Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
PENYEKAPAN


__ADS_3

"Dunia sudah berubah. Begitu juga dengan waktu yang selalu bergerak maju dan meninggalkan semua pada tempatnya ...." Itulah kenyataan yang selama ini Deta yakini. Waktu tidak akan pernah menunggu. Itu sebabnya Deta selalu merasa berpacu dengan waktu dalam hidupnya.


Deta melangkah mendekati Gibran. Sejujurnya, melihat Gibran seperti ini cukup menyayat hati Deta. Kesetiaan pria itu pada keluarga Sanjaya tidak perlu di ragukan lagi. Namun, rasa cintanya pada Dania membuat segalanya menjadi lebih rumit. Seketika menghapus semua hal yang telah ia lakukan untuk tuannya di masa lalu. Sungguh sangat di sayangkan!


"Tuan asisten!" Tangan Deta sudah menyentuh lengan Gibran dengan lembut. Walaupun tiba-tiba punggungnya terasa seperti tertusuk hawa dingin, tapi ia tidak peduli. Deta sudah terbiasa dengan perasaan seperti itu. Siapa lagi penyebabnya jika bukan suaminya yang posesif itu. "Aku mewakili seluruh keluargaku ingin berterima kasih dan meminta maaf padamu."


Mata Gibran sudah berkaca-kaca. Bagaimana pun, wanita yang ada di hadapannya kini adalah orang yang sangat peduli padanya setelah Ricky. Berkat keluarga Sanjaya jugalah kehidupannya menjadi lebih baik. "Nyonya ...."


"Aku tahu, kau mencintai Dania, tapi kau juga tahu jika Dania sudah menjadi milik kak Nino. Andai saja kau mengatakan tentang perasaanmu lebih awal, mungkin saja ...," Deta sengaja menggantung kalimatnya dan menyelami tatapan Gibran.


Di sudut lain, Ricky sudah hangus terbakar oleh kecemburuan. Ingin rasanya menerjang kaitan tangan Deta dan Gibran, tapi Ricky memahami apa yang sedang coba istrinya lakukan saat ini.


"Tapi, Nyonya -" Gibran tak bisa melanjutkan kalimatnya karena Deta semakin mencengkram lengannya.


"Aku tahu, Tuan asisten!" Mata bulat itu menatap sosok sang suami yang sudah memasang wajah menyeramkan. "Suamiku sudah menahanmu bukan? Tapi apa kau tahu satu hal?"


Gibran menggelengkan kepalanya.


"Cinta tidak pernah salah." Kali ini Deta menatap Dania yang sedang menyandarkan kepalanya di pinggang Nino. "Apa aku benar, Dania?"


Dania tersenyum. Wajahnya sudah memerah. "Kakak benar!"


Nino yang mendengar jawaban Dania, lantas menunduk untuk melihat wajah Dania. Sayangnya, wajah cantik Dania sudah kembali terbenam di pinggangnya.


"Padahal aku ingin mendengarnya mengatakan cinta padaku." Nino menggerutu, tapi bisa di dengar jelas oleh Dania yang justru semakin mengeratkan lingkaran tangannya.


"Aku tidak tahu, Nyonya. Entah cintaku pada Dania salah atau tidak, tapi aku sudah berusaha untuk melupakannya. Namun, aku tetap tidak bisa." Gibran menekan rahangnya.


Deta menghela nafas. "Apa yang membuatmu tidak bisa melepaskan Dania?"

__ADS_1


Tatapan Gibran beralih pada Dania yang sudah duduk dengan tegak saat mendengar pertanyaan kakaknya pada Gibran. Mata keduanya saling bertemu. Seolah tengah membicarakan banyak hal tanpa membuka mulut. "Aku mencintai Dania."


"Hanya itu?" Deta melipat kedua tangannya di dada. Alisnya sudah bergerak naik turun menuntut jawaban.


"Tidakkah cintaku saja sudah cukup?" Gibran mulai merasa di permainkan hingga tanpa sadar menaikkan nada bicaranya.


Ricky sudah merangkul bahu Deta. "Jaga sikapmu pada istriku!"


Gibran tak gentar. Sorot matanya justru semakin menantang. "Aku akan melawan siapapun demi mendapatkan Dania!"


Mendengar ucapan Gibran membuat Dania bergidik ngeri. Ia seketika memeluk tubuhnya sendiri dan memejamkan matanya rapat-rapat. Sampai tubuhnya terasa hangat karena dekapan seseorang.


