Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
KENYATAAN


__ADS_3

Kebahagiaan yang di rasakan Deta saat melihat adik bungsunya melangkah ke jenjang pernikahan, ternyata tak di rasakan oleh Dito. Pria tegas dan dingin itu terus memasang wajah yang tidak bersahabat selama acara berlangsung. Ia bahkan sempat menolak untuk menjadi wali nikah bagi Dania hingga hal itu memancing amarah Deta.


"Apa!!!" geram Deta, ketika Shanum membisikkan sesuatu padanya.


"Kakak, ada apa?" tanya Dania cemas.


Deta berusaha mengendalikan dirinya dan menghampiri Dania. "Tidak ada apa-apa, Sayang. Kakak dan kak Shan harus mengurus sesuatu sebentar. Kau tunggu di sini saja sampai Kakak atau kak Shan menjemputmu!"


Dania mengangguk lemah. "Baik, Kak."


Meski Dania begitu penasaran dengan apa yang sedang terjadi, tapi ia juga tidak berani membantah perintah kakak perempuannya itu. Dania bisa melihat betapa marahnya Deta saat ini, terlebih ketika ia melihat kekhawatiran di wajah Shanum. Dania takut jika dirinya hanya akan menambah masalah bagi Deta.


***


Setelah keluar dari ruang ganti Dania, Deta langsung menuju ke ruang tunggu keluarga pengantin. Disana Deta menemui Dito yang tengah duduk dengan emosi yang tidak bisa di tebak.


"Dito!!!" panggil Deta, tanpa basa-basi lagi.


Mendengar namanya di sebut, Dito langsung berdiri dan menatap wajah istri dan kakaknya secara bergantian. "Iya, Kak."


"Apa maksud semua ini? Kenapa kau tidak mau menjadi wali nikahnya Dania?" tanya Deta, kilatan amarah nampak jelas di matanya.


Dito berjalan menghampiri Deta dan meraih tangannya. "Duduk dulu, Kak! Kita bisa berdiskusi sebentar."


Walaupun hatinya di penuhi amarah, tapi Deta tetap mengikuti permintaan adiknya untuk duduk dan bicara baik-baik.


"Kak, aku hanya ...," Rasanya Dito tiba-tiba kehabisan kata-kata ketika berhadapan dengan kemarahan Deta.


"Hanya ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa Dania bukanlah adikmu!" sambung Deta, tak sabar menanti penjelasan Dito.


Mata Dito terbelalak mendengar ucapan Deta. Ia sungguh tidak menyangka jika kakaknya akan mengatakan hal itu setelah begitu banyak pengorbanan dan juga kasih sayang yang ia berikan untuk Dania.


"Kak, aku sudah berubah!" sahut Dito dengan suara bergetar.


Deta memalingkan wajahnya. "Jika kau sudah berubah, kau tidak akan melakukan ini pada Dania. Terlebih kau melakukannya tepat di hari pernikahannya."


"Kak, aku memiliki alasanku sendiri." Dito mencoba meraih tangan Deta, tapi langsung di tepis oleh kakaknya itu.


Tidak ada jawaban dari bibir Deta, tapi siapapun yang melihatnya tahu jika Deta sedang menangis karena bahunya bergerak naik turun.


"Kak ...," Mata Dito sudah mulai berkaca-kaca.


Melihat ketidakberdayaan suaminya, Shanum pun akhirnya ikut bicara. "Kak, aku tahu aku tidak pantas untuk ikut campur, tapi mungkin Dito memiliki alasan kuat di balik keputusannya ini."


Deta menyeka air matanya dan menatap wajah adik laki-lakinya itu. "Dek, apapun alasanmu. Kau harus ingat ini! Walaupun Dania tidak di lahirkan oleh mama, tapi Dania juga anaknya papa. Dia tanggung jawabmu, Dek."


"Aku tahu, Kak! Aku tahu. Itu sebabnya aku tidak ingin menikahkan Dania dengan pria yang salah!" sergah Dito.

__ADS_1


Dahi Deta berkerut cukup dalam. "Salah? Apa maksudnya, Dek? Bukankah kita sudah melihat sendiri betapa tulusnya kak Nino kepada Dania? Lalu, apa kesalahannya hingga kau mengatakan hal itu?"


Helaan nafas yang berat di hembuskan Dito. "Kak, sebenarnya -"


"Maaf mengganggu, Nyonya, tapi para tamu dan penghulu sudah menunggu." Seorang pelayan tiba-tiba masuk dan memotong ucapan Dito.


Deta mengangguk sekali. "Baiklah! Kami akan segera kesana."


Setelah membungkuk hormat, pelayan tadi langsung pergi. "Baik, Nyonya."


"Dek, Kakak mohon! Jangan sampai apa yang menimpa Kakak lima belas tahun yang lalu terjadi pada Dania. Cukup satu kali papa dan mama di permalukan dan cukup aku saja yang pernah merasakan pahitnya." Mata Deta mulai mengeluarkan cairan bening yang membasahi pipinya.


'Itulah maksudku, Kak. Aku tidak ingin hal itu terulang lagi.' Batin Dito cemas. "Semoga aku tidak salah mengambil keputusan, Kak."


***


"SAH!!!"


Gemuruh tepuk tangan menggema di seluruh aula pernikahan hingga terdengar sampai ke ruang ganti Dania dan membuatnya begitu penasaran.


