
Sebuah jembatan menggantung begitu tinggi di atas jurang yang sangat dalam, sementara angin terus menggoyang-goyangkan jembatan tersebut tanpa henti. Seolah ingin menjatuhkan siapa saja yang ada di atasnya dan tidak akan membiarkan siapapun bisa melewatinya dengan selamat.
Dengan kaki gemetar, Dania melangkahkan kakinya perlahan. Di lihatnya sosok kekar seorang pria yang berada di depannya. Sama-sama menyeberangi jembatan mengerikan ini, tapi tak pernah sekalipun pria itu menoleh padanya. Seperti tidak pernah peduli akan kehadiran dirinya.
Dania terus berusaha. Berusaha membuka mulutnya. Ingin berteriak atau sekedar memanggil untuk meminta bantuan. Namun, tak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulutnya. Yang ada hanya air mata dan juga keringat dingin yang bercucuran tanpa henti.
Tangan Dania memegang erat tali yang berada di kedua sisi jembatan. Semakin erat saat angin menerpa lebih kencang.
'Ya Tuhan, selamatkan aku! Lindungi aku! Kirimkan aku malaikat yang bisa membantuku untuk melewati jembatan ini.'
Bibir Dania terus memohon meski tanpa suara. Kembali pandangannya tertuju ke depan. Sosok pria itu sudah semakin menjauh, bahkan hampir sampai di seberang jembatan. Sementara Dania, ia masih tidak bergerak sedikitpun meski kakinya terus berusaha melangkah.
'Ada apa denganku sebenarnya? Kenapa aku tidak bisa bergerak? Kakak, Kak Dito, Kak Ricky, tolong aku!!! '
Lagi, Dania memohon. Tetap berusaha memohon. Walaupun ia tahu tidak akan ada yang bisa membantunya.
Mata Dania terpejam. Mencoba pasrah jika memang dirinya harus jatuh. Tangannya mulai melemah, bahkan ketika angin bertiup lebih kencang dari sebelumnya.
Dania bisa merasakan tubuhnya hampir terhempas. Mungkin juga sudah jatuh.
"Aaarrrrggggghhh !!!"
Tepukan lembut di pipi Dania memaksanya untuk membuka mata dan melihat langit-langit kamar yang masih sama.
"Moony? Hei, ada apa?" Suara berat yang khas dan familiar di telinga Dania, membuatnya menoleh.
Dania mengedipkan matanya berkali-kali. Kemudian menarik nafas dalam dan tersenyum serta langsung memeluk erat tubuh atletis suaminya itu.
"Hei!" Nino terkejut, tapi tetap menyambut pelukan Dania. Di usapnya punggung Dania dengan lembut dan mengecupi puncak kepala Dania dengan penuh cinta. "Kau bermimpi buruk? Hemm?"
Dania hanya mengangguk dalam pelukan Nino. Tidak tahu kenapa, rasanya bahagia sekali bisa melihat wajah suaminya saat ini. Dania seperti menemukan kembali kehangatan pelukan ayahnya. Cinta ibunya. Dan juga keceriaan kakaknya, serta perlindungan kakak laki-lakinya. Dania merasa dalam pelukan Nino semua yang ia miliki telah kembali. Keluarganya telah utuh kembali. Tanpa sadar, Dania terisak. Semakin lama, tangisannya semakin keras hingga membuat Nino bingung dan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Ada apa, Moony? Apa kau terluka?" tanya Nino cemas. Matanya sibuk memeriksa beberapa bagian tubuh Dania. "Katakan, Moony! Apa kau sakit? Kenapa kau menangis? Apa aku melukaimu? Aku menyakitimu?" tanyanya lagi. Semakin panik karena Dania masih tetap diam dan hanya menatapnya dengan wajah sembab.
Sejujurnya, Dania ingin sekali mengatakan banyak hal. Namun, bibirnya begitu sulit untuk berucap. Suaranya juga seperti hilang terbawa angin. Jadi, untuk meluapkan semua perasaannya maka Dania memilih untuk menangis. Tangis kebahagiaan karena merasa beruntung memiliki Nino sebagai suaminya.
***
Pagi hari yang cerah menjadi awal yang baik bagi Dania untuk memulai langkah baru dalam hidupnya.
Dania sudah memutuskan. Memutuskan sesuatu yang seharusnya sudah sejak lama ia putuskan. Hal yang Dania anggap begitu berat dalam hidupnya, bahkan sempat ia menganggapnya sebagai sebuah musibah. Nyatanya mampu membuat Dania bahagia dan nyaman. Rasanya seperti Dania mendapatkan semua hal baik di dunia ini.
