Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
RASA SAKIT


__ADS_3

"Ada banyak wanita di sekitarku, Moony, tapi hanya dirimu yang ada di hatiku." Nino mengecup puncak kepala Dania, mencoba menyalurkan rasa cintanya.


"Kalau begitu, kenapa kau merahasiakan tentang dia dariku?" tanya Dania lirih, ada rasa kecewa dan takut kehilangan yang bercampur menjadi satu dalam suaranya.


Nino melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Dania.


Dania mengerutkan dahinya cukup dalam ketika mengikuti langkah suaminya itu. "Kemana kau akan membawaku?"


Tak ada jawaban dari Nino, melainkan hanya tatapan penuh cinta juga senyuman penuh arti sebagai jawaban dari pertanyaan Dania.


***


Pandangan Dania menyapu seluruh ruangan apartemen Nino yang sudah cukup lama tidak ia datangi.


Suasananya masih sama seperti terakhir mereka datang ke tempat ini dan nyaris menyatukan cinta di sini.


"Kenapa kita kesini?" tanya Dania bingung.


Nino menuntun Dania untuk duduk di tepi tempat tidur. Sedangkan dirinya berjalan menuju almari.


"Lihat ini, Moony!" Nino menunjuk beberapa helai pakaian yang tergantung di sana dan mengeluarkannya. "Semua ini milik Mika."


Sejujurnya, Dania langsung terbakar cemburu ketika Nino mengatakan hal itu. Namun, sekuat hati Dania menahan gejolak di dadanya.


"Lalu?" Dania memicingkan matanya. "Kau ingin menunjukkan rasa cintamu padanya di hadapanku?" sindirnya.


Nino menghela nafas perlahan. "Tidak, Moony! Aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa kehadiran dirinya sama sekali tidak mempengaruhi diriku. Dia sama saja seperti pakaian-pakaian ini. Tersimpan dan terkurung di tempat gelap, tanpa aku ingin melihatnya."


Dania mendengus dan memalingkan wajahnya. "Kalau begitu, kenapa kau masih menyimpannya?"


"Aku tidak sengaja menyimpannya, Moony. Aku hanya tidak tahu ada barang miliknya disini sampai kau mengenakannya hari itu." Nino terlihat begitu menyesal.


Kekecewaan Dania tidak berkurang sedikitpun. Hatinya justru semakin terbakar bara api yang menghanguskan dirinya.


Dania bangkit dan menatap tajam Nino yang menunggu reaksi darinya. "Jadi, semua ini adalah kebodohanku? Aku mengira kau mencintaiku. Aku tidak sadar jika kau hanya bermain-main denganku. Aku sama sekali tidak menyadari bahwa kau menduakan aku dengan tanteku sendiri!"


Mata Dania terasa panas. Ada serbuan air yang ingin merangsek keluar dari matanya, tapi Dania bertekad untuk tidak mengeluarkannya.


"Tidak! Bukan seperti itu, Moony!" sanggah Nino, ia mulai melangkah mendekati Dania. Namun, Dania mundur untuk menjauhinya. "Moony, tolong dengarkan aku dulu!" pintanya.


Dania menggelengkan kepalanya. Putus asa dengan hubungan dan cintanya yang rapuh, bahkan sebelum ia mengutarakan isi hatinya. "Aku sudah terlalu banyak mendengarkanmu! Mendengarkan semua orang! Sekarang saatnya aku mendengarkan hatiku dan juga keinginanku!"

__ADS_1


Melihat Dania yang hancur di hadapannya membuat Nino merasa di bersalah. "Moony ..."


"Aku memang bodoh! Aku terbuai oleh semua sikapmu. Aku tidak berpikir jika sebenarnya kau hanya mempermainkan aku!" ucap Dania, air mata sudah tidak bisa lagi ia tahan.


Nino berusaha merengkuh tubuh Dania. Di peluknya tubuh Dania yang meronta, bahkan memukuli dirinya. Namun, Nino hanya diam dan menangis tanpa suara. Kepedihan Dania tentu saja melukai dirinya karena lagi-lagi dirinyalah yang telah membuat Dania terluka.


"Maafkan aku, Moony! Maafkan aku ...," Nino menciumi rambut Dania tanpa henti.


Tak pernah terpikirkan oleh Nino, jika masa lalunya bersama Mikayla akan melukai hubungannya dengan Dania. Ia hanya berpikir jika Mikayla sudah tidak berarti apa-apa baginya sejak hatinya di isi oleh Dania. Tak ada yang tahu jika wanita itu kembali lagi dan mengungkit kisah lama mereka.


"Maaf ... Maaf ... Maaf ...."


Hanya kata itu yang keluar dari bibir Nino yang bergetar. Ia tidak sanggup mengucapkan apapun lagi karena Nino tahu kesalahan sebesar apa yang telah dilakukannya kali ini.


