Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
APEL


__ADS_3

"Ka- Kalian se- Semua ... Su- Sudah tahu? Lalu, Om- Om Nino ... Apakah dia?" Dania kesulitan untuk bicara. Lidahnya kelu dan bibirnya membeku seketika.


Dito kembali menatap Dania. "Tentu saja dia sudah tahu! Berdoa saja agar dia tidak berpikir jika anak itu bukan miliknya."


BRAK ...


Setelah menakuti Dania dengan kalimat jahatnya, Dito langsung keluar dengan membanting pintu. Tak peduli lagi jika pintu itu milik rumah sakit. Ia benar-benar di buat kesal dengan tingkah adiknya kali ini.


"Hei, apa yang terjadi?" Ricky yang terkejut karena kegaduhan yang di ciptakan Dito, sudah duduk dengan wajah yang masih mengantuk hingga tatapannya bertemu dengan tatapan Dania. "Kau sudah sadar, Tuan putri? Bagaimana keadaanmu?" Ricky sudah berjalan mendekati Dania dan berdiri di samping Deta.


Dania hanya diam. Ia menatap lekat wajah Ricky yang selalu menjadi panutannya. Begitu dalam ia menyelami tatapan Ricky sampai membuat kakak iparnya itu salah tingkah.


"Hati-hati, Tuan putri! Jangan menatapku seperti itu atau nanti anakmu akan sangat mirip denganku." Goda Ricky dengan mengerlingkan sebelah matanya.


Anak! Dania kembali tersadar. Ia pun beralih menatap Deta dan meraih tangan kakaknya. "Kakak, maafkan aku!" Air mata Dania sudah menganak sungai di matanya.


"Sungguh memalukan!"


Kata-kata Dito begitu menusuk hati Dania. Ia tidak pernah berpikir bahwa keputusan yang di ambilnya akan berakibat seperti ini.


"Aku kecewa padamu, Dania." Deta menarik tangannya perlahan. "Sekarang, apapun keputusanmu dan Kak Nino ... Aku akan menerimanya tanpa bertanya."


Dania merasa seperti tersambar petir. Inilah yang ia takutkan. Meninggalkan Nino sama artinya dengan kehilangan seluruh keluarganya.


"Tidak, Kak!" Dania menggelengkan kepalanya kuat. "Jangan berkata seperti itu!"


Terdengar Deta menghela nafasnya. "Bukankah itu yang kau inginkan? Kau ingin berpisah dengan kak Nino bukan?" Tatapan Deta terasa mengintimidasi bagi Dania hingga wanita itu hanya bisa tertunduk dalam. "Ini semua memang salahku. Sejak awal, seharusnya aku tidak memaksamu menikah dengan kak Nino. Seharusnya aku juga tidak meminta kak Nino untuk menunggumu. Kau bisa menyalahkan aku untuk semua yang terjadi, Dania, tapi kenapa kau lebih memilih menghukum seorang anak yang bahkan belum lahir?"


Tubuh Dania gemetar. Ia menahan tangisnya dengan menggigit bibir bawahnya. Tak ada lagi kata yang bisa Dania ucapkan. Yang di katakan Deta semuanya benar. Dania memang bodoh dan egois. Ia tidak pantas untuk menjadi seorang ibu.


"Kak ...," Shanum memeluk Dania dan membelai rambutnya dengan lembut. "Kita tidak tahu apa masalah sebenarnya. Menurutku, lebih baik kita tanyakan dulu semuanya pada Dania."


Kondisi Dania yang sedang hamil membuat Shanum tidak tega, tapi ia juga tidak bisa membenarkan apa yang di lakukan Dania. Terlebih melihat kemarahan Deta dan Dito, rasanya Shanum tidak akan sanggup untuk melindungi Dania kali ini.


"Baiklah!" Deta kembali menatap Dania. Mencoba menekan emosinya. "Sekarang kau ceritakan pada kami, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau pergi bersama Gibran?"

__ADS_1


Dania mengangkat kepalanya dan menatap Deta. Seumur hidup Dania, hanya kakaknya itulah yang menjadi tempat Dania bersandar. Dan saat melihat kemarahan di mata itu, rasanya Dania seperti ingin mengubur dirinya hidup-hidup.


"Dania!!!" geram Deta, karena Dania masih diam dan menatapnya.


"Sayang, tenanglah!" Ricky mengusap-usap bahu Deta dan menuntunnya untuk duduk di sofa. "Tuan putri, sekarang coba kau ceritakan semuanya dari awal! Apa yang terjadi antara dirimu dan Nino? Sejujurnya, kami tidak mengerti apapun. Kau bahkan tidak memberi tahu kami tentang kehamilanmu. Apa memang ... Bayi itu bukan -"


"Tidak!!!" Dania menutup kedua telinganya. "Bayi ini milik om pedofil!"


