Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
KERAGUAN


__ADS_3

Tak ... Tuk ... Tak ... Tuk ...


Suara yang di hasilkan dari hentakan kaki Dania begitu nyaring terdengar di dalam kamar tidur utama rumah besar Ferdinan.


Dania meremas tangannya sendiri. Sementara kakinya terus melangkah kesana-kemari tak tentu arah. "Bagaimana ini? Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku harus memastikannya sendiri!"


Meskipun keraguan menyelimuti hatinya, tapi Dania tetap melakukan apa yang ada di dalam pikirannya. Ia mengambil tasnya dan berjalan keluar dari kamarnya dengan cepat. Tangan Dania sibuk memainkan ponselnya sepanjang jalan ia menuju garasi mobil.


"Tolong antarkan aku ke rumah Sanjaya, Pak Toto!"


Mobil melaju dengan cepat membelah jalanan ibukota yang masih nampak lengang di pagi hari seperti ini.


'Aku harap, aku akan mendapatkan jawaban yang memuaskan ....'


***


Gedung pencakar langit dengan logo besar di lobbynya semakin mempertegas siapa pemilik dari bangunan mewah yang menjadi salah satu icon di kawasan itu.


"Selamat pagi, Tuan!" sapa Liza yang setengah berlari-lari kecil menuju ke arah Nino yang baru saja memasuki lobby.


Nino mengangguk samar. "Tidak perlu sampai berlari. Bagaimana jika kau terluka? Aku tidak ingin orang lain memandang aku sebagai atasan yang tidak peduli pada keselamatan pegawainya."


Liza membungkuk hormat seraya mengeluarkan tabnya. "Tuan, schedule anda hari ini -"


"Bermalas-malasan!" potong Nino cepat, sementara kakinya terus melangkah memasuki lift khusus.


Terasa berat bagi Liza setiap kali menghadapi bosnya jika dalam sedang suasana hati seperti ini. Namun, gadis malang itu tahu benar jika dirinya hanya bisa mengikuti keinginan pemilik Da Nino Corp itu.


"Baik, Tuan. Selamat bermalas-malasan!" Liza kembali membungkuk hormat tepat ketika pintu lift hampir menutup sempurna. "Hah! Aku pikir setelah menikah tuan akan berubah, tapi sepertinya tugasku akan semakin berat saja." keluhnya.


Belum sempat Liza melangkahkan kakinya menjauh dari lift, ia merasakan sebuah tangan menyentuh bahunya.


"Selamat pagi, Tuan Sanjaya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Liza sopan, setelah sebelumnya ia membungkuk hormat ketika mengetahui siapa yang baru saja menepuk bahunya.


Ricky tersenyum simpul. "Nino sudah datang?"


"Sudah, Tuan. Baru saja tuan Ferdinan menuju ke ruangannya." Liza menunjuk ke arah lift dengan ibu jarinya.

__ADS_1


"Baiklah! Terima kasih, Liza!" ucap Ricky, lantas melangkah cepat menuju ke ruang kerja CEO Da Nino Corp.


***


TRING ...


Pintu lift terbuka bersamaan dengan masuknya sebuah pesan ke ponsel Nino yang berada di saku jasnya.


Ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya, wajah Nino langsung sumringah menggantikan wajah kusutnya pagi ini.


"Astaga! Aku pikir akan ada badai, tapi ternyata aku salah." Nino mulai membaca pesan yang di kirimkan Dania kepadanya. "Sepertinya pelangi harapan mulai muncul dihatimu, Moony."


Aku sedikit bosan di rumah, jadi aku memutuskan untuk pergi ke rumah kakak.


Kau boleh menjemputmu jika kau tidak sibuk ☺️


"Tentu saja aku tidak pernah sibuk untukmu." Nino ingin membalas pesan Dania, tapi urung ia lakukan. "Tidak! Aku akan memberikan sedikit ruang bagimu."


Nino meneruskan langkahnya memasuki ruangan kerjanya yang nampak sunyi dan kembali membaca pesan Dania.


"Oh, astaga! Aku jadi ingin terbang." Nino terus menatap layar ponselnya.


"Sebelum kau terbang, aku akan mematahkan sayapmu!" sahut seseorang yang baru memasuki ruangan Nino.


"Kau hanya takut kehilangan diriku, Tuan Sanjaya!" jawab Nino acuh, tanpa melihat ke arah orang tersebut yang memang benar adalah Ricky.


Terdengar dengusan yang di barengi dengan decitan sebuah kursi yang di tarik. "Sepertinya, kau sedang bahagia?"


