Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
HARIMU


__ADS_3

Hal apalagi yang paling membahagiakan dari cinta yang sudah lama di perjuangan, melainkan balasan cinta yang sama pula.


Tak ada hasrat atau obsesi untuk memiliki. Yang ada hanya cinta tulus tanpa ada niat bulus. Hanya sebuah harapan sederhana agar sang pemilik hati selalu bahagia menjalani hari walau tak bisa saling memiliki.


"Tidak! Aku tidak membutuhkan apapun, selama kau ada bersamaku." Dania tersenyum begitu manis dan menggemaskan.


Kata-kata yang mungkin bisa di katakan tidak berarti sama sekali bagi orang lain, tapi cukup berpengaruh besar pada detak jantung Nino. Bahkan debaran di dadanya begitu terasa hingga kerongkongan. Nino mematung. Tak bisa bergerak atau berucap. Waktu seolah berhenti di sekitarnya. Hanya wajah Dania yang memenuhi pelupuk matanya. Nino pernah mencintai, tapi tak pernah sampai sedalam ini. Cinta pertamanya dulu terasa biasa saja setelah ia merasakan cinta yang di bawa oleh Dania. Hati Nino seolah baru pertama kali terisi cinta. Kehampaan yang dulu ada, kini sirna bersama dengan datangnya kebahagiaan.


Tak tahan melihat wajah Dania yang menggoda. Nino meraih tengkuk Dania dan mengecup dalam bibir ranum milik istrinya itu. Mereka saling menunjukkan cinta satu sama lain. Tak ada keraguan atau penolakan. Saat ini, semua beban seolah telah pergi meski hati masih sulit untuk memilih.


"Maaf ...," Jari besar Nino menghapus bibir Dania yang lembab karena ulahnya.


Tangan Dania menangkap telapak tangan Nino dan menempelkannya di pipi. Menyandarkan wajahnya di tangan besar sang suami yang tengah menatapnya dengan seulas senyuman. "Tidak perlu meminta maaf! Aku suka saat kau melakukannya."


'Astaga!!! Jantungku!!! Tolong selamatkan jantungku!!! ' Nino mulai ingin melompat hingga ke angkasa lepas.


"Wajahmu merah!" Tusukan lembut di pipinya, menyadarkan Nino kembali. "Kau pasti sedang berpikiran mesum!" tuduh Dania seraya mengarahkan telunjuknya ke wajah Nino.


Nino hanya diam dan menatap Dania lebih dalam sebelum berkata, "aku mencintaimu, Dania Ferdinan."


Nafas Dania berhenti sesaat. Inilah yang ia tunggu. Nino akhirnya mulai kembali mengatakan cintanya. Kesempatan ini tidak boleh terlewatkan.


Dania siap membuka mulutnya. "Aku juga -"


Dering ponsel Nino tiba-tiba memotong ucapan Dania. Keduanya saling bertatapan hingga akhirnya Nino mematikan ponselnya.


"Kenapa tidak di jawab?" tanya Dania penasaran.


Nino menghela nafasnya. "Liza."


"Oh." Dania mengangguk dan kembali ke posisi duduk manisnya. Sedikit lebih tegak akibat ketegangan yang di rasakan oleh hatinya.


"Apa yang ingin kau katakan, Moony?" Nino memposisikan tubuhnya menghadap Dania.


Dania menoleh. "Aku ...," Jemarinya tiba-tiba saja terasa gatal dan ingin memainkan ujung dress-nya. "Aku ingin mengatakan jika aku-"


Ponsel Nino kembali berdering di saat yang tidak tepat. Nino seperti ingin menelan ponselnya itu sekarang juga.


"Liza!" geram Nino, berniat kembali mematikan ponselnya. Namun, tangan Dania menahannya.


"Mungkin ada sesuatu yang sangat penting sehingga Liza terus menghubungimu. Jawab saja!" Dania berkata seraya memasang seat belt ke tubuhnya.

__ADS_1


Helaan nafas Nino menjadi jawaban pertama atas panggilan Liza. "Ada apa, Liza? Kau ini mengganggu saja!"


"Maaf, Tuan, tapi wanita bernama Mikayla kembali lagi ke kantor dan membuat masalah."


Nino berdecak. "Begitu saja kau menghubungi aku. Tepuk saja dia dengan kedua tanganmu!


"Tuan, tapi dia bukan nyamuk yang-"


KLIK ... TUT ... TUT ...


Nino langsung memutuskan panggilan tanpa menunggu Liza selesai berbicara.


"Apa ada masalah di kantor?" tanya Dania, setelah melihat raut wajah Nino yang berubah.


"Tidak ada." Nino memilih untuk mematikan ponselnya. Kemudian kembali menatap wajah cantik Dania. "Apa yang ingin kau katakan sebelumnya? Maaf karena Liza terus mengganggu."


