
Deru kendaraan saling bersahutan di tengah keramaian kota, sedikitnya mengurangi kesunyian yang terjadi di mobil mewah milik Nino. Sejak kepulangannya dan Dania dari rumah Sanjaya, Nino lebih banyak diam. Semua itu jelas di sadari oleh Dania yang lebih banyak menatap wajah sang suami, daripada menghitung barisan pohon di tepi jalan seperti biasanya.
"Om?" Dania mencoba menyentuh lengan Nino yang langsung menoleh dan tersenyum simpul. "Apa ada masalah?"
Nino terlihat menghela nafasnya, tapi enggan mengutarakan apa yang ada di pikirannya. "Tidak ada, Moony. Aku hanya sedikit lelah. Mungkin karena terlalu banyak membawamu terbang dan melayang."
Dania yakin, kalimat terakhir yang di ucapkan Nino bermaksud untuk menggodanya. Wajahnya pun seketika memerah dengan pipi yang menggembung, tanpa bisa di tahan.
"Kalau begitu, malam ini simpan saja sayapmu agar kita tidak perlu terbang." Dania merajuk dan menemukan ide seperti itu secara tiba-tiba.
"Moony, ayolah, aku hanya bercanda!" Nino mulai merengek dengan wajah memelas.
Beruntung, mobil mereka sedang berhenti di tengah lampu merah sehingga Nino bisa leluasa merayu Dania yang sepertinya akan lebih lama merajuk.
"Bercandamu tidak lucu, Om!" sungut Dania kesal, kemudian memalingkan wajahnya ke samping.
Mata Dania seketika membulat saat melihat sosok yang sangat di kenalnya berada di dalam mobil tepat di sampingnya.
"Moony, aku -"
"Huuusstt!!!" Dania langsung membungkam mulut Nino dengan sebelah tangannya. Namun, ia dapat merasakan jika Nino tidak membantah atau melawan sedikitpun. Di lihatnya wajah Nino yang datar, tanpa ekspresi apapun. "Maaf ...," Dengan cepat Dania menurunkan tangannya.
"Tidak masalah!" Nino kembali melajukan mobilnya dalam diam. Sementara, Dania menyapu seluruh jalanan di depan dengan tatapan matanya.
'Apakah aku salah lihat? Mana mungkin mereka bersama ...'
***
Beberapa masalah yang di hadapi belakangan ini, telah membuat Nino lelah bukan main. Ia lantas menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur begitu memasuki kamar utama rumah Ferdinan.
"Kau tidak ingin mandi lebih dulu?" tanya Dania, sementara tangannya sibuk melepaskan beberapa aksesoris di tubuhnya.
Nino membalikkan tubuhnya menghadap Dania dan menatap pantulan wajah cantik istrinya melalui cermin. "Mandikan aku!"
__ADS_1
Dania menoleh dan memicingkan matanya. "Tidak! Nanti kau akan mengatakan jika aku telah membuatmu lelah. Atau bisa saja kau berkata aku berniat menggodamu."
Terlihat Nino mengulum senyumnya. "Kau sangat pendendam, Istri kecilku. Sudah ku katakan bukan? Aku hanya bercanda."
"Entahlah! Kau itu selalu saja bercanda. Aku jadi sulit membedakan kapan kau serius dan kapan kau main-main." Dania kembali menatap dirinya di cermin. Dan tubuhnya sedikit tersentak saat merasakan tangan kekar Nino memeluknya erat. "Kau bau! Mandi sana!"
"Aku tidak akan mandi, jika kau tidak ikut mandi bersamaku." Nino mulai menyusuri lekuk leher Dania dengan lembut.
Awalnya, Dania berniat untuk menuruti keinginan Nino. Namun, tiba-tiba saja perutnya bergejolak. Kepalanya juga terasa sedikit berputar.
"Mandilah sendiri, Om!" Dania berdiri dan menjauhi Nino. "Aku lelah!"
Melihat Dania yang menaiki tempat tidur tanpa membersihkan diri membuat Nino heran, tapi enggan bertanya karena Dania sudah tenggelam di balik selimut tebalnya.
***
Suasana hati seorang ibu yang sedang mengandung memang sangat sensitif. Terkadang hal-hal sepele yang biasa terjadi pun, bisa saja menyakiti hatinya. Meskipun semua itu terlihat normal di mata orang lain, tapi tidak bagi seorang wanita yang sedang hamil.