CEKLEK ...


Tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan sosok Nino yang membawa sebuah kantung di tangannya. Wajahnya terlihat sangat lelah dan juga kurang tidur.


"Kak Nino?" Deta berdiri untuk menghampiri Nino. "Aku benar-benar minta -"


Tatapan Nino yang sejak awal sudah tertuju pada Dania, berpindah sesaat untuk menatap Deta. "Kau sudah lelah, Ibunya Tary. Lebih baik kau dan Ricky pulang. Kalian juga harus menjaga Tary dan calon adiknya bukan?"


Ricky dan Deta berpandangan. Tatapan mereka saling berbicara hingga akhirnya mereka pun setuju untuk pulang.


"Baiklah! Kalau begitu, aku dan Deta akan pulang. Kami akan kembali lagi besok." Ricky menepuk bahu Nino sekali seraya merangkul istrinya.


Dania hanya tertunduk, bahkan hingga pintu tertutup kembali dan bayangan Deta hilang di balik pintu.


"Bagaimana keadaanmu?" Nino menarik kursi di sisi tempat tidur.


Dania tidak nampak akan menjawab. Ia hanya terus menunduk dan menggigit bibirnya.


"Dania dan bayi kalian baik-baik saja, Tuan Ferdinan. Mereka berdua sangat kuat." Shanum yang masih berdiri di ruangan itu akhirnya menjawab karena Dania masih enggan membuka mulutnya.


Nino tersenyum simpul. "Syukurlah! Terima kasih, Dokter Shanum."


"Kalau begitu, aku keluar dulu! Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Shanum melangkah menuju pintu dan tangannya berhenti pada handle pintu, kemudian menoleh. "Kau harus lebih banyak bersabar menghadapi ibu hamil, Tuan Ferdinan."


"Tentu!" Nino kembali mengulum senyuman, meski matanya berkata lain.


Setelah kepergian Shanum, kini hanya tinggal Dania dan Nino di ruangan itu. Keduanya terlihat canggung seperti baru saja berkenalan.

__ADS_1


Nino menatap ke seluruh ruangan. Mencari topik pembicaraan yang ringan walau sebenarnya ada banyak hal yang harus mereka bicarakan. Namun, untuk saat ini ia tidak ingin membuat Dania merasa lebih tertekan.


Tatapan Nino terhenti pada bungkusan yang ia bawa sebelumnya. Tangannya membuka bungkusan itu dan mengambil sebuah coklat. "Kau ingin coklat? Sesuatu yang manis bisa mengubah suasana hatimu."


"Tidak!"


Nino meletakkan coklatnya di atas meja dan mengambil sebuah roti sandwich. "Bagaimana dengan ini? Kau pasti lapar."


"Tidak!"


Nino kembali meletakkan roti sandwich ke atas meja dan mengambil sebuah permen. "Mungkin ini?"


Dania menatap lekat bola mata Nino dan menggelengkan kepalanya. "Tidak!"


Sebenarnya, Nino mulai putus asa. Namun, ia tidak ingin menyerah. Kembali ia meletakkan permen di atas meja, kemudian mengambil sebuah apel. "Bagaimana dengan buah? Buah baik untuk kesehatanmu."


Bola mata Dania bergerak mengikuti setiap gerakan Nino. "Kau tidak marah?"


Nino menghentikan tangannya yang sedang mengupas apel, tapi hanya sesaat dan kembali melanjutkan mengupas apelnya. "Aku akan mencucinya sebentar, setelah itu kau bisa memakannya." Nino melangkah menuju kamar mandi tanpa membalas tatapan Dania.


Dania tahu, jika Nino berusaha menghindari dirinya atau lebih tepatnya pertengkaran dengan dirinya. "Aku tidak ingin apapun darimu! Berhenti bersikap seolah semuanya baik-baik saja!"


Langkah Nino terhenti. Ia memejamkan matanya dan berbalik untuk menatap Dania. "Semuanya memang baik-baik saja. Sekarang, kau tidurlah! Aku akan mencuci apel ini."


"Jangan mengurus apel itu lagi!" Nafas Dania tersengal-sengal karena kemarahannya. "Apa bagimu apel itu lebih menarik daripada aku?"


Nino mengernyitkan dahinya, kemudian memaksakan tawanya. "Kau lebih tahu jawabannya."


"Apa maksudmu?" Dania melebarkan matanya. Menuntut penjelasan, tapi Nino sudah menghilang di balik pintu kamar mandi. "Hei!!! Dasar kau om pedofil menyebalkan!!!"


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino 😍


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘

__ADS_1


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2