Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
LUKA DANIA


__ADS_3

Semilir angin mulai menerbangkan satu persatu helaian rambut yang sudah tidak terikat rapih seperti sebelumnya. Kuatnya tiupan angin menandakan hari semakin larut. Namun, hatinya masih berat untuk kembali.


"Maafkan ibu, Nak! Ternyata Ibu tidak lebih baik dari nenekmu." Tangan putih itu mengusap perutnya yang masih rata. Air matanya kembali beruraian, membayangkan akan seperti apa nanti masa depannya.


Dilahirkan tanpa seorang ayah, memang bukanlah suatu hal yang mudah di lalui bagi seorang anak. Begitu juga dengan Dania. Kesalahan kedua orang tuanya di masa lalu, membuat dirinya terlahir sebagai anak haram di mata masyarakat. Meskipun pada akhirnya Dania mendapatkan pengakuan dari ayah dan keluarga ayahnya, tapi tinta hitam milik ibunya akan selalu melekat kuat sebagai tanda keberadaan dirinya di dunia ini.


Semua hal buruk yang pernah Dania lalui dalam hidupnya menjadi ketakutan tersendiri bagi dirinya. Takut hal yang sama akan menimpa pada anaknya kelak di masa depan.


"Selamat, Dania! Kau sedang mengandung penerus keluarga Ferdinan."


Kata-kata Shanum, kembali terngiang di telinga Dania. Sebenarnya, Dania bahagia bahkan sangat bahagia saat ia melihat garis merah yang berjajar rapih pada alat tes kehamilannya. Ingin rasanya ia melompat dan memeluk Nino saat itu, tapi Dania ingin membuat kesan luar biasa pada hari ulang tahun suaminya itu. Sayang, semua rencana indahnya harus ia kubur dalam-dalam saat dengan kedua matanya sendiri Dania melihat Nino masih bersama dengan cinta masa lalunya.


Flashback on ...


Dania melangkah dengan hati yang berbunga-bunga menuju ruang CEO Da Nino Corp seperti biasanya.


Setelah menolak pelukan Nino pagi ini, Dania berniat untuk meminta maaf dan memberikan kejutan pada om pedofil mesumnya dengan membawakan makan siang kesukaannya. Sudah lama rasanya Dania tidak melakukan hal ini karena kondisi tubuhnya yang sulit di ajak bekerja sama.


Tanpa ragu, Dania memasuki lift yang akan membawanya ke ruangan Nino. Suasana kantor nampak sepi. Mungkin karena jam makan siang. Begitu pikir Dania.


Begitu pintu lift terbuka, Dania tidak di sambut oleh Liza seperti biasa. Meja wanita cantik itu kosong, tapi Dania tidak menghiraukannya dan tetap melangkah dengan senyuman di wajahnya. Hanya tinggal beberapa langkah lagi Dania memasuki ruangan Nino, tapi hatinya sudah hancur berkeping-keping. Semua rencana indah yang ia susun rasanya seperti hilang tersapu ombak.


Disana. Di depan mata Dania. Nino tengah memeluk tubuh Mikayla begitu erat. Dania memang tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi ruangan transparan itu telah mengatakan segalanya pada Dania.


Kaki Dania melangkah mundur. Tangannya memegang kotak makanan dengan erat. Dania menangis? Tidak! Hatinya seketika mati. Dania merasa tertipu. Tak ingin lagi merasakan semua sesak ini, Dania segera pergi meninggalkan semua hal yang menyakiti hatinya begitu dalam.


Flashback off ...


Pangkuan Dania sudah mulai di basahi air mata karena tidak sedikitpun ia mencoba untuk menahan atau menghapus air matanya.


Dania ingin menceritakan semua masalahnya pada kakaknya, pada keluarganya, tapi Dania terlalu malu. Selama ini, ia terlalu sering merepotkan kedua kakaknya. Lagi pula, ini adalah masalah rumah tangganya. Dania merasa sudah saatnya menjadi dewasa dan mengambil sikap.


"Masih ingin menangis?" Suara seseorang membuat Dania mendongak, tapi tidak menghapus air matanya.

__ADS_1


Mata Dania memicing. "Kak Gibran?"


"Benar! Ini aku, Dania. Berhentilah menangis karena aku sudah disini."


***


Satu persatu lampu jalanan mulai redup dan kehilangan cahayanya. Tanda bulan sudah semakin dalam di peraduannya.


Nino mulai putus asa melihat kegelapan jalan di hadapannya. Sejujurnya, Nino sendiri bingung dan juga takut setengah mati. Bingung mengapa Dania tiba-tiba pergi, tapi juga takut jika sampai hal buruk menimpa istri dan juga calon anaknya.


