Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
JAGA JARAK


__ADS_3

Keluarga selalu menjadi tempat terakhir untuk pulang bahkan saat seluruh dunia berbalik dan meninggalkan dalam kesendirian.


Pemikiran akan betapa berharganya arti sebuah keluarga membuat Dania rela menelan semua mimpi dan cinta pertamanya hanya untuk tetap mempertahankan keluarganya. Bukan hanya tentang materi ataupun status, karena bagi Dania semua itu bukanlah hal yang penting. Wanita yang di besarkan dalam lingkungan yang rumit itu selalu menginginkan sebuah kehangatan dalam keluarga. Ia hanya ingin memiliki tempat untuk bercerita dan bersandar di kala ia lelah menjalani hari. Dania juga ingin melihat senyuman dan mendengar tawa dari orang-orang yang ia sayangi. Itu sebabnya Dania berusaha dengan keras agar ia tidak kehilangan semua itu dalam hidupnya.


Perang dingin antara dirinya dan Nino yang terjadi semalam, memaksa Dania berpikir keras untuk menyelamatkan rumah tangga yang rapuh itu.


"Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus membujuknya?" Dania berjalan mengelilingi kamarnya, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. "Tidak! Dia akan besar kepala dan berpikir jika aku telah menerima pernikahan ini." gumamnya.


Di tengah kegalauan hati yang melanda Dania terdengar seseorang mengetuk pintu dengan sopan.


TOK ... TOK ... TOK ...


"Siapa?" tanya Dania, setengah berteriak dari dalam kamar.


"Saya Rossi, Nyonya," jawab orang di luar pintu.


Dania bernafas lega. "Masuklah, Rossi!"


CEKLEK ...


Pintu terbuka bersamaan dengan datangnya Rossi yang membawakan sarapan untuk Dania.


"Ini untukku?" tanya Dania dengan dahi berkerut.


Rossi tersenyum dan meletakkan makanannya di atas meja. "Iya, Nyonya. Tuan meminta saya membawakan sarapan untuk anda."


'Untuk apa dia melakukan itu?' Batin Dania.


Begitu banyak pertanyaan berkelebatan di dalam kepala Dania, tapi ia tak ingin melibatkan siapapun dalam rumah tangganya sehingga Dania hanya tersenyum simpul ketika mendengar jawaban Rossi.


"Semoga lekas sembuh, Nyonya," ucap Rossi seraya melangkah mundur.


Ucapan Rossi membuat Dania semakin bingung dan tak bisa lagi menyembunyikan rasa penasaran yang menggelayuti pikirannya.


Dania melirik makanan di atas meja, kemudian menatap Rossi dengan mata memicing. "Apa maksud ucapanmu, Rossi? Kau ingin aku sakit?"


"Tidak, Nyonya." Wajah Rossi memucat. "Sa- Saya hanya mengkhawatirkan keadaan anda. Tuan tadi mengatakan jika anda sedang kurang sehat sehingga tidak bisa turun untuk sarapan." jelasnya.


Kedua tangan Dania terlipat di dada. "Jadi begitu? Sekarang katakan, dimana tuanmu itu?"


"Tuan sedang minum kopi di bawah, Nyonya." Rossi menunjuk ke arah pintu dengan ibu jarinya.


Tanpa menghiraukan Rossi, Dania melangkah keluar dengan piyama yang masih melekat di tubuhnya.


Suara langkah kaki Dania yang menuruni tangga sempat menarik perhatian beberapa pelayan di rumah besar Ferdinan, tapi lagi-lagi Dania tak menghiraukan hal itu. Matanya hanya terfokus pada meja makan yang kini sudah kosong dan hanya menyisakan segelas kopi yang meninggalkan jejak Nino disana.

__ADS_1


"Dimana dia?" tanya Dania kesal, pada seorang pelayan yang sedang membersihkan meja makan.


Pelayan itu menatap Dania kebingungan. "Tuan, Nyonya?"


Dania mengangguk. "Iya! Dimana tuanmu?"


"Tuan baru saja keluar bersama nona Liza," jawab pelayan itu seraya menunjuk ke arah pintu utama.


'Heh! Jadi kau lebih suka menghabiskan waktu bersama sekretarismu yang cantik itu daripada bicara denganku, Om?'


***


Pagi hari yang sejuk memaksa sepasang mata untuk terbuka dan menyambutnya. Semburat cahaya mentari yang terhalang oleh tirai, sedikitnya membantu sepasang mata itu agar tidak kehilangan kemampuannya.


Terdengar erangan dari bibir pemilik sepasang mata itu ketika ia memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan.


Sepanjang malam tertidur di kursi dengan posisi terduduk membuat Nino merasakan seluruh tubuhnya kaku.


"Ya ampun, pinggangku!" keluh Nino, ketika merasakan nyeri di tubuhnya.


Jam tangan mewah yang melingkar di tangannya menjadi pemandangan pertama yang di lihat Nino. Sudut bibirnya menarik sebuah senyuman, sementara matanya justru menatap nanar.


"Apakah Moony sudah bangun?" tanya Nino pada dirinya sendiri.


Kaki Nino melangkah menuju pintu rahasia yang biasa ia gunakan, tapi sesuatu seolah menahannya dan menghentikan Nino untuk melakukan kebiasaannya tersebut.


