Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
AYAH


__ADS_3

"Ayah ... Ayah!!!"


Langkah kaki kecil menapaki persawahan untuk menyongsong sang ayah yang baru saja kembali.


Tangan besar yang hangat itu merengkuh tubuh kecil sang putra. "Kemari, Putraku!"


Sepasang mata sipit yang menggemaskan itu menatap lekat wajah ayahnya. "Ayah, kenapa Ayah sangat tampan?"


Senyuman merekah di wajah tampan sang ayah yang mendapatkan pujian dari putranya itu. "Karena aku ayahmu."


"Tapi kenapa aku tidak tampan seperti Ayah?" tanya putra kecil itu seraya melingkari leher ayahnya dengan kedua tangannya.


"Kelak, kau juga akan memiliki wajah tampan seperti Ayahmu ini!"


"Hahahaha ...," Tawa ceria pecah dari bibir putra kecil itu ketika sang Ayah menciumi wajahnya.


***


"Ayah!!!"


Dania terkejut mendengar teriakan Nino yang begitu memilukan hingga ia pun mematikan kompornya dan bergegas menghampiri suaminya itu.


"Kau baik-baik saja?" tanya Dania dengan nafas tersengal-sengal.


Pemandangan yang sungguh menyayat hati Dania. Ia melihat Nino masih terduduk di atas tempat tidurnya dengan tangan yang terulur ke depan seolah hendak meraih sesuatu, sementara tatapannya begitu kosong.


Dania mendekati Nino yang baru saja mendapatkan kesadarannya setelah Dania menyentuh tangannya. "Kau baik-baik saja?"


Pertanyaan kedua Dania baru bisa di dengar jelas oleh Nino. "Iya, aku hanya bermimpi buruk."


Sejak Nino menceritakan tentang masa lalunya, lebih tepatnya tentang ayahnya kepada Dania. Ia merasa seolah kotak pandora yang telah ia gembok selama bertahun-tahun terbuka begitu saja.


"Kau merindukan ayahmu?"


Pertanyaan Dania tentang sang ayah membangkitkan kembali kenangan manis yang datang bersama kepahitan di dalam hati Nino.


"Kau mau kemana?" tanya Dania, ketika Nino beringsut turun dari tempat tidur.


"Aku ingin membersihkan diriku dulu," jawab Nino datar.


Sepanjang Dania mengenal Nino, belum pernah ia melihat suaminya itu seperti ini. Nino yang hampa dan kesepian seperti tak ada harapan baginya untuk menikmati kebahagiaan.


Tiba-tiba saja Dania merasakan sesuatu yang mendorong hatinya untuk melindungi pria yang ada di hadapannya kini. Pria yang begitu sangat ia benci dan ingin ia hindari sepanjang hidupnya, tapi kini entah apa yang terjadi pada hatinya. Dania takut! Ia takut kehilangan senyum di wajah tampan Nino. Ia takut suaminya yang konyol itu tidak lagi mengganggunya. Dania takut jika ...

__ADS_1


'Tidak! Ini hanya rasa simpatiku padanya.' Batin Dania menolak.


Dania menatap punggung Nino yang menghilang di balik pintu dalam diamnya. Tanpa sadar Dania menekan dadanya yang terasa sesak dan membuatnya kesulitan bernafas.


***


Malam hari yang sunyi dan hanya di isi oleh suara-suara romansa cinta sepasang insan yang di mabuk cinta memenuhi kamar utama rumah besar Sanjaya.


Ricky baru saja menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Deta yang terkulai lemah dengan senyuman di wajah cantiknya.


Sebuah kecupan mendarat di kening Deta sebelum terdengar bisikan, "I will always love you, Baby."


Mata bulat Deta melirik tajam sang suami yang kini membenamkan wajahnya di bahu Deta. "Baby?"


Ricky hanya menggeram sebagai sebuah jawaban.


"Mas, jawab dulu! Apa maksudnya Baby?" tanya Deta seraya menjauhkan kepala Ricky dari tubuhnya.


Mata Ricky terpejam, tapi tangannya tetap berusaha meraih tubuh polos sang istri yang telah menghipnotis dirinya.


"Mas ...," Deta merengek dan mencoba melepaskan tangan Ricky yang melingkari pinggangnya.


"Sayang, tidak ada maksud apa-apa! Aku hanya mengucapkannya begitu saja." Ricky masih enggan membuka matanya.


"Sayang, please! Kita sudah sering membahas ini. Tary saja sudah cukup membuatmu hampir meninggalkan diriku!" geram Ricky dan langsung memotong ucapan Deta.


