
Suara ramai dari ratusan bahkan mungkin ribuan orang sudah terdengar sejak awal memasuki bandara pagi ini. Semua orang nampak sibuk dengan urusannya masing-masing. Namun, tidak dengan seorang wanita yang termenung di sebuah kursi tunggu. Tangannya dengan lembut mengusap-usap perutnya, sementara air matanya terus berlinang tanpa bisa di hentikan.
"Kopi?" Segelas kopi sudah ada di hadapannya hingga wanita itu pun mendongak. "Ku lihat kau kurang bersemangat, jadi aku belikan ini untukmu."
Wanita itu menatap hampa sosok pria yang baru saja duduk di sampingnya. "Aku sedang tidak ingin minum kopi, Kak Gibran."
Gibran tahu itu! Sejak Dania bertemu Nino, wanita itu telah banyak berubah. Tidak lagi sehangat dulu pada dirinya. Namun, Gibran tidak peduli. Ia hanya ingin bersama Dania dan menebus kesalahannya karena telah membiarkan Dania menikah dengan Nino. Walaupun Dania hanya menganggapnya sebagai pelarian saja.
"Apa kau tega membiarkan aku meminum dua gelas kopi? Aku tidak akan bisa tidur selama dua hari nanti." Gibran berusaha membuat Dania tertawa, tapi Dania tetap memasang wajah datar.
Dania mengalihkan pandangannya pada Flight Information Display System (FIDS). "Boarding masih satu jam lagi bukan?"
Gibran mengikuti arah Dania memandang. "Benar! Kau ingin jalan-jalan atau makan sesuatu?"
"Tidak!" Dania menggelengkan kepalanya seraya berdiri. "Aku ingin ke toilet dan jangan mengikuti aku!"
Tanpa menunggu jawaban Gibran, Dania melangkah meninggalkan pria itu dalam kebisuan.
"Aku tahu, Dania. Aku tahu kau masih bingung, tapi aku akan tetap mengikatmu di sisiku. Biarlah orang menghinaku karena telah merebutmu dari tuan Ferdinan, karena yang sebenarnya merebut disini bukanlah aku. Aku hanya mencoba mengambil kembali apa yang sudah aku jaga selama sepuluh tahun ini."
***
Dania berjalan menuju toilet yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya menunggu. Saat ini, Dania hanya mengikuti kemana kakinya ingin melangkah, tanpa memperhatikan keadaan di sekelilingnya.
Tiba-tiba, Dania merasakan sesuatu baru saja menabrak kakinya. Ia menunduk dan melihat seorang anak kecil sedang memeluk kakinya.
"Papa ...," Anak itu menatap Dania sambil menangis.
Hati Dania terenyuh. Tubuhnya seperti kapas yang melayang-layang di udara. Namun, ia segera mengerjap saat merasakan ujung dress-nya di tarik. "Dimana ibumu, Cantik?"
Anak itu hanya menatap Dania. "Papa ...."
Dania tersenyum dan berjongkok. "Sepertinya kau terpisah dari orang tuamu."
Tangan Dania mengusap air mata anak itu dengan lembut, kemudian merapihkan rambutnya. Tidak lama setelahnya, dari kejauhan terdengar seseorang berlari ke arah mereka.
__ADS_1
"Ya ampun, Sayang! Mama mencarimu kemana-mana, ternyata kau disini." Seorang wanita langsung mengangkat tubuh kecil di hadapan Dania dan menatap canggung ke arah Dania. "Maaf, Nona, anak saya sudah mengganggu anda."
Dania tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala anak itu. "Tidak apa-apa, Nyonya. Aku tidak terganggu sama sekali, tapi sejujurnya aku sedikit terkejut saat dia menabrak kakiku tadi."
"Sekali lagi saya minta maaf, Nyonya!" Wanita itu sedikit menundukkan kepalanya. "Saya sedikit lengah tadi sehingga tidak memperhatikan anak saya yang berjalan."
Menatap gadis kecil yang lucu di hadapannya membuat Dania tidak terlalu memperhatikan apa yang di ucapkan oleh wanita itu. "Iya, Nyonya. Apa anda hanya berdua dengannya?"
"Iya, Nona. Kami datang untuk menjemput suami saya yang baru kembali dari tugasnya." Wanita itu mencium pipi anaknya dengan gemas. "Tapi anak nakal ini tidak sabar dan berlari untuk mencari ayahnya."
'Berlari mencari ayahnya? Apakah anakku juga akan mencari ayahnya nanti? Apakah ibuku juga memberikan aku pada papa karena aku terus mencarinya? Apakah ....' Hati Dania semakin terasa tercubit.
