Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
KEPERGIAN


__ADS_3

Saat ada salah satu anggota tubuh yang terluka, maka anggota tubuh yang lain juga ikut merasa. Sama seperti sebuah keluarga. Saat ada yang terluka, maka yang lain juga ikut berduka.


Dania masih sesenggukan di samping tubuh lemah Mikayla yang tak berdaya. Wanita yang menjadi satu-satunya keluarga Dania dari pihak ibunya itu, di nyatakan koma oleh dokter setelah mengalami pendarahan di otaknya akibat kecelakaan tunggal.


"Tante ...," Rintihan Dania terdengar memilukan di antara ritme suara monitor yang menunjukkan kondisi Mikayla. "Maaf ... Maafkan aku!"


Penyesalan Dania begitu dalam. Andai waktu bisa di putar kembali, Dania ingin memiliki kesempatan untuk berbicara dan berbagi cerita dengan adik dari ibu kandungnya itu. Daripada ia harus berebut cinta dengan tantenya sendiri.


"Moony?" Nino menyentuh bahu Dania yang terlihat gemetar karena menangis. "Ayo, kita pulang! Kau harus istirahat. Ingat! Kau tidak boleh terlalu lama berada di rumah sakit."


Tidak ada jawaban yang di berikan Dania, melainkan isak tangis yang semakin terdengar.


Nino menghela nafasnya dan membelai kepala Dania. "Tidak ada yang perlu di sesali, Moony. Semua ini adalah jalan yang telah di pilih oleh Mikayla sendiri. Kau, aku, atau siapapun tidak berhak di salahkan atas apa yang telah terjadi dalam hidupnya."


Mata Dania terpejam. Apa yang baru saja di katakan Nino memang benar, tapi Dania tetap saja merasa bersalah. "Akulah sumber masalah dalam hidupnya."


"Tidak!" Nino membalikkan tubuh Dania dengan paksa agar mau menatapnya. "Sudah kukatakan bukan? Itu adalah jalan yang di pilih sendiri oleh Mikayla."


"Tapi dia tidak akan seperti ini jika aku tidak pernah ada!" Dania menatap tajam ke arah Nino yang mengusap wajahnya kasar. "Tante Mikayla mengorbankan segalanya untuk aku dan ibuku. Dendamnya kepada papa begitu besar sehingga membuatnya jadi seperti ini. Kehadiranku membuat gadis ceria sepertinya menjadi wanita yang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya."


Air mata Dania membuat Nino lemah. Ia menyisir rambutnya dengan jarinya sebelum berlutut di hadapan Dania. "Jangan berkata seperti itu, Moony!"


Mata Dania menatap tangannya yang di genggam Nino. Hatinya terasa hangat setiap kali mendapat perlakuan seperti ini dari suaminya.


"Kau tidak minta untuk dilahirkan dari rahim Anika bukan?" Nino mendongak. Menatap langsung ke bola mata Dania. "Kau juga tidak pernah meminta Mikayla mencari dirimu. Kau bahkan tidak tahu apapun tentang masa lalu keluarga ibumu. Lalu, dimana letak kesalahanmu?"


Dania diam. Meski air mata terus mengalir di pipinya, tapi pikiran Dania tetap bekerja. Sejak ia mendengar cerita tentang Mikayla dan kehamilan Anika, rasanya Dania merasa telah menjadi aib dan juga masalah terbesar untuk kedua kakak beradik itu. "Aku -"


"Kau hanya anak manis yang memberi warna indah untuk semua orang." Nino menghapus air mata Dania dengan ibu jarinya. "Tersenyumlah! Tidak ada manusia yang lahir di dunia ini tanpa memiliki tujuan, termasuk dirimu. Kau istimewa untukku dan untuk orang-orang yang mencintaimu. So, jangan memikirkan hal-hal yang hanya akan membuatmu terluka!"


Dania benar-benar sudah tidak sanggup lagi. Tangannya terbuka dan langsung menghambur memeluk Nino. Tak peduli jika pria itu hampir terjungkal karena dirinya.


"Hah! Moony." Nino terkekeh karena kelakuan Dania dan juga dirinya yang terlihat tidak siap menangkap tubuh istrinya yang semakin berisi.


Dalam pelukan Nino, Dania tersenyum. Lega rasanya memiliki tempat untuk bersandar dan berkeluh kesah seperti ini. Lagi-lagi, Dania menemukan alasan untuk tetap bertahan di tengah kenyataan pahit hidupnya.


"Terima kasih banyak, Om pedofilku yang tampan ...."

__ADS_1


***


Satu bulan kemudian ...


Dania baru menyelesaikan ritual malamnya sebelum tidur saat Nino membuka pintu kamar tidur mereka.


"Apakah ada bidadari yang baru turun dari langit?" Nino sudah melingkarkan tangannya di pinggang Dania dan menjatuhkan kepalanya di bahu Dania.


Dania mencebik dan memutar bola matanya malas. "Basi!"


"Apanya?" Nino bertanya dengan mata terpejam, sementara tangannya sudah mulai menjelajah kemana-mana.


"Rayuanmu." Dania menahan tangan nakal Nino tepat di atas perutnya.


