. Maaf karena selama ini Dania selalu menyusahkan Kakak! Huuuu ...."
Bahu Dania bergetar dalam pelukan Dito. Tangisnya semakin pecah setelah mengatakan semua hal yang selama ini tidak bisa Dania utarakan. Terpaut usia yang jauh serta sikap Dito yang selalu dingin kepada Dania, memaksa Dania untuk membuat jarak dengan kakak laki-lakinya itu. Tak pernah ada waktu yang di habiskan bersama oleh keduanya. Namun, hubungan Dania dan Dito berangsur membaik justru setelah kepergian kedua orang tua mereka. Dengan sukarela Dito mengambil tanggung jawab untuk menjaga kedua saudara perempuannya hingga saat ini.
"Sudah! Sudah! Jangan cengeng seperti ini!" Tangan Dito mengusap lembut punggung adik kecilnya. "Sudah menikah dan sudah pandai bercinta, tapi masih saja seperti anak kecil." godanya, tak tahan juga rupanya untuk berucap.
Dania melepaskan pelukannya dan menatap kesal wajah kakaknya yang sedang tertawa kecil. "Kak Dito, menyebalkan sekali!"
"Siapa yang menyuruhmu untuk tidak mengunci pintu? Dan, siapa juga yang berteriak hingga mengejutkan semua orang?" Dito menaik-turunkan alisnya, menuntut jawaban dari Dania yang masih bungkam. "Kalian seharusnya tinggal di hutan belantara agar tidak menggangu orang lain saat sedang bercinta."
Cukup sudah! Wajah Dania rasanya seperti terbakar mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut kakaknya. Meskipun ingin, tapi Dania tidak bisa menjawab karena semua yang dikatakan Dito adalah sebuah kebenaran.
'Memalukan sekali !' Dania merutuki dirinya sendiri.
"Sepertinya itu ide yang bagus, Kakak ipar," celetuk Nino, membuat Dania langsung menoleh dan melemparkan tatapan tajamnya. "Ada apa, Moony? Apa kau tidak mengerti? Kakak iparku yang tersayang ini, baru saja memberikan ide untuk honeymoon kita. Walaupun ini sedikit terlambat, tapi kurasa tidak ada salahnya." ocehnya, tanpa beban sedikitpun.
"Dasar pria tua tidak tahu malu!"
Hallo semuanya 🤗
Stay healthy and happy 😘
__ADS_1