"Baiklah, Nona. Kami harus pergi. Sekali lagi maaf dan terima kasih." Pamit wanita itu dan langsung pergi begitu melihat Dania menganggukkan kepalanya.
Tanpa terasa, air mata Dania kembali meluncur bebas. Kepalanya tiba-tiba terasa berputar dan ia kehilangan keseimbangan.
"Moony ...," Sebuah tangan kekar menopang tubuh Dania, tepat saat ia mulai kehilangan setengah kesadarannya.
Mata Dania seketika terbuka lebar. Di lihatnya sosok tampan Nino yang beberapa bulan ini selalu menjadi pemandangan pertama baginya di pagi hari. "Om pedofil?"
"Kemana kau akan membawanya?" Gibran tidak ingin lagi bersikap formal pada Nino. Ia bahkan dengan sengaja menunjukkan kekesalannya pada pria yang pernah ia hormati dulu.
Nino menatap tajam ke arah Gibran. "Apa aku harus meminta izin darimu untuk membawa istriku? Aku tidak tahu apa yang kau lakukan padanya sampai istriku menjadi seperti ini."
"Dania, kau sakit? Apa yang terjadi?" Gibran melihat wajah Dania yang pucat dan tubuhnya yang lemah dalam dekapan Nino.
Melihat dari reaksi Gibran, Nino dapat menyimpulkan jika pria itu sama sekali tidak tahu mengenai kehamilan Dania.
"Minggir!" Nada bicara Nino begitu dingin sehingga Gibran cukup tertegun.
"Aku yang akan membawa Dania ke rumah sakit." Gibran berusaha mengambil Dania dalam gendongan Nino.
Nino mengelak dan berdecak. "Jangan mencari masalah denganku! Kau sudah bukan orang kepercayaan Ricky lagi. Jadi, aku tidak akan segan-segan padamu. Pergilah! Sebelum aku kehilangan kesabaranku."
"Aku tidak peduli! Aku tidak akan pergi tanpa Dania." Gibran masih tetap menghalang-halangi Nino.
__ADS_1
Keributan yang mereka ciptakan mulai mengundang perhatian banyak orang. Dania yang masih setengah sadar pun akhirnya menarik baju Nino untuk menarik perhatiannya.
Nino menunduk dan melihat Dania yang menatapnya seperti sedang memohon. Sementara, Dania berusaha mati-matian untuk menahan rasa mual di perutnya karena mencium aroma tubuh Nino yang entah mengapa membuatnya semakin mual.
"Dasar kau ini!" Nino kemudian menggerakkan kepalanya dan tak lama kemudian dua orang bertubuh kekar datang dari arah belakang. Mereka langsung memegangi tubuh Gibran sehingga pria itu tak bisa lagi menghalangi Nino.
"Dania!!!"
***
Dania membuka matanya saat merasakan sakit di punggung tangannya. Ia melihat cahaya lampu tepat di atas matanya.
"Air ...," Dania merasa kerongkongannya begitu kering.
Tubuh Dania terangkat karena bantuan seseorang. Ia ingin mengambil gelas yang di sodorkan padanya, tapi tangannya terlalu lemah hingga gelas itu yang akhirnya menempel di bibirnya.
Saat Dania menghabiskan satu gelas air. Dania baru sadar jika dirinya berada di rumah sakit dan ia tidak sendiri. Di sampingnya ada Deta yang ternyata tadi membantunya. Di sofa juga ada Ricky yang sedang berbaring. Dan di dekat pintu Dito sedang bersandar dengan wajah dinginnya. Sementara, Shanum baru saja memeriksa dirinya. Tapi mata Dania tidak menangkap sosok yang seharusnya ada disini juga.
'Dimana om pedofil? Apakah dia tidak ingin menemui aku? Sebelumnya, dia yang membawaku kesini.' Batin Dania, seraya terus menyapu seluruh ruangan dengan tatapannya.
"Kak Nino ada di luar!" Ketus Deta dengan tangan yang sibuk menutupi tubuh Dania dengan selimut. Ia menyadari jika Dania sedang mencari suaminya, tapi Deta masih kesal dengan sikap Dania yang melarikan diri seperti ini.
"Kakak -" Dania ingin mengatakan sesuatu, tapi tak bisa karena Dito langsung menyelanya.
"Apa kau bodoh? Hah! Kau melarikan diri dengan pria lain. Dan, itu pun saat kau sedang hamil. Sungguh memalukan!" Dito membuang wajahnya setelah melemparkan tatapan tajamnya pada Dania.
"Ka- Kalian se- Semua ... Su- Sudah tahu? Lalu, Om- Om Nino ... Apakah dia?"
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino π
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1