Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
MELEPASKAN


__ADS_3

Kehilangan adalah sesuatu yang paling menakutkan bagi sebuah hubungan. Saat kehilangan, bukan hanya sosok yang hilang. Namun, cinta dan kenangan indah yang ikut memudar bersama.


Keheningan malam, mulai berganti menjadi hangatnya udara pagi dengan kicau burung yang mengisi melodi.


Mata Nino terbuka dan langsung melihat ke arah langit-langit mobilnya. Ya! Nino tertidur di mobilnya semalam. Tekadnya sudah bulat. Ia tidak akan pulang sebelum menemukan Dania. Di liriknya jam yang melingkar di pergelangan tangan dan dengan wajah yang masih sangat berantakan, Nino membuka pintu mobilnya untuk membasuh wajahnya.


Suasana di sekitarnya masih sangat sepi. Nino memang masih di dalam kota, tapi tempat ini sepertinya jarang di kunjungi orang. Tempat yang sangat cocok untuk menyendiri.


"Semoga Moony benar-benar ada disini." Nino mengeringkan wajahnya dan merapihkan dirinya sebelum turun dari mobil.


Langkah kaki Nino menyusuri jalan setapak yang cukup rapih, walau sempit dan hanya bisa di lalui oleh pejalan kaki. Rumah-rumah disini juga tidak saling menempel, melainkan saling berjarak dan berjauhan. Ketika sampai di sebuah rumah sederhana dan asri, Nino menghentikan langkahnya dan mengeluarkan ponselnya.


"Benar ini rumahnya." Nino mencocokkan informasi yang ia dapatkan dengan rumah yang ada di hadapannya kini.


Nino sedikit ragu saat menekan bel rumah itu, tapi hatinya begitu sangat merindukan Dania. Dengan sabar Nino menunggu seseorang muncul di balik pintu.


Saat terdengar langkah kaki dari kejauhan, hati Nino semakin berdebar. Perlahan ia menaikkan pandangannya dan melihat wanita yang ia cintai tengah berjalan ke arahnya.


"Moony ...," Bibir Nino bergerak tanpa perintah.


Langkah itu terhenti, tubuhnya terpaku menatap orang yang ingin ia hindari. "Kau- Bagaimana kau bisa ada disini?"


Wajah lelah Nino tersenyum penuh arti bersamaan dengan tangannya yang mendorong pagar yang sebenarnya tidak terkunci sejak tadi.


Flashback on ...


Nino semakin di buat frustasi karena kata-kata Dito. Bukan karena tekanan dan ancaman dari pria itu, tapi rasa bersalah di hatinya yang membuat Nino merasa buruk.


"Aaarrgghhh!!" Nino mengusap wajahnya dengan kasar. "Kau pergi kemana, Moony? Apa kau baik-baik saja?"


Kepala Nino bersandar dengan pandangan kosong. Tangannya ia letakkan di kening. Mencoba mengingat semua yang terjadi hari ini. Mencari dimana letak kesalahannya dan juga petunjuk yang bisa membawanya kepada Dania.


Tiba-tiba, Nino teringat sesuatu dan menghubungi seseorang.


"Pak Toto, apa kau mengantar istriku hari ini?" tanya Nino, tanpa menunggu sapaan dari seberang telepon.

__ADS_1


"Iya, Tuan. Saya mengantar nyonya ke kantor, tapi setelah itu nyonya meminta saya untuk pulang tanpa menunggunya. Apa -"


KLIK ... TUT ... TUT ...


Nino langsung memutuskan panggilannya dan melakukan panggilan yang lain.


"Periksa rekaman cctv kemarin saat jam makan siang. Sekarang!"


"...." Seseorang di seberang panggilan hanya terdengar menghela nafas.


Tak lama kemudian, ponsel Nino berdering menandakan sebuah pesan masuk. Disana ia melihat Dania memang benar-benar datang ke kantornya dan melihat dirinya bersama Mikayla.


"Sialan!!!" Lagi, Nino mengumpat dan kembali menghubungi seseorang. "Aku ada tugas untukmu. Temukan istriku secepatnya, sebelum mereka menemukannya!"


Flashback off ...


Tatapan Nino terfokus pada Dania yang mengenakan kaus pria yang tentu saja longgar di tubuhnya. Tangan Nino mengepal kuat di samping tubuhnya melihat pemandangan itu. Nino tahu Dania marah dan juga cemburu karena melihat ia bersama Mikayla, tapi Nino juga tidak menyangka jika Dania akan pergi bersama pria lain. Bahkan, mereka berada di rumah yang sama semalaman.