"Sayang?" Ricky memulai jurus jitunya untuk meredakan kemarahan Deta. "Kau tidak kasihan padaku? Aku lapar, Sayang."
"Sayang?" rengek Ricky, karena Deta tetap diam. "Apa yang harus aku lakukan lagi, Sayang?"
Ricky begitu putus asa menghadapi kehamilan Deta kali ini. Rasanya benar-benar berbeda saat Deta tengah mengandung Tary dulu.
"Mas, yakin akan melakukan apapun untukku?" Deta akhirnya bersuara. Anggukkan kepala Ricky menjadi sinyal baik bagi Deta untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. "Kalau begitu, jawab pertanyaanku!"
"Itu mudah sekali, Sayang." Ricky tersenyum sumringah.
Deta tersenyum sinis melihat kepercayaan diri suaminya. "Sebenarnya, ada masalah apa antara Dania dan kak Nino yang tidak aku ketahui?"
Perlahan, senyuman di wajah Ricky memudar. Lidahnya mulai membeku seiring tubuhnya yang juga tidak bisa di gerakkan. "Sa- Sayang?"
"Aku ingin tahu semuanya, Mas! Aku merasa ada yang kalian sembunyikan dariku. Beberapa kali aku melihat kak Nino gelisah dan hari ini aku melihat kegelisahan itu dengan sangat jelas." Deta menerawang kembali ingatannya saat melihat sikap Nino sebelumnya.
__ADS_1
"Itu hanya perasaanmu saja, Sayang," elak Ricky. Wajahnya sudah mulai mengendur. Tidak lagi tegang seperti tadi. Mungkin ia merasa sudah bisa mengecoh Deta.
Kepala Deta bersandar di ujung tempat tidur. "Mas, kau tahu? Kehamilan juga bisa membuat seorang wanita menjadi lebih peka dengan keadaan yang ada di sekitarnya. Aku tahu, Mas, ini bukan hanya tentang Mika. Ada hal lain yang kalian sembunyikan."
"Tidak ada, Sayang." Ricky masih tetap dengan pendiriannya.
Deta geram bukan main melihat sikap Ricky. "Mas, jika terjadi sesuatu pada Dania dan rumah tangganya, sementara Mas tahu segalanya tanpa berbuat apapun ... Aku pastikan kebahagiaan kita juga akan terganggu."
Ancaman yang di lontarkan Deta memang di sampaikan dengan cara yang lembut. Namun, bisa membuat Ricky goyah dan mulai takut.
***
Tetesan air dan juga aroma sabun menambah kesegaran di tubuh Nino yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Niat awalnya ingin kembali mengganggu Dania karena tubuhnya sudah wangi sekarang. Walaupun sebenarnya, Nino tidak pernah merasa bahwa tubuhnya bau.
"Moony?" Nino melangkah perlahan mendekati Dania dan menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. "Kau tertidur?" bisiknya.
Dengkuran halus dan mata yang terpejam erat menjadi tanda bahwa Dania sudah memasuki alam mimpinya.
Nino hanya bisa mengulum senyum melihat wajah damai Dania dalam tidurnya. "Sepertinya kau benar-benar lelah, Moony. Maaf karena aku belum bisa memberikan kebahagiaan untukmu, tapi jika kebahagiaanmu ada bersamanya ...," Tenggorokan Nino tercekat karena sesak membayangkan Dania akan pergi dari hidupnya.
Sementara, di lain tempat, dua orang yang saling membutuhkan satu sama lain. Baru saja menepikan mobilnya di depan sebuah bangunan apartemen mewah.
"Kau yakin?" Mata keduanya mengamati bangunan kokoh di hadapan mereka.
Anggukkan kepala menjadi jawaban atas segala pertanyaan serta keraguan yang sempat menghalangi langkahnya.
"Aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak, tapi aku yakin jika masih ada tempat untukku disini." Keyakinan yang begitu besar. Sama seperti beberapa tahun yang lalu. Masih saja yakin bahwa tidak ada yang akan berubah.
"Pergilah! Buka jalan untukku!"
Hallo semuanya 🤗
Mohon maaf karena ketidakjelasan jadwal up-nya 🙏
__ADS_1
Terima kasih untuk yang tetap setia menanti author muncul kembali 😍