
Bunga-bunga seolah bermekaran mengelilingi setiap langkah, seakan turut merasakan gempita bahagia yang ada di dalam hati.
Senyuman tak henti-hentinya terukir di wajah tampan Nino, sementara jari-jarinya bermain di kemudi mobil menciptakan sebuah melodi dengan senandung yang keluar dari mulutnya.
"Astaga!" Nino tertawa dan menyisir rambutnya dengan jari. "Ternyata rasanya jauh lebih membahagiakan daripada saat aku menikahi Moony. Ini ... Ini ... Jutaan kali lebih membahagiakan!"
Sungguh! Nino sudah tidak tahan untuk bertemu dengan Dania. Andai mampu, Nino ingin langsung terbang dan memeluk tubuh hangat istri kecilnya itu.
Akibat rasa bahagia dan juga kerinduan yang tercampur menjadi satu, perjalanan menuju rumah keluarga Sanjaya terasa begitu sangat melelahkan. Jalanan di depan seperti tiada berujung.
"Hah!" Lagi, Nino menghela nafasnya dengan senyum yang masih bertahan di wajah tampannya. "Aku benar-benar merindukanmu, Moony."
***
"Kak Shan, berhentilah tersenyum seperti itu!" Dania mendengus seraya membuka pintu mobil Shanum.
Shanum yang memang tidak bisa menutupi kebahagiaannya justru semakin menarik lengkungan di bibirnya. "Ini kabar baik, Sayang, aku sungguh bahagia!"
Dania berdecak mendengar jawaban Shanum. "Kalau begitu, Kakak tidak akan bisa membantuku menyembunyikan hal ini."
Tangan Shanum yang sibuk menyalakan mobil pun terhenti karena ucapan Dania. Tatapannya teralihkan pada sosok yang terlihat rapuh di sampingnya. "Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, Dania, tapi sungguh ... Jika aku di berikan kesempatan untuk membantumu, maka aku akan berusaha semampuku."
Bagi Shanum, Dania dan Deta adalah saudaranya. Bukan hanya sekedar saudara ipar baginya, melainkan sudah seperti saudara kandung. Apapun masalah yang di hadapi oleh kedua saudara perempuan suaminya itu selalu membuatnya mencemaskan mereka.
Bibir Dania bungkam. Hatinya seperti teriris sembilu. Dania ingin bicara, tapi tidak bisa. Ingin rasanya menangis. Namun, air matanya telah habis. Dilema yang begitu besar dan menyakitkan bagi hatinya.
"Kak Shan," panggil Dania tanpa menatap ke arah Shanum. Pandangannya menerawang entah kemana. "Berjanjilah padaku untuk tidak memberi tahu siapapun tentang hal ini!" pintanya lirih.
Shanum terkejut bukan main. Matanya terbelalak, tak percaya dengan permintaan Dania. "Tapi kenapa?"
Dania memutar tubuhnya. Di tatapnya Shanum yang menanti penjelasan darinya, tapi Dania juga bisa melihat kecemasan di sepasang mata itu. Hatinya menghangat. Merasa di cintai oleh keluarganya. Inilah yang selalu Dania impikan saat hidup seorang diri di asrama. Hatinya tengah berperang, akankah Dania sanggup kehilangan semua ini?
"Dania?" Sentuhan hangat di punggung tangannya mengembalikan kesadaran Dania. "Kau baik-baik saja? Apakah aku perlu menghubungi tuan Ferdinan?"
Sudut bibir Dania tertarik, menciptakan sebuah senyuman. Namun, sorot matanya mengatakan hal lain. "Aku baik-baik saja, Kak."
__ADS_1
"Ingat, Sayang, aku dan Dito akan selalu ada untukmu." Kali ini Shanum langsung menarik tubuh Dania dalam dekapannya. Entah mengapa Shanum merasa jika Dania akan pergi jauh dari mereka semua.
Kepala Dania mengangguk bersamaan dengan datangnya serbuan air mata dan juga isakan dalam dekapan hangat tubuh Shanum yang tak bisa lagi ia tahan.
***
Suasana rumah besar Sanjaya sedikit berbeda saat Nino melangkah masuk tanpa izin, seperti biasa. Dari ruang tamu, samar-samar Nino mendengar ocehan Tary dan juga tawa yang saling bersahutan di area ruang makan.
Nino semakin mempercepat langkahnya. Yang ada di pikirannya saat ini, mungkin saja mereka semua sedang membahas hal yang telah membuatnya sangat bahagia hari ini. Namun, setibanya di sana Nino tidak melihat sosok Dania dimana pun.
