Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
PAGI PERTAMA


__ADS_3

"Aku membencimu, Om pedofil !!!"


Teriakan Dania yang begitu memilukan tak bisa hilang dari ingatan Nino. Ia begitu merasa bersalah dan juga serba salah. Dugaannya salah bahwa semuanya akan baik-baik saja setelah mereka menikah. Ia tidak memperhitungkan sikap Dania padanya.


"Apa yang harus aku lakukan untuk memenangkan hatimu, Moony?" gumam Nino seraya menatap bingkai berisi potret wajah Dania.


Nino tak sanggup mendengar isakan Dania, sementara ia tidak bisa melakukan apapun. Itu sebabnya Nino memilih untuk menenangkan pikirannya dan pergi ke ruang kerja pribadinya yang berada tepat di sebelah kamar utama.


Pandangan Nino terus tertuju ke pintu yang membatasi dirinya dengan Dania saat ini. Ingin rasanya Nino membuka pintu itu dan memeluk Dania dengan erat. Ia juga ingin meminta maaf untuk semua kebohongan yang ia lakukan dan tanpa sengaja telah melukai wanita yang ia cintai.


"Tidak!" Nino memejamkan matanya. "Moony tidak akan suka melihat wajahku untuk saat ini."


Kembali Nino menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dan menatap langit-langit yang terdiam membisu menyaksikan ketidakberdayaannya.


"Moony, andai waktu bisa di putar ... Aku akan memilih untuk menyimpan rasaku sendiri ...."


***


Di kamar utama kediaman Ferdinan, Dania baru saja menyelesaikan ritual bersih-bersih atau lebih tepatnya luapan emosinya di kamar mandi. Wajahnya terlihat lebih segar, walaupun dengan mata yang sembap.


"Astaga! Sudah dua jam aku di dalam." Dania begitu terkejut saat melihat jam di dinding.


Tatapan Dania berkeliling menyapu ruangan untuk mencari sosok yang mengganjal di hatinya.


"Dimana om pedofil penipu itu?" tanya Dania kepada dirinya sendiri seraya naik ke tempat tidur.


Sebenarnya, Dania merasa risih dengan keberadaan kelopak mawar dan juga boneka angsa yang ada di tempat tidur. Namun, ia terlalu lelah untuk mengurus hal itu.


"Biarlah! Aku lelah. Aku harus mengisi kembali tenagaku untuk menjalani hari esok yang lebih berat."


***


Menjelang dini hari, Nino terbangun karena merasa tubuhnya kaku akibat tidur di kursi sepanjang malam. Ia segera beranjak dari kursi dan berniat untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk. Sepertinya Nino melupakan sesuatu karena rasa kantuknya.

__ADS_1


Dengan kesadaran yang belum terkumpul, ditambah penglihatannya yang masih buram. Nino berjalan menuju kamar utama menggunakan pintu rahasia yang berada di balik salah satu lemari pakaian.


"Siapa yang sedang tidur di kamarku?" gumam Nino ketika melihat seseorang tertidur di atas tempat tidurnya, tapi ia tetap berjalan menuju tempat tidurnya tersebut.


Begitu sampai di samping tempat tidur dan melihat wajah Dania, wajah Nino mengulas sebuah senyuman. Sepertinya ia benar-benar telah melupakan sesuatu.


Nino menaiki tempat tidurnya perlahan dan menatap wajah cantik Dania yang tertidur pulas.


"Saat ini aku hanya bisa mengkhayal tentang dirimu, tapi aku sangat berharap jika kau akan mengerti betapa aku sangat mencintaimu, Moony." Tangan Nino menyentuh wajah Dania dengan lembut. "Astaga! Aku begitu merindukan kehadiranmu hingga aku pun berhalusinasi bisa menyentuhmu."


Karena sentuhan Nino, Dania menggeliat dan sedikit mengerang. Tentu saja hal itu mengembalikan kesadaran Nino secara penuh. Dengan begitu barulah Nino tersadar dan membuka lebar-lebar matanya. Ia baru teringat jika ia telah menikahi Dania, meskipun mereka belum membicarakan apapun karena kebodohan yang ia lakukan.


Merasa dirinya belum pantas berada di samping Dania, Nino lantas beringsut turun dari tempat tidur dengan sangat berhati-hati agar tidak membangunkan Dania.


"Untung saja dia tidak bangun. Maafkan aku, Moony!" bisik Nino seraya menatap Dania penuh cinta.


