Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
MADU KASIH


__ADS_3

"Jika seperti itu, maka aku harus mengendurkan ikatan yang terlalu mengekang ini ...."


Entah apa yang terlintas dalam pikiran Nino, tapi yang pasti itu sangat mengganggu pikiran Ricky. Ia bahkan tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya sehingga memutuskan untuk pulang lebih awal.


Sesampainya di rumah besar Sanjaya, Ricky melihat Deta sedang memasak dan membelakanginya. Tentu saja Deta tidak menyadari kedatangan Ricky yang memang belum waktunya.


"Sayang ...," Lengan kekar Ricky melingkari pinggang Deta hingga ia tersentak karena begitu terkejut. "Istriku yang cantik ini sedang apa?" tanya Ricky manja.


Deta menghela nafas seraya memutar kedua bola matanya dengan malas. "Aku sedang melukis."


Mendengar jawaban sang istri, Ricky lantas melepaskan pelukannya dan menggeser tubuh Deta ke samping dengan lembut agar ia bisa melihat dengan jelas apa yang sedang di lakukan istrinya itu.


"Kau bohong!" sergah Ricky seraya menunjuk beberapa sayuran yang telah terpotong di atas meja.


Deta menatap tajam Ricky yang baru saja menuduhnya. "Bukankah kau yang sering membohongiku?"


DEG ...


Jantung Ricky rasanya seperti berhenti berdetak ketika Deta mengatakan hal itu.


'Apakah Detaku sudah tahu tentang kebohongan Nino?' Batin Ricky menerka. "Sa- Sayang, apa maksudmu? Aku tidak pernah -"


"Jangan katakan kau tidak pernah membohongiku, Mas!" Deta memotong ucapan Ricky, sementara pisau di tangannya mengarah ke wajah Ricky.


Mata Ricky terbelalak melihat sikap istrinya yang tiba-tiba menjadi agresif seperti itu.


"Sayang, jangan bermain pisau seperti itu!" Ricky mengambil pisau di tangan Deta dengan lembut dan meletakkan pisau tersebut jauh dari jangkauan Deta. "Berbahaya!" tambahnya.


Deta mendengus seraya membalikkan tubuhnya. "Lidah pembohong itu lebih berbahaya!"


'Sepertinya dia benar-benar sudah tahu. Apa yang harus aku lakukan?' Batin Ricky cemas.


"Mas ...," Deta memanggil Ricky, sementara ia tetap sibuk dengan masakannya.


Ricky tersentak karena panggilan Deta. "Ah, iya, Sayang."


Tubuh Deta kembali menghadap Ricky yang masih diam terpaku. "Kenapa hari ini pulang lebih awal?"


Bukan main senangnya hati Ricky karena Deta mengganti topik pembicaraan mereka. Tentu ia tidak akan melewatkan kesempatan emas itu begitu saja.


Dengan satu gerakan handal, Ricky meraih pinggang Deta dan mendekatkan tubuh mereka berdua.


"Karena aku selalu merindukan istriku." Ricky mulai menyusuri lekuk leher Deta dengan bibirnya.


Walaupun sudah sepuluh tahun menikah, tapi Deta tetap tidak bisa mengendalikan dirinya setiap kali Ricky menyentuh titik sensitif dirinya.


"Mas ...," erang Deta, mulai kehilangan kendali dirinya.


Deta meletakkan kedua tangannya di bahu Ricky dan melingkari leher suaminya, sehingga Ricky mengartikan hal itu sebagai kesiapan Deta untuk melayaninya. Hanya dengan satu hentakan, tubuh Deta sudah terangkat dan berada dalam dekapan Ricky.


"Mas, turunkan aku! Jangan disini nanti ada -" Deta tak bisa menyelesaikan kata-katanya karena Ricky sudah menguasai bibirnya.

__ADS_1


Setelah puas menggoda istrinya, Ricky pun melepaskan pertautan bibir mereka dan membiarkan Deta menghirup udara bebas.


Nafas Deta yang terengah-engah membuat Ricky semakin tidak sabaran. Ia pun mulai melupakan kegelisahan hatinya karena ucapan Nino. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah untuk menghabiskan waktu yang indah bersama Deta.


Ketika baru saja akan melangkah, tiba-tiba Deta meronta dan mengejutkan Ricky. Beruntung, tubuh mungil Deta bisa di kuasai Ricky hingga ibu anak satu itu tidak harus merasakan sakitnya terjatuh dari pelukan sang suami.


"Ada apa, Sayang?" tanya Ricky lembut, tapi penuh penekanan.


Rona merah menghiasi pipi Deta. "Kompornya, Mas."


Ricky menoleh dan melihat kompornya masih dalam keadaan menyala.


"Astaga! Kau membuatku lupa diri, Sayang."


***


"Kakak!!!"


Teriakan seseorang yang di sangat di kenali Deta membuat ia terkejut dan seketika bangun dari tidurnya.


"Sayang!" panggil Ricky seraya menahan pergelangan tangan Deta.


