
"Ingat ini, Moony! Semua hal yang saat ini aku miliki ... Semuanya adalah milikmu tanpa terkecuali!" Ucapan yang tulus hingga mampu menembus relung hati yang paling dalam.
Dania menyelami tatapan Nino yang begitu hangat dan penuh cinta. Pria yang kini tengah memeluknya dengan erat seolah takut dirinya akan pergi. Bersamanya membuat Dania bingung sendiri dengan hatinya. Berada di sampingnya membuat Dania merasa sangat istimewa dan juga berharga.
Dekapan hangat Nino mulai mengendur. Berganti kehangatan tangan besarnya di wajah Dania. "Maafkan aku, Moony."
Pandangan Dania naik ke atas, tepat ke kedua bola mata Nino. "Untuk apa?"
"Untuk segalanya!" Nino tersenyum getir. "Maaf karena masa laluku selalu melukaimu. Maafkan aku juga karena belum bisa menjadi seperti yang kau inginkan, tapi percayalah! Aku selalu mencintaimu dan tak akan pernah berubah. Aku hanya ingin kau bahagia. Katakan saja padaku apa yang bisa membuatmu bahagia dan aku pastikan akan memberikan semua yang kau minta."
Lagi, Nino mengucapkan kalimat cinta yang lama-kelamaan membuat Dania terbiasa dan mungkin juga mulai merindukan kalimat seperti itu setiap harinya.
Mata Dania berkaca-kaca. Bibirnya bergerak-gerak untuk berucap, tapi tak kunjung ada kata yang keluar dari mulutnya. Setengah hati Dania merutuki sikap pengecutnya ini. Namun, setengah hatinya yang lain terlampau bahagia hingga akhirnya Dania lebih memilih untuk masuk kembali dalam pelukan Nino.
"Hei, kenapa menangis?" Nino berusaha mengangkat wajah Dania, tapi istrinya itu menolak dan bersikukuh ingin membenamkan wajahnya di dada bidang Nino. "Baiklah! Kau bisa menghirup aroma tubuhku yang memabukkan ini sepuasnya."
Kata-kata konyol Nino telah mengundang senyuman di balik wajah Dania yang tersembunyi. Dalam hati Dania bersyukur tiada henti karena telah memiliki Nino sebagai pengganti semua yang telah hilang dalam hidupnya.
'Terima kasih, Om! Dan, maaf karena aku masih belum bisa mengatakan bahwa ... Aku mencintaimu.'
***
Pagi hari yang cerah menyambut sepasang kelopak mata yang baru saja terbuka. Di susul sebuah senyuman yang akhir-akhir ini sering sekali terlihat di wajah cantiknya. Apalagi ketika melihat tangan kekar yang melingkar di atas perutnya. Hal sederhana yang selalu bisa meningkatkan semangatnya setiap hari.
Dania menggeliat untuk meregangkan otot-otot tubuhnya dan seperti biasa, tak lama kemudian sosok di sampingnya juga ikut menggeliat.
"Morning, My sweet baby wife," ucapnya parau dengan wajah bantalnya. Bahkan, dengan mata yang masih sulit terbuka.
Dania tertawa kecil sebelum mendaratkan bibirnya di atas pipi sang suami. "Pagi juga, Om pedofilku yang tampan."
Hal-hal sepele seperti ini, sudah menjadi kebiasaan baru bagi keduanya meski hingga saat ini Dania masih belum mengungkapkan perasaannya pada Nino lewat kata-kata.
Bola mata Nino terbuka semakin lebar. Namun, tangannya justru semakin erat mendekap tubuh Dania. Ia bahkan sedikit beringsut untuk menempelkan tubuhnya dengan sang istri.
"Om ...," rengek Dania, mulai kesal jika Nino bersikap seperti ini karena akan membuatnya terlambat untuk pergi ke dapur.
"Nanti dulu, Moony! Aku masih mengantuk." Nino berpura-pura memejamkan matanya kembali.
Dania gemas sekali dengan tingkah Nino. Tanpa permisi ia menggelitik perut Nino hingga tubuh kekar itu spontan menjauh.
__ADS_1
"Hahaha ... Moony, lepaskan aku!" Nino mulai melipat tubuhnya agar Dania tidak dapat menjangkau perutnya.
Tangan Dania sudah mulai melepaskan perut Nino dan kakinya juga sudah turun dari tempat tidur, tapi Dania tidak memiliki kesempatan untuk pergi karena Nino sudah menarik tubuhnya kembali.
"Om pedofil!!!" pekik Dania terkejut, karena kini ia sudah berada tepat di bawah tubuh Nino.
Nino menyeringai dan tanpa berkata mulai mencumbui Dania yang telah menggodanya di pagi hari seperti ini.
