Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
SWEET CHAPTER 3


__ADS_3

Setiap nama mengandung arti dan juga harapan. Tak ada nama yang tak memiliki arti. Semua cinta, harapan, dan juga kebahagiaan menjadi satu dalam sebuah nama.


"Dicky Riady Sanjaya ...," Deta dan Ricky mengucapkan nama buah hati kedua mereka dengan penuh semangat.


Dania mengangkat kepalanya dan menatap Deta dan juga Ricky sesaat, sebelum tatapannya kembali terkunci pada sosok bayi tampan di hadapannya. "Halo, Dicky! Aku Auntymu yang paling cantik dan baik hati."


"Halo, Aunty!" Deta menirukan suara anak kecil hingga membuat Dania mengerucutkan bibirnya. "Jangan marah, Aunty! Coba tebak! Apa arti namaku?"


"Mudah sekali!" Dania menjentikkan jarinya. Kakinya melangkah mendekati Deta yang masih terlihat lemah. "Kalau aku bisa menjawab, apa hadiahnya?"


Mata bulat Deta menatap Ricky, meminta jawaban dari suaminya itu.


"Apapun yang Aunty Dania minta, akan kami berikan." Ricky menggantikan Deta untuk menjawab. "Tapi ... selama permintaan itu tidak aneh-aneh!"


Dania tertawa. Mengerti kekhawatiran kakak iparnya itu. "Tidak akan! Baiklah! Akan aku jawab."


Deta tersenyum melihat Dania yang sudah kembali bersemangat. Sejak kepergian Mikayla, Dania terus murung dan menyalahkan dirinya sendiri. Sekarang, melihat Dania sudah kembali ceria membuatnya yakin jika adik bungsunya itu sudah baik-baik saja. Sementara, Nino lebih memilih untuk tetap menatap wajah tampan putra dari sahabatnya itu. Sejak dulu, Nino selalu menyukai anak kecil. Rasanya menyenangkan menatap wajah yang suci tanpa dosa di hadapannya itu.


"Jadi, apa jawabannya?" tanya Ricky, sebelah alisnya sudah bergerak naik turun.


Dania tersenyum penuh arti. "Dicky adalah singkatan dari nama Deta dan Ricky. Lalu, Riady adalah nama keluarga papa. Yang terakhir, yang pastinya nama keluarga kak Ricky. Aku benar bukan? Mudah sekali!" sorak Dania kegirangan, meskipun Ricky dan Deta belum membenarkan jawabannya.


"Apanya yang benar dan mudah?" Suara khas yang berat dan kaku itu membuat semua mata menoleh pada sosok tersebut.


"Kak Shan!" Dania menghambur untuk memeluk Shanum. Ia tidak peduli lagi pada Dito yang menatapnya kesal karena merasa di abaikan. "Apa kabar, Kak Shan? Rasanya aku sudah lama tidak bertemu Kakak."


Dito mendorong kepala Dania dengan satu jari telunjuknya. Dengan terpaksa Dania harus melihat wajah dingin kakaknya itu. "Yang benar adalah ... Kau sudah lama tidak bertengkar dengan suami tuamu itu hingga kau tidak ada waktu untuk mengganggu kami."


"Kak Dito!!!" pekik Dania kesal. Matanya sudah berembun. Dengan cepat Dito meraih Dania ke dalam pelukannya. "Kakak suka sekali mengintimidasi aku!"


Semua orang tertawa melihat tingkah Dania, begitu juga Dito. Rasanya menyenangkan menggoda adik kecilnya itu. Andai saja, waktu bisa kembali. Dito ingin kembali ke masa dimana mereka masih bersama dengan kedua orang tua mereka. Menghabiskan waktu bersama dan juga berbagi suka duka. Sayang sekali, waktu yang sudah terlewati tidak akan pernah kembali. Dito sadar betul apa kesalahannya pada Dania. Kini, ia berjanji akan menjaga adiknya itu dengan sepenuh hati sebagai ganti atas penderitaan Dania selama ini karena sikapnya.


***

__ADS_1


Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Semua hal berjalan dengan sangat lancar. Begitu pun dengan kehamilan Dania. Tidak ada yang merepotkan apalagi menyusahkan baginya.


"Moony, ayo, sarapan!" Nino membuka tirai lebar-lebar hingga cahaya matahari langsung menimpa wajah Dania yang tertidur pulas.


