
Dania tahu jika Nino sudah mencintainya, tapi apakah pria itu mudah tergoda oleh wanita lain atau tidak. Hanya Nino yang tahu.
"Liza, bisakah kau membantuku?" tanya Dania, sedikit merendahkan suaranya.
Liza tersenyum simpul. "Tentu, Nyonya."
Kepala Dania menoleh ke arah ruangan Nino yang masih sunyi. "Dengar! Mulai sekarang, kau harus melaporkan padaku apa yang di lakukan tuanmu dan siapa saja yang dia temui. Tanpa terkecuali!"
Walau dalam hati Liza berkecamuk. Antara menuruti nyonya muda di hadapannya atau tetap menjadi sekretaris yang kompeten dengan merahasiakan segala sesuatu tentang atasannya. Namun, Liza juga bisa memahami perasaan Dania yang terluka jika suaminya menemui wanita lain. Sungguh dilema yang sangat besar bagi Liza.
"Hei!" Dania menyentuh bahu Liza. "Jangan banyak berpikir, Liza! Lakukan saja apa yang aku katakan. Kau hanya perlu mengatakan apa yang terjadi." pintanya lagi.
"Tapi, Nyonya -" Ragu Liza ingin menolak keinginan Dania.
Mata sipit Dania mulai di genangi air. "Aku mohon, Liza! Hanya kau yang bisa membantuku."
Dania menyatukan kedua tangannya di hadapan Liza yang semakin salah tingkah.
"Nyonya, saya mohon jangan seperti ini!" ucap Liza, mulai gelagapan dengan ulah Dania.
"Aku akan tetap seperti ini sampai kau mau menuruti keinginanku!" sergah Dania, nada bicaranya mulai meninggi.
'Ya Tuhan, kenapa tuan Ferdinan menikahi wanita yang sama keras kepalanya dengan dirinya. Aku!!! Disini akulah yang menjadi korbannya.' Liza meraung dalam hati. Meratapi nasibnya yang harus terus berhadapan dengan orang-orang berkuasa yang keras kepala ini.
"Turuti saja apa yang dikatakan oleh nyonya Ferdinan, Liza!" titah seseorang yang langsung mendapat anggukkan kepala dari Liza.
Dania menoleh karena mengenal suara itu. "Om pedofil? Kau disini?"
Senyuman Dania yang menampakkan deretan giginya membuat Nino gemas hingga ingin mencium lagi bibir mungil di hadapannya.
Tangan Nino meraih jemari Dania dan mengecupnya. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan disini? Kau tidak sengaja ingin menemuiku bukan?"
"Apa aku tidak boleh menemuimu?" tanya Dania, membalikkan pertanyaan Nino yang sebenarnya hanya sebuah sindiran untuknya.
Nino mengernyit dan menatap heran pada Dania yang mengangkat kedua bahunya acuh. "Kau tahu bukan itu maksudku! Aku hanya tidak berani membayangkan jika kau akan datang dengan senang hati untuk menemuiku."
Terdengar lucu kalimat yang terlontar dari bibir Nino karena pria itu menggunakan kalimat yang santai dan juga nada bicara yang di bumbui gurauan. Namun, Dania bisa melihat jelas gurat kesedihan di wajah tampan suaminya itu.
__ADS_1
"Mulai sekarang, bayangkan saja apa yang ingin kau bayangkan!" Dania menyentuh pipi Nino dengan sebelah tangannya. "Kita ... Kau dan aku tentunya. Akan berusaha untuk menjadikan semua hal yang kau bayangkan itu menjadi sebuah kenyataan."
Bola mata Nino menatap lurus ke depan. Tepat pada bola mata Dania yang juga menatapnya dengan hangat. Wanita yang begitu membencinya dan ingin menjauh darinya, kini mulai membuka hati untuk dirinya. Nino hanya berharap, jika semua ini memang hanya sebuah mimpi. Maka ia tidak ingin bangun untuk selamanya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Dania, membawa kembali semua kesadaran Nino yang mulai menghilang.
Nino menarik sebuah senyuman yang membuatnya terlihat semakin tampan. "Aku baik, Moony. Dan akan selalu seperti itu jika bersamamu."
Melihat hubungan antara tuan dan nyonya Ferdinan yang semakin membaik, sedikitnya membuat Liza iri. Ia juga ingin memiliki pasangan yang bisa mencintai dirinya sebesar Nino mencintai Dania.
'Apalah aku ini, Tuan? Kalian bahkan tidak menyadari keberadaanku disini.'
***
Dania menyandarkan kepalanya di sofa yang berada di ruang kerja Nino. Rasa lelah dan kantuk mulai menyerangnya ketika Nino belum juga menyelesaikan pekerjaannya hingga hari mulai gelap.
"Moony ...," Dania merasakan sentuhan lembut di rambutnya.
Kepala Dania yang mendongak ke atas pun terbuka. Ia tidak menyadari jika Nino sudah berdiri di belakang sofa. Posisi wajah Nino tepat berada di atas wajah Dania. Pandangan keduanya langsung bertemu dan saling terikat. Tanpa peringatan, Nino menundukkan kepalanya dan mulai menyusuri kehangatan bibir Dania.