Nino meletakkan ponselnya di atas meja."Kau benar!"


"Kau sudah mendapatkannya?" tanya Ricky, dengan nada yang terdengar sedikit asing bagi Nino.


Walaupun tidak memahami maksud sahabatnya itu, Nino tetap menjawabnya meski ragu. "Sudah!"


Ricky menggebrak meja hingga Nino terlonjak. "Itu baru namanya seorang pria. Bagaimana rasanya?"


Nino mengusap dadanya dengan wajah kesal. "Rasa apa?"

__ADS_1


"Mendapatkan itu ... Apa tadi yang baru kau dapatkan?" Ricky terlihat bingung memilah kata.


"Ah!" Nino mengangguk paham, seolah ia benar-benar mengerti apa yang di maksudkan oleh Ricky. "Tentu saja menyenangkan! Aku sangat bahagia dan aku rasa Dania juga bahagia karena dia menggunakan emoticon sebuah senyuman padaku." jelasnya.


Ricky yang awalnya tersenyum lebar dan sangat antusias mendengarkan cerita Nino, tiba-tiba saja senyuman itu perlahan memudar dari wajahnya berganti dengan sebuah tanda tanya besar yang jelas terlihat.


"E- Mo- Ti- Con?" ucap Ricky penuh penekanan.


Nino tentu saja tidak mengerti dengan perubahan sikap Ricky. "Iya! Dania memang menggunakan emoticon pada pesannya. Aku juga sedikit tidak yakin ketika melihatnya, tapi aku rasa mungkin suasana hatinya sedang baik hari ini."


'Pergi saja kau ke laut, Pria konyol!' Umpat Ricky dalam hati, sementara rahangnya menegang akibat menahan emosi. "Aku tidak sedang membicarakan tentang pesanmu dengan Dania! Aku bertanya tentang ...."


Nino mengerutkan dahinya, menunggu kalimat Ricky selanjutnya. Namun, belum sampai Ricky pada pemilihan kata yang tepat. Nino sudah bisa menduga apa yang akan di sampaikan oleh pemilik Sanjaya Corporation tersebut.


"Kau! Benar! Pasti kau orangnya!" Nino mengarahkan telunjuknya pada Ricky dengan wajah yang memerah karena amarah. "Seharusnya aku sudah menduganya dari awal! Tapi sungguh, Ky, aku tidak menyangka kau akan melakukan semua itu."


Ricky tahu jika Nino marah, tapi ia justru tertawa dan menyandarkan tubuhnya dengan santai di kursi. "Harusnya kau berterima kasih padaku!"


'Jika aku ingat apa yang terjadi, aku pasti akan berterima kasih bahkan berlutut di kakimu, Bodoh! Sayangnya, kau justru membuatku tidak bisa mengingat apapun.' Rutuk Nino dalam hati.


Wajah kesal Nino tak bisa ia sembunyikan dan dapat di lihat jelas oleh Ricky. "Kau pasti sedang mengutukku!"


Nino menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Jangan berpikir terlalu banyak, Kakak ipar! Aku tidak melakukan apapun dengan adik kesayanganmu itu."


Mata Ricky seketika terbelalak. "Sungguh?"


Sebenarnya Nino ingin mengangguk, tapi ia sendiri ragu apakah benar jika dirinya memang tidak melakukan apapun terhadap Dania. Andai bisa, Nino ingin kembali ke waktu itu dan mengingat semuanya. Atau bisa saja ia bertanya detailnya kepada Dania, jika saja Dania bersedia menjawab pertanyaannya. Semua itu membuat Nino hampir gila beberapa hari ini. Dan sekarang, di hadapannya sudah ada pelaku yang mengakui kejahatannya dengan tenangnya. Ingin rasanya Nino membuat cetakan di wajah tampan Ricky dengan tangannya saat itu juga.


"Menurutmu bagaimana?" Nino balik bertanya, tapi dengan tatapan yang tidak fokus. "Satu hal yang harus kau tahu, aku tidak seperti dirimu yang suka memaksa."


Ricky menaikkan sebelah alisnya. "Aku harap, suatu hari nanti kau ingat apa yang kau katakan hari ini dan tidak akan menampakkan wajah malumu di hadapanku."


'Aku harap juga begitu. Aku harap aku tidak pernah melakukan apapun yang menyakiti Moony, meskipun aku berada di luar kendali diriku sendiri ....'


Hallo semuanya πŸ€—


Stay healthy and happy 😘

__ADS_1


__ADS_2