Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
SUMBANGAN


__ADS_3

Menunggu merupakan sesuatu yang menjengkelkan dan juga melelahkan. Tak jarang pula menunggu membuat seseorang terluka dan ingin menyerah hingga memutuskan untuk pergi, karena tak lagi memiliki harapan atau kepastian.


Hal yang sama, tengah terjadi pada wanita cantik yang terus menatap ke arah ruangan CEO yang masih lengang tanpa penghuni. Matanya terus menaruh harap. Harapan yang sama besarnya seperti dulu. Hatinya yakin, jika dirinya masih memiliki tempat disana. Tempat dimana ia bisa bersandar dan berkeluh kesah, tanpa peduli dirinya benar atau salah.


"Hah!"


Lelah rasanya menanti yang tak pasti. Ingin menyerah dan pergi, tapi tak ada lagi tempat yang menanti. Entah sudah helaan nafas yang keberapa kali di hembuskan. Namun, sosok yang di nantikan tak kunjung menampakkan dirinya.


"Nyonya, sebaiknya Anda pergi saja! Tuan Ferdinan tidak akan datang ke kantor hari ini." Suara yang sopan, tapi juga mengintimidasi terasa menusuk telinga.


Mata sipit itu memicing. "Kau mengusirku?"


"Jika Nyonya merasa seperti itu, maka anggap saja seperti itu!" Satu senyuman mengejek yang semakin melukai harga diri.


"Aku akan menunggu! Aku yakin Nino pasti datang." Keras kepala memang, tapi mau bagaimana lagi. Keyakinannya telah mengalahkan kesadaran dirinya sendiri.


Terdengar decakan kesal yang sepertinya sengaja di lontarkan. "Maaf, Nyonya, ini sudah waktunya makan siang." Di lihatnya jam tangan yang melekat di pergelangan tangannya sebelum kembali melirik pada lawan bicaranya. "Saya tidak mungkin mengorbankan rasa lapar saya hanya karena Anda."


"Kau ini!" Kembali mata sipit itu menatap tajam. "Aku tidak tahu, kenapa Nino bisa mempekerjakan seorang sekretaris yang tidak tahu sopan santun sepertimu."


"Nyonya, Anda -" Ingin membalas hinaan, tapi terhalang oleh suara yang di kenalnya.


"Karena dia tahu bagaimana caranya menghadapi orang-orang tidak tahu malu seperti dirimu, Tante!"


***


Kebahagiaan yang begitu besar, terpancar dari wajah Dania yang tengah menikmati es krim vanilanya di tangan. Bahkan, lelehan es krim di tangan tak mengurangi rasa bahagianya sedikit pun.


"Es krimmu meleleh, Moony," ucap Nino seraya mengelap lelehan es krim di tangan Dania.


Dania menoleh sekilas dan tersenyum. "Biarkan saja! Aku suka seperti ini."

__ADS_1


Melihat senyuman di wajah Dania sudah cukup membuat Nino merasa mendapatkan apa yang ia inginkan selama ini. Walaupun terkadang Nino menginginkan lebih, tapi hatinya tidak ingin menuntut Dania terlalu jauh. Wanita itu masih bertahan di sisinya saja sudah sangat baik. Masalah hati, biarlah Dania menikmati apa yang membuatnya bahagia tanpa harus memaksa.


"Apa yang kau sembunyikan dariku?" Tiba-tiba Dania bertanya, tapi tetap memasang senyuman di wajahnya dan tanpa melihat ke arah Nino.


Dania dan Nino kini berada di area bermain anak, setelah menonton sebuah film yang berhasil mengocok perut mereka berdua. Tawa dan keceriaan anak-anak menarik perhatian keduanya sehingga mereka berakhir di tempat duduk ini dan memperhatikan tingkah polah anak-anak yang menggemaskan.


Pertanyaan Dania membuat Nino bingung awalnya karena tidak tahu ke arah mana istrinya itu bicara. "Apa maksudmu, Moony?"


Dania memiringkan kepalanya dengan tatapan yang sedikit aneh menurut Nino. "Kau pikir aku tidak tahu? Kau ini!"


"Aku tidak mengerti." Nino mengangkat kedua bahunya di barengi gelengan kepala. "Bisa bantu aku untuk menjelaskan?"


Tarikan nafas Dania yang dalam, menandakan jika ada beban berat di hati wanita itu. "Terkadang sesuatu itu akan lebih baik jika tidak di jelaskan."


Nino menatap lekat bola mata Dania. Ada luka yang terlihat di sana meski bibirnya masih memasang sebuah senyuman. "Aku tidak bermaksud menyembunyikan apapun darimu, Moony, tapi aku hanya tidak ingin membuatmu terluka."