"Jangan takut, Moony! Tidak akan ada yang bisa menyakitimu selama cintaku bersamamu." Nino berbisik lembut. Mencoba menenangkan Dania, tapi yang di rasakan Dania justru sebaliknya. Ada getaran aneh di hati dan juga tubuhnya.


"Itu bukan cinta, tapi obsesi!" Celetuk Dito yang baru masuk seraya menguap dan menjatuhkan tubuhnya di sofa. "Belajarlah pada pria tua konyol itu jika kau ingin tahu apa itu cinta yang sebenarnya!"


Semua mata kini tertuju pada Nino. Sementara yang di tatap menjadi salah tingkah dan menggaruk-garuk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.


Dito memejamkan matanya dengan kepala menghadap ke langit-langit. "Jangan berpura-pura di hadapanku! Aku tidak akan tertipu dengan sikap konyolmu itu."


"Tunggu dulu! Sebenarnya, ada apa ini? Apa maksudmu, Kak Dito?" Dania begitu penasaran hingga beringsut turun dari bed pasien. Namun, belum sempat melangkah, ia sudah di tahan oleh Nino. "Aku hanya ingin mendekat pada kak Dito saja."


"Aku tahu, tapi kau butuh istirahat." Nino sudah kembali membaringkan tubuh Dania dan menarik selimutnya. "Aku rasa perdebatan kita cukup sampai disini saja. Dania butuh istirahat dan kalian semua juga harus bekerja bukan? Jangan sampai nanti kalian meminta ganti rugi dariku."


Tiba-tiba Dito menghentakkan kakinya dan menatap tajam ke arah Nino. "Berhenti bersikap konyol seperti itu! Aku muak melihat sandiwaramu. Apa kau tidak lelah? Aku saja lelah melihatmu."


Dania bingung bukan main. Tidak mengerti kemana sebenarnya arah pembicaraan kakaknya itu. "Bisa tolong jelaskan padaku apa yang terjadi?"


Dito menatap Dania. Matanya sedikit mengembun, kemudian menatap Deta yang juga menanti jawabannya. Berpindah menatap Ricky yang menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kalian pasti sudah mendengar cerita Gibran tentang penyekapannya bukan?" Dania dan Deta mengangguk. "Yang dia katakan benar adanya. Kak Ricky dan aku memang telah menyekapnya."


"Apa!!!" Dania dan Deta membelalakkan matanya.


"Tapi tidak terjadi apa-apa. Santai saja! Kalian bisa melihat sendiri bagaimana kondisi Gibran saat ini." Dito menaikturunkan tangannya di hadapan Gibran. "Kami tidak bermaksud menyakitinya. Hanya ingin memberikan waktu bagi Dania dan juga kak Nino untuk saling mengenal. Sayangnya ...," Dito menatap sengit ke arah Nino yang sudah mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Pria tua konyol itu membebaskan Gibran secara diam-diam. Entah apa yang dia pikirkan!"


Kali ini, Dania menatap Nino dengan mata terbuka lebar. "Kau tahu semua ini?"


Nino kembali menggaruk tengkuknya. "Mana mungkin aku tahu, Moony. Aku hanya pria bodoh yang tidak bisa melakukan apapun tanpa bantuan sahabat dan juga kakak iparku."


"Cih!" Ricky mencebik. "Kau pikir, aku tidak tahu apa saja yang sudah kau lakukan selama ini? Aku tahu, No. Dunia bisnis tidak cocok untuk orang-orang polos seperti dirimu. Kau pasti sudah merubah dirimu. Kalau tidak, bagaimana kau bisa bertahan sejauh ini?"


Sudut bibir Nino menarik sebuah senyuman penuh arti. "Ternyata, kalian memata-matai aku."


Dito menyeringai. "Siapa yang mengawasi siapa, kita semua tahu jawabannya."


Kembali Nino tertawa, tapi sudah lebih santai. "Salahkah apa yang aku lakukan?"


"Tentu salah!" Ricky langsung menyergah kata-kata Nino. "Gibran itu berbahaya bagi hubunganmu dengan Dania. Itu sebabnya aku menahannya. Kau tidak mengerti maksudku! Sekarang, kau lihat sendiri apa yang terjadi!"


Nino menyeringai. "Jika kau tidak menahan Gibran, apakah kau yakin semua masalah ini tidak akan terjadi? Hah! Sejak dulu, aku tidak pernah ingin memaksa Dania. Biarkan dia memilih yang dia inginkan! Melihatnya bahagia dan tersenyum, itu saja sudah cukup membuatku -"


"Dengan terus mengawasinya dari kejauhan?" Dito memotong kalimat Nino tanpa kompromi. "Dasar pengecut!"


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino 😍


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2