Dania memutar bola matanya. Keberaniannya untuk membalas ungkapan cinta Nino telah menguap bersama udara. Semangatnya juga telah gugur kembali.


"Aku- Aku ingin ...," Dania mencoba mengumpulkan niat dan keberaniannya kembali, tapi melihat wajah Nino rasanya tidak mungkin semua kalimat itu akan keluar dari mulutnya. "Jalan-jalan."


'Tidak! Bukan itu yang ingin aku katakan.' Dania merutuki kebodohannya yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya sendiri.


"Baiklah!" Nino juga memasang seat belt di tubuhnya setelah memastikan Dania aman dan nyaman. "It's your day, My sweet baby wife."


***


BRAK ...


"Aku bertanya, dimana bosmu?" bentak seorang wanita dengan penampilan elegan dan juga glamour.


Gebrakan di mejanya membuat Liza tersentak untuk beberapa saat sebelum kembali fokus pada pekerjaannya.


"Hei, apa kau tuli?" sinis wanita itu, tapi hanya mendapatkan tatapan kesal dari Liza. "Sepertinya kau juga bisu." geramnya.


Liza seketika berdiri dan menunjuk ke arah ruangan Nino yang masih kosong. "Anda bisa melihatnya sendiri bukan? Karena saya yakin Anda tidak buta."


Wanita itu melihat ke arah ruangan Nino yang transparan. "Tentu saja aku melihatnya. Nino tidak ada di ruangannya."


"Kalau seperti itu, Nyonya, kenapa Anda masih bertanya?" sindir Liza, kemudian kembali duduk di tempatnya.


Terdengar decakan yang cukup nyaring. "Mikayla."

__ADS_1


Liza mendongak. "Maaf, Nyonya?"


"Namaku Mikayla, katakan pada Nino! Dia pasti akan langsung datang." Ucapnya penuh percaya diri.


Ingin sekali Liza mendorong tubuh di hadapannya itu agar menjauh darinya. Sayang sekali, Liza tidak ingin terkena masalah hanya karena wanita menyebalkan seperti ini.


'Aku juga tahu siapa dirimu. Tidak mungkin aku melupakan wajah wanita penggoda sepertimu. Nyonya Dania bisa memangkas habis gajihku.' Oceh Liza dalam hati. "Baik, Nyonya. Mohon tunggu sebentar!" Liza akhirnya menyerah dan mengalah.


Beberapa kali ia menghubungi Nino, tapi tak kunjung di jawab. Panggilan terakhir, Nino baru menjawabnya dan itu pun membuat Liza kesal bukan main.


"Begitu saja kau menghubungi aku. Tepuk saja dia dengan kedua tanganmu! "


Seenaknya saja bosnya itu menjawab. Kini Liza yang harus menghadapi kemarahan wanita cantik dan menjengkelkan di hadapannya kini.


"Maaf, Nyonya. Tuan sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu." Liza membungkuk hormat dan bermaksud mengusir Mikayla secara halus.


Mikayla menghentakkan kakinya dan melipat kedua tangannya di dada. "Aku akan menunggu disini sampai dia datang."


Liza menghela nafasnya saat melihat Mikayla mendaratkan bokongnya di sofa ruang tunggu. Di ambilnya ponsel dan mengirimkan pesan pada seseorang.


***


Dania mengernyitkan dahinya karena ucapan Nino. "Kau ingin menonton film?"


Nino mengangguk seraya fokus memarkirkan mobilnya di basement sebuah mall ternama.


"Lalu, bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Dania, masih memegang erat seat belt yang melilit di tubuhnya.


Setelah memastikan mobilnya di posisi yang benar. Nino segera melepaskan seat belt di tubuhnya dan mencondongkan tubuhnya pada Dania. "Kau ingin jalan-jalan atau tidak?"


Dania mengangguk.


"Kalau begitu, tidak perlu memikirkan pekerjaanku yang tidak ada habisnya." Nino membantu Dania membuka seat beltnya.


Baru saja Nino akan membuka pintu mobil, tiba-tiba ponselnya bergetar. Nino langsung membaca pesan yang masuk dan tersenyum penuh arti.


"Ada apa? Apa kau harus menyelesaikan pekerjaanmu?" tanya Dania lagi, memastikan jika keinginannya tidak mengganggu pekerjaan Nino.


"Tidak, Moony, sudah ku katakan jika hari ini aku tidak akan ke kantor dan hanya akan menemanimu sepanjang hari." Nino mengacak rambut Dania dengan gemas. "Ayo, lakukan semua hal yang ingin kau lakukan!"


Hallo semuanya 🤗

__ADS_1


Keep healthy and happy Readers Kuhh sayang 😍


__ADS_2