"Aku ingin pulang," ucap Dania lirih, setelah lelah menangis.


Nino masih enggan melepaskan pelukannya. "Kau bisa beristirahat disini. Ini juga rumahmu."


"Aku tidak ingin tinggal, dimana tempat itu memiliki aroma wanita lain." Dania ingin sekali melepaskan diri dari dekapan Nino, tapi tubuhnya begitu lemah sehingga ia hanya bisa menghela nafasnya.


Separah itu hubungan Dania dan Nino. Bukan karena Dania tidak mempercayai suaminya itu, melainkan Dania merasa telah di khianati oleh hatinya sendiri.


Nino mengecupi setiap jengkal wajah Dania dan mengulas senyum tipis dengan wajah sendunya hingga Dania mengatakan hal yang bagaikan petir di siang bolong.


"Pulangkan aku ke rumah orang tuaku!"


***


"Om pedofil!!! Buka pintunya!"


Teriakan Dania menggelegar di kamar utama rumah besar Ferdinan. Tak ada yang mendengarnya karena ruangan itu kedap suara. Sementara, Nino bersandar di pintu dengan tubuh yang lemah dan hati yang hancur.


"Maaf, Moony! Aku harus melakukan ini karena aku takut kau meninggalkan aku." Nino mengusap pintu besar itu seolah tengah mengusap wajah Dania.


Di dalam kamar, Dania juga mulai lelah dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Bayangan akan momen-momen manis yang di lewatinya bersama Nino seperti mengiris-iris hati Dania. Hatinya mulai meragukan ketulusan Nino padanya.


"Apakah semua itu palsu?" gumam Dania.


Keraguan demi keraguan mulai bersusunan di hati Dania dan membentuk gunung es besar yang siap membekukan hatinya saat ini.


Dania menyeka air matanya dan berdiri untuk berjalan ke kamar mandi.

__ADS_1


Guyuran air dingin menimpa wajah Dania, menyamarkan air mata yang kembali menganak sungai di matanya.


"Kenapa kalian tega padaku, Om, Tante?" lirih Dania, tak kuasa menahan sesak di dadanya.


Tubuh Dania merosot dan bersandar di dinding dengan kucuran air yang terus membasahi tubuhnya hingga Dania mulai kehilangan pandangannya.


***


"Moony ... Moony, buka matamu! Jangan membuatku takut!"


Suara yang begitu getir memaksa Dania membuka matanya dan melihat wajah tampan suaminya di penuhi ketakutan.


"Om?" Dania begitu lemah meskipun hanya untuk memanggil Nino.


Nino mengalihkan tatapannya dan melihat Dania yang mulai membuka matanya. Ia langsung mengecup kening Dania dan menghapus air mata Dania yang meluncur di sudut matanya.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Nino cemas.


"Hancur!"


Jawaban singkat Dania sukses menghantam hati dan pikiran Nino.


Nino menarik nafas panjang dan menciumi tangan Dania yang terpasang selang infus. Ya, Dania kini berada di rumah sakit setelah Nino menemukannya tak sadarkan diri di kamar mandi dengan tubuh yang sudah dingin tanpa sehelai benangpun.


"Jangan maafkan aku jika itu membuatmu semakin terluka, tapi aku mohon tetaplah berada di sisiku! Temani aku! Aku tidak bisa hidup tanpamu." Nino kembali meneteskan air mata yang menegaskan betapa rapuhnya pria itu saat ini.


Biarlah seluruh Dunia menganggapnya egois. Namun, yang Nino inginkan saat ini hanyalah Dania tetap bersamanya agar keinginan orang-orang yang ingin memisahkan mereka tidak terpenuhi.


"Tetap disisimu dan melihatmu menikmati cinta lamamu dengan tanteku sendiri?" tanya Dania getir.


Dania memang wanita yang kuat, tapi wanita mana yang sanggup menerima kenyataan bahwa suaminya masih menyimpan barang kenangan dari wanita lain. Meskipun wanita itu adalah adik kandung dari ibunya sendiri. Bukankah hal itu justru semakin memperdalam luka di hati? Dania tidak akan sanggup menghadapinya.


"Aku tidak mencintainya, Moony!" tegas Nino, tak tahu harus bagaimana meyakinkan Dania yang sudah terlanjur kecewa padanya.


Dania mengalihkan pandangannya untuk menghindari tatapan Nino.


"Andai saja aku tidak mencintaimu, maka rasanya tidak akan sesakit ini saat aku mengetahui bahwa cintamu bukan hanya untukku!"


Hallo semuanya 🤗


Di tunggu cintanya sama Dania dan Om Nino 😍

__ADS_1


__ADS_2