Menyadari siapa dirinya di hati Dania saat ini sedikitnya membuat Nino berusaha menarik dirinya dan menjaga jarak dari wanita yang ia cintai itu. Bukan karena Nino sudah tidak mencintai Dania lagi, melainkan ia tidak ingin Dania berpikir bahwa dirinya telah mengikat Dania ke dalam pernikahan yang menyedihkan.


"Jika kau belum bisa menerima diriku, maka aku yang harus bersabar menunggumu datang padaku." Nino menatap potret Dania di meja kerjanya.


Cukup lama Nino hanyut dalam lamunan dengan potret Dania yang menjadi fokusnya hingga ponselnya bergetar dan menunjukkan jadwalnya hari ini yang di kirimkan Liza.


Nino menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Kau pembohong, Liza! Katamu aku akan bisa menghabiskan waktu yang indah dengan istriku setelah meeting sialan itu, tapi kau tetap saja membuat schedule sepadat ini."


Tubuh Nino bersandar kembali di kursinya seraya mengamati kembali pesan yang di kirimkan oleh Liza.


"Tapi ada baiknya juga jika aku sibuk, setidaknya aku tidak akan membuat Moony kesal dengan melihat wajahku." Nino tersenyum kecut, kemudian segera melangkah keluar dari ruang kerjanya setelah menghubungi Liza.


Ketika sampai di ruang makan, Nino mendapati mejanya masih kosong. Bukan hanya tidak adanya kehadiran Dania, tapi juga belum tersajinya makanan di meja sebesar itu.


"Dimana sarapannya?" tanya Nino bingung.


Salah seorang pelayan menghampirinya dan membungkuk hormat. "Maaf, Tuan, kami belum menyiapkannya."


Bukan main terkejutnya Nino dengan jawaban pelayan itu karena tentu saja seharusnya makanan sudah siap di jam seperti ini.

__ADS_1


"Jam berapa biasanya kalian akan menyiapkannya?" tanya Nino dingin.


Selama rumah besar ini rampung di bangun, Nino memang tidak banyak menghabiskan waktunya di rumah ini. Ia lebih memilih untuk tinggal di apartemen mewahnya yang tidak jauh dari kantor atau sesekali ia akan mengganggu Ricky dan juga Deta jika hatinya sedang kesepian, walaupun sebenarnya Nino hanya butuh teman di tengah kesendiriannya. Namun, Nino tidak menyangka jika para pelayan yang ia pekerjakan tidak mampu mengurus kebutuhan dirinya dan juga Dania di rumah sebesar itu.


"Maaf, Tuan, seharusnya sudah siap. Tapi nyonya sudah mengatakan untuk tidak memasak apapun tanpa izin darinya." Pelayan itu terlihat ketakutan. "Nyonya juga mengatakan, jika hanya nyonyalah yang akan memasak untuk tuan."


Mata Nino terbelalak mendengar penjelasan pelayan itu. "Sungguh?"


"Iya, Tuan. Itu sebabnya kami tidak berani memasak apapun untuk anda dan nyonya juga belum turun untuk menyiapkan sarapan." Pelayan itu menjawab ragu.


'Bisakah aku mengartikan semua ini sebagai sikap posesifnya?' Batin Nino mulai berbunga-bunga.


Nino melirik ke arah anak tangga yang kosong, berharap tiba-tiba Dania akan datang dan membuatkan sarapan untuknya seperti sebelumnya. Namun, sepertinya harapan Nino sia-sia karena Dania tetap tidak datang.


"Tolong buatkan aku kopi dan antarkan makanan ke kamar untuk istriku! Dia sedang kurang sehat hari ini." titah Nino, kemudian menarik salah satu kursi di meja makan.


"Baik, Tuan," jawab pelayan itu lantas pergi untuk melakukan perintah Nino.


Tak butuh waktu lama, segelas kopi sudah tersaji di hadapan Nino bersamaan dengan perginya seorang pelayan menuju kamar utama. Nino pun terus memperhatikan pelayan tadi hingga bayangannya menghilang di balik pintu.


'Maaf, Moony! Aku belum bisa bicara denganmu. Aku takut pembicaraan kita hanya akan berakhir pertengkaran dan aku tidak pernah ingin menyakiti dirimu.' Batin Nino nelangsa.


Nino segera mengambil ponselnya dan kembali menghubungi Liza. "Kau dimana?"


"Sebentar lagi saya sampai, Tuan," jawab Liza di seberang panggilan.


KLIK ...


Panggilan terputus dan Nino pun langsung menyeruput kopinya hingga terdengar langkah kaki Liza yang mendekatinya.


"Ini pakaian anda, Tuan." Liza menyerahkan sebuah tas kepada Nino.


Tangan Nino terulur untuk mengambil tas yang di berikan Nino. "Terima kasih, Liza."


Liza hanya mengangguk sopan. "Dimana nyonya, Tuan?"


Pertanyaan Liza yang bernada curiga tentu dapat di sadari Nino dari tatapan matanya.


"Dia kelelahan setelah melayaniku dan aku tidak ingin mengganggunya hanya sekedar untuk menyiapkan pakaianku. Apa kau sudah bosan menerima uang dariku, Liza?" tanya Nino ketus kemudian melangkah dengan tas berisi pakaian di tangannya, sementara Liza mengikutinya dari belakang.


Mendapati sikap dingin Nino yang tak seperti biasanya membuat Liza bungkam dan memahami satu hal.


'Ada sesuatu yang tidak benar sedang terjadi di sini ....'


Hallo semuanya🤗

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2