"Terluka?" Dania mulai merubah raut wajahnya. "Kau justru membuatku terluka dengan menyembunyikan sesuatu dariku. Aku merasa bahwa hubungan kita tidak di dasari rasa saling percaya."


Kembali Dania menatap Nino, walau hanya melalui ekor matanya. "Aku hanya ingin kau mengatakan yang sejujurnya padaku. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau tiba-tiba membawaku ke mall bukan ke kantor?"


Nino menghela nafasnya berat. "Karena ..."


***


Aura permusuhan begitu kental terasa saat Dania menatap wajah cantik Mikayla yang begitu mirip dengan mendiang ibu kandungnya. Jika Dania bisa memilih, lebih baik ia tidak pernah tahu darimana asalnya. Bagi Dania, berebut cinta seperti ini adalah sesuatu yang memalukan. Namun, Dania juga tidak ingin mengalah pada wanita yang memiliki darah yang sama dengannya.


"Dania?" Mikayla mematung saat melihat Dania berjalan ke arahnya dengan bergelayut manja pada lengan kekar Nino.


Dania tersenyum penuh kemenangan, ketika melihat keterkejutan di wajah Mikayla. "Kau pasti sudah lama menunggu kami, Tante. Maafkan aku karena lupa memberi tahu jika aku dan suamiku baru saja menghabiskan waktu bersama. Jika kami tahu kau akan datang, pasti kami akan menyambutmu."


Mikayla masih diam dan menatap kesal pada Dania yang masih enggan melepaskan tangannya hingga mereka masuk ke ruangan Nino. Sementara, Liza hanya menahan senyumnya melihat Dania yang berhasil membungkam mulut Mikayla yang sedari tadi menguji kesabarannya.

__ADS_1


"Nino, aku hanya ingin -" Mikayla hendak mendekati Nino, tapi tangan Dania langsung menghentikannya.


"Stop!!!" Dania tidak membiarkan Mikayla menambah langkahnya. "Tante ... Apa kau lupa bahwa dia adalah suamiku? Suami dari keponakanmu. Dengan kata lain, dia juga keponakanmu. Aku bantu ingatkan, jika kau lupa!" Dania tertawa dengan ucapannya sendiri.


Diam-diam, Nino juga mengulum senyum melihat tingkah Dania yang mulai posesif. Hatinya sedikit berbunga-bunga dan mulai besar kepala juga karena sikap Dania.


"Aku tidak lupa, Dania! Aku datang kesini hanya untuk ini." Mikayla mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


Tatapan Dania bertumpu pada access card di atas meja. Sedikit terasa tercubit di hatinya, tapi tidak ingin menunjukkan itu dan berpura-pura tetap tenang.


"Apa itu?" tanya Dania berlagak polos.


Mikayla menyeringai. "Itu kunci apartemen Nino."


Dania mendengus. Di tatapnya Nino yang kini duduk dengan tenangnya di kursi kebesaran miliknya. Tak ada bantahan sedikit pun dari suaminya itu seolah membenarkan apa yang di katakan oleh Mikayla.


"Oh, kau menginap di sana?" Dania menggeram untuk menahan amarahnya.


"Ya! Aku sering bermalam di sana." Senyum Mikayla semakin melebar. "Nino memberikan aku kunci apartemennya. Jadi, aku bisa bebas keluar masuk kesana. Lagipula, pakaian dan barang-barangku masih ada di sana."


Tangan Dania mengepal kuat. Kembali matanya menatap lekat wajah Nino yang masih diam. Kesal juga rasanya melihat Nino yang seperti itu. Tak nampak akan menjelaskan apapun. "Jadi? Kau merasa seperti di rumahmu sendiri. Begitukah, Tante?"


Tepat sekali! Itulah maksud Mikayla. Menegaskan dimana posisi dirinya dan dimana posisi Dania di hati Nino. Namun, Mikayla sendiri lupa dimana posisi dirinya saat ini.


Dania menarik sebuah senyuman di sudut bibirnya hingga Mikayla di buat heran karena sikap keponakannya itu.


"Kalau begitu, Tante." Dania berjalan dan mengambil access card di atas meja Nino, kemudian memasukkannya kembali ke dalam tas Mikayla. Bahkan, Mikayla diam saja karena begitu terkejut dengan sikap Dania. "Mulai hari ini, aku sumbangkan apartemen mewah milik suamiku itu untukmu."


Hallo semuanya 🤗


Mana nih ❤️nya buat Dania dan Om Nino 🤭

__ADS_1


__ADS_2