Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
SELAMAT TINGGAL


__ADS_3

"Kau harus kembali saat hatimu sudah siap!" Sebuah harapan terselip dalam kalimat perintah yang di lontarkan oleh Ricky.


Gibran tak kuasa menahan tangisnya. Tanpa ragu ia membiarkan air mata membasahi pipinya hingga membuat kacamata yang bertengger di atas hidungnya berembun. "Maaf ...," Gibran melepaskan kacamatanya untuk menghapus air mata yang entah mengapa terasa melegakan baginya.


Deta yang berdiri di samping Ricky merasa terharu dan ingin menenangkan Gibran dengan menepuk lengan pria malang itu. Namun, dengan cepat Ricky menahan tangannya.


"Mas!" desis Deta, kesal dengan sikap posesif suaminya yang tak mengenal tempat dan waktu.


Nino dan Dania yang melihat hal itu hanya tersenyum. Mereka juga merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan Deta dan juga Ricky. Bagaimanapun, Gibran berjasa besar pada keluarga dan cinta keduanya. Seandainya tidak ada Gibran, mungkin Dania tidak akan menyadari perasaannya.


"Sekali lagi, saya benar-benar minta maaf karena telah mengecewakan anda, Tuan," Gibran melangkah mundur dan membungkuk untuk memberi hormat.


Ricky menepuk bahu Gibran. "Sudahlah! Lupakan saja hal itu. Yang terpenting sekarang kau sudah menyadari kesalahanmu dan berniat untuk memperbaikinya, meski tidak perlu sampai pergi jauh lagi."


Diam-diam Deta tersenyum mendengar kalimat yang di ucapkan Ricky. Terdengar jelas jika suaminya itu tidak rela membiarkan Gibran pergi.


"Tuan, saya -" Gibran tidak bisa menyelesaikan ucapannya saat Dania mendekat dan meraih tangannya. "Dania?"


"Kak Gibran ...," Mata Dania berkaca-kaca. "Maafkan aku, tapi bisakah kau tetap tinggal di sini? Bukankah semuanya sudah baik-baik saja?" pintanya penuh harap.


Sejenak, Gibran menatap tepat ke kedua bola mata Dania. Mencari dirinya disana, tapi tidak ada dan sepertinya memang tidak pernah ada. Kini, matanya berpindah menatap Nino yang merangkul bahu Dania. Ada banyak cinta dan ketulusan di mata pria itu.


Jika bisa memilih, sebenarnya Gibran ingin tinggal dan berada di dekat Dania. Namun, ia sudah menyadari kesalahannya. Rasanya tidak mungkin terus di dekat Dania sementara hatinya belum bisa menerima kenyataan sepenuhnya.


"Semuanya baik-baik saja, Dania." Gibran menepuk punggung tangan Dania yang menggenggam tangannya. "Itu sebabnya aku pergi."


"Tapi kau akan kembali bukan?" tanya Dania, matanya mengerjap menaruh harap.


Gibran menghela nafas dan tersenyum. "Aku akan kembali, tapi aku tidak bisa berjanji."


Wajah Dania muram hingga menitikkan air mata. "Sepertinya aku membuatmu terluka terlalu dalam, Kak. Maafkan aku!" Sejak hamil, Dania menjadi lebih sensitif dan juga mudah menangis. Terlebih ia merasa sangat bersalah pada Gibran.


Nino tersenyum dan menampakkan deretan giginya sebelum menjatuhkan kepala Dania di dadanya. "Kau tidak boleh seperti ini, Moony! Biarkan dia pergi dan mencari kebahagiaannya. Bukankah kau ingin dia bahagia? Hemm?"


Dania mengangguk dalam dekapan Nino. Kepalanya semakin menelusup, sementara tangannya semakin erat melingkari tubuh Nino. Gibran yang melihat hal itu ikut tersenyum dan mendesah lega.


"Baiklah! Sudah waktunya boarding." Gibran melihat ke FIDS. "Sebentar lagi pesawatku take off." Gibran menoleh dan tersenyum.

__ADS_1


Walaupun wajah Gibran mengulas senyuman, tapi semua orang tahu jika pria itu pergi membawa luka yang entah kapan bisa terobati.


"Hati-hati dan jangan lupa kembali!" Ricky memeluk Gibran dan menepuk-nepuk punggung pria itu berulang kali.


"Tentu, Tuan." Gibran berpindah menghampiri Deta dan sedikit menunduk. "Selamat tinggal, Nyonya. Semoga proses persalinan anda berjalan lancar dan tolong sampaikan salam sayangku untuk Nona Tary."


Deta hanya mengangguk dengan bibir tertutup rapat menahan tangisnya.


Terakhir, Gibran berhadapan dengan Dania dan Nino yang juga menatapnya dengan hangat.


"Kak Gibran ...," lirih Dania.