Nino terkekeh seraya membuka matanya, tapi tetap tidak ingin menyingkirkan tangannya dari atas perut Dania. "Kapan aku bisa bertemu dengannya?"


"Nanti saat dia sudah lahir!" Kejam sekali jawaban Dania hingga mengundang kernyitan di dahi Nino. "Kenapa wajahmu seperti itu, Om pedofilku yang tampan?"


Jelas Dania sudah tahu jawabannya. Ia hanya bermaksud menggoda suaminya yang terkadang polos, tapi sebenarnya menyimpan banyak jebakan.


"Itu sangat lama, Moony." Nino membalikkan tubuh Dania dan menatapnya penuh harap. "Tidak bisakah bertemu sekarang saja?"


Tiba-tiba saja mata Nino berbinar. Seperti menemukan kepingan puzzle yang hilang. "Tak kenal, maka tak sayang. Ayo, kenalkan aku pada anak kita!"


"Aakhh!" pekik Dania saat tubuhnya sudah melayang dan mendarat di atas tempat tidur.


"Malam ini waktunya untuk kita bertiga ...."


***


Pagi hari yang indah telah menyambut sepasang anak manusia yang masih bergelung di balik selimut yang menutupi tubuh keduanya.


Andai tidak ada suara nyaring itu, mereka pasti masih berpelukan dengan erat.


Dania mengerjapkan matanya. Menyesuaikan penglihatan dengan cahaya yang masuk melalui celah tirai. Tangannya menggapai nakas untuk mengambil ponsel.


"Kak Ricky?" gumam Dania saat melihat layar ponselnya. "Selamat pagi, Kak." Dania mendengarkan apa yang di ucapkan kakaknya dari seberang panggilan hingga matanya terbuka lebar. "Tidak! Tidak mungkin!"

__ADS_1


Nino yang mendengar Dania berteriak langsung terbangun dan merengkuh tubuh gemetar istrinya. "Moony, ada apa?"


"Tan- Tante Mikayla -" Dania tidak jadi melanjutkan kalimatnya karena Nino sudah mengambil ponsel di tangannya dan berbicara dengan Ricky.


Terdengar Nino menghela nafas dengan mata terpejam. "Baiklah! Mungkin semua ini yang terbaik untuknya. Aku akan kesana setelah Dania sudah lebih tenang."


Nino semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Dania. Tak ada yang ingin mereka bicarakan. Yang di perlukan saat ini hanyalah waktu untuk melepaskan dan juga mengikhlaskan.


***


Nuansa warna hitam mendominasi di sebuah pemakaman yang sudah di kerumuni banyak orang. Rasa sesak memenuhi relung hati saat membaca nama yang tertulis pada batu nisan.


Semua orang yang hadir di sana, memiliki kenangan masing-masing dengan seseorang yang telah beristirahat dengan damai.


"Mika ...," Ricky yang pertama kali bersuara setelah satu persatu para pelayat pergi dan meninggalkan orang-orang terdekat saja. "Maafkan aku! Di saat terakhirmu kau hanya ingin aku melindungimu, tapi aku justru menolakmu dan meninggalkanmu seorang diri. Maafkan aku!" Ricky mengusap hidungnya. Entah apa yang ia sembunyikan di balik kacamata hitamnya.


Deta merangkul bahu Ricky. "Mas, semua ini sudah takdir Mika. Dia sudah pergi dengan tenang karena kita semua sudah memaafkan dirinya."


"Deta benar, Sayang," sahut Rika. Ikut menenangkan putranya. "Kematian seseorang sudah di tentukan jauh sebelum dia dilahirkan. Jadi, tidak ada yang bersalah dalam hal ini."


Sementara di sisi lain, Dania masih menatap hampa gundukan tanah di hadapannya. Hatinya merasa lega dan juga sesak di saat yang bersamaan.


"Tante, bangunlah! Aku sudah memaafkanmu. Dania keponakanmu sudah menerimamu sebagai tantenya. Tante, mari kita hidup bahagia bersama dan mengenang semua hal tentang ibuku. Apa kau tidak merindukannya? Kau pasti sangat merindukannya bukan? Maaf, Tante, selama ini aku terlalu egois. Aku tidak menyadari jika kau kesepian dan butuh teman. Maafkan aku!"


Dania teringat ucapannya saat menemui Mikayla terakhir kali. "Apa kau begitu merindukan ibuku sampai tidak sabar untuk bertemu dengannya?"


"Mikayla sudah tenang, Moony. Aku yakin, dia tersenyum melihat kita semua berkumpul dan mengantarnya." Nino merangkul bahu Dania dan mendekapnya erat.


Semua orang menyetujui ucapan Nino dan mencoba mengikhlaskan kepergian Mikayla. Wanita cantik yang baik dan juga ceria serta bersahabat.


Mungkin Mikayla banyak melakukan kesalahan dalam hidupnya, tapi tak ada yang bisa menyangkal jika seorang Mikayla juga membawa kebahagiaan serta kehangatan dalam ingatan manis setiap orang yang mengenalnya.


"Selamat jalan, Mikayla. Semoga kau menemukan kebahagiaan yang selama ini kau rindukan ...."


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino 😍

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2