Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
TEMPAT ASAL


__ADS_3

Masa kecil yang indah dan penuh kenangan manis akan selalu menjadi memori di hati, sekalipun rambut telah memutih.


Sama halnya dengan Dania, ada banyak kenangan manis yang ingin ia simpan di dalam hatinya untuk sepanjang hidupnya. Meskipun kenangan manis itu selalu berdampingan dengan kenyataan pahit tentang siapa dirinya dan darimana asalnya, tapi Dania lebih memilih untuk menyimpan sesuatu yang membuatnya bahagia daripada harus menangisi hal yang sudah terlewatkan.


"Hanya kenangan dimana anak malang seperti aku merasa di hargai dan di sayangi." Dania tersenyum, tapi sorot matanya memancarkan hal lain.


Dania bahagia. Ia sangat bahagia, setiap kali mengingat cinta dan kasih sayang yang di curahkan Deta padanya. Namun, di sisi lain Dania juga merasa sangat bersalah kepada kedua kakaknya. Andai saja Dania tidak pernah ada di dunia ini, mungkin kedua kakaknya akan hidup bahagia. Tidak! Pasti keluarga Riady akan hidup dengan sangat bahagia. Kakaknya tidak akan mengalami kegagalan pernikahan, ibunya tidak akan menghirup debu jalanan hanya untuk menjajakan dagangannya, dan ayahnya tidak harus bekerja siang malam hanya untuk menyambung hidup. Dan kakak laki-lakinya yang dingin itu tidak akan menjadi tentara, melainkan hanya duduk di balik kursi untuk meneruskan perusahaan ayahnya. Hah! Andai saja.


Tanpa sadar Dania menghela nafasnya yang terasa amat berat. Dan tentu saja hal itu di sadari Nino yang langsung membelai rambut Dania dengan lembut.


"Aku juga menyayangimu, menghargaimu, dan aku juga sangat mencintaimu." ungkap Nino, tanpa tersedak sedikitpun.


Dania tertegun. Bagaimana mungkin Nino bisa mengucapkan kalimat seromantis itu hanya dalam satu helaan nafas, sementara ia masih mengemudikan mobilnya.


'Apakah dia sungguh-sungguh dengan ucapannya itu?' Batin Dania ragu.


"Jangan menatapku seperti itu, jika kau tidak ingin jatuh cinta terlalu dalam padaku." Nino menoleh sesaat kemudian kembali fokus ke jalanan.


Dania mencebik kesal dan kembali menatap keluar jendela hingga rasa kantuk menguasai dirinya.


***


Hembusan angin, lembut menyapa wajah cantik Dania yang masih terlelap dengan tubuh bersandar pada kursi penumpang. Angin pun menerbangkan satu persatu helaian rambut Dania yang menimpa wajahnya.


Pemandangan yang begitu menyejukkan itu membuat Nino ingin sekali mengecupi setiap jengkal wajah cantik Dania, tapi Nino cukup sadar posisinya untuk saat ini di hati istrinya. Nino berusaha sekuat tenaga untuk menahan hasratnya hingga ia pun lebih memilih untuk keluar dari mobil dan menaikkan kembali kaca mobil yang sempat ia turunkan.


Sebuah senyuman tiba-tiba tertarik di sudut bibir Nino ketika pria itu menatap hamparan persawahan yang ada di depannya.


"Sudah lama sekali," gumam Nino.


Menikmati pemandangan hijau seperti ini menjadi hal yang sangat langka bagi orang seperti Nino yang selalu di sibukkan oleh pekerjaan dan segudang aktivitas lainnya.


Nino menghirup udara segar di tempat itu sebanyak-banyaknya seolah ia tidak pernah bernafas, kemudian ia berniat untuk kembali masuk ke mobil.


Baru saja akan berbalik, Nino dikejutkan oleh tatapan tajam mata Dania yang masih duduk dengan tenang di dalam mobil.


"Kemarilah! Kau harus melihat ini." Nino melambaikan tangannya, meminta Dania mendekat.

__ADS_1


Dania tidak bergeming, melainkan hanya menatap Nino dalam diamnya. Nino akhirnya mengalah dan menghampiri Dania yang masih duduk di dalam mobil.


Tangan Nino terulur untuk meminta Dania keluar. "Ayo, Moony! Disini udaranya sangat sejuk."


"Tidak mau!" ketus Dania.


"Kenapa?" tanya Nino dengan dahi berkerut.


Dania mendengus kesal. "Kenapa kau membawaku kesini?"


"Ada apa? Kau tidak suka tempat ini?" tanya Nino balik.


"Bukan begitu! Aku hanya tidak menduga kau akan membawaku ke tempat seperti ini." Dania melangkahkan kakinya keluar.