Dania langsung menutupi wajahnya dengan bantal. "Aku masih mengantuk, Om!"


Nino melipat kedua tangannya di dada. Tiba-tiba seringai nakal muncul di wajahnya. Ia mendekati Dania dan membungkukkan tubuhnya. Di angkatnya bantal dari wajah Dania, kemudian bibirnya menempel di atas bibir Dania. Hanya menempel, tanpa pergerakan apapun. Lalu, dengan cepat ia menggeser tubuhnya hingga cahaya matahari kembali menyilaukan mata Dania yang masih tertutup rapat.


"Om pedofil!!!" pekik Dania, tangannya mencari-cari keberadaan bantalnya. "Dimana semua bantalku?"


Dania terpaksa membuka matanya dan melihat semua bantalnya sudah berada dalam dekapan Nino. Pria itu sungguh sangat menyebalkan!


"Ayo, bangun!" Nino menarik selimut Dania perlahan.


Kehamilan Dania kini sudah memasuki minggu ke tiga puluh delapan. Menurut prediksi dokter, tidak lama lagi ia akan melahirkan. Namun, semakin dekat waktu melahirkan, Danis justru semakin menjadi pemalas. Bangun pagi saja harus Nino yang membangunkan dan dengan berbagai drama yang ada.


"Moony, ada Dicky di luar." Nino berbisik di telinga Dania yang langsung membuka matanya.


Tanpa Dania tahu, wajah Nino sudah berada di atas wajahnya. Sehingga saat Dania mencoba untuk bangun, maka bibir keduanya akan langsung bertemu.


Nino mengacak-acak rambut Dania dan duduk di tepi ranjang. Tangannya meraih tangan Dania dan mengecupnya. "Anak kita sebentar lagi akan lahir, Moony. Tidakkah akan terasa aneh jika kau masih memanggilku seperti itu?"


'Benar juga!" pikir Dania. Ia pun terkekeh. "Lalu, aku harus memanggilmu apa?"


Kening Nino berkerut. Terlihat jelas jika pria itu sedang berpikir. "Bagaimana kalau baby?"


Dania menatap Nino dengan mulut menganga hingga tawa tiba-tiba saja menyembur dari mulutnya. "Kau terlalu tua untuk ku panggil seperti itu!"


"Honey?"


Dania kembali tertawa.


"Sayang?"

__ADS_1


Bibir Dania mencebik. "Terlalu biasa."


"Darling?"


Kepala Dania menggeleng dramatis. "No! No!"


"Bebep?"


Tawa Dania semakin keras terdengar.


"Lalu, apa?" tanya Nino, menyerah memberikan pilihan.


Kali ini giliran Dania yang berpikir. Bibirnya bergerak-gerak tanpa suara. Membuat Nino gemas. Kedua tangan besar Nino langsung menangkup wajah Dania dan melahap bibir yang menggoda itu.


Dania mendorong pelan dada Nino ketika merasa sudah kehabisan nafas. "Kau mengganggu konsentrasiku!"


"Baiklah, maafkan aku! Kalau begitu, apa panggilan baru untukku?" Nino kembali memperhatikan wajah Dania yang semakin cantik menurutnya.


"Bagaimana kalau ayah saja?" tanya Dania antusias. Tangannya mengusap perutnya yang membesar. "Sebentar lagi dia akan lahir. Jadi, Kita juga harus terbiasa dengan panggilan baru kita. Kau ayah dan aku ibu. Bagaimana?"


Nino menarik senyuman di sudut bibirnya. Tidak menduga jika Dania akan memberikan ide seperti itu. Ia pikir Dania akan menolak untuk di panggil ibu, nyatanya tidak. Naluri seorang ibu memang mampu mengalahkan egoisme seorang wanita. Bahkan, seorang wanita muda yang biasa hidup bebas di negara asing seperti Dania. "Baiklah, Ibu!"


Dania tertawa. Ia mengusap rahang Nino. "Ayah pedofilku, yang tampan."


"Pedofilnya tidak perlu di bawa, Ibu!" Nino berpura-pura merajuk.


"Ayah ...," Dania memajukan wajahnya dan sedikit merasakan manisnya bibir Nino sebagai ganti vitaminnya pagi itu.


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino 😍


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2