
Dania membuka matanya dengan malas. Seutas senyum tipis lantas terlukis di wajah cantiknya yang masih mengantuk. Sementara, tangan Dania berusaha mengusap sisi kosong yang ada di sebelahnya.
"Dimana dia?" gumam Dania, kemudian mengamati seisi kamar.
Melihat tidak adanya kehadiran sosok yang di carinya di dalam kamar membuat Dania segera mendudukkan tubuhnya dan bersandar pada tempat tidur. Berniat untuk turun dan mencari sosok tersebut. Namun, niat itu urung Dania lakukan ketika rasa sakit menyerang dirinya.
"Aduh!!!" pekik Dania, meringis merasakan sakit ketika hendak melangkah.
Perlahan Dania melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Meskipun rasa sakit menguasai tubuhnya, tapi Dania sudah terbiasa melawan rasa sakit seorang diri. Baginya, menjadi kuat adalah hal yang terpenting dan sangat membantu dalam situasi apapun.
"Om pedofil benar-benar tidak bisa di andalkan!" gerutu Dania, setelah ia keluar dari kamar mandi. "Awas kau, Om! Tunggu saja apa yang akan aku lakukan padamu!"
***
Haaachiii ...
Nino tiba-tiba saja bersin setelah menertawakan Ricky yang memasang wajah kesalnya karena ucapan Nino.
"Lebih baik aku pulang!" ucap Ricky, kemudian berdiri dan memakai jasnya.
"Seharusnya, kau diam di rumah dan membujuk ibunya Tary. Bukannya menggangguku dan Dania." Nino menggosok-gosok hidungnya hingga memerah.
Ricky menghela nafasnya. "Aku ingin melakukan itu, tapi Deta benar-benar marah kali ini. Dan semua itu karena dirimu!"
Nino terkekeh dengan wajah yang mengundang bogem mentah dari Ricky. "Itulah akibatnya jika mengganggu hubungan orang lain."
"Hubungan siapa -" Ricky kembali mengatupkan bibirnya ketika melihat Dania menuruni tangga.
"Om!" panggil Dania, matanya masih melihat ke bawah tempatnya berpijak. Masih belum menyadari kehadiran Ricky di rumahnya.
Tubuh Nino seolah tertarik magnet untuk mendekat pada Dania. "Aku datang, Moony!"
Dari kejauhan, Ricky memperhatikan cara berjalan Dania yang sedikit berbeda.
'Kenapa Dania berjalan seperti itu? Apakah dia baru saja terjatuh atau ....' Batin Ricky menerka-nerka. Namun, tak lama setelahnya ia justru tersenyum bahagia. "Aku akan pulang sekarang dan menunggu kabar baik dari kalian!" ucapnya kegirangan.
__ADS_1
Mendengar suara yang tidak asing, sontak membuat Dania menaikkan pandangannya dan melihat Ricky yang berjalan. Lalu menghilang di balik pintu. "Kak Ricky? Sejak kapan dia disini?"
Tangan Nino meraih tubuh Dania. Berniat untuk menggendongnya, tapi Dania segera menepis tangannya. "Kenapa, Moony?"
"Jangan berlagak romantis! Kau bahkan meninggalkan aku setelah malam pertama kita." Wajah Dania memberengut ketika berjalan melewati Nino.
Sejujurnya, Nino tidak ingin meninggalkan Dania di dalam kamar. Namun, Nino juga tidak bisa membiarkan Ricky terus menunggu dirinya. Dan sekarang, ia harus menghadapi amarah Dania yang akan segera meledak.
Nino mengikuti langkah Dania menuju dapur. "Moony, sungguh minta maaf! Aku tidak berniat melakukan itu pada-"
"Tapi kau sudah melakukannya!" tukas Dania, memotong ucapan Nino.
"Aku tahu, Moony. Itu sebabnya aku minta maaf." Nino menyatukan kedua tangannya, meski Dania tidak melihatnya.
Dania geram bukan main. Bisa-bisanya Nino meminta maaf darinya dengan semudah itu. Dengan amarah yang sudah tidak tertahan, Dania berbalik dan menatap Nino.
"Kau tidak mengerti apa yang aku inginkan!" ucap Dania kesal.
Nino tersenyum simpul. "Katakan! Apa yang kau inginkan, Istri kecilku yang menggemaskan?"
"Aku tidak ingin apapun!" sanggah Dania, kemudian hendak berbalik kembali sebelum niatnya untuk membalas perbuatan Nino pupus.
Tangan besar Nino melingkari pinggang Dania, kemudian ia menjatuhkan kepalanya di bahu Dania. Sesekali Nino menghirup aroma tubuh Dania. Tak peduli ada banyak mata yang menyaksikan tingkahnya.
"Jangan marah untuk hal-hal sepele, Istri kecilku!" bisik Nino, nafasnya terasa hangat di leher Dania.