Nino menyeringai. "Apa kau berharap aku akan membawamu ke tempat yang lebih romantis?"


"Mana mungkin!" sergah Dania seraya berlalu meninggalkan Nino yang masih terkekeh.


***


Sejauh mata Dania memandang, ia hanya melihat persawahan yang hijau dengan langit biru yang sangat cerah. Hembusan angin begitu kencang menyapa wajah Dania hingga ia pun menutupi wajahnya dengan sebelah tangan.


Dania mendongakkan kepalanya dan melihat topi pria yang sudah terpasang di kepalanya. "Ini-"


"Itu topi milikku. Tenang saja! Rambutku tidak berkutu." Nino tak kuasa menahan gelak tawanya.


"Terserahlah!" hardik Dania, dan langsung berjalan membelah sawah yang ada di hadapannya.


Seumur hidup Dania, ia belum pernah sekalipun datang ke tempat seperti ini. Dimana masih banyak sawah dan juga udara yang begitu segar, meskipun cuacanya begitu terik. Dania melangkah hati-hati berjalan di atas pematang sawah dan sesekali tersenyum kepada petani yang masih bekerja di sawah. Dania lupa jika di belakangnya ada pria tampan yang dengan sabarnya mengikuti langkah kakinya yang begitu perlahan hingga terdengar suara dari belakang yang menyadarkan Dania.


"Ehem ...," Nino mulai menunjukkan tanda-tanda keberadaannya.


Dania menoleh dan melihat Nino yang sedang menatapnya dengan penuh cinta. Senyuman di wajahnya begitu tulus dan membuat pria itu semakin tampan saja.


'Apa-apaan kau, Dania!' Geram Dania dalam hati.


"Jadi, kau menyukai tempat ini?" tanya Nino di barengi tangannya yang meraih tangan Dania.

__ADS_1


Sentuhan di tangannya membuyarkan lamunan Dania tentang ketampanan sang suami. "I- iya, aku menyukainya."


"Baguslah! Apa yang kau sukai?" tanya Nino lagi.


Dania sebenarnya ingin menarik tangannya yang di genggam Nino, tapi ia sudah berjanji untuk memberikan ruang pada suaminya itu. Maka, Dania pun hanya bisa mencoba mengalihkan perhatiannya dengan memandang padi yang mulai menguning.


"Aku suka udaranya, pemandangannya, dan juga suasananya yang tenang. Aku juga suka ...," Lama Dania berpikir.


"Suka Nino Ferdinan?" sahut Nino.


"Ya!" Dania terkejut dengan jawaban yang meluncur dari mulutnya itu hingga membuat ia salah tingkah. "Bukan! Bukan! Maksudku, aku suka karena kau membawaku kesini." tegasnya.


Nino hanya tersenyum usil dan berjalan melewati Dania seraya menggandeng tangan istrinya itu.


Di sepanjang pematang sawah, kedua insan itu hanya bungkam dan mengikuti arah hembusan angin yang seolah menyukai kebersamaan mereka. Detak jantung keduanya berpacu beriringan dan saling bersahutan walaupun tak ada yang saling mendengarkan hingga langkah kaki Nino terhenti pada sebuah pondok yang berada di tengah area persawahan.


"Kita dimana, Om?" tanya Dania, mengintip dari balik punggung Nino.


Nino membalikkan tubuhnya dan tersenyum. "Kita di tempat, dimana aku berasal."


***


Suara gemericik air menjadi alunan musik yang menemani di kala senja hari yang di habiskan oleh pasangan pengantin baru ini.


Dania sedang berada di tepi kolam yang berada di sebuah pondok yang ia datangi bersama Nino. Sejak tadi, Dania tidak bisa menghapus rasa penasarannya tentang sosok pria yang telah menjadi suaminya itu. Tanpa sadar, Dania terus menatap Nino yang duduk di sampinganya, sementara tangannya terus melemparkan roti ke dalam kolam.


"Aku rasa ikannya sudah sangat kenyang." Nino menahan tangan Dania yang masih akan melemparkan potongan roti.


Dania mengerjap dan menatap hampa tangannya yang di pegang Nino. Segera ia tersadar dan menarik kembali tangannya. Rona merah menghiasi wajah Dania dan tak bisa lagi ia tutupi.


"Apa yang mengganggu pikiranmu, Istri kecilku yang manis?" goda Nino.


Helaan nafas Dania yang terasa berat menandakan jika ada yang begitu mengganggu pikirannya.


"Aku ingin lebih mengenal dirimu ...."


Hallo semuanya 🤗

__ADS_1


Terima kasih masih setia sama DaNino 😘


Di tungguin ❤nya sama Dania dan om Nino lhooo 😜 so, jangan lupa ya 💕


__ADS_2