"Kenapa kau diam?" Nino bertanya dengan nada yang lembut, tapi sorot matanya begitu tajam menatap Dania. "Tidak senang melihatku? Tidak berharap aku datang untuk menjemputmu?"


"Hanya apa, Moony?" Nino ingin sekali bergerak untuk mendekati Dania, tapi sekuat tenaga ia menahannya. Menyadari dirinya yang sedang di kuasai amarah saat ini, Nino lebih memilih menjaga jarak aman demi melindungi Dania.


"Aku -" Dania kembali menelan kata-katanya saat seseorang keluar dari dalam rumah dan berdiri di belakangnya.


"Siapa yang datang, Dania?" tanya seorang pria di belakang Dania.


Sungguh! Dania ingin sekali menghilang dari tempat itu sekarang juga. Terlebih ketika melihat kilatan amarah di mata Nino. Dan tanpa sempat Dania berpikir, kepalan tangan Nino sudah mendarat di wajah pria itu.


Dengan membabi buta Nino melampiaskan amarahnya. Tak peduli lagi pada Dania yang sudah berteriak, memintanya untuk menghentikan semua itu.


"Berhenti, Om! Aku mohon!" pinta Dania. Sorot matanya begitu memelas. Ia bahkan menjadikan tubuh kecilnya sebagai tameng untuk melindungi pria itu. Melihat Nino yang sudah berhenti. Segera Dania membangunkan pria di belakangnya. "Kau baik-baik saja, Kak Gibran?"


Perhatian dan kecemasan Dania kepada Gibran membuat darah Nino semakin mendidih. Hatinya semakin terbakar. "Sekarang aku mengerti, Moony. Kau lebih memilihnya daripada aku. Dia juga yang menjadi alasanmu terus menolakku selama ini. Benar begitu bukan? Dania?"


Dania?

__ADS_1


Mengapa rasanya begitu menyakitkan di telinga Dania saat Nino menyebut namanya dalam kemarahan seperti itu.


"Kak Gibran tidak tahu apapun!" Dania melangkah maju mendekati Nino. "Justru kaulah yang telah memilih cinta masa lalumu. Kau menipu aku! Aku pikir kau benar-benar mencintaiku, tapi semuanya hanya obsesimu saja."


Nino menyeringai. Sorot matanya kali ini, tak pernah Dania lihat sebelumnya. "Obsesi katamu? Selama sepuluh tahun aku menunggumu. Melakukan semuanya untukmu. Menjadi apapun yang kau impikan. Menerima semua penolakanmu tanpa bicara. Semua aku lakukan ... Hanya untukmu!"


Dania diam. Tubuhnya mulai gemetar. Amarah serta kekecewaan dan rasa sedih bercampur menjadi satu.


"Sekarang katakan! Apa yang kau inginkan?" Nino menurunkan nada bicaranya ketika melihat Dania berusaha menahan air matanya.


Bukan hanya Nino. Saat ini, hati Dania juga hancur. Ia butuh penjelasan. "Kau tidak ingin mengatakan apapun tentang kesalahanmu?"


"Jika kau bertanya, aku akan menjawab." Kembali Nino menyeringai. Entahlah, ia merasa bahwa sebenarnya Dania tidak ingin jauh darinya.


Pandangan Dania turun. Melihat kakinya yang tiba-tiba menjadi sangat menarik. Namun, tak lama kemudian pandangannya kembali naik dan menatap tajam ke arah Nino yang masih menatapnya. "Aku tidak ingin bertanya, tapi jika kau mau menjelaskan aku akan mendengarkan."


'Apa ini? Kenapa suasana hatinya berubah-ubah seperti ini ?' Keluh Nino dalam hati, saat melihat sorot mata Dania yang penuh harap. "Mikayla memang datang ke kantorku kemarin, tapi -"


"Mereka pasti sering bertemu di belakangmu, Dania. Cinta yang sudah lama tersimpan, tidak akan mudah hilang begitu saja." Gibran sudah berdiri di samping Dania dengan sorot mata menantang. Tangannya bahkan dengan berani merangkul bahu Dania.


"Turunkan tanganmu!" Ancam Nino, tangannya kembali mengepal.


Dania menoleh ke arah bahunya. "Kenapa? Kak Gibran hanya menyentuh bahuku, bukan memelukku seperti yang kau lakukan pada Tante Mikayla. Kenapa hanya kau yang boleh bersama wanita lain, sementara hanya aku yang di bodohi?"


Ketegangan yang mulai mencair, kini kembali memanas. Nino menekan rahangnya kuat-kuat. Di tatapnya Dania dan Gibran secara bergantian.


"Jika kau memang lebih nyaman bersamanya, maka baiklah! Aku akan melepaskanmu. Selamat! Tujuanmu telah tercapai."


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino 😍


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2