
Derasnya air yang mengalir masih tidak bisa mengalahkan hawa panas di seluruh tubuh Dania. Ia tetap teguh berdiri di bawah kucuran air hanya untuk menghilangkan rasa malu yang telah membakar dirinya.
Ingatan akan kejadian semalam membuat Dania semakin terbakar dan rasanya seperti ingin secepatnya menjadi abu.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" gumam Dania. Tangannya menyentuh dadanya yang terus berdegup kencang. "Apakah aku sudah menerima dia seutuhnya sebagai suamiku?"
Bayangan wajah Nino. Senyumnya. Rayuannya. Amarahnya. Pelukannya. Bibirnya, bahkan tubuhnya.
"Arrrrggghhh!!!" Dania segera menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Senyum merekah di wajah cantik Dania. Ia mulai berpikir jika dirinya telah menjadi wanita mesum karena terlalu lama menjalani hidup sendiri hingga membayangkan Nino saja sudah membuatnya salah tingkah.
Dania mengusap wajahnya dengan kasar. "Ayolah, Dania! Tidak mungkin cintamu secepat itu berpaling. Kau mencintai kak Gibran. Dia yang setia menemanimu selama ini."
Gibran. Pria yang selalu menjadi idaman hati Dania. Satu-satunya kandidat calon suami bagi Dania meskipun ia tahu bahwa keluarganya telah menjodohkan dirinya dengan Nino. Saat itu, Dania masih berharap. Berharap jika perjodohannya batal, maka ia bisa menikah dengan Gibran. Tapi dimana pria itu sekarang? Sejak Dania kembali ke negara ini, tak pernah sekalipun pria itu menampakkan batang hidungnya ataupun aroma nafasnya.
Dania menghentikan aliran air yang menimpa wajahnya. "Terlalu sibuk dengan om pedofil, aku jadi melupakan kak Gibran."
Dulu, Gibran selalu menjadi prioritas bagi Dania. Namun, saat ini walaupun sedang memikirkannya tidak membuat Dania merasakan apapun di hatinya.
'Ada apa ini? Apakah hatiku benar-benar ....' Batin Dania menerka.
Hari itu, sepertinya Dania harus memastikan apa yang di inginkan oleh hatinya.
***
Dania menyelesaikan ritual mandinya dengan cepat dan bergerak secepat kilat keluar dari kamar mandi untuk menemui Nino. Ia ingin menjelaskan apa yang terjadi di antara mereka semalam. Berharap agar hubungan keduanya akan berjalan ke arah yang lebih baik.
"Moony?" panggil Nino, tepat ketika Dania keluar dari kamar mandi.
Suara Nino saat menyebut namanya, sudah menjadi sesuatu yang selalu di rindukan oleh Dania. Tanpa perintah, sudut bibirnya menarik sebuah senyuman hanya karena satu kata keluar dari mulut Nino.
'Memalukan!' sungut Dania dalam hati. Merutuki sikap tak masuk akal dirinya.
Sebelum Dania benar-benar mempermalukan dirinya sendiri, ia pun memutuskan untuk menghindari Nino untuk beberapa saat.
"Pakaianku tidak ada di sini, jadi aku harus ke kamarku untuk mengambilnya." Dania beralasan.
Sayang sekali, Nino tidak memberikan kesempatan pada Dania untuk melarikan diri. Dalam sekejap tubuh kekar itu sudah menghalangi jalannya.
Awalnya Dania pikir Nino akan melakukan sesuatu yang romantis, tapi semua itu hanya ada dalam khayalan Dania saja.
"Maafkan aku, Moony! Aku mohon maafkan aku! Semua ini hanya ketidaksengajaan." Ucap Nino penuh penyesalan.
Wajah terpuruk itu memaksa Dania mengingat kembali alasan mereka bisa hidup bersama. Perjodohan!
Dania menyeringai. "Kau ... Menyesal telah menyentuhku?"
Tidak ada lagi yang di pikirkan Dania selain hal itu karena itulah yang terlihat jelas di wajah Nino.
Nino memberanikan diri untuk menatap Dania. "Apa maksudmu, Moony? Tentu saja aku menyesal karena -"
"Karena kau mencintai wanita lain dan berharap untuk menyentuhnya daripada menyentuhku. Benar begitu bukan, Om pedofil?" Dania mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Itu tidak benar, Moony!" jawab Nino tegas.
__ADS_1
Dania menarik nafasnya sedalam yang ia bisa dan menghembuskannya dengan perlahan. "Kau tidak perlu khawatir, tidak ada yang terjadi di antara kita semalam. Jadi, tidak ada yang perlu di sesalkan olehmu!"
Kepedihan itu Dania telan seorang diri. Ia melangkah pasti meninggalkan Nino yang masih terpaku dengan ucapannya.
'Baiklah, kita lupakan saja apa yang telah terjadi, Om pedofil sialan!!!'
***
"Dimana suami tuamu itu?" tanya Dito, setengah menggoda adiknya yang berwajah masam.
Dania hanya mendengus tanpa berniat menjawab pertanyaan dari sang kakak.
Sebenarnya, Dito ingin sekali menginterogasi adik kecilnya ini sebab yang ada di hadapannya saat ini sungguh jauh berbeda dengan apa yang ada di bayangannya.
"Aku pikir kau akan turun bersama pria tua konyol itu dengan wajah memalukan. Hah! Sepertinya aku gagal mendapatkan kesempatan untuk mempermalukannya lagi seperti dulu." Dito tertawa dengan jahatnya.
Kata-kata terakhir yang di ucapkan Dito berhasil memancing rasa ingin tahu Dania yang langsung memicingkan matanya kepada Dito.
"Mempermalukannya seperti dulu?" Dania mengernyit. "Apa maksud, Kakak? Jangan katakan jika dulu Kakak selalu menyulitkan dirinya!"