"Selamat pagi, Istri kecilku yang cengeng." Nino melingkari pinggang Dania dari belakang. Tak tahan saat melihat istrinya itu tengah menyiapkan pakaian untuknya.
Dania berbalik dan tersenyum sebelum melingkarkan kedua tangannya di leher Nino. "Selamat pagi juga, Om pedofilku yang mesum."
Nino mengernyit. Sedikit terkejut dengan sikap Dania yang ... Bisa di katakan sangat berbeda dengan kebiasaannya.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Dania, tanpa melepaskan tangannya dan juga tatapannya yang melekat pada kedua bola mata Nino.
Mata Dania membelalak dengan mulut yang terbuka karena terkejut dengan ucapan Nino. "Kau!!!"
Cepat Nino menahan tangan Dania yang akan berjalan menjauhinya. "Jangan marah, My sweet baby wife!"
"Kau menyebalkan! Mana ada seorang suami yang menuduh istrinya mabuk seperti dirimu." Dania mengerucutkan bibirnya karena kesal.
Nino melangkah dan mengurangi jaraknya dengan Dania. Wajahnya tersenyum penuh arti hingga bibirnya menyentuh bibir Dania yang menggoda.
Wajah Dania bersemu merah. Nampak jelas jika ia akan marah. Namun, Nino segera merengkuh tubuhnya dan menghilangkan jarak di antara keduanya.
"Aku tidak menuduhmu, Moony, tapi aku merasa jika kau benar-benar mulai di mabuk cinta ..."
***
__ADS_1
"Bodoh kalian!!!"
Sebuah kursi terjungkal bersamaan dengan umpatan akibat kemarahan yang memenuhi hati dan pikiran seseorang.
Terdengar helaan nafas dari seseorang yang juga ada di ruangan yang sama. "Bagaimana, Kak?"
"Dia kabur!" Masih dengan wajah kesal, tapi sudah terlihat lebih tenang. "Aku tidak tahu jika dia lebih licik dari yang aku bayangkan."
"Maafkan aku, tapi aku rasa kau lebih bodoh darinya karena berpikir bisa melumpuhkan seseorang yang sudah lama menjadi bayanganmu dengan tanganmu sendiri."
***
"Kau ingin ikut aku ke kantor?" tanya Nino lagi. Memastikan jika telinganya masih berfungsi dengan baik.
Dania mengangguk penuh semangat dengan tatapan berbinar. "Aku mohon izinkan aku!"
Nino gemas bukan main. Ingin sekali rasanya mengecup bibir menggoda itu sekali lagi. "Aku takut kau akan bosan, Moony. Bagaimana jika aku mengantarmu ke rumah Ricky? Kau bisa berjalan-jalan dengan ibunya Tary."
Bibir Dania kembali mengerucut, di susul tangannya yang tersilang di depan dada. "Kakak tidak di perbolehkan keluar rumah oleh kak Ricky sejak hamil. Sedangkan, kak Shan sedang banyak pekerjaan di rumah sakit. Aku bosan di rumah!"
Melihat sikap Dania yang seperti ini, sungguh sangat menggelitik hati Nino. Tak pernah sebelumnya ia melihat Dania bersikap manja padanya dan juga pada siapapun, kecuali pada kakak perempuannya. Ini pertama kalinya bagi Nino melihat sisi lain Dania. Ada perasaan bahagia karena Dania akhirnya bisa menunjukkan sisi lain dalam dirinya itu pada Nino, tapi juga sedikit heran dan sulit mengerti dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba seperti ini.
"Baiklah! Kau boleh ikut denganku, tapi tidak boleh memaksakan diri. Jika kau bosan atau lelah, katakan saja! Jangan terus menungguku sampai tertidur!" Nino mencubit gemas hidung Dania yang justru tertawa karena mendapatkan apa yang ia inginkan.
Tanpa menunggu perintah, Dania langsung masuk ke dalam mobil dan duduk dengan manisnya.
"Kau tidak ingin mengambil tasmu atau sesuatu mungkin?" tanya Nino, sebelum menyalakan mobilnya.
Dania menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku tidak membutuhkan apapun, selama kau ada bersamaku."
Hallo semuanya 🤗
__ADS_1
Di tunggu selalu ❤️nya sama Dania dan Om Nino