
"Aku tidak akan mati sebelum menebus semua kesalahanku ...."
Rangkaian kata yang penuh makna, baru saja terurai dari bibir pria tampan di hadapan Dania dan Nino. Meski sudah sebelas tahun berlalu, mereka masih sama-sama ingat apa yang terjadi beberapa tahun silam.
"Kak Angga?" Dania menatap wajah tampan yang terlihat sedikit lelah di hadapannya. "Kapan kau kembali kesini?"
Angga tersenyum kecut. Matanya bergantian menatap Nino dan juga Dania. Mengabaikan rasa terkejut dan juga pertanyaan Dania. "Aku bahagia melihat kau bahagia, Dania. Kau tahu? Bagiku kau bukan hanya adik dari mantan istriku, tapi kau sudah seperti adikku sendiri. Kau adalah auntynya Rayyan. Sedih rasanya mengetahui kau sudah menikah tanpa mengundang kami."
Nino berdecak seraya memutar kedua bola matanya malas. "Jadi? Kau datang karena ingin menunjukkan kesedihanmu itu? Sangat tidak cocok dengan aura tuan mudamu itu!"
Angga tertawa karena ucapan sinis Nino. "Tentu saja bukan begitu, Brother!" Wajahnya tiba-tiba berubah serius. Kepalanya bahkan sedikit tertunduk hingga mengundang rasa penasaran yang semakin besar bagi Dania dan Nino. "Aku ingin mewakili Mikayla untuk meminta maaf pada kalian berdua. Walau bagaimanapun, dia tetap ibu dari putraku. Rasanya, tidak pantas jika aku mengabaikan kesalahan yang dia lakukan pada kalian berdua."
Hati Dania tersentuh karena sikap Angga. Di mata dan juga ingatannya, Angga adalah sosok yang angkuh dan tidak mungkin merendahkan dirinya seperti ini. Namun, ia bahkan rela menundukkan kepalanya demi wanita yang telah melahirkan putranya ke dunia ini.
"Tidak perlu sampai seperti itu, Kak." Perlahan Dania turun dari pangkuan Nino dan menarik kursi yang berhadapan dengan Angga. "Aku dan om Nino sudah benar-benar memaafkan tante Mikayla. Begitu juga dengan kak Deta dan kak Ricky. Kami semua sudah mengikhlaskan kepergiannya. Tidak ada kemarahan, apalagi dendam di hati kami. Kami sudah melupakan semuanya." Dania mengulas senyuman tulusnya.
Angga menghela nafasnya lega. Terlihat seperti ia baru saja melepaskan beban berat di hatinya. "Terima kasih! Kalian semua memang orang-orang yang baik. Meski aku dan Mikayla sudah menyakiti kalian, tapi tetap saja kalian memaafkan kami tanpa syarat."
"Aku hanya memberikan maafku pada Mika, bukan padamu! Ingat itu!" sengit Nino, dengan tangan mengepal di atas meja.
Angga mendengus dan tersenyum miring. "Memangnya aku ada salah apa padamu? Selain Mika yang lebih memilihku karena aku lebih tampan darimu. Dan itu jelas bukan kesalahanku!"
"Apa katamu!!!" Nino mulai meninggikan suaranya. "Mika memilihmu karena kau menggodanya dengan harta."
"Oh, astaga! Come on, Brother! Itu sudah lebih dari dua puluh tahun berlalu dan kau masih dendam padaku? Apa kau begitu mencintai wanita itu?" Angga tersenyum penuh arti ketika melirik reaksi di wajah Dania. "Lihat istrimu! Bukankah dia jauh lebih baik dari cinta pertamamu itu? Seharusnya kau berterima kasih padaku."
Dania tiba-tiba berdiri dan meninggalkan kedua pria menyebalkan di hadapannya. Ia bahkan tidak menghiraukan Nino yang memanggilnya.
"Terima kasih karena sudah membuat masalah baru bagiku!" desis Nino, sebelum berlari mengejar Dania yang sudah masuk ke dalam kamar tidur mereka.
Angga menggelengkan kepalanya melihat Nino yang panik karena kemarahan Dania. Wajahnya mengulas senyuman yang datang bersamaan dengan tetesan air dari matanya.
"Aku benar-benar bahagia dan tidak menyesal sedikitpun pernah merebut wanita itu darimu dulu, Nino sahabatku ...."
__ADS_1
***
"Ayo, cepat, Om!" Dania sedikit berteriak saat Nino menahan tangannya yang ingin berlari.
Nino menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan. Mencoba mengurangi kepanikan dan juga kekesalan akibat menghadapi sikap keras kepala istrinya. "Moony, meski kita datang terburu-buru, kita tidak akan bisa membantu apapun."
"Tapi aku ingin melihat -"
"Melihat ibunya Tary menjerit karena kesakitan? Kau yakin, hal itu tidak akan membuatmu menjadi lebih khawatir saat akan melahirkan nanti?" Nino sudah mulai mempengaruhi Dania agar tidak lagi berusaha untuk berlari. "Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berdoa untuk keselamatan kakakmu dan juga bayinya. Lagipula, yang di butuhkan ibunya Tary saat ini adalah Ricky. Bukan kita."
Dania mengernyitkan dahinya ketika melihat Nino terkekeh geli setelah menceramahi dirinya panjang lebar. "Kenapa kau tertawa?"
"Tidak ada apa-apa." Nino menuntun Dania untuk duduk di kursi tunggu yang berada di koridor rumah sakit. "Aku hanya teringat saat Tary lahir ke dunia ini. Semua orang panik, tapi hanya Ricky yang terlihat tenang. Aku tahu sebenarnya dia juga panik, tapi dia berusaha mati-matian untuk menutupinya."
Mata Dania berbinar mendengarkan cerita Nino, sebab saat Tary lahir ia sedang berada di asrama. "Lalu? Bagian mana yang membuatmu tertawa?"
Nino menoleh dan menatap Dania, terlihat jika ia sedang berusaha menahan tawanya. "Bagian saat dokter memintanya untuk masuk ke ruang bersalin. Ricky masuk dengan penuh percaya diri, tapi siapa sangka dia keluar dengan sisa nyawa yang hanya separuh."
Dania semakin di buat bingung, masih belum mengerti inti dari cerita Nino. "Kenapa?"
"Jadi, itu sebabnya kak Ricky sempat marah saat tahu kakak hamil lagi? Itu karena dia tidak ingin melihat kakak berjuang lagi." Dania manggut-manggut dengan bola mata yang bergerak ke kiri dan ke kanan.
"Tepat sekali!" Nino mencuri satu kecupan di bibir Dania yang langsung mengundang tatapan tajam dari istrinya itu. "Kau semakin terlihat menggoda."
Dania mendengus. "Aku masih marah padamu. Jangan coba-coba merayuku!"
"Moony, kau jangan percaya pada si brengsek Angga itu! Dia sengaja ingin membuat kita bertengkar. Sama seperti kakak iparmu yang sedang berjalan ke arah kita." Nino menunjuk ke arah belakang Dania dengan dagunya.
Dania membalikkan tubuhnya dan melihat Ricky yang sedang berjalan ke arah mereka dengan wajah lelah dan juga bahagia yang tiada tara.
"Kenapa kalian disini?" Ricky menaikkan sebelah alisnya saat bergantian menatap Dania dan Nino.
Nino tersenyum mengejek. "Kami tidak ingin mendengar teriakanmu saat menemani ibunya Tary melahirkan."
__ADS_1
Ricky berdecak nyaring. "Aku do'akan semoga kau lebih menderita daripada aku! Ingat! Dua bulan lagi Dania melahirkan dan kau harus bersiap."
"Aku tidak ak -"
Dania langsung memotong ucapan Nino. "Bagaimana keadaan kakak? Apa bayinya sudah lahir?"
"Sudah," jawab Ricky antusias. "Keponakanmu laki-laki."
Dania bahagia bukan main. Mulutnya terus mengucapkan rasa syukur tiada henti, bahkan sampai pintu ruang perawatan Deta.
"Kakak!" Dania ingin berlari untuk menyongsong Deta di bed pasien, tapi Nino segera menahannya.
"Hati-hati, Moony!" Nino melepaskan tangannya saat melihat kekesalan di wajah Dania.
"Kak Nino benar, Sayang. Hati-hati! Kau sedang hamil besar." Deta ikut menasihati Dania.
Dania mengangguk, meski hatinya ingin sekali membantah. Ia melangkah menuju box bayi yang berada tak jauh dari bed pasien Deta. Tangannya terulur untuk menyentuh wajah bayi mungil nan lucu di dalamnya.
"Bukankah dia sangat tampan?" tanya Nino, ikut mengusap wajah menggemaskan anggota baru keluarga Sanjaya.
Dania mengangguk. Tatapannya masih terpusat pada wajah keponakan barunya. Ini kali pertama Dania menyaksikan sendiri kelahiran anak dari kakaknya. Dahulu, ia hanya bisa mendengar kabar tentang keluarganya dari mulut Gibran. Wajah-wajah mereka hanya bisa ia lihat melalui potret-potret yang di bawa oleh pria itu. Sekarang, rasanya Dania begitu bahagia karena bisa melihat dan mendengar bahkan menyentuh bayi tampan itu dengan tangannya sendiri.
"Siapa namanya, Kak?" tanya Dania, tanpa melepaskan pandangannya dari keponakan barunya itu.
Ricky dan Deta saling berpandangan, kemudian tersenyum.
"Dicky Riady Sanjaya ...."
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino π
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
__ADS_1
I β€ U readers kesayangan kuhh