
"Berjanjilah kau akan selalu ada untukku apapun yang terjadi!" Sebuah jari kelingking nan lentik terulur, berharap sosok di hadapannya akan menyambut.
Tak ada keraguan sedikitpun. Tangan itu menyambut kelingking yang tengah menantinya dengan gusar.
"Aku janji! Aku akan tetap mendukungmu, meskipun seluruh dunia menyalahkanmu. Tak peduli kau benar atau salah. Aku akan selalu berada di sisimu dan menjadi pelindungmu."
Senyuman yang tulus. Tatapan yang hangat. Dan juga kenangan yang begitu manis. Rasanya takkan ada yang percaya, jika janji sebesar itu akan mampu di tepati oleh dua anak remaja yang bahkan belum mengerti betapa kerasnya kehidupan ini.
***
"So, kau merasa sudah berhutang janji padanya?" Dania menatap lekat bola mata Nino yang juga tengah menatapnya.
"Kau salah paham lagi padaku, Moony," lirih Nino dengan tatapan putus asa.
Dania menaikkan sebelah alisnya. "Kalau begitu, katakan padaku semuanya!"
Terdengar helaan nafas Nino di antara keheningan keduanya. "Rumah itu ...."
Bola mata Dania mengikuti arah telunjuk Nino yang lurus ke depan. Menunjukkan sebuah rumah sederhana yang sepertinya sudah lama di tinggalkan oleh pemiliknya.
"Ada apa dengan rumah itu?" tanya Dania, menoleh sekilas untuk melihat ekspresi di wajah Nino.
Sudut bibir Nino menarik sebuah senyuman, tapi matanya menyiratkan kesedihan. "Rumah itu adalah rumah Mikayla. Rumah keluarga Sutomo. Rumah Anika. Ibu kandungmu!"
Dania terbelalak. Tangannya refleks menutup mulutnya yang nyaris berteriak karena begitu terkejut dengan penuturan Nino.
"Aku minta maaf padamu, Moony. Entah akan berapa banyak maaf yang aku butuhkan darimu, tapi aku harap kau bersedia memberikan sebanyak apapun maaf yang aku butuhkan." Nino menatap sendu wanita yang telah berhasil mengurungnya pada cinta yang begitu dalam.
Dania masih diam. Namun, tangannya sudah tidak lagi menutup mulutnya. Melainkan terlipat di depan dadanya.
"Aku tidak tahu sebesar dan se-me-nya-kit-kan apa kenyataan yang akan kau katakan, tapi aku akan tetap memberikanmu kesempatan untuk bicara dan menjelaskan." Dania menekankan kata yang membuatnya sedikit gelisah dan tetap bersikap tenang, walaupun hatinya begitu cemas.
"Baiklah! Ayo, turun!" Nino tersenyum lemah dan membuka pintu mobil. Di susul Dania yang juga keluar dari mobil di saat yang bersamaan.
Langkah Nino terasa begitu berat ketika hendak memasuki rumah yang beberapa tahun lalu selalu menjadi tujuannya. Kini, hatinya telah berubah. Nino tak lagi memiliki harapan terhadap rumah itu dan juga pemiliknya.
Krriiieeettt ...
Suara pintu yang berdecit, menandakan betapa tuanya rumah itu. Dan betapa rapuhnya rumah yang telah lama di tinggalkan pemiliknya itu.
__ADS_1
Pandangan Dania menyapu seluruh ruangan yang masih terisi oleh perabotan rumah. Lengkap. Ada sesuatu yang menelisik hati Dania ketika menyadari jika rumah ini masih di rawat, meski di biarkan tanpa penghuni.
"Kau ...." Urung Dania bertanya. Bertekad untuk membiarkan Nino menceritakan segalanya lebih dulu.
Nino menoleh dan meraih tangan Dania agar berjalan sejajar dengannya. "Aku memohon maaf yang pertama darimu, Moony."
Dania menoleh. Menatap Nino sesaat. Lalu, kembali memperhatikan seluruh sudut rumah.
"Sebenarnya, aku sudah membeli rumah ini beberapa bulan yang lalu saat aku dengar dari Liza jika Bank melakukan lelang untuk rumah ini. Tanpa pikir panjang, aku langsung membelinya." Nino ragu. Ragu Dania akan tetap mendengarkan dirinya.
"Lalu?" Dania melangkah dan mengamati sebuah potret yang melekat di dinding dengan seksama.
Nino mengernyit, tapi tetap melanjutkan ceritanya. "Permintaan maaf ku yang kedua adalah ... Karena diam-diam selama ini aku masih membantu wanita itu, meskipun aku tahu kau dan keluargamu sudah sangat membencinya karena kejadian lima belas tahun yang lalu."
Lagi, Dania hanya diam dan memejamkan matanya untuk mengurangi rasa sesak di dadanya. "Ada lagi?"
"Selama ini, dia selalu datang padaku setiap kali masalah menimpa dirinya dan aku tidak bisa menolaknya. Aku akan selalu membantunya lagi dan lagi. Aku pikir, aku terlalu mencintainya hingga tidak bisa melihatnya menderita." Nino melangkah untuk mendekati Dania dan melingkarkan tangannya di pinggang Dania yang berdiri mematung. "Aku tahu kau marah, Moony."
