Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
KEINGINAN HATI


__ADS_3

Dinginnya angin malam mulai menelusup ke tulang dan membawa bisikan-bisikan lembut yang membuat mata mulai mengantuk. Namun, Dania dan Nino masih saja berdiam diri di teras depan pondok keluarga Nino setelah menghabiskan makan malam mereka.


"Kau tidak mengantuk?" tanya Dania, yang mulai bosan dengan keheningan ini.


"Tidak!" Nino menatap Dania dengan sebuah senyuman di wajahnya. "Aku harap ini bukan caramu untuk mengajakku tidurku bersama, karena kau pasti sudah tahu aku tidak akan bisa menolaknya."


Kerlingan mata nakal Nino tentu saja bisa langsung di mengerti oleh Dania yang langsung memberengut kesal.


"Hei, jangan membuat pipimu itu seperti balon!" ejek Nino seraya hendak menyentuh pipi Dania.


Dengan cepat Dania menepis tangan Nino. "Ini pipiku! Terserah padaku apa yang akan aku lakukan."


Nino menyeringai dan menggeser posisi tubuhnya agar lebih dekat dengan Dania. Ia mulai bersandar di bahu wanita itu dan berpura-pura memejamkan matanya.


"Bangun!" gertak Dania penuh ancaman seraya menggoyang-goyangkan bahunya.


Nino tidak bergeming dan justru semakin merapatkan tubuhnya. "Bukankah sebelumnya kau membiarkan aku bersandar padamu?"


Dania memutar bola matanya dengan malas. "Itu karena aku mencoba untuk menghiburmu."


"Kalau begitu, anggap saja saat ini juga kau sedang menghibur suamimu yang luar biasa tampan ini!" goda Nino, masih enggan menjauh dari tubuh sang istri.


"Kau ini terlalu besar kepala!" Dania mendengus kesal. "Sebenarnya, apa yang membuatmu begitu percaya diri hingga memuji dirimu sendiri begitu tinggi seperti itu!" geramnya.


Nino mengangkat kepalanya sesaat untuk melihat raut wajah Dania yang bertambah kesal, tapi ia lebih memilih untuk mengabaikannya dan kembali meletakkan kepalanya di bahu Dania.


"Ini fakta yang harus kau terima, Moony! Aku tampan dan itu tidak terbantahkan." Nino tertawa penuh kemenangan.


Dania tersenyum sinis. "Yang benar itu, kau tua dan itu kenyataan yang mulai harus kau terima."


Nino menghela nafas dan memiringkan tubuhnya ke arah Dania. "Kau tahu, Moony? Ada ribuan wanita yang memuji ketampananku ini. Di setiap langkahku, mereka selalu berteriak histeris dan akan langsung pingsan saat aku melambaikan tangan seperti ini saja."


Melihat Nino yang melambaikan tangannya membuat Dania ingin tertawa dan langsung menyentuh tangan Nino untuk menurunkannya, tapi Nino justru menahan tangan Dania dan menggenggamnya dengan erat.


Tatapan mereka saling terpaut dan mengutarakan rasa yang selama ini sulit terucap. Tiba-tiba saja, Nino meletakkan tangan Dania di dadanya dan mendekapnya.


"Rasakan ini, Moony!" Nino masih menatap Dania, sementara jantungnya berdegup kencang.

__ADS_1


Dania menatap tangannya yang di pegangi oleh Nino, kemudian beralih menatap Nino yang tengah menatapnya penuh cinta. Entah mengapa, Dania merasakan wajahnya memanas dan ia mulai kehilangan akal. Sebelum Dania kehilangan kendali atas dirinya, ia memilih untuk menarik paksa tangannya dan memutuskan kontak mata di antara mereka.


Nino tersenyum meski ia sedikit kecewa. "Moony, apa yang kurang dariku hingga kau tidak ingin bersamaku?"


Dania tertegun. Ia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Nino setelah ia telah berusaha memberikan kesempatan untuk hubungan mereka. "A- Aku tidak mengerti!"


"Hanya dengan melihat sekilas saja, sudah jelas jika hubungan ini hanya berjalan di satu sisi. Meskipun kau sudah berjanji untuk memberikan ruang bagiku dan juga hubungan kita, tapi aku masih merasa semua ini telah menyiksamu. Apa sebaiknya kita mengakhiri semua ini saja, Moony?" tanya Nino lirih.


Kerongkongan Dania tercekat. Sungguh, ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa karena ia pun masih tidak mengerti apa yang di inginkan oleh hatinya untuk saat ini. Benarkah ia ingin berpisah dengan Nino? Jika benar itu yang di inginkan hatinya, kenapa Dania tidak bahagia ketika Nino mengatakan hal itu?


"Moony?" panggil Nino, setelah cukup lama menunggu jawaban Dania.


"I- Iya?" Dania gugup bukan main ketika merasakan sentuhan tangan Nino.


"Kau sudah mendapatkan jawabanmu?" tanya Nino lembut.


Dania tertunduk. "Aku tidak tahu!"