******* mulai terlontar dari bibir Dania tanpa bisa ia mencegahnya. "Om ...."
"Hemm?" Nino tidak berniat untuk menghentikan aksinya.
Sebenarnya Dania mulai menyukai semua perlakuan Nino padanya, tapi entah mengapa tiba-tiba saja perutnya seperti di hantam sesuatu hingga membuatnya ingin mengeluarkan semua isinya. Dania merasa seperti baru saja naik roller coaster.
Tak kuat lagi menahan gejolak di perutnya, Dania lantas mendorong tubuh Nino sekuatnya dan langsung berlari ke kamar mandi.
"Moony! Ada apa?" teriak Nino dari balik pintu.
Tidak terdengar suara apapun yang membuat Nino semakin panik bukan main. Kakinya mulai melangkah untuk keluar kamar dan mencari kunci cadangan saat Dania tiba-tiba keluar dengan wajah pucatnya.
"Kau sakit?" Nino segera merengkuh tubuh Dania dan menyeka keringat dingin di dahi istri kecilnya itu.
"Istirahatlah! Aku akan memanggil dokter." Nino sudah akan pergi, tapi Dania menahan lengannya. "Kenapa?" tanyanya dengan dahi mengernyit.
"Tidak perlu memanggil dokter. Aku hanya sedikit mual. Mungkin karena akhir-akhir ini aku sering terlambat untuk sarapan." Dania tersenyum dengan tatapan yang sedikit mengejek. Bermaksud menyindir sikap Nino belakangan ini yang selalu menahannya di tempat tidur.
Nino tertawa menyadari sindiran halus istrinya. "Iya! Iya! Itu salahku, Nyonya. Jadi, hari ini biarkan aku melayanimu."
Dania menaikkan sebelah alisnya. "Melayaniku?"
Lagi, Nino tertawa karena nada bicara yang di gunakan Dania. "Bukan itu maksudku, Moony! Maksudku adalah ... Hari ini aku akan mengurusmu dan menemanimu sepanjang hari. Kau tinggal memberikan perintah dan aku akan melakukan semuanya untukmu."
"Kau yakin?" Dania masih dengan senyum mengejeknya.
Nino menegakkan tubuhnya dan berdiri dengan siap siaga. "Tentu saja, Nyonya besar Ferdinan. Katakan saja apa perintahmu!"
***
"Wah, sepertinya kita harus mengabadikan kejadian langka ini, Sayang." Suara yang baru datang dari arah ruang tamu memaksa Nino mematikan mixer di tangannya.
__ADS_1
Nino memutar bola matanya malas. "Kau lagi! Untuk apa kau kesini?"
"Sayang, lihat! Kita tidak boleh datang ke rumah adik kita sendiri oleh adik ipar." Sedikit mengulas senyum dan juga menatap tajam dengan sudut matanya.
Tangan mungil di sampingnya mendarat sempurna di wajah tampan Ricky. Ya! Ricky Sanjaya kini memiliki hobi yang sama dengan Nino. Mengganggu ketenangan rumah tangga sahabatnya.
"Mas, jangan mengganggu kak Nino!" Deta tersenyum manis pada Nino yang terlihat sudah melepaskan celemeknya. "Apa kabar, Kak?" tanyanya.
Nino mencuci tangannya dan menghampiri kedua sahabatnya yang merangkap menjadi kakak iparnya juga. "Aku baik, Ibunya Tary. Bagaimana kabarmu? Dan kehamilanmu?"
"Semuanya baik, Kak," jawab Deta singkat karena Ricky sudah memasang wajah cemburunya.
PLAK ...
Nino mendaratkan tangannya di bahu Ricky. Kesal melihat sikap posesif sahabatnya itu. "Wajahmu itu ...."
"Kenapa wajahku? Tampan? Aku tahu!" Ricky menaikkan dagunya sombong.
Tak ingin meladeni Ricky. Nino pun beralih menatap Deta. "Dimana Tary?"
Deta menoleh ke belakang. "Dia masih menyangkut di taman." Nino tertawa mendengar jawaban Deta. Mereka semua sudah tahu jika Tary memang sangat menyukai taman di rumah Nino. "Dania dimana, Kak? Kenapa Kakak yang memasak di dapur?" tanyanya, setelah tak melihat keberadaan adik bungsunya.
"Dania di kamar. Biar aku panggilkan! Kalian duduk saja." Nino sudah akan beranjak, tapi Deta menahannya.
"Kak!" Deta mulai terlihat cemas. "Apa Dania sakit? Tidak biasanya dia masih di kamar."
"Tidak! Dania hanya sedikit mual. Mungkin asam lambungnya naik. Jadi, aku memintanya untuk beristirahat." Nino tersenyum untuk menenangkan Deta.
Sementara, Ricky dan Deta saling bertatapan mendengar penjelasan Nino.
"Apakah ...."
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino π
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1