Gibran tak menggubris Dania. Tangannya terulur di hadapan Nino yang langsung menyambutnya. "Aku serahkan Dania padamu, Tuan. Tolong gantikan aku untuk menjaganya!"


"Pasti!" Nino menepuk punggung tangan Gibran dan menarik pria itu dalam pelukannya meski hanya sesaat. "Jaga dirimu dan terima kasih untuk semuanya, Gibran!"


Gibran mengangguk dan kembali menatap wajah-wajah yang selalu menjadi keluarganya selama ini. Sungguh ia sangat menyesal telah membuat satu kesalahan yang besar hingga rasanya tinta hitam itu tidak akan mudah hilang begitu saja. Dengan berat hati, Gibran harus meninggalkan semua mimpinya termasuk untuk memiliki Dania.


'Aku bahagia melihatmu bahagia, Dania. Setidaknya, kau telah menemukan seseorang yang tepat dan bisa menerima dirimu dengan sepenuh hati. Disini ... Aku bersumpah telah melepaskan dirimu! Dan aku akan mencari kebahagiaanku sendiri seperti yang kau harapkan. Tetaplah tersenyum agar pengorbanan cintaku ini tidak terasa percuma! Selamat tinggal, Nona Dania!'


***


"Om ...," rengek Dania manja seraya mengusap lembut dada Nino yang terbuka.


Nino membuka matanya yang terasa berat. "Kenapa kau belum tidur, My sweet baby wife?"


Dania mendongakkan kepalanya agar bisa menatap Nino. "Aku tidak bisa tidur."


"Oooowww ...," Nino mendekap tubuh Dania dengan erat, kemudian menarik selimut dengan sebelah tangannya hingga menutupi tubuh keduanya. "Kalau seperti ini? Apakah sudah bisa tidur?"


Bukannya mengantuk, Dania justru merasa kesal. Ia pun menendang selimut yang menutupi tubuhnya dan dengan sengaja membentangkan tubuhnya lebar-lebar hingga menimpa tubuh Nino.


"Moony ...," Nino mengerang dengan mata tertutup. Sepertinya pria itu sangat lelah.


Dania menoleh dan melihat Nino yang masih menutup rapat matanya hingga rasanya Dania tidak tega mengganggu tidur suaminya yang nyenyak.


"Hah!" Dania menghembuskan nafasnya kasar. Kakinya perlahan menuruni tempat tidur dan melangkah menuju balkon kamar.

__ADS_1


Udara dingin langsung menyerbu tubuh Dania. Tangannya seketika memeluk tubuhnya untuk menciptakan kehangatan. Tiba-tiba Dania merasa hangat saat merasakan sebuah selimut dan juga sepasang tangan kekar melindungi tubuhnya.


"Mencoba untuk masuk angin?" bisik Nino, tepat di belakang telinga Dania. Kepalanya sudah di jatuhkan di bahu Dania dengan manja.


Dania terkekeh geli. "Tidak! Aku hanya sedang menguji seberapa kuat tubuhku, tapi sepertinya aku tidak akan kuat tanpamu."


Nino membalikkan tubuh Dania dengan lembut. "Aku yang tidak akan sanggup tanpamu, Moony."


Mata keduanya saling menatap. Terikat oleh sihir yang tak terlihat dan telah mengikat mereka selama ini.


Jantung Dania kembali berdegup kencang. Ia bahkan tanpa sadar langsung menyentuh dadanya yang terasa bergemuruh saat menatap Nino seperti ini.


"Kenapa tertawa!" ketus Dania, saat Nino menertawakan dirinya dengan jelas di hadapannya.


Nino seketika menghentikan tawanya. "Hanya terlalu bahagia, jadi selalu ingin tertawa. Apa kau keberatan?"


Dania menggelengkan kepalanya dengan wajah yang memerah malu. Tiba-tiba ia teringat satu hal yang belum ia lakukan hingga saat ini.


"Om?" panggil Dania ragu, tepat saat Nino baru saja menatap ke arah langit.


"Ya, Moony?" Nino kembali tersenyum dan membelai rambut Dania dengan lembut.


Tangan Dania sudah memilin ujung piyama yang ia kenakan karena begitu gugup. "Itu ... Aku ... Aku ...."


Nino dengan sabar menanti Dania mengucapkan hal yang begitu ingin di dengar olehnya. "Iya, Moony. Kau kenapa?"


"Aku men-" Tepat di saat itu tiba-tiba ponsel Nino berdering.


Nino ingin mengacuhkannya, tapi ponsel itu terus berdering. Bahkan, ponsel Dania juga ikut berdering di saat yang bersamaan hingga mengundang kerutan di kening keduanya.


Dania dan Nino saling menatap sesaat, kemudian tanpa aba-aba Nino langsung meraih ponselnya.


"Ricky?" Nino menatap Dania yang balas menatapnya dengan sebuah anggukan. "Iya, Ky. Apa? Mikayla kecelakaan!!!"


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino 😍

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2