Nino bergegas menuju walk in closet setelah melirik jam di dinding tanpa melihat kembali ke arah Dania yang sebelumnya tertidur pulas.


***


Begitu keluar dari kamar mandi, tubuh atletis Nino semakin terlihat menarik karena tetesan air yang jatuh menimpa tubuhnya. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, tapi Nino benar-benar menjaga kesehatan dan juga tubuhnya. Bukan hanya tentang wajahnya, Nino juga merawat seluruh tubuhnya mulai dari ujung rambut hingga ke ujung kuku kakinya. Dan hal itu jelas terlihat dari penampilannya yang tetap sama seperti sepuluh tahun yang lalu.


Saat keluar dari kamar mandi, Nino dikejutkan oleh sesuatu yang di luar dugaannya.


"Ini ...," Nino bertolak pinggang dengan sebelah tangannya, sementara tangannya yang lain menyisir rambutnya yang basah. "Siapa yang menyiapkan semua ini?" gumamnya.


Nino terkejut melihat setelan jas lengkap dengan dasi dan juga jam tangan serta sepatu yang sudah di siapkan untuknya.


"Tidak mungkin pelayan! Aku melarang mereka memasuki ruang pribadiku. Apakah ...." Nino kembali melihat pakaiannya yang sudah menanti untuk ia kenakan. "Tidak! Moony marah besar padaku. Tidak mungkin dia yang menyiapkan semua ini."


Meskipun keraguan nampak jelas di wajahnya, tapi dalam hatinya Nino yakin jika Dania lah yang telah menyiapkan semua itu untuknya. Biarlah hatinya berbunga-bunga untuk sekejap sebelum ia harus kembali menghadapi gunung es yang telah di siapkan Dania.


***

__ADS_1


Langkah kaki Nino terdengar begitu nyaring di rumah yang begitu besar dengan penghuni yang begitu sedikit. Hanya ada beberapa pelayan di rumah besar miliknya. Nino bahkan hanya memiliki satu supir yaitu pak Toto yang dengan setia melakukan apapun perintahnya.


Tatapan Nino langsung tertuju pada Dania yang tengah sibuk di meja makan bersama seorang pelayan.


"Aku tahu, Moony, kau memang wanita idaman." Nino terus memperhatikan Dania dari tangga, ia tidak menyadari jika Dania sudah menyadari kehadirannya.


Terdengar dehaman yang sepertinya di sengaja oleh Dania dan hal itu sedikit mengejutkan Nino yang sedang larut dalam lamunannya.


'Kau memanggilku, maka aku akan datang, Istri kecilku yang cantik.' Batin Nino bahagia. "Selamat pagi, Moony!" sapanya begitu sampai di meja makan.


Dania hanya melirik Nino dari sudut matanya tanpa mengatakan apapun.


Sejujurnya, Nino tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran Dania. Wanita itu marah besar padanya kemarin, tapi anehnya ia tetap melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Namun, yang menyiksa bagi Nino adalah sikap dingin Dania yang tidak mencair sedikitpun sejak kemarin.


Begitu banyak yang ingin Nino bicarakan dengan Dania, tapi sepertinya waktu belum belum memberikan kesempatan padanya. Ia hanya bisa menatap Dania yang kini tengah mengisi piringnya dengan makanan tanpa mengucapkan sepatah katapun, bahkan senyuman tipis pun tidak ada untuk menghiasi wajah cantiknya.


"Moony ...," Nino mencoba membuka pembicaraan di tengah sarapan yang sedang berlangsung. "Aku ingin mengatakan -"


Ucapan Nino terputus ketika ia melihat tatapan mata Dania yang begitu tajam kepadanya.


'Tidakkah dia tahu betapa sulitnya aku melakukan semua ini? Aku ingin sekali berteriak padanya, jika itu bukanlah sebuah dosa.' Batin Dania meronta.


Nino menundukkan pandangannya. "Baiklah! Maafkan aku! Silahkan lanjutkan sarapanmu."


Setelahnya, hanya ada keheningan yang di isi oleh suara dentingan sendok yang beradu dengan piring di pagi hari pertama pernikahan Nino dan Dania.


TING ... TING ... TING ...


Hallo semuanya πŸ€—


Bantu share cerita ini ke teman-teman yang belum kenal Da Nino 'ya supaya semakin banyak yang kenal mereka berdua 😘


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘πŸ»dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡πŸ»sertakan votenya juga 'ya 😍 untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2