"Kau kemana, Moony?" gumam Nino frustrasi.


Tiba-tiba ponsel Nino berdering di tengah keheningan yang menemaninya. Sejenak Nino menatap layar ponselnya dan menarik nafas sebelum menjawab panggilan tersebut.


"Iya, Kakak ipar," jawab Nino pelan sekali. Bahkan, nyaris tak terdengar.


"Kau sudah menemukan adikku? " Ketegasan dari suara itu tentu saja milik Dito yang sedang cemas menanti kabar sang adik.


Nino menghela nafas. "Belum."


"Aku tidak akan pernah membiarkan sesuatu terjadi pada istriku!" Nino langsung memotong ucapan Dito dan memutuskan panggilannya. Dengan kesal Nino memukul kemudi di hadapannya. "Aaarrgghhh!!!"


Sementara, di rumah besar Sanjaya. Semua keluarga telah berkumpul, termasuk Fita dan suaminya. Mereka semua mengkhawatirkan keadaan Dania, meskipun Shanum belum mengatakan tentang kehamilan adik iparnya karena tentu keadaan akan semakin buruk jika semua keluarga mengetahuinya di saat seperti ini.


"Sialan!!!" Dito mengumpat saat menatap layar ponselnya yang menggelap.


Shanum dengan sabar mengusap lembut lengan Dito. "Sabar, Sayang! Tuan Ferdinan sedang cemas saat ini. Jadi, berikan dia waktu."


Dito memejamkan matanya dan menatap satu persatu anggota keluarganya hingga tatapannya berhenti pada Rika, ibu mertua kakaknya yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.


Rika memahami tatapan Dito dan beranjak untuk memeluknya. "Mama tahu kau menghawatirkan Dania, Dito, tapi bukan berarti kau bisa mengancam orang lain seperti itu. Terlebih, Nino adalah suaminya Dania. Dia bahkan lebih mencemaskan Dania daripada kita semua."


Kebungkaman Dito membuat yang lain juga bungkam, termasuk Deta. Kini hatinya ikut merasa bersalah dan juga bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Shan," Deta menatap Shanum yang tengah mengusap punggung Dito.


Shanum menoleh dan menghentikan tangannya. "Iya, Kak?"


"Apa Dania mengatakan sesuatu padamu sebelum dia pergi?" tanya Deta, khawatir dan penasaran di saat yang bersamaan.


"Tidak, Kak." Shanum menggelengkan kepalanya ragu. "Aku memang berniat mengantarkannya kesini, tapi tiba-tiba aku mendapatkan panggilan darurat. Maafkan aku! Jika aku tetap mengantarnya mungkin semua ini tidak akan terjadi."


Deta menghampiri Shanum dan menggenggam tangannya. "Tidak! Ini bukan salahmu, Shan. Tapi aku penasaran, sebenarnya kalian pergi kemana? Kenapa tidak menghubungi aku?"


Pertanyaan Deta membuat Shanum bingung, sebab ia terikat janjinya pada Dania untuk tidak mengatakan tentang kehamilannya pada siapapun.


"Ehm ... Kami ... Kami hanya berjalan-jalan di taman, Kak." Shanum nampak gugup, tapi berusaha sebisa mungkin untuk tetap tenang. "Dania takut Kakak sedang sibuk, jadi kami tidak menghubungi Kakak."


Deta tidak puas dengan jawaban Shanum, tapi tetap tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Bukan hanya Deta, Dito dan Ricky juga terlihat tidak percaya dengan ucapan Shanum. Mereka seperti menangkap sesuatu dari sikap Shanum.


"Kalau begitu, sekarang lebih baik kita semua istirahat!" Ricky sudah mengulurkan tangannya di hadapan Deta, tapi tidak mendapatkan sambutan. "Sayang, aku janji akan menemukan Dania sebelum kau membuka matamu besok."


Mata bulat Deta mengerjap lucu. "Sungguh?"


Ricky mengangguk pasti. "Iya, jika kau bersedia untuk tidur dalam dekapanku."


"Mas!" Geram Deta dengan wajah merahnya saat melewati Ricky menuju kamar tidur mereka.


Sebelum Ricky menyusul Deta, ia berpamitan pada seluruh keluarga dan meminta semuanya untuk beristirahat, kecuali Dito. Mereka berdua sudah memasang wajah dingin yang menakutkan bagi siapapun yang melihatnya.


"Sepertinya yang kita khawatirkan benar-benar terjadi ...."


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino 😍


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2