"Mas, kau tahu aku tidak pernah menyesal menjadi seorang ibu." Deta mulai ingin menangis setiap kali membahas hal ini dengan suaminya yang keras kepala itu. "Lagipula, bukankah keluarga kita membutuhkan seorang penerus?" tanyanya ragu.


Tanpa di duga, Ricky bangkit dan hendak meninggalkan Deta yang terkejut dengan sikap suaminya itu.


"Mas?" panggil Deta lirih.


Ricky mendekati Deta kembali setelah memakai kembali pakaiannya dan mengecup bibir manis sang istri. "Jika kau masih ingin membahas hal ini, lebih baik aku bekerja untuk mempersiapkan segalanya bagi Tary. Akan aku buktikan jika wanita juga bisa menjadi pemimpin."


Deta tertegun dan langsung melingkarkan tangannya di leher Ricky. "Mas, maafkan aku bukan itu maksudku!"


Ricky berdecak dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, tanpa memberikan jawaban atas permintaan maaf Deta.


"Apa kau yakin akan membiarkan aku tidur seorang diri seperti ini?" tanya Deta manja.


Amarah yang sempat memenuhi pikiran Ricky seketika menghilang saat mendapatkan tawaran yang begitu manis dari istrinya yang tak pernah bisa ia tolak. Satu persatu pakaiannya kembali berserakan di lantai dan di susul tubuhnya yang menyusul Deta di atas tempat tidur.


'Kau ini benar-benar membingungkan, Tuan Sanjaya ...'

__ADS_1


***


Dania mondar-mandir di dapur sejak ia keluar dari kamar Nino tadi. Ia berulang kali mencoba menghubungi ponsel Ricky, tapi kakak iparnya itu tak kunjung menjawab. Akhirnya Dania mencoba menghubungi Deta yang juga tidak menjawab panggilannya.


"Sebenarnya kemana kakak dan pangeran?" tanya Dania kesal seraya melirik jam di dinding.


Terdengar langkah kaki yang berjalan ke arah dapur ketika Dania hendak mencoba menghubungi Deta lagi. Ia pun berbalik dan melihat Nino yang sudah nampak segar walaupun matanya masih sedikit memerah.


"Kau menghubungi siapa?" tanya Nino, kemudian duduk di meja makan.


Dania menyusul Nino dan duduk di kursi yang berhadapan. "Aku menghubungi kakak, tapi tidak ada jawaban."


"Coba hubungi Ricky!" usul Nino.


"Sama saja!" gerutu Dania seraya menyerahkan piring berisi makanan kepada Nino.


Nino tersenyum dengan wajah aneh. "Mereka memang selalu seperti itu."


Dania mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu? Apakah sesuatu seperti ini biasa terjadi? Mungkin sebaiknya aku menghubungi kakak melalui telepon rumah."


"Tidak perlu, Moony!" cegah Nino, masih dengan senyuman aneh di wajahnya. "Mereka akan menghubungimu jika pertempuran mereka sudah selesai."


Walaupun Dania tidak mengerti, tapi ia menuruti saja saran Nino yang sepertinya tidak sedang main-main saat ini.


"Maaf ...," Tiba-tiba kata itu terlontar dari bibir Dania.


Nino menghentikan tangannya yang akan memasukkan makanan ke dalam mulut. "Untuk apa?"


Dania memberanikan diri untuk menatap kedua mata Nino. "Untuk membuatmu kembali mengingat hal yang tidak ingin kau ingat."


Awalnya Nino tidak mengerti. Namun, penyesalan yang begitu mendalam di mata Dania membuatnya menyadari jika ia mulai memiliki tempat di hati wanita itu.


"Tidak perlu meminta maaf untuk kesalahan yang tidak pernah kau lakukan, Moony!" ucap Nino, di susul senyuman yang begitu hangat.


"Baiklah! Jika kau butuh teman untuk berbagi, aku siap mendengarkan dan berbagi kegelisahanmu." Dania begitu mencemaskan keadaan Nino dan itu semua begitu terlihat di matanya.


Nino menyadari itu. Ia menyadari jika Dania mulai membuka hati untuk dirinya meskipun sepertinya Dania sendiri belum menyadari hal itu.


"Jangan menyesal karena kau telah mengatakan hal itu, Istriku kecilku ...."


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih masih setia sama DaNino 😘

__ADS_1


Author selalu tungguin ❤nya dari kalian semua lhooo di sudut yang gelap 😆 so, jangan lupa ya 💕


__ADS_2