
Bunga yang bermekaran dan juga salju pertama yang turun setelah musim gugur. Semuanya terlihat indah di pelupuk mata Dania.
"Moony! Moony!"
Nino menjentikkan jarinya di depan wajah Dania yang sedang melamun.
Dania mengerjap. "Aku disini!"
"Kau memang disini sejak tadi." Nino tertawa dengan jahatnya. "Apa yang kau khayalkan?" godanya.
"Tidak ada!" elak Dania seraya berjalan menaiki anak tangga.
Sejak pernyataan cinta Nino, hubungan keduanya mulai di penuhi romansa dan candaan satu sama lain. Ada rasa malu dan takut menyakiti yang seketika muncul bersamaan dengan penerimaan hati Dania terhadap pria yang telah menikahinya itu.
"Aku bersedia menerima dirimu, tapi aku mohon jangan hujani aku dengan cintamu yang begitu besar sebelum aku jatuh cinta padamu. Karena aku ... Tidak bisa melihatmu terluka karena kebodohanku."
Setiap mengingat kata-katanya sendiri, Dania selalu merasa ada banyak kupu-kupu di perutnya dan juga bunga-bunga yang menghujani dirinya.
Bodoh! Begitulah pikir Dania. Sehingga semua hal manis yang di bawa oleh cinta Nino, ia tepis begitu saja akibat rasa malu yang menghantuinya.
Dania menggelengkan kepalanya, kemudian senyum-senyum sendiri. Namun, kakinya tiba-tiba berhenti dan berbalik untuk melihat Nino yang masih di tempatnya.
"Kau menungguku?" tanya Nino nakal.
Dania mendengus sebal. "Aku hanya penasaran. Kenapa kau bisa ada di kamarnya kak Dito?"
Nino menaiki anak tangga perlahan. "Aku tidak bisa tidur karena terus bersin. Aku takut akan mengganggu tidurmu, jadi aku putuskan untuk keluar dari kamarmu. Tidak tahu kenapa kamar kakakmu yang jadi pelabuhan terakhirku. Tapi aku mohon, jangan katakan padanya jika aku masuk ke dalam kamarnya!"
Wajah Nino yang memohon seperti itu membuat Dania gemas dan ingin mencium pipi putih bersih yang terawat di hadapannya.
'Aaahhhh ... Apa yang di pikirkan otak kecilmu ini, Dania!' Umpat Dania dalam hati.
Dania berdeham untuk menetralkan perasaannya. "Itu bisa di atur. Tapi ...."
"Tapi apa?" Nino memicingkan matanya.
"Katakan padaku, darimana kau belajar lagu yang kau nyanyikan di kamar kak Dito tadi?" tanya Dania seraya mencondongkan wajahnya ke arah Nino.
Nino mengerutkan dahinya hingga kedua alisnya hampir menyatu. "Lagu itu?"
Dania mengangguk penuh semangat.
__ADS_1
"Aku ini mantan penyanyi, Moony. Tentu saja aku bisa menyanyikan lagu itu dengan mudah. Lagipula, itu bukanlah lagu khusus sehingga siapa saja bisa belajar dan menyanyikannya dengan mudah." Nino mencuri sebuah kecupan di pipi Dania yang menantang dirinya sedari tadi.
Tangan Dania menyentuh pipinya. "Om pedofil! Mana ada orang berkencan yang tidak tahu malu seperti dirimu. Kita baru saja sepakat untuk memulai, tapi kau sudah menciumku. Ini tidak adil!"
Nino tertawa penuh kemenangan dan menaiki satu anak tangga untuk mengurangi jaraknya dengan Dania. "Kalau begitu, cium aku agar semua ini adil bagimu!"
"Mana ada keadilan semacam itu!" gerutu Dania, kemudian berbalik menuju kamar tidurnya.
Sementara, di belakangnya Nino tidak bisa menghilangkan senyuman bahagia di wajahnya.
Dania menoleh begitu sampai di ujung anak tangga dan melihat Nino yang tersenyum penuh kehangatan padanya.
"Aku yakin. Itu bukan lagu biasa. Aku mengenal suaranya, tapi kenapa dia tidak mau mengakuinya?"
***
"Sayang, kapan kalian akan pulang?" tanya Deta, mulai cemas dengan rumah tangga adiknya.
Yang sedang di khawatirkan justru tertawa. "Kakak, bukankah ini juga rumahku?"
"Tentu!" jawab Deta cepat. "Tapi kau sudah berumah tangga. Dan lagi, jika Dito tahu kalian tinggal disini ...,"
Kedua wanita itu bergidik ngeri membayangkan kemarahan saudara laki-lakinya itu. Namun, saat tatapan keduanya terpaku pada potret pernikahan Dito yang terpasang di dinding, perlahan kengerian itu berubah menjadi sesuatu yang menggelitik.
Deta awalnya ikut tertawa, tapi setelahnya ia hanya menatap Dania lekat.