Satu kecupan ringan pada awalnya. Namun, lama kelamaan kecupan itu semakin manis dan menuntut. Sikap Dania yang lebih terbuka. Tanpa adanya penolakan dan drama dorong-mendorong, di artikan Nino sebagai sebuah kesiapan Dania untuk menerima dirinya.
"Moony ...," Wajah Nino jelas nampak kecewa. Persis seperti seorang anak yang tidak di izinkan pergi bermain oleh ibunya.
Dania tersenyum simpul. Merapihkan pakaian dan juga rambutnya yang sedikit kusut karena ulah Nino. Wajah Nino yang kecewa tak ingin ia hiraukan. Kakinya melangkah memutar untuk menghampiri Nino yang masih berdiri di balik sofa.
"Hari ini, cukup sampai disini dulu!" bisik Dania, langsung membuat Nino membelalakkan matanya.
Sesaat kemudian, Nino mulai mengerti ucapan Dania. Itu artinya, akan ada hari lain di saat mereka bermesraan seperti ini.
Nino tidak ingin mengatakan apapun. Tangannya meraih tangan Dania. Mengaitkan jemarinya pada jemari Dania. Menuntun wanita yang sangat ia cintai itu untuk keluar dari ruang kerjanya.
"Kemana kita akan pergi?" tanya Dania, begitu mereka memasuki lift.
Nino melihat jam tangan mewah yang melingkar di tangannya. "Tentu saja kita akan pulang, Moony."
Dania merengut mendapat jawaban yang di luar bayangannya.
__ADS_1
"Ada apa? Hemm?" tanya Nino seraya memiringkan kepalanya ketika melihat Dania yang tiba-tiba menjadi kesal.
"Aku sudah menghabiskan banyak waktuku untuk berdandan, tapi kau bahkan tidak membawaku untuk pergi berkencan!" sungut Dania kesal, tanpa menatap Nino yang terkejut dengan kata terakhir yang ia ucapkan.
Berkencan! Ya, kalimat sakral itu meluncur dari mulut Dania dan menjadi sesuatu yang begitu berharga bagi Nino.
Nino ingin melompat. Terbang dan memberitahu seluruh dunia, jika cintanya mulai mendapatkan jawaban. Meski ini masih terlalu dini untuk senang, tapi Nino tetap ingin menikmati kebahagiaannya.
Hentakan tangan Dania yang melepaskan tangannya, menyadarkan Nino dari lamunannya. Dengan cepat Nino kembali meraih tangan Dania dan menggenggamnya.
"Maaf, Moony! Aku tidak tahu jika kau ingin pergi berkencan." Nino membuat wajah memelas agar mendapat maaf dari Dania dengan mudah.
Dania melengos. "Ya ... Sebenarnya, aku juga tidak berniat untuk berkencan. Tapi aku melihat cincin di jari manisku dan teringat ucapanmu malam itu."
Alasan yang tepat dan sungguh di karang bebas oleh Dania. Namun, sepertinya Nino percaya. Tangan Dania terangkat dan di tarik mendekat ke wajah Nino.
"Sekali lagi maafkan aku, Moony! Seharusnya, aku yang memperbaiki hubungan kita." Nino mengecupi punggung tangan Dania tanpa henti. "Pikiranku menjadi tidak jernih sejak kejadian itu hingga aku melupakan komitmen yang kita buat bersama." sesalnya.
Kejadian itu. Tanpa di jelaskan sekali pun. Baik Dania atau Nino, keduanya sudah tahu apa maksud di balik kalimat tersebut.
Dania memejamkan matanya sesaat. "Baiklah! Kita lupakan saja hal itu. Sekarang, bisakah kau menemaniku berjalan-jalan? Rasanya aku tidak ingin make up di wajahku ini terbuang sia-sia."
Nino tergelak mendengar ucapan Dania. "Kau itu benar-benar tidak mau rugi, Moony."
"Tentu saja!" sahut Dania bangga. "Tapi aku sedikit kecewa padamu, Om." Dania memicingkan matanya ke arah Nino.
"Kali ini, apa salahku?" tanya Nino bingung. Sebab ia memang tidak merasa melakukan kesalahan lain.
Dania berdecak kesal. "Kau tidak memuji penampilanku. Kau juga tidak mengatakan bahwa aku sangat cantik hari ini."
Nino memiringkan tubuhnya untuk menghadap Dania. Matanya menatap lekat wajah cantik Dania yang nampak sempurna hari ini. Itu jelas di sadari Nino sejak ia melihat Dania berdebat dengan Liza di luar ruangannya. Hanya saja, ia tidak ingin mengatakan hal yang sudah jelas terlihat di matanya.
"Kau ingin tahu kenapa aku tidak mengatakan bahwa kau cantik hari ini?" tanya Nino, matanya masih terfokus pada wajah Dania.
Dania mengangguk samar.
"Karena di mataku, kau selalu terlihat cantik setiap saat ...."
__ADS_1
Hallo semuanya 🤗
Stay healthy and happy 😘