"Sepertinya tidak masalah jika aku kesana sekarang," gumam Dania, lantas berjalan perlahan menuju aula pernikahan tanpa di dampingi siapapun.


Perasaan Dania memang tidak sepenuhnya bahagia, tapi ia ingin sekali melihat kebahagiaan di wajah-wajah orang yang ia sayangi.


Meski kesulitan berjalan karena gaun yang ia kenakan. Namun, Dania tetap bersemangat menuju aula pernikahan. Karena begitu fokus pada acara ijab kabul, tidak ada yang memperhatikan kehadiran Dania disana.


"Bukankah dia pria itu?" gumam Dania, ketika ingatannya berhasil menemukan siapa sosok yang tidak asing baginya. Kemudian pandangannya berkeliling menyapu seluruh ruangan. "Dimana om pedofil?" tanyanya.


Nihil. Sosok yang ia anggap sebagai Nino tidak ada di dalam ruangan itu. Dan di tengah pencariannya, Dania dikejutkan oleh sebuah kenyataan yang menyakitkan.


"Selamat, Brother! Sekarang kita benar-benar saudara." Ricky memeluk sosok pria yang duduk berhadapan dengan Dito.


"Kak Nino, akhirnya! Selamat untuk akhir penantianmu." Deta ikut memeluk pria itu, meskipun hanya sesaat karena Ricky langsung menarik tubuhnya.


Bak sebuah petir yang menyambar telinganya, Dania ingin sekali memastikan apa yang ia dengar karena itu begitu menyakitkan baginya.


"Kak Nino? Itu artinya ... Dia membohongiku!"


Flashback on ...


"Biar aku mengantarmu, Nona!" pinta Nino, setelah ia dan Dania keluar dari kompleks pemakaman.


Dania tersenyum tipis. "Tidak perlu, Tuan Tampan. Aku bisa pulang sendiri. Lagipula, tidak baik kau dan aku terlalu sering bersama."


"Kenapa?" tanya Nino bingung.


Sebelah mata Dania mengerling. "Takut jatuh cinta!"

__ADS_1


Nino tersenyum dengan semburat merah di wajahnya. "Panah cinta selalu melesat ke hati yang tepat. Jika kau jatuh cinta padaku, itu artinya aku memang tepat untukmu."


"Sayang sekali, waktu mempertemukan kita di saat yang tidak tepat." Dania terkekeh, tapi matanya mengatakan hal lain.


Rasanya, Nino ingin sekali memeluk Dania. Namun, ia takut jika Dania justru akan semakin menjauh darinya.


"Ingin makan es krim?" tanya Nino, mencoba untuk mengalihkan perhatian Dania.


Dania menggelengkan kepalanya. "Tidak! Pertemuan kita cukup sampai disini saja. Tidak perlu ada urusan lagi di antara kita, kecuali ketika kau menagih janjiku padamu."


Antara sedih dan bahagia, Nino harus menahan dirinya untuk tidak bertemu Dania hingga waktunya tiba.


"Baiklah! Sampai jumpa lagi." Nino sudah berbalik untuk pergi.


"Tunggu!" teriak Dania.


Nino menoleh dengan dahi yang mengernyit. "Ada apa, Nona?"


"Dania! Namaku Dania, Tuan, bukan nona!" tegas Dania, dengan senyum di wajahnya. "Ah, iya! Aku belum tahu siapa namamu, meski kita sudah sering bertemu. Siapa namamu?" tanyanya.


'Nino Ferdinan.' Batin Nino. "Kau akan tahu jika saatnya sudah tiba."


Flashback off ...


"Jadi itu maksud ucapannya hari itu. Dia adalah om pedofil yang sebenarnya." Kaki Dania melangkah mundur.


Hati Dania hancur. Bagaimana mungkin ia bisa di bodohi sampai sejauh ini? Apa alasan Nino berbohong padanya? Mungkinkah sebenarnya Nino ingin membalas penolakannya selama ini? Semua pertanyaan itu berputar di kepala Dania, bahkan tidak mau hilang meskipun ia berlari.


BRAK ...


Dania membanting pintu ruang gantinya dan segera duduk kembali di depan meja riasnya. Pikiran dan hatinya sudah berkeliaran entah kemana.


Ingatan Dania kembali berputar pada hari-hari dimana ia tidak sengaja bertemu dengan Nino yang asli.


"Benar! Pertama kali aku bertemunya di kantor om pedofil, kemudian aku bertemu lagi dengannya di restoran tempat aku membuat janji dengan om pedofil. Lalu, pertemuan terakhir ...," Dania mencoba mengingat pertemuannya dengan Nino di makam orang tuanya. "Aku mengerti sekarang. Wanita yang ia maksud itu adalah aku sendiri." ucapnya getir.


Sebenarnya, Dania sangat ingin menangis dan berteriak, tapi entah mengapa bibirnya terkunci rapat. Bahkan air matanya seolah mengering.


Rasa sesak memenuhi rongga dada Dania. Ia seperti kehabisan oksigen setiap mengingat wajah Nino yang telah menipu dan mempermainkan perasaannya selama ini. Dengan susah payah ia mencoba menerima pria yang tidak ia cintai untuk menjadi suaminya. Namun, pengorbanannya selama ini hanya di anggap lelucon oleh pria itu.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku membatalkan pernikahan ini ...."


Hallo semuanya πŸ€—


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘πŸ»dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡πŸ»sertakan votenya juga 'ya 😍 untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2