'Apa katanya? Hal sepele?' Batin Dania geram. "Kau sebut masalah ini sepele!" sergah Dania, seketika berbalik dan memaksa Nino menghentikan aktivitasnya.
Nino mengerutkan dahinya ketika melihat amarah Dania yang semakin besar. "Aku tidak mengerti, Moony. Aku hanya tidak ada di sampingmu saat kau membuka mata dan kau semarah ini? Aku pikir ini bukanlah masalah besar, tapi jika bagimu ini adalah masalah. Maka, aku sungguh-sungguh minta maaf!"
"Ini bukan hanya tentang ketiadaan dirimu saat aku membuka mata!" bantah Dania, suaranya memekik karena amarah yang membakar dirinya. "Tapi ini tentang impianku! Aku membayangkan banyak hal di pagi hari pertamaku sebagai seorang istri seutuhnya, tapi kau bahkan tidak ada di sisiku. Aku pikir saat aku bangun, aku akan merasakan kehangatan tangan suamiku yang memelukku. Kemudian, dia akan mencium keningku dan mengucapkan selamat pagi. Sepertinya, khayalanku terlalu tinggi! Aku bahkan harus menyeret tubuhku sendiri ke dalam kamar mandi akibat dari perbuatanmu!"
Mata Nino terbelalak. Tidak menyangka jika Dania akan seterbuka ini pada dirinya. "Moony ... Aku -"
"Sudahlah!" potong Dania, rasanya ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa malunya akibat lidahnya yang tidak bisa menahan diri.
Dania menghela nafasnya dengan berat. Matanya bahkan terpejam sesaat sebelum menatap wajah Nino yang di penuhi rasa bersalah dan juga salah tingkah. Dengan sedikit memaksa, Dania tersenyum dan menyentuh pipi Nino dengan sebelah tangannya.
__ADS_1
"Pergilah ke kamar dan bersihkan dirimu! Aku akan membuatkan sarapan." Dania berbalik untuk melanjutkan langkahnya menuju dapur, tapi tangannya tertahan oleh Nino. "Kau butuh sesuatu?" tanyanya.
Bibir Nino bungkam. Hanya jakunnya yang bergerak naik turun karena salivanya yang begitu sulit tertelan.
'Aku juga ingin merasakan pagi yang indah bersamamu, Moony, tapi aku tidak bisa mengatakan itu karena aku tahu kau masih menyimpan amarah meski bibirmu tersenyum padaku.' Batin Nino.
"Om?" Dania menggerakkan tangannya dan langsung mengembalikan kesadaran Nino.
"Iya, Moony." Mata Nino terlihat tidak fokus.
"Kau ... Baik-baik saja?" tanya Dania, matanya memicing untuk mengamati setiap pergerakan Nino.
Nino menganggukkan kepalanya lemah, kemudian berjalan menuju kamar utama tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
'Apa aku terlalu kasar padanya? Atau mungkin kata-kataku telah melukai hatinya?'
***
Dentingan sendok saling bersahutan, mengisi suasana sarapan pagi Dania dan Nino. Mereka hanya diam dan saling menatap satu sama lain.
"Ehem ...," Dania berdehem untuk mencairkan suasana, tapi Nino hanya menatapnya dengan sebuah kerutan di dahinya. "Aku minta maaf, Om!"
Nino meletakkan sendoknya. "Untuk apa?"
"Karena aku rasa kata-kataku telah melukai hatimu. Jadi, aku harus meminta maaf padamu. Sekali lagi, aku minta maaf dan tolong jangan di masukin ke hati apa yang aku katakan padamu sebelumnya!" jelas Dania, matanya menatap lekat bola mata Nino.
Sebuah senyuman terbit di wajah tampan Nino. "Apa kau pikir aku marah padamu? Itu sebabnya kau meminta maaf padaku bukan?"
Dania terkejut karena Nino bisa dengan tepat menebak isi pikirannya. Ia pun mengangguk dengan sorot mata menuntut penjelasan.
"Kau ini aneh, Moony!" Nino tertawa. Menegaskan rahangnya yang kokoh dan menawan. "Bukankah kau yang sedang marah padaku? Akulah yang melakukan kesalahan, bukan dirimu. Aku diam karena aku tahu aku salah dan tidak ada gunanya aku terus bicara dan membela diri. Yang ada nanti, kau akan semakin marah. Bukannya memaafkan aku. Dan kau tahu? Amarahmu itu bukan hanya membakar dirimu, tapi juga diriku karena kita satu."
Mata Dania berkaca-kaca. Ada perasaan hangat yang menyelimuti hatinya setiap kali ia merasakan cinta Nino yang begitu besar padanya. Bukan hanya cinta, tapi juga rasa hormat dan sikap melindungi Nino yang membuat Dania akhirnya luluh serta memutuskan untuk memberi tempat pada pria itu dalam hidupnya.
Hallo semuanya 🤗
Keep healthy and happy 😘
__ADS_1