"Kenapa Kakak menatap Dania seperti itu?" tanya Dania, dengan nafas yang tersengal-sengal karena lelah tertawa.
Senyuman lembut menghiasi wajah Deta. "Sejak kau kembali, baru hari ini Kakak melihatmu tertawa. Rasanya beban di hati Kakak mulai terangkat satu persatu."
"Kakak ...," Dania menghambur memeluk Deta. "Aku sudah memutuskan untuk membuka hatiku untuk dia." ucap Dania malu.
Deta melepaskan pelukan Dania. "Sungguh?"
Dania mengangguk. "Tapi hanya sebatas menerima. Dia juga berjanji tidak akan memaksaku dan akan membiarkan cintaku tumbuh dengan sendirinya."
"Kak Nino memang pria yang baik," puji Deta.
Kebahagiaan yang di rasakan Dania ikut serta di rasakan oleh Deta yang selama ini membesarkan Dania dengan tangannya sendiri. Perasaan bersalah sempat menghantuinya sejak melihat kesedihan dan keterpurukan di mata adik kecilnya itu, tapi Deta tidak pernah menghiraukan hal tersebut hingga ia mendengar Dania yang pergi dari rumah Nino. Saat itu ia berpikir untuk membiarkan Dania melangkah ke jalan yang ia inginkan. Namun, saat ini di hadapannya Dania justru terlihat bahagia dan memutuskan untuk menerima pria pilihannya.
"Hidungku akan semakin membesar karena mendengar pujianmu, Ibunya Tary!" seru Nino, yang baru datang bersama Ricky.
__ADS_1
Deta tersenyum ramah. "Tapi itu kenyataannya, Kak."
Ricky yang berjalan di belakang Nino segera menghampiri istrinya dan memeluk tubuh Deta dengan erat. "Jangan tersenyum padanya! Nanti pria tua konyol itu jatuh cinta padamu, Sayang."
Nino mencebik seraya menghampiri Dania dan mencium puncak kepala istrinya itu. "Hatiku sudah menjadi miliknya. Tidak ada ruang bagi orang lain!"
Merahnya tomat, Dania yakin tidak semerah wajahnya saat ini. Ia juga merasakan seluruh tubuhnya kaku dan tak bisa bergerak.
'Apa ini? Dia hanya mencium kepalaku dan aku sudah seperti ini. Ini tidak benar!' Rutuk Dania dalam hati.
"Mas, jangan mengganggu mereka!" Deta mendorong dada Ricky agar menjauh darinya. "Apa yang Mas lakukan disini? Bukankah seharusnya Mas menjemput Tary?" oceh Deta.
Ricky mengerlingkan sebelah matanya. "Tary lebih senang tinggal bersama kak Fita dan membiarkan kita menghabiskan waktu bersama."
"Hah?" Nino membuat wajah bodoh yang jenaka. "Jika aku jadi dirimu, aku akan bosan melihat wajah Ricky setiap hari, Ibunya Tary."
Kali ini wajah Deta yang bersemu merah, meski tidak semerah wajah Dania.
"Kau hanya iri!" ejek Ricky, semakin membuat adegan mesra di hadapan Dania dan Nino.
Nino mulai terpojok dan tak bisa membalas ejekan Ricky karena memang benar dirinya belum bisa sedekat itu dengan Dania, walaupun keduanya telah resmi menjadi sepasang suami istri. Bagi Nino, Dania membalas ciumannya dan tidak menendangnya saat ia ingin memeluknya saja sudah hal yang sangat luar biasa. Dan kebahagiaan saat Dania memilih untuk tinggal di sisinya tidak akan bisa Nino ungkapkan dengan kata-kata.
Di tengah lamunannya, tiba-tiba saja Nino merasakan sebuah benda kenyal dan hangat mendarat di pipinya. Nino pun menoleh dan melihat wajah Dania yang begitu dekat dengannya.
"Moony ...," Nino hampir tersedak salivanya sendiri.
Nino merasa jika dirinya sedang bermimpi. Haruskah Nino menampar wajahnya sendiri agar segera terbangun dari mimpinya? Tidak! Nino ingin tetap bermimpi dan membiarkan rasa bahagia ini menjadi kenangan terindah di hatinya.
"Kau tidak bisa mengejeknya lagi, Kak Ricky." Dania tersenyum menantang.
Ricky dan Deta menganga tak percaya melihat apa yang baru saja di lakukan Dania. Terlebih ketika mereka mendengar panggilan baru Dania untuk Ricky.
"Kak Ricky?" ucap Deta dan Ricky bersamaan.
Senyuman mengembang di wajah Dania, terlebih saat ia melihat Nino masih yang begitu bahagia hanya karena tindakan kecilnya.
'Hah! Satu langkah yang ku ambil dengan mengorbankan harga diriku, tapi aku tidak menyesal telah melakukannya ...'
Hallo semuanya 🤗
Terima kasih always stay buat Dania dan Om Nino 😘
__ADS_1
Keep healthy and happy 😊