Deta menarik paksa tangannya tanpa melihat ke arah Ricky. "Mas, lepaskan tanganku!"


Bukannya melepaskan tangan Deta, Ricky justru tertawa dan semakin mengeratkan genggamannya. "Coba saja kalau kau bisa!"


"Mas!" hardik Deta kesal, ketika menoleh ke arah Ricky yang sedang memandangi tubuh polosnya.


"Tary memang tidak ada, Mas, tapi Dania ada." Deta menghela nafasnya.


"Dania?" tanya Ricky, dengan sebelah alisnya yang terangkat.


Anggukan kepala Deta menjadi jawaban atas pertanyaan Ricky.


"Kakak!!!" Terdengar teriakan kembali dan kali ini lebih dekat.


Deta mengarahkan telunjuknya ke atas, di iringi gerakan matanya yang mengikuti arah telunjuknya. "Kau dengar itu, Mas! Itu suara Dania dan dia sedang menuju kesini."


Suasana tiba-tiba berubah panik. Deta terburu-buru mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai dan memakainya kembali, sementara Ricky hanya tersenyum bahagia melihat tingkah istrinya itu.


"Kau masih saja seperti dulu, Sayang. Gadisku yang polos!" ucap Ricky nakal.


Deta mencebik, kemudian melemparkan pakaian Ricky yang sudah ia buat menjadi seperti bola ke arah suaminya itu. "Jika aku berubah, maka hatiku pun akan berubah, Tuan Sanjaya! Cepat bangun dan bersihkan dirimu, Mas, sebelum Dania melihatmu seperti ini!"


Deta bergegas keluar dari kamarnya tanpa memperdulikan Ricky yang terus menggodanya.


"Sayang, aku tidak mau mandi! Ini masih bersambung dan belum tamat!!!" teriak Ricky, seperti anak kecil.


"Terserah kau sajalah, Mas!" sahut Deta acuh.


BRAK ...

__ADS_1


Deta menutup pintu cukup keras sebagai tanda protes atas sikap Ricky padanya.


"Kakak, akhirnya!" ucap Dania, mengejutkan Deta yang masih berdiri dengan memegang handle pintu.


Deta tersenyum kikuk. "Ada apa, Sayang?"


"Dania ingin berpamitan pada Kakak," ucap Dania seraya meraih tangan Deta. "Maaf, Kak, bukannya Dania tidak ingin bermalam disini. Hanya saja ...."


Tangan Deta membalas genggaman tangan Dania. "Tidak masalah, Sayang. Kau bisa kesini kapanpun kau menginginkannya. Jangan lupa untuk mengajak kak Nino juga!"


Pelukan hangat pun menjadi salam perpisahan mereka sore itu. Begitulah pikir Deta, tapi ternyata tidak bagi Dania.


"Kak?" Dania melirik pintu kamar Deta yang tertutup rapat.


Deta mengikuti arah pandangan Dania. "Iya, Sayang. Kau butuh sesuatu?"


"Apa pangeran di dalam, Kak? Aku melihat mobilnya di luar." Dania sudah akan melangkah untuk membuka pintu.


"Tunggu dulu, Dania!" Deta menghalangi jalan Dania. "Kak Ricky ... Dia ... Dia sedang tidur. Ka- Kau tidak perlu berpamitan padanya." ucap Deta terbata.


Dania memasang wajah kecewa. "Baiklah! Kalau begitu -"


"Sayang!!!" teriak Ricky yang berasal dari dalam kamar.


"Bukankah itu suara pangeran?" Dania kembali melanjutkan ucapannya, walaupun berbeda haluan. "Itu artinya dia sudah bangun!"


'Kenapa kau harus bersuara, Mas?' Batin Deta geram. "Iya, Sayang, sepertinya begitu." jawab Deta pasrah.


Belum sempat Dania membuka pintu, tiba-tiba pintu kamar Deta terbuka dan menunjukkan tubuh polos Ricky yang berbalut selimut.


"Mas!!!" jerit Deta kesal.


Sementara Deta kesal dengan ulah Ricky karena ia khawatir Dania akan melihat Ricky dalam keadaan seperti itu, ternyata seseorang datang di saat yang tepat dan menyelamatkan penglihatan Dania.


"Siapa yang menutup kedua mataku?" tanya Dania seraya mencoba menyingkirkan tangan besar yang menutupi kedua matanya.


Ricky yang memahami situasi lantas menarik tangan Deta dan membawa kembali istrinya itu ke dalam kamar.


"Mas, kenapa kita masuk?" tanya Deta bingung.


Ricky menempatkan telunjuknya di bibir. "Berikan waktu untuk pasangan pengantin baru dan juga pengantin lama untuk memadu kasih."


Apa???


Hallo semuanya πŸ€—


Bantu share cerita ini ke teman-teman yang belum kenal Da Nino 'ya supaya semakin banyak yang kenal mereka berdua πŸ™πŸ˜˜


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘πŸ»dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡πŸ»sertakan votenya juga 'ya 😍 untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2