Dito nyaris tertawa melihat reaksi Dania, tapi bukan Dito namanya jika tidak bisa bersikap dingin dan kaku. "Ada apa denganmu? Kau begitu peduli padanya."
Dania tertegun. Benarkah ia terlihat seperti itu? Peduli pada Om pedofil yang di bencinya selama bertahun-tahun? Tapi tidak apa bukan? Pria itu adalah suaminya sekarang. Bukankah hal yang wajar jika Dania mengkhawatirkan dirinya?
"Aku ... Aku hanya ingin tahu, Kak!" sanggah Dania seraya memalingkan wajahnya yang tanpa sengaja bertatapan dengan Nino yang baru saja menuruni anak tangga.
Dito manggut-manggut seolah bisa membaca pikiran adiknya. "Aku mengerti!"
"Mengerti apa?" tanya Dania gugup.
"Kau peduli padanya karena sekarang kau sudah menjadi nyonya Ferdinan seutuhnya bukan?" tanya Dito, tanpa di saring terlebih dahulu.
Wajah Dania memerah. "Kakak, salah paham!"
"Benarkah?" Dito meletakkan cangkir kopi di tangannya ke atas meja.
Dania tertunduk lesu. "Kak, aku mohon lupakan apa yang Kakak lihat pagi ini!"
"Apa kau malu karena aku menangkap basah kalian berdua?" goda Dito, tanpa menyadari perubahan suasana hati Dania.
Tiba-tiba Dania berdiri dengan kedua tangan mengepal kuat. "Kak, aku memohon bukan karena aku malu, tapi karena aku dan dia memang tidak melakukan apapun. Ke depannya aku harap Kakak jangan pernah menyulitkan suamiku lagi!"
Dito menganga tak percaya melihat sikap Dania yang seperti itu. Namun, kesadarannya kembali dengan cepat.
"Hei, Anak nakal! Kembali atau aku akan mengirimmu kembali ke asrama ituuuu!!!"
Teriakan Dito yang biasanya sangat menakutkan bagi Dania, tapi kali ini tidak di gubris sedikit pun oleh wanita itu. Ia terus berjalan keluar tanpa memperdulikan sepasang mata yang menatapnya bahkan tanpa berkedip.
***
"Sayang, bukankah kita kembali lebih cepat untuk bersenang-senang dengan Dania dan tuan Ferdinan?" tanya Shanum, yang baru memasuki rumah dan langsung di sambut aura dingin suaminya.
Dito menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. "Seharusnya kau kembali bersamaku."
Shanum mulai memahami suasana hati Dito hanya dari ucapannya dan mulai menarik sebuah senyuman. "Itu yang aku inginkan, Sayangku, tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa meminta seorang ibu untuk menahan rasa sakitnya dan aku juga tidak bisa menahan sebuah jiwa yang akan terlahir ke dunia ini."
__ADS_1
Helaan nafas Dito terasa berat. "Iya, aku tahu. Maaf karena aku mengeluh!"
Suasana hati Dito yang buruk, di tambah tidak adanya siapapun di rumah ini membuat Shanum mengerti satu hal. Suaminya itu baru saja bertengkar dan bisa di pastikan ia telah mengusir adik kesayangannya itu.
"Dimana Dania?" tanya Shanum hati-hati.
"Dia punya rumah. Tentu saja dia harus pulang!" jawab Dito sinis.
'Dugaanku ternyata benar.' Batin Shanum.
Shanum mengusap dahi Dito dengan lembut. "Baiklah! Kalau begitu, aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi."
Dengan cepat Dito menahan lengan Shanum yang akan beranjak pergi.
"Ada apa?" tanya Shanum bingung.
Dito melepaskan genggaman tangannya. "Aku sedang meminta orang untuk membersihkan kamar kita."
Shanum mengernyit. "Kenapa harus di bersihkan? Bukankah kamar kita -"
"Kau tidak tahu, Shan! Anak nakal dan pria tua itu memakai kamar kita untuk ...," Dito menggantung kalimatnya karena rasa malu yang tiba-tiba muncul.
Shanum adalah wanita lembut yang penuh pengertian dan juga perhatian. Ia tentu dapat membaca situasi yang terjadi sebelum dirinya datang.
"Aku akan naik ke atas dan melihat apakah mereka sudah selesai," ucap Shanum seraya berjalan menuju kamar utama.
Sesampainya di kamar, Shanum melihat kamarnya sudah bersih dan rapih. Bahkan, tirai dan selimut serta seprai pun di ganti.
Shanum menghampiri seorang petugas kebersihan yang tengah memasukkan beberapa barang ke kantung yang sangat besar.
"Tunggu! Mau di bawa kemana semua ini?" tanya Shanum, sementara tangannya memeriksa isi bungkusan tersebut.
"Ke binatu, Nyonya," jawab petugas itu.
Shanum mengangguk. "Baiklah!"
"Tapi, Nyonya ...," Nampak ragu petugas kebersihan itu untuk bicara
"Ya?" Shanum tersenyum ramah.
Walaupun ragu, tapi petugas kebersihan itu menyerahkan sesuatu kepada Shanum.
"Ini ...."
***
Sementara, dalam perjalanan pulang Dania dan Nino larut dalam lamunan masing-masing. Keduanya sibuk dengan arah pemikiran yang sama, tapi dengan ingatan yang berbeda.
Tiba-tiba saja Dania seperti tersentak dan jantungnya hampir melompat keluar.
"Kenapa aku bisa melupakannya?"
Hallo semuanya 🤗
Terima kasih masih disini dan masih setia sama Dania juga om Nino 😘
__ADS_1
Peluk cium yang jauh dari author amburadul 😍