Tengkuk Dania merinding saat merasakan hangatnya hembusan nafas Nino. Pandangan Dania bahkan meremang ketika Nino mengecupi lehernya dan berakhir di belakang telinganya.
Dania memejamkan matanya. Menarik nafas dalam dan mencoba melepaskan diri dari pelukan Nino. Ia membalikkan tubuhnya agar berhadapan dengan sang suami.
Nino terpaku. Tatapannya datar hingga tanpa sadar ia menarik tengkuk Dania dan menguasai bibir tipis milik Dania yang sepertinya masih akan meledak-ledak.
"Emmm ... Emmm!!!" Dania memberontak dan ingin melepaskan pagutan bibirnya dengan Nino. Sayang, tenaga Dania tidak sebanding dengan suaminya itu.
Meskipun Nino tahu ini bukanlah waktu yang tepat, tapi hati dan tubuhnya sudah tidak lagi peduli. Dengan satu hentakan, Nino mengangkat tubuh Dania dan menaikkannya ke atas meja makan yang masih terlihat kokoh.
Tatapan Nino di penuhi kabut setiap kali melihat Dania dengan posisi seperti ini.
"Permintaan maaf ku yang ke empat, Moony." Jemari Nino mengabsen setiap inci wajah Dania dengan lembut. "Maaf, aku tidak bisa menahannya. Aku menginginkan dirimu saat ini juga."
***
Dania mengerjap saat cahaya mentari menyapanya pertama kali.
"Eeuungg ...." Lenguh Dania seraya berusaha menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Namun, ia dapat merasakan sebuah tangan yang menahannya.
"Good morning, My sweet baby wife!" Satu kecupan singkat di bibir Dania yang datang bersamaan pelukan hangat di tubuhnya.
__ADS_1
Kepala Dania bergerak ke samping dan langsung mendapati Nino sedang menatapnya dengan penuh cinta seperti biasa. Tak ada rasa bersalah apalagi penyesalan di wajah pria itu karena perbuatannya semalam.
Nino yang menyadari alasan wajah cemberut Dania pagi ini adalah karena dirinya, sebisa mungkin bersikap manis dan tenang. "Kau mau sarapan atau mandi lebih dulu, Istri kecilku yang pencemburu?"
Dania mendengus. Kakinya melangkah, berniat untuk turun dari tempat tidur. Sayang sekali, ulah kecilnya itu membuat tubuhnya polos bak bayi baru lahir.
'Aaaarrggggghhh!!! Bagaimana aku bisa lupa jika semalam kami ...' Wajah Dania sudah semerah tomat saat ini. Di tambah Nino yang justru tertawa melihatnya bersikap bodoh seperti ini.
Di luar dugaan Dania, tiba-tiba saja tubuhnya melayang dan berada dalam gendongan Nino. Masih dengan tubuh yang tanpa sehelai benangpun.
"Turunkan aku!" hardik Dania, saat Nino semakin mengeratkan tangannya di tubuh Dania.
"Istri kecilku yang pemarah." Nino menurunkan Dania di bawah shower dan langsung menyalakan air yang membasahi keduanya.
Dania mengerucutkan bibirnya. Namun, tidak melawan saat Nino kembali melahap bagian favoritnya itu. Kedua tangan Nino menangkup wajah Dania dan menyeka air yang menimpa wajah cantik Dania.
"Kau tahu, Moony? Aku membeli rumah ini karena aku ingin kau tetap memiliki kenangan tentang Anika, ibumu." Nino kembali mengecup bibir Dania sekilas.
Dania diam dan menatap Nino dengan banyaknya pertanyaan di matanya.
"Kau bisa menanyakan apapun padaku. Aku bahkan sudah siap menerima amarahmu, tapi aku mohon jangan pernah mengambil kesimpulan sendiri sebelum kau bertanya padaku dan memastikan kebenarannya!" Kali ini Nino mengecup kening Dania begitu dalam dan lembut hingga Dania memejamkan matanya, seolah dapat merasakan ketakutan dan kegelisahan yang coba disalurkan oleh Nino.
Mata Dania mulai memerah, tapi bibirnya masih bungkam.
"Jika kau marah karena aku masih membantunya, maafkan aku! Awalnya, aku memang berpikir jika aku terlalu mencintainya. Namun, lambat laun aku mengerti jika aku hanya kasihan padanya dan dia mencoba untuk memanfaatkan aku. Aku memang pria yang bodoh! Aku menyakitimu demi wanita yang bahkan tidak tahu apa itu harga diri." Nino terlihat frustasi ketika kakinya melangkah mundur, menjauhi Dania yang masih diam di tempatnya.
Melihat keputusasaan di mata Nino, Dania segera melangkah dan memeluk Nino yang semakin menjauhinya.
"Aku memaafkanmu! Akan aku berikan semua maafku padamu. Jika ...."
***Jika teringat tentang dikau ...
Jauh di mata, dekat di hati ...
Wah, Dania mau ngomong apa 'ya sama om Nino 🤔***
Hallo semuanya 🤗
Terima kasih masih setia menanti author yang gak jelas ini ðŸ¤ðŸ˜˜
__ADS_1