Jawaban Dania sedikitnya memberikan harapan bagi Nino, karena setidaknya Dania tidak menyetujui untuk mengakhiri hubungan mereka.


"Apa kau masih ingin mengenal aku lebih jauh lagi?" tanya Nino, mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja aku selalu percaya padamu, Moony." Nino membelai rambut Dania dengan lembut.


Sejujurnya, sikap Nino yang begitu lembut terkadang membuat Dania terlena dan lupa jika ia tidak menginginkan pria itu di sisinya. Namun, setiap kali ia mengingat dirinya yang di asingkan selama sepuluh tahun di negeri orang kembali membawa Dania kepada kebencian terhadap suaminya itu. Hah!


'Kenapa kau begitu baik, Om pedofil? Haruskah kau itu jahat hingga aku bisa semakin membencimu.' Batin Dania ketika menatap wajah Nino yang menatap jauh ke depan.


"Dulu aku begitu bergantung pada Ricky. Dia dan keluarganya begitu baik padaku. Mereka tidak mempermasalahkan aku yang hanya anak miskin ini untuk berada di dekat mereka." Bola mata Nino berbinar ketika mengingat masa mudanya bersama putra mahkota Sanjaya itu.


"Kau dan pangeran sudah lama berteman?" tanya Dania polos.


Nino berdecak. "Sejujurnya, Moony, aku tidak suka dengan panggilanmu untuk Ricky."


"Kenapa?" tanya Dania kesal, merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya.


"Pa- Nge- Ran ... Tidakkah kau pikir itu terlalu berlebihan?" tukas Nino, kentara betul ia sedang cemburu.

__ADS_1


Dania menggeleng. "Tentu saja tidak! Sejak kecil aku selalu memanggilnya seperti itu."


"Tapi kau sudah dewasa sekarang dan Ricky itu kakak iparmu!" sergah Nino, mulai merasakan api berkobar di hatinya.


"Posesif!!!" geram Dania. Ia langsung berdiri hendak meninggalkan Nino, tapi pergelangan tangannya di tahan oleh Nino.


"Aku tidak akan posesif jika aku tidak mencintaimu." ucap Nino, tanpa melihat ke arah Dania.


Dania merasakan cengkraman tangan Nino yang begitu kuat. Ia bahkan tidak bisa menahan ketika Nino menarik tangannya hingga tubuhnya jatuh di atas pangkuan Nino.


"Apa yang kau -" Dania tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena Nino telah lebih dulu membungkam mulutnya.


Kehangatan yang di berikan oleh bibir dan lidah Nino, perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih panas hingga Dania mulai kehabisan nafas. Ia mencoba mendorong dada Nino agar melepaskan pertautan bibir mereka. Namun, Nino bersikukuh untuk menaklukkan bibir yang selalu menantangnya itu.


"Hah ... Hah ... Hah ...," Dania terengah-engah setelah Nino akhirnya melepaskan pagutan bibirnya.


Nino menyeringai seraya mengelap bibir Dania yang basah. "Jika kau memanggil Ricky dengan sebutan menjengkelkan itu lagi ... Aku akan melahap bibirmu yang manis ini!"


Terdengar seperti ancaman, tapi kenapa Dania merasa itu sangat romantis.


'Bodoh!!!' Umpat Dania kesal dalam hatinya.


"Kau mau kemana?" tanya Nino, ketika Dania mulai tidak bisa diam.


"Tentu saja aku ingin turun!" ketus Dania, mencoba untuk melepaskan diri dari Nino.


Melihat sikap istrinya yang seperti itu entah mengapa membuat Nino bahagia dan semakin tidak ingin melepaskan wanita cantik di pangkuannya ini. Ia justru memeluk tubuh Dania dengan lebih erat layaknya seorang ayah yang tengah memeluk putri kecilnya.


"Kau -" Dania sudah melotot, tapi Nino langsung mengecup puncak kepalanya dengan lembut hingga Dania seketika terdiam membisu.


"Aku tahu, berada di sisiku begitu menyiksamu. Aku tahu, pernikahan ini begitu melukaimu. Dan aku juga tahu, kau selalu ingin lari dariku karena kau sangat membenciku. Tapi bolehkah aku berharap untuk terus mencintaimu hingga akhir nafasku, Moony?" lirih Nino seraya menghirup aroma yang begitu menyegarkan dari rambut Dania.


Kata-kata Nino perlahan menelusup ke hati Dania yang paling dalam. Ia mencoba mencari dimana sebenarnya tempat untuk pria itu di hatinya. Dania terus mengingat semua tentang Nino sejak pertama kali mereka bertemu sepuluh tahun yang lalu, tapi ia tidak menemukan sesuatu yang ia inginkan dan ia pikirkan selama ini tentang pria itu.


"Kau salah tentang hatiku, Om pedofil ...."


Hallo semuanya 🤗

__ADS_1


Terima kasih always stay buat Dania dan Om Nino 😘


❤ dari kalian sangat di nantikan oleh mereka lhoo😍


__ADS_2