"Hei, ini dia satu lagi putraku!" Tubuh kekar Nino sampai terdorong ke belakang karena ia tidak siap mendapatkan pelukan mendadak itu. "Astaga! Kau sangat lemah sekarang."
Bola mata Nino bergerak ke arah bahunya yang di tepuk-tepuk cukup kuat. "Om?"
Pria paruh baya di hadapan Nino itu mengangguk dan merentangkan tangannya. "Apa kabar, Bintang kita?"
"Aku baik, Om," jawab Nino datar. Matanya masih menyapu seluruh ruangan. "Kapan kalian tiba? Aku pikir Om dan tante tidak akan kembali kesini."
"Pasti anak durhaka itu yang mengatakannya?" Sepasang mata tua itu menatap tajam ke arah putranya yang bersikap acuh.
"Baik, Nino." Wanita cantik yang berada dalam pelukan Nino adalah ibu dari Ricky yaitu Rika Sanjaya. Ia dan suaminya, Firman Sanjaya baru saja kembali dari safari mereka berkeliling dunia. "Maafkan kami, Nino, karena tidak bisa menghadiri pernikahanmu dengan Dania saat itu."
"Tidak masalah, Tan, hanya saja rasanya pasti lebih membahagiakan saat ada orang tua yang mendampingi." Nino tertawa saat mengurai pelukannya, tapi rasa sedih yang di pancarkan matanya begitu jelas terlihat.
Rika kembali memeluk Nino. "Kau anak yang kuat. Lagipula, sekarang Dania sudah menjadi milikmu. Penantianmu akhirnya berakhir bahagia."
Semua orang menyetujui ucapan Rika dan tersenyum. Begitu pun dengan Nino yang semakin menarik sudut bibirnya.
"Dimana istrimu, Nino?" Firman menatap Nino penuh tanya karena tuk kunjung melihat keberadaan Dania.
Nino melemparkan tatapannya ke arah Deta yang juga terlihat kebingungan. "Dania tidak disini?"
Deta menggelengkan kepalanya. "Seharian ini aku tidak mendengar kabarnya. Aku pikir mungkin Dania sedang sibuk bersamamu, Kak."
Tidak! Kemana Dania?
__ADS_1
Senyuman Nino mulai memudar. Sebelah tangannya mengusap wajahnya dengan kasar, sementara sebelah tangannya yang lain bertolak pinggang.
Melihat sikap Nino, semua orang menjadi cemas. Terlebih Deta. Pikiran buruknya mulai mempengaruhi dirinya.
"Kak, apa Dania -" Deta merasakan tubuhnya di rengkuh dalam kehangatan. "Mas, mungkinkah terjadi sesuatu pada Dania?" cicitnya dalam pelukan Ricky.
Ricky mengecup puncak kepala Deta. "Kau harus tenang, Sayang. Mungkin saja Dania sedang pergi dengan Shanum."
"Sebelum aku kesini, dokter Shanum mengatakan akan mengantar Dania kesini. Seharusnya mereka sudah sampai." Nino mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. "Halo, Dokter Shanum. Apa istriku bersamamu?"
Bola mata Nino melebar sempurna saat mendengarkan jawaban Shanum.
"Ada apa?" Ricky mulai panik juga melihat reaksi Nino.
"Dokter Shanum tidak jadi mengantar Dania karena ada operasi darurat." Nino merasa kakinya lemas, entah mengapa ia memiliki firasat yang tidak baik.
"Jadi, dimana Dania?" Deta mulai terisak.
Nino beralih menatap Deta. Ada perasaan bersalah yang begitu besar di hatinya karena lagi-lagi ia tidak bisa menjaga Dania. Sebagai seorang suami, Nino merasa tidak berguna. Dania seringkali pergi untuk menghindari dirinya. Meski kini hubungan mereka sudah melangkah ke arah yang lebih jauh, tapi Dania masih saja pergi darinya. Bayangan wajah Dania yang tersenyum serta suara tawanya yang begitu merdu membuat Nino kesulitan bernafas. Hatinya hancur. Mungkinkah Dania masih belum bisa menerima dirinya? Apakah kebersamaan mereka selama ini tidak ada artinya bagi Dania? Benarkah seperti itu, bahkan meskipun mungkin kini ada buah cinta mereka dalam rahim Dania? Memikirkan hal itu membuat tubuh Nino tiba-tiba tersentak.
"Maaf, aku harus pergi sekarang!" Nino melangkah menuju pintu utama, sebelum Ricky menghentikannya.
"Kemana kau akan mencarinya?" Ricky sedikit pesimis kali ini.
Langkah Nino terhenti seiring dengan hembusan nafasnya yang terasa berat.
"Di semua tempat yang mungkin menjadi persinggahannya saat ini ...."
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino π
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1