Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
BENDA PENTING


__ADS_3

Kesunyian yang berbalut tangis bahagia menjadi melodi yang terdengar pilu, tapi juga merdu. Ada getaran yang tak bisa di jelaskan oleh nalar walaupun hati sebenarnya sangat mengerti.


Tangan Dania gemetar, seluruh tubuhnya juga ikut gemetar saat ia memegang sebuah benda kecil yang bahkan ukurannya tidak lebih besar dari jari telunjuknya.


"Benarkah ini ...," Dania menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Air matanya kembali mengalir, meski kali ini tanpa suara.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Moony, kau di dalam?" Suara parau Nino terdengar menggema di dalam kamar mandi. Sepertinya ia baru saja terjaga dan tidak menemukan Dania di sampingnya.


Dania menoleh ke arah pintu dengan mata terbelalak. Dengan cepat ia menyembunyikan benda di tangannya ke dalam laci berisi handuk. "Iya, Om!"


Ketukan di pintu berhenti. Tanda Nino sudah tidak khawatir lagi dan menyingkir dari depan pintu.


"Aku akan memastikannya dulu, setelah itu baru aku akan memberikan kejutan pada om pedofil." Senyum di wajah Dania, menggantikan air mata yang sempat membuat wajahnya memerah.


***


Beberapa hari ini, Dania menolak pergi ke dapur. Entah apa yang terjadi padanya. Setiap hari wanita itu selalu membuat alasan agar tidak perlu pergi ke dapur. Namun, pagi ini wajah cantik itu sudah siap tempur di dapur dengan senyum di wajahnya.


"Nyonya, biar saya saja!" Rossi berusaha mengambil spatula di tangan Dania, tapi gagal karena Dania langsung mengelak.


Tak menghiraukan para pelayan yang bingung dengan tingkahnya, Dania terus saja memasak beberapa menu makanan untuk sarapan.


"Apa kau melihat istriku?" Telinga Dania menangkap suara berat milik suaminya. Sengaja tidak ingin menoleh, Dania masih tetap melanjutkan aktivitasnya dengan penuh sukacita.


Seorang pelayan setengah berlari menghampiri Nino. "Nyonya sedang di dapur, Tuan."


"Di dapur?" Nino mengernyitkan dahinya. Sedikit heran dengan jawaban pelayan itu. "Kau yakin?"


Pelayan itu mengangguk dan memberikan jalan pada Nino menuju dapur.


Benar saja! Begitu Nino sampai di dapur, ia melihat Dania yang tengah menikmati perannya sebagai koki hari ini. Dengan satu kibasan tangan, Nino meminta para pelayan untuk pergi.

__ADS_1


Langkah kaki Nino hampir sampai dengan tangannya yang terulur ingin memeluk tubuh Dania dari belakang.


"Stop !!!" Tiba-tiba Dania berbalik dan membuat jarak antara dirinya dengan Nino menggunakan tangannya yang tentu saja di sambung panjangnya spatula. "Jangan membuatku kehilangan mood memasak!"


Nino terpaku. Matanya menyimpan banyak pertanyaan, tapi tak sempat terucap karena Dania sudah memberinya isyarat untuk diam.


'Hah! Kalau tahu seperti ini, akan lebih baik jika kau tidak perlu memasak untukku ...'


***


Koridor rumah sakit yang nampak lengang, begitu kontras dengan suara nyaring dari ketukan sepatu yang di kenakan Dania.


Hati Dania berdebar, bahkan setelah ia sampai di depan pintu ruangan Shanum yang sudah menunggunya. Namun, tekad yang kuat membuat Dania akhirnya berani untuk mengetuk pintu.


"Masuk!" Jawaban lembut dari dalam langsung membawa tubuh Dania masuk ke dalam ruangan yang tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman bagi pasien seperti dirinya.


"Kak Shan," cicit Dania dengan wajah tertunduk.


Shanum langsung berdiri dan memeluk Dania. "Apa kabar, Sayang?"


Shanum mengerti suasana hati Dania. Niat awalnya yang ingin sedikit menggoda Dania pun, sepertinya harus tertunda melihat sikap Dania saat ini. "Kami juga merindukanmu, Dania. Dimana tuan Ferdinan? Dia tidak mengantarmu?"


Dania menghela nafasnya seraya menjatuhkan bokongnya di kursi. "Dia tidak tahu aku kesini. Aku mengatakan jika kita akan pergi ke mall. Dia bahkan tidak tahu aku melakukan tes seperti yang Kakak sarankan."


Bola mata Shanum membuat sempurna. "Kenapa seperti itu? Apa kalian bertengkar?"


"Tidak, Kak," Dania menggelengkan kepalanya, kemudian melipat tangannya di atas meja sebagai bantalan untuk dahinya. "Aku bingung, Kak Shan."


Jujur saja, sekarang Shanum yang di buat bingung oleh adik iparnya ini. Baru kali ini ia melihat seorang wanita bersuami dengan status pengantin baru, yang bersikap seperti Dania.


Dania kembali mengangkat kepalanya dan melihat Shanum yang baru saja kembali menduduki kursi di hadapannya. "Aku takut, Kak."


Punggung Shanum bersandar pada kursi kebesarannya. Matanya menatap lekat wajah adik iparnya yang baru beberapa bulan ini dekat dengannya. Terdengar Shanum menghembuskan nafasnya yang terasa berat sebelum ia menegakkan tubuhnya. "Dania sayang, semua ini anugerah dari Tuhan. Kau harus bahagia dan menerimanya. Aku yakin tuan Ferdinan akan sangat senang mendengar kabar ini. Kau tahu? Dito saja sampai tersenyum bahagia saat kau menghubungiku hari itu."

__ADS_1


"Benarkah?" Sorot mata Dania memancarkan kebahagiaan dan juga rasa tidak percaya, tapi detik berikutnya bahunya kembali turun. "Tapi itu kak Dito, belum tentu dengan om pedofil."


Shanum mengerutkan keningnya. "Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?"


"Tidak tahu, Kak Shan. Aku hanya merasa jika dia masih mencintai tante Mikayla dan juga segala kenangan masa lalunya." Dania mendongakkan kepalanya, berusaha menahan air mata yang akan keluar. "Selama ini, om pedofil juga tidak pernah membahas tentang anak atau apapun itu yang berhubungan dengan anak-anak."


"Itu hanya kekhawatiranmu saja, Sayang," ucap Shanum lembut mencoba menenangkan Dania. "Sekarang, mana hasil tesmu? Kau sudah melakukannya bukan? Pasti hasilnya seperti yang aku katakan." Pancaran bahagia kembali menghiasi wajah Shanum.


Dania menatap hampa tangan Shanum yang terulur di hadapannya, kemudian membuka tasnya dan mencari sesuatu yang di minta oleh kakak iparnya itu.


"Dania?" Shanum menggerak-gerakkan jemarinya, meminta Dania memberikan yang ia minta.


"Tidak ada, Kak!" Dania mengeluarkan semua isi tasnya di atas meja kerja Shanum. "Aku lupa dimana aku meletakkannya."


Hampir saja Shanum nyaris terjungkal dari kursinya mendengar jawaban Dania. Bagaimana bisa ada wanita seceroboh Dania yang lupa meletakkan benda sepenting itu.


Ketika Shanum baru akan membuka mulutnya, tiba-tiba Dania menepuk dahinya. "Astaga! Aku memasukkannya ke dalam laci di kamar mandi pagi tadi."


"Kalau begitu tidak ada masalah!" Shanum mendesah lega. "Itu artinya, kau tidak perlu repot-repot untuk mencarinya. Sekarang, katakan padaku apa hasilnya?"


"Hasilnya ...."


***


Rasa lelah yang teramat sangat membawa langkah kaki Nino untuk langsung ke kamar dan membersihkan diri. Sebenarnya, rasa lelah di tubuhnya akan hilang hanya dengan pelukan Dania. Namun, sayang istri kecilnya itu sedang berjalan-jalan dengan kakak iparnya. Jadi, biarlah air saja yang menyegarkan tubuhnya untuk saat ini.


Dengan langkah malas Nino memasuki kamar mandi dan berniat untuk mengambil handuk, tapi di saat yang bersamaan sebuah benda terlempar keluar dan jatuh tepat di kakinya. Nino seketika membungkuk untuk mengambil benda tersebut hingga matanya terbelalak tak percaya saat melihat apa yang ada di tangannya.


"